Penolakan

1048 Kata
Garen memulai ceritanya. "Istriku divonis dokter hidupnya sudah gak lama lagi." Mendengar itu mata Kaliya membelalak, pasalnya ia melihat wanita itu tidak tampak seperti orang sakit kronis. "Baru-baru ini dia memintaku menikah lagi dengan perempuan pilihannya. Aku terpaksa menyanggupi demi mengabulkan permintaan terakhirnya itu." "Tunggu! Kenapa dia minta lo nikah lagi? Apa demi anak kalian?" "Katanya seperti itu, dia mau memberikan Ibu terbaik buat anak kami. Padahal aku sendiri saja bisa mengurus anak itu nantinya." "Heum," Kaliya mengelus dagunya memikirkan alasan yang dianggapnya tidak masuk akal. Bagaimana mungkin dia bisa meyakini bahwa perempuan itu bisa menjadi ibu untuk anaknya. "Sebab itu aku memintamu jadi istri ketigaku untuk menekan Hera agar mau menyudahi obsesi konyolnya itu." "Gue gak mau terlibat dengan masalah kalian." "Kamu harus terlibat karena sudah menipuku!" "Ya, aku bisa mengembalikan uang itu! Ambil saja dalam tas itu!" Kaliya menunjuk sebuah tas tangan yang tergeletak di meja. "Aku gak butuh uang itu, ambilah untukmu asal kau mau menjadi istriku." "Cari aja cewek lain, banyak 'kan cewek di luaran sana yang mau jadi istri pura-pura kalau dibayar mahal." "Aku maunya kamu." Kaliya tak habis pikir kenapa Garen kekeh sekali memintanya menjadi istri ketiga. Walaupun hanya pernikahan palsu tetap saja ia tidak mau terikat. Kaliya memang menggilai uang, tapi jika harus melibatkan diri dalam kekacauan orang lain jelas dia berpikir seribu kali untuk menerima tawaran ini. Kaliya menghela nafas sebelum menjawab, "Kenapa dari sekian banyak wanita, lo malah milih gue? Lo gak takut gue malah jadi penyebab kehancuran rumah tangga kalian?" "Sebentar aja … kamu hanya perlu berpura-pura mencintaiku sepenuh hati. Melayani semua kebutuhanku, bersikap hangat dan patuh padaku. Dengan begitu Hera pasti bakal ketar-ketir dan menyetujui permintaanku untuk menceraikan perempuan itu." Kaliya tetap menolak. "Gue gak mau, titik!" "Kenapa? Tolong beri tahu alasannya." "Gue gak mau terlibat! Apa itu belum cukup untuk jadi sebuah alasan?!" "Iya aku tahu. Maksudku tolong jelaskan kenapa kamu takut melibatkan diri?" "Ren …," sebut Kaliya pelan. Nada suaranya begitu menghanyutkan membuat Garen seakan terbuai. Untuk kali pertama gadis itu bersikap ramah padanya. Kaliya kembali berkata, "Gue tau tujuan lo cuma mau menekan dia. Tapi kita gak akan pernah tahu bagaimana semua ini akan berjalan. Dari cara lo memperlakukan gue bukan gak mungkin yang tadinya pura-pura bisa buat lo bener-bener jatuh cinta sama gue." "Aku cuma mencintai Hera," ucapnya lirih. "Oke, anggap saja begitu. Gue cuma mengantisipasi mana tau kejadian. Tapi sebesar apapun cinta lo buat dia— gue tetap gak mau nerima permintaan lo." "Cuma kamu orang yang tepat buat membantuku. Aktingmu bener-bener luar biasa, aku yakin dalam sekejap Hera akan menyerah." "Masih banyak orang yang lebih bagus daripada gue." Kaliya tetap menolak. "Seratus juta, Deal?" Dengan tegas Kaliya menjawab, "No!" "Dua ratus?" "No!" "Why?" "Udah gue bilang gak mau terlibat, mau lo kasih gue lima ratus juga juga gue tetep gak mau." "Kita liat aja nanti seberapa kuat kamu mampu menolakku." "Terserah! Mendingan lo pulang, deh! Sudah jam empat pagi. Gue ngantuk dan capek banget!" Garen mengeluarkan ponselnya lalu berkata, "Sudah aku kirim biaya tidur di sofa." Kaliya mendengus, ia sudah malas berdebat dengan Garen. Susah payah ia berdiri namun kakinya terasa sakit saat menapak. Kemudian ia kembali duduk sambil meringis. Dengan sigap Garen menggendong ala bridal style dan membawanya ke tempat tidur. Kaliya hanya terpaku dengan tatapan kosong, perlakuan pria itu malam ini sukses membuatnya baper. Seumur hidup, ia tidak pernah mendapat perlakuan sehangat itu dari siapapun apalagi dari seorang lelaki. Sejak kecil Kaliya sudah jadi yatim piatu dan diasuh oleh sahabat ibunya yang merupakan mantan gengster. Dari wanita bernama Nandini itulah Kaliya jadi mahir menipu dan memperdaya para lelaki hidung belang. Namun sepertinya pertemuannya dengan Garen menjadi akhir dari karir menipunya. Pria itu terbiasa selalu mendapatkan apa yang sedang ia kejar. Selama berjuang sampai jadi sukses seperti sekarang ini, Garen tidak pernah mengandalkan siapapun. Dia selalu percaya pada instingnya sendiri. "Makasih," jawab Kaliya malu. "Heum, tidurlah! Besok gak usah masuk kerja dulu. Satu lagi, jangan abaikan obatmu." "Oke," sahutnya seraya meraih selimut dan memberikannya pada Garen. "Untung belum gue masukin ke laundry." Garen tersenyum tipis menyambut selimut tersebut. "Makasih, ya." Setelah itu ia pun melenggang menuju sofa. Kedua insan itu tidur dengan nyaman, masuk dalam alam mimpinya masing-masing. *** Yudha melangkah lesu menuju kamarnya. Seperti biasa ibunya sudah bangun untuk menjalani aktivitasnya mencuci baju. Setiap sore ibunya mengambil pakaian kotor keliling komplek tak jauh dari tempat tinggal mereka. "Kok baru pulang, Yud?" tanya wanita paruh baya bernama Puri sambil mengangkat keranjang cucian. Melihat ibunya tergopoh-gopoh, Yudha langsung mengambil keranjang itu dan membawanya ke tempat mencuci di halaman belakang rumah. Meskipun rumah mereka sudah reot tapi masih memiliki halaman bagian belakang yang cukup luas untuk menjemur semua pakaian pelanggannya. "Kaliya sakit Bu, kakinya tersiram air panas." Puri terkejut sampai menarik tangan Yudha hingga membuat tubuh kekar itu berputar menghadapnya. "Kok bisa? Jadi keadaannya gimana sekarang?" "Sudah diobati, Bu." "Kenapa gak dibawa ke rumah sakit. Duh Gusti, pasti perih banget itu, Yud." Puri merintih mengelus d**a. "Gak parah kok Bu, tenang aja. Yudha baru dari rumahnya tadi." "Ayo antar ibu ke sana, Yud!" "Aduh Bu, dia pasti lagi tidur sekarang. Ibu tahu sendiri 'kan kami bubar jam berapa?!" Puri terdiam sejenak kemudian berkata, "Baiklah, nanti pas kamu pergi kerja antar dulu ibu ke rumahnya ya?!" "Aduh, mau ngapain sih Bu? Biarin ajalah dia istirahat. Kalau Ibu ke sana nanti malah ganggu dia." Puri tampak kecewa, Yudha pastinya tidak memahami kekhawatiran ibunya. Sejak ibunya gencar sekali menjodohkan mereka, Yudha selalu di todong dengan pertanyaan; gimana keadaan Kaliya? Kok Kaliya gak datang minggu ini? Kaliya sehat atau tidak bahkan ibunya kerap menitipkan makanan untuknya. Keadaan itu membuat Yudha tidak nyaman, selama mengenal gadis itu— sekalipun Yudha tidak pernah terlibat terlalu intens dengannya. "Aku istirahat dulu ya, Bu! Ngantuk banget." "Kamu gak makan dulu?" Sambil terus berjalan Yudha menjawab, "Nanti aja, Bu. Tadi sudah makan di karaoke." "Oke," sahut Puri mulai memisahkan baju-baju yang putih dan berwarna. Merogoh setiap kantong mana tahu ada uang terselip di sana. Biasanya ia selalu mengembalikan jika pelanggannya lupa memeriksa saku mereka. Puri terkenal sangat jujur dan suka membantu sebab itu meskipun mereka miskin para tetangga dan majikan sangat baik terhadapnya. Mungkin hanya Puri orang yang jauh dari kontroversi has warga perkampungan. Mungkin mereka tidak tega mengusik keluarga itu mengingat betapa baiknya mendiang ayah Yudha dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN