Tatapan mata Viola tidak bisa lepas dari Ezra. Pria itu sangat sayang dan perhatian dengan putrinya. Berbeda jauh dengan dirinya dulu. Jika waktu bisa diputar, Viola sangat ingin jika ia memiliki ayah seperti Ezra.
"Setelah ini kita ke permainan itu ya pah.." ucap Thalia kepada Ezra sembari menganggam tangan Ezra. Langkah mereka mendekat kearah Viola yang masih memperhatikan interaksi mereka berdua. Anggukan kecil dan senyuman dari Ezra berhasil membuat Thalia memekik senang. Viola baru menyadari jika Ezra memiliki senyuman yang indah.
"Mama!" Panggilan Thalia menyadari Viola dari lamunannya.
"Iya sayang?"
"Mama kenapa dari tadi lihatin papa terus? papa ganteng ya ma?" tanya Thalia dengan senyuman lebarnya. Viola terdiam sejenak mendengar pertanyaan Thalia. Ia menatap Ezra sekilas, tatapan Ezra seketika begitu dingin kepadanya.
Viola mengalihkan matanya dan kembali menatap Thalia. Ia memberikan senyuman tipisnya dan berkata, "Iya dong.. makannya papa bisa punya Thalia yang cantik."
"Tidak mama. Kata papa Thalia mirip sama bunda bukan papa," jawab Thalia polos. Mendengar kata 'bunda' yang Thalia ucapkan membuat Viola tersenyum miris. Thalia ternyata sudah mengenal bundanya.
"Ayo kita ke sana ma!" ajak Thalia pada Viola. Viola hanya menganggukkan kepalanya. Mereka bertiga berjalan menuju tempat yang dimaksud Thalia. Posisi Viola berjalan tepat disebalah Ezra.
"Jangan pernah menatap saya seperti tadi lagi. Saya tidak mau kalau kamu akan menaruh perasaan ke saya. Tugas kamu cuman menjadi ibu untuk Thalia, tidak lebih."
Langkah Viola berhenti ketika Ezra berkata demikian. Apa yang Ezra katakan membuat Viola merasa ia tidak begitu penting dalam hidup pria itu. Tugasnya hanya sebagai ibu untuk anaknya. Entah kenapa mendengar semua itu membuat hati Viola merasa sakit. Walaupun mereka tidak saling mencintai, seharunya Ezra tidak sedingin ini kepadanya.
Langkah Viola tertinggal dari Ezra dan Thalia. Mereka berdua mendahului dirinya yang masih jauh dibelakang mereka. Dari belakang, Viola dapat melihat keluarga Ezra sudah sempurna bahkan tanpa dirinya. Viola sama sekali tidak mengerti mengapa Ezra setuju untuk menikah dengan dirinya jika ia sama sekali tidak mencintanya.
Ada banyak alasan yang dapat Ezra berikan kepada keluarganya untuk menolak pernikahan bodoh ini. Tapi kenapa dia tidak melakukannya dan setuju menikah dengannya jika Ezra sama sekali tidak tertarik dengannya.
***
Perjalanan dari mall ke rumah terasa sangat canggug. Tidak ada pembicaraan antara Viola dan Ezra, sedangkan Thalia ia sudah tertidur lelap dibelakang. Dari tadi ketika ia baru masuk ke dalam mobil, pandangan Viola hanya tertuju ke jendela di samping dirinya. Ia menatap jalanan yang sama sekali tidak menarik.
Alasan Viola lebih memilih menatap jalanan di sampingnya yaitu karena ia tidak mau melihat wajah Ezra lagi. Ia tidak mau jika Ezra berpikir bahwa ia akan jatuh cinta dengan pria itu. Walaupun menurut Viola itu hal yang sangat wajar. Sekarang Ezra suaminya, sangat wajar jika ia akan jatuh cinta dengan suaminya. Tetapi bagi Ezra mungkin itu bukan hal yang wajar.
Setibanya di rumah, Ezra mengendong Thalia dan membawanya ke kamar Thalia. Sedangkan Viola, ia berjalan menuju kamarnya. Hari ini ia merasa sangat lelah. Bukan hanya tubuhnya saja yang lelah, tetapi perasaannya juga lelah dengan sikap Ezra. Viola tidak bisa membayangkan jika ia hidup bertahun-tahun dengan sikap Ezra yang dingin seperti ini.
Viola membuka pintu kamarnya, ia meletakkan tas sandangnya di lantai dan berjalan mendekati kasur. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk itu. Rasanya sangat nyaman berada di kasur ini dan tidak melihat wajah Ezra.
Ia menatap langit-langit kamarnya. Perlahan Viola mengangkat tangan kirinya dan melihat cincin yang berada di jari manisnya itu. Cincin yang Ezra sematkan di jarinya kemarin. Sebuah tanda hubungan yang seharunya akan ia jalani selama hidupnya. Tetapi Viola tidak yakin jika ia akan bertahan lama dengan Ezra. Melihat sikap Ezra, membuat Viola tidak yakin dengan konsep pernikahan sehidup semati.
Perlahan mata Viola terasa berat. Ia mulai memejamkan kedua matanya dan terlelap tidur. Melupakan kejadian yang baru saja terjadi. Dan ia harap, esok akan lebih baik dari hari ini.
***
Langkah Viola menuju ruang makan. Ia dapat melihat seorang wanita yang ia yakini umur mereka tidak terlalu jauh sedang menyusun peralatan makan di atas meja makan.
"Pagi bu.. sarapannya sudah selesai sebentar biar saya bawa ke sini," ucapnya kepada Viola. Viola hanya menganggukkan kepalanya. Ia pun duduk di kursi sembari menunggu sarapan yang dibawakan Dila.
Tak lama setelah ia duduk, Ezra dan Thalia ikut duduk bersamanya. Viola tersenyum melihat wajah semangat Thalia.
"Selamat pagi sayang," sapa Viola kepada Thalia. "Selamat pagi ma.."
"Hari ini mama ikut antar Thalia ke sekolah kan?" tanyanya. Baru saja Viola hendak menjawab, Ezra sudah terlebih dahulu menjawab pertanyaan putrinya.
"Mama hari ini mau istirahat sayang. Thalia berangkat sama papa saja ya, sekalian papa pergi kerja."
Wajah semangat Thalia seketika berubah ketika mendengar pernyataan Ezra. Terlihat raut wajah kekecewaan dari Thalia. Melihat itu, Viola berusaha untuk menghibur Thalia. Ia memegang rambut panjang Thalia dan memberikan senyum lembutnya.
"Iya sayang mama mau istirahat. Hari ini kamu sama papa saja ya, besok Thalia mama yang antar." tutur Viola.
"Benar ya ma.. mama janji?"
"Mama janji." Wajah Thalia seketika kembali berbinar mendengar janji yang Viola berikan kepada putrinya itu. Viola merasa ikut senang melihat Thalia senang.
Tak lama, Dila datang membawa sarapan untuk mereka bertiga. Viola mengambil nasi goreng dan meletakkanya di piring Thalia. Ia tidak meletakakn nasi goreng ke piring Ezra, ia takut akan mendapatkan penolakan lagi dari Ezra.
"Mbak.. mulai minggu ini kamu masuk kerja ya. Nanti gaji kamu saya tambah," ucap Ezra kepada Dilla.
"Baik pak," jawab Dila.
"Kenapa mbak Dila kerja hari minggu pah?" tanya Thalia dengan mulutnya yang penuh dengan nasi goreng.
"Biar ada yang masak sayang.."
"Kan sekarang udah ada mama. Masakan mama juga enak, kenapa enggak mama aja yang masak di hari minggu? Thalia mau sering-sering makan masakan mama," ucap Thalia lagi. Viola tidak merespon ucapan Thalia. Ia ingin mendengar jawaban apa yang akan diberikan Ezra pada Thalia. Tapi bukannya menjawab, Ezra melah mengalihkan pembicaraan.
"Udah ayo cepat makannya, papa mau berangkat ke kantor cepat. Nanti kita kena macet kalau lama."
Viola tersenyum miris mendengar perkataan Ezra. Dia benar-benar tidak ingin melibatkannya dari segal hal di rumah ini. Semua tugas istri yang seharunya Viola lakukan tidak diperbolehkan oleh Ezra. Viola sangat kesal dengan sikap Ezra yang seperti menganggapnya tidak ada.
Tatapan mata Viola ia arahkan ke Thalia. Ia mengelus lembut kepala Thalia dan berkata, "Belajar yang baik ya sayang. Mama mau ke kamar dulu, mau mandi. Sampai jumpa nanti sayang." Setelah mengatakan itu, Viola mengecup kening Thalia singkat. Ia apun beranjak pergi meninggalkan Viola dan Ezra tanpa menoleh sekalipun.
***