Juwita menghampiri Jevano yang berdiri di teras rumah. Dia mencolek pundak pemuda itu. "Maaf, ya, Bunda agak lama." Jevano hanya menoleh sejenak dan mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. "Hmm. Enggak papa, Tante." Tetap saja nada bicaranya datar seperti triplek. Satu lagi, sebutan itu belum juga berganti. "Kamu tunggu di sini, ya. Bunda mau ambil mobil dulu." Juwita berpamitan. Dia meninggalkan belaian di rambut Jevano lalu pergi ke garasi. Tanpa sepengetahuan Juwita, pemuda itu tersenyum meskipun tipis. Bahkan hampir tidak terlihat. Dia pun tetap berdiri setia menunggu bundanya sambil memandang luas halaman depan rumah kakeknya ini. Sangat asri sekali. Ada kolam ikan di halaman depan dan tanaman hias yang terjaga dengan baik. Sungguh membuat dirinya sangat betah untuk tinggal dan

