Insiden Air Panas

1009 Kata
Selagi Kaliya membuatkan teh hangat untuk Yudha tiba-tiba Garen menerobos masuk dan langsung menghampirinya. Kilatan matanya memanah Kaliya dengan tatapan penuh amarah. Garen membentak Kaliya sambil menarik tangannya, "Kenapa kamu pergi gak bilang-bilang?" Yudha langsung menghampiri keduanya, mencengkram tangan Garen agar melepaskan Kaliya. "Bapak gak perlu sampai membentak seperti ini." Tak urung aksi saling mencengkram membuat Kaliya berusaha melepas tangannya dari Garen. Ayunan tangannya tak sengaja mengenai alat pemanas air sehingga jatuh mengenai punggung telapak kaki Kaliya. Sontak gadis itu menjerit kepanasan. Yudha dan Garen spontan melepaskan tangan mereka, menunduk untuk memeriksa kakinya. Kemerahan tampak jelas di kaki mulus Kaliya. Garen bergegas mengangkatnya ke sofa dan berseru menyuruh Yudha untuk mengambilkan air dingin. Tanpa protes Yudha bergegas ke kamar mandi. "Maafin saya," ucap Garen dengan nada merasa bersalah. Kaliya tidak menjawab, ia hanya meringis, semakin menjadi ketika Yudha kembali dengan membawa gayung berisi air. Garen berkata kepada Yudha, "Bisa kamu belikan salep luka bakar di apotik?" Yudha mengangguk memenuhi permintaan Garen. "Kamu punya handuk kecil?" tanya Garen ketika Yudha sudah pergi. "Di lemari, buka saja pintu sebelah kiri." Garen menuju lemari baju dan meminta izin membukanya. Aroma semerbak parfum laundry menyeruak menusuk hidungnya. Susunan baju dan kain yang sangat rapi dan apik dipandang mata. Garen tersenyum melihatnya, dalam hatinya memuji kerapihan dan kebersihan gadis itu. "Ada?" tanya Kaliya menoleh ke arah Garen yang sedang terpaku sambil tersipu-sipu. Dalam hati Kaliya merasa aneh, apa gerangan yang membuat pria itu senyum-senyum? "Ada," jawab Garen dengan hati-hati menarik handuk kecil berwarna putih. Tampaknya Kaliya memang menyukai warna itu terbukti dari pernak-pernik di kamarnya yang didominasi warna netral tersebut. Garen mengompres kaki Kaliya, matanya menyipit melihat punggung kakinya seperti membengkak akibat benturan teko pemanas air yang terbuat dari alumunium yang cukup berat. Terselip perasaan bersalah dalam hatinya telah membuat gadis itu celaka. Belum sembuh luka di tangannya sudah ditambah lagi dengan memar di kakinya. "Ke dokter aja ya?!" tawar Garen karena khawatir melihat keadaan kakinya. Kaliya yang semula bersandar dengan kepala mendongak di sofa langsung duduk tegak. "Gak! Gue gak mau dibawa ke dokter lagi!" "Ya sudah kita tunggu Yudha aja ya?" ucap Garen seraya terus mengompres kaki Kaliya. Kaliya sempat tertegun memperhatikan keseriusan Garen memfokuskan pandangannya ke memarnya. Dengan lembut ia menekan pada pusat nyeri, membuat Kaliya seakan larut dengan sesuatu yang berdebar dalam dadanya. Rambut Garen yang rapi dan mengkilat terlihat jelas saat ia menunduk. Dalam hati Kaliya terselip kekaguman akan pesona tersembunyi yang pria itu miliki. Baginya tidak buruk juga dikejar-kejar pria yang lumayan tampan itu meskipun ia tidak mungkin mengalihkan perasaannya terhadap Yudha. Sudah lama Kaliya terobsesi pada pemuda itu. Penampilannya yang biasa saja serta keadaan keluarganya yang terbilang sulit tak lantas membuat Kaliya mundur. Apalagi Ibu Yudha memang menyukainya, acap kali Kaliya bertandang ke rumahnya kalau sedang mendapat jatah libur meskipun Yudha tidak ada di rumah. Kondisi rumah Yudha yang sangat memprihatinkan terkadang membuatnya ingin membantu memperbaiki. Terlebih kamar Yudha yang terlihat miris, tidur dengan kasur lepes dan lemari berbahan parasut yang resletingnya sudah rusak semakin membuat Kaliya terenyuh. "Ini Pak!" Suara Yudha mengagetkan lamuna Kaliya. "Terima kasih," ucap Garen mengambil salep luka bakar itu. "Berapa harganya? Nanti saya ganti uangnya." Yudha menjawab, "Gak perlu, Pak.". Garen mendongak, ekspresi heran terpancar di rautnya yang mengerut. Yudha segera mengklarifikasi, "Harganya murah, tertera di labelnya." Garen memeriksa kemasan salep itu dan melihat harganya. "Tiga puluh delapan ribu, lumayan buat beli nasi padang dua bungkus," gumamnya. Yudha hanya tersenyum tipis sementara Kaliya terkikik mendengar gumaman tipis itu. Tanpa ia sadari dibalik senyum tipis Yudha terselip perasaan tersinggung karena merasa diremehkan. Apa salahnya coba menerima tanpa embel-embel harus mengganti. Begitulah ocehan Yudha dalam hatinya. Kaliya tak menyadari perasaan sensitif pemuda itu. Selama ini Yudha hampir tidak pernah merubah ekspresi wajah datarnya, sehari-hari hanya fokus dengan apa yang ia kerjakan. Kebanyakan tentang tugasnya di Vein Karaoke bahkan ia tidak pernah mengambil jatah libur demi bonus kehadiran. Maklum saja, pemuda itu harus membiayai adiknya yang masih duduk di bangku SMA. Setiap hari setidaknya harus ada uang Rp 25.000,- untuk uang jajan dan ongkos adiknya. Sementara sang ayah sudah tidak ada, ibunya hanya buruh cuci bergaji kecil. "Sudah selesai, kamu istirahat gih!" Garen membersihkan bekas kompres dan memasukkan salep itu ke kotaknya. "Makasih!" ucap Kaliya. "Gue pulang, ya?!" pamit Yudha setelah memastikan kaki Kaliya sudah diobati. "Tapi tehnya," cegah Kaliya berharap Yudha mau lebih lama duduk di sana. "Lain kali aja," ucapnya santai. Hanya mendengar kata; 'Lain kali aja' sudah membuat Kaliya berbunga-bunga. Itu artinya Yudha mau diajaknya lagi lain waktu. Dengan penuh semangat Kaliya mengangguk. "Hati-hati di jalan ya … makasih sudah nganterin aku." Garen yang baru keluar dari kamar mandi tiba-tiba menyambar, "Aku?" Matanya melotot maksimal. "Kenapa? Ada yang salahkah?" protes Kaliya sinis. "Kenapa kalau bicara sama aku selalu kasar kalau sama dia mendadak lembut. Padahal aku adalah bos kamu!" "Gue mau tidur, pulang sana!" Yudha tersenyum tipis berdiri dibalik tembok luar. Sampai saat ini dia tidak mengerti apa yang dirasakannya terhadap Kaliya. Disatu sisi dia sangat ingin berteman dengan perempuan itu disisi lain dia tidak suka jika Kaliya sudah kumat berlaku jahat terhadap Viona dan terlalu over mengejar cintanya. Dia selalu bergumam dalam hati tanpa berani mengatakannya langsung pada gadis itu; 'cinta tak bisa dipaksa' kata-kata itu sangat ingin dia ucapkan kepada Kaliya. "Pulang lah!" sergah Kaliya geram. "Aku malas pulang, kalau kamu mau ikut aku baru mau pulang." "Lo gila ya?! Mana mungkin gue mau ikut ke rumah lo!" "Aku kesepian di rumah mewah itu, sebenarnya aku merindukan aroma kamarku sendiri." "Memangnya lo tinggal di mana?" "Rumah Hera," sahutnya dingin. Kaliya melirik judes, mulutnya meracau tanpa suara mengecam bualan Garen yang terdengar konyol mencerminkan tingkahnya selama ini. Melihat itu Garen kesal dan berkata, "Aku serius! Kami menikah memang sudah sama-sama tajir jelas saja memiliki rumah masing-masing." "Terus apa gue peduli? Nggak!" "Setidaknya dengarkan ceritaku," minta Garen serius. "Sesi curhat, lima ratus ribu! Deal, lanjut." "Lama-lama aku jatuh miskin kalau begini caranya," gerutu Garen. "Potong dari yang lima puluh juta itu, beres 'kan?" "Terserah, asal kau mau mendengar ceritaku!" "Oke, lanjut! Lumayan lima ratus ribu, haha!" Tawanya meledak melihat mata Garen menyipit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN