Balik Rumah

1014 Kata
Satu jam setelah kekadian tadi, Viola berencana untuk pergi ke rumah orang tuanya dan mengambil mobil miliknya untuk dibawa ke sini. Ia akan menggunakan mobil itu untuk mengantar Thalia dan pekerjaannya. Jadi ia tidak perlu untuk berada di satu mobil dengan Ezra. Jika Ezra tidak ingin dekat dengannya, maka Viola akan lebih tidak ingi Langkah kaki Viola berjalan hendak keluar dari rumah, tapi mendengar pertanyaan Dila membuat langkahnya berhenti. "Mau kemana bu?" tanya Dila kepada Viola. Viola mengalihkan pandangannya kearah Dila. Ia memberikan senyuman tipisnya. "Saya mau keluar sebentar. Ada yang mau kamu titip ke saya?" tanya Viola balik. Dila menggelengkan kepalanya. "Tidak ada bu. Tapi ibu sudah izin ke bapak kan kalau ibu mau keluar?" Wajah kesal Viola sudah mulai terlihat. Ia merasa Dila sangat ingin tahu semua hal tentangnya. "Saya akan kabari Ezra nanti," ucap Viola. Setelah megatakan itu, Viola berjalan pergi meninggalkan Dila yang sepertinya masih banyak yang ingin ia tanyakan. Sepanjang perjalanan, Viola berpikir mengenai Dila. Ia tidak tahu kalau ada seorang asisten rumah tangga yang sangat ingin tahu tentang dirinya. Dering ponsel Viola bergetar, menandakan satu pesan masuk ke ponselnya. Ia pun membaca pesan tersebut, dari nomor yanh tidak ia kenali. Tetapi isi pesan tersebut berhasil membuat Viola terdiam untuk beberapa saat. Kamu mau pergi kemana? Saya tahu pernikahan ini tidak berarti untuk kamu tapi setidaknya kamu harus izin terlebih dahulu kepada saya kalau kamu mau keluar. Bahkan tanpa ada nama di pesan tersebut, Viola sangat tahu siapa yang mengirimkannya pesan tersebut. Ia merasa sedikit lucu dengan pesan yang dikirim Ezra padanya. Bukan hanya dirinya saja yang menganggap pernikahan ini tidak berarti. Ezra juga menganggapnya seperti itu. Ia memilih untuk mengabaikan pesan tersebut. Viola kembali menyimpan ponselnya kedalam tas sandangnya. Ia ingin melihat seperti apa reaksi Ezra nantinya. Mata Viola ia pejamkan. Ia akan menikmati perjalanan menuju ke rumahnya dengan damai. Ia tidak mau memikirkan hal-hal yang akan merusak suasana hatinya. *** "Sayang.. Kamu pulang. Mama rindu banget sama kamu. Kamu udah sarapan? Kita sarapan bareng yuk," ucapan beruntun dari mama Viola membuat Viola menyungkirkan senyuman. Ia sangat rindu dengan sang mama. "Viola masih kenyang mi. Tadi Viola udah makan di rumah,'" balas Viola. Ia duduk di sebelah mama setelah ia mengecup pipi sang mama. Untuk sesaat Syilla hanya diam sembari menatap wajah Viola hangat. Belum seminggu Viola meninggalkan rumah, ia sudah merasa sangat merindukan putrinya ini. "Ayah mana ma?" tanya Viola. "Kerja. Abang kamu sebentar lagi mau balik ke sini sayang. Katanya dia mau lanjutin perusahaan ayah. Akhirnya rumah ini enggak akan sepi lagi." Viola tidak sabar menunggu kepulangan abangnya itu. Walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah, tetapi Viola sudah menganggap pria itu sebagai saudara kandungnya. "Mama harusnya suruh dia nikah cepat, biar mama punya cucu nanti. Kan lebih seru main sama cucu, ma." "Kenapa harus nunggu abang nikah? Kamu kan udah nikah, mama nunggu cucunya dari kamu saja. Cepat tumbuh ya sayang," tutur Syila sembari mengelus perut Viola. Viola ingin tertawa ketika Syila menyentuh perutnya. Ia tidak mungkin akan hamil. Tidur saja ia terpisah dengan Ezra. Tapi akan sulit memberitahu mama jika ia dan Ezra memiliki hubungan yang sangat-sangat aneh. "Doain aja ma." hanya itu yang bisa Viola ucapkan membalas mamanya. "Selalu sayang. Mama dan ayah selalu mendoakan kamu." Senyuman Viola tercipta mendengar itu. Pandangan matanya teralih ke seisi rumahnya. Ia sangat merindukan rumahnya ini. Tapi sekarang ia malah harus berada di rumah yang tidak seperti rumah untuknya. "Oh iya ma.. Hari ini aku mau bawa mobil ku ya. Di sana mobil cuman satu, kalau Ezra kerja aku gak ada kendaraan untuk keluar. Dan juga aku udah mutusin untuk kerja. Bosen banget di rumah itu kalau gak ada kegiatan. Rumah udah ada yang urus, makanan udah ada yang buat. Jadi lebih baik aku kerja untuk menghilangkan kesuntukkan aku. Gimana menurut mama?" Syila menganggukkan kepalanya. Ia sangat setuju dengan pemikiran putrinya ini. "Mama sih setuju ya. Kamu pasti bosen banget di sana. Nanti mama bilang sama ayah kalau kalau kamu akan kerja lagi." Perasaan lega dirasa oleh Viola. Ia sebenarnya takut jika mamanya melarangnya untuk bekerja. Pasalnya ia sudah menikah dan sekarang ia memiliki seorang putri. Untung saja mama Viola sangat mendukungnya untuk bekerja. "Setelah ini mau kemana? Mau temanin mama belanja gak?" tawar Syila pada Viola. Mendengar penawaran itu, tentu saja Viola segera menganggukkan kepalanya. Sudah lama ia tidak belanja berdua dengan mamanya. *** Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Viola berjalan memasuki rumah dengan berbagai paper bag di kedua tangannya. Ia sangat tidak sabar untuk membuka semua barang belanjaanya. Langkah Viola menuju kamarnya. Ia membuka kenop pintu dan masuk ke dalam kamar serta meletakkan semua paper bag nya keatas tempat tidur. Tangan Viola akan membuka barang-barang belanjaanya. Tetapi betapa terkejutnya ia ketika mengalihkan pandangnya kearah sofa yang ada di kamar. Ia dapat melihat Ezra sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Bahkan wajah Ezra terlihat sudah memerah karena menahan amarah. Melihat Ezra yang memasang ekspresi seperti itu, membuat jantung Viola berdetak kencang. "Kam.. Kamu udah dari tadi di sini?" tanya Viola mencoba untuk membuka pembicaraan. Ia mencoba bersikap biasa saja. "Dari mana?" Bukannya menjawab pertanyaan Viola, Ezra malah kembali melemparkan pertanyaan. Hanya dua kata itu saja membuat bulu kuduk Viola seketika bediri. Suara datar yang dikeluarkan Ezra sangat-sangat menakutkan. "Aku dari tempat mama tadi," jawab Viola. "Handphone kamu?" Viola teringat mengani ponselnya. Ia sengaja menonaktifkan ponselnya ketika berbelanja dengan mama tadi. Ia tidak mau diganggu oleh siapapun jika sedang bersama mama. "Ponsel ku mati. Maaf..." Hanya itu yang Viola lontarkan. Ezra menghela napas panjang mendengar jawaban yang tidak memuaskan dari Viola. "Pertama, kamu pergi tanpa izin saya. Kedua handphone kamu tidak bisa di hubungi. Dan Ketiga kamu membuat Thalia menangis karena menunggu kepulangan kamu. Kamu sangat-sangat tidak menghargai saya, Viola." Ezra bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Viola. "Bukannya mbak Dila udah kasih tahu kamu kemana tujuan aku? Aku baru tahu kalau seorang asisten rumah tangga sangat penasaran kemana tujuan aku pergi. Jujur Ezra.. Aku tidak suka jika kamu mencari tahu aku dari orang lain," ucap Viola mengeluarkan kekesalannya. Viola menatap balik wajah Ezra dengan kesal. Ia tidak mau Ezra meintimidasi dirinya, karena ia juga bisa mengintimidasi Ezra. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN