Bab 1
Siapa yang tidak mengenal Jhordan Axston Pradistira, seorang pewaris tunggal yang terlahir dari keluarga terkaya nomor satu se-asia. Tuan muda itu merupakan anak dari seorang pengusaha ternama, Edric Alson Pradistira dan Devi Audy. Tidak ada yang bisa mengalahkan ketampanan dari seorang Jhordan. Hidung mancung, beralis tebal, berbulu mata lentik, badan yang putih bersih, tinggi, rambut yang begitu hitam pekat, ditambah dengan postur tubuh yang sixpack. Fisik yang begitu sangat menggoda para kaum wanita bukan? Iya sudah tentu dan sangat jelas.
Satu motor ninja berwarna hitam bercampur merah terparkir di parkiran sekolah. Banyak saksi mata yang sengaja melihatnya dengan penuh kekaguman. Pria itu membuka helm full facenya lalu menyugar rambut hitamnya ke belakang.
"Aaaaaaaa!" teriak para siswi SMA DIRGA begitu histeris.
"Ya ampun, ganteng banget sih Jhordan."
"Hua, gak tahan liat ketampanannya."
"Jhordan ajakin gue nikah dong!"
"Jadi pacar gue aja Jhordan."
"Pagi ini sesuatu banget, bisa lihat lord dari dekat!"
"Ganteng banget sih, astagfirullah."
Begitulah kira-kira teriakan histeris dari para siswi SMA DIRGA yang tergila-gila dengan ketampanan seorang Jhordan.
Pria tampan itu pun turun dari motornya, teriak yang berbau pujian-pujian itu bagaikan makanan sehari-hari yang tidak asing lagi baginya.
"Jhordan, sini!" teriak seseorang dari arah kantin memanggil pria yang bagaikan lord di sekolah SMA tersebut.
Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, Jhordan pun melirik untuk melihat siapa yang berteriak memanggilnya. Tanpa banyak basa basi, Jhordan langsung menghampiri seseorang itu dan ikut bergabung bersama mereka.
"Tumben dateng telat?" celetuk seseorang yang tengah duduk sibuk memainkan ponselnya. Dia adalah Maikal Aldon, tangan kanan di geng Ambadistira, wakil Jhordan.
"Emang lo pernah liat pak bos dateng pagi gitu?" sahut Aji sambil menoyor kepala Maikal pelan. "Gue belah tuh samudera!" lanjutnya sambil melempar kulit kacang ke arah Arka.
"Sialan!" sahut Arka sambil menatap Aji dengan sorot matanya yang tajam. Sedangkan yang ditatap malah nyengir kuda memperlihatkan seluruh gigi putihnya.
Jhordan tidak menggubris ocehan demi ocehan teman-temannya yang menurutnya sama sekali tidak penting. Dingin? Ya, Jhordan adalah makhluk terdingin di sekolah, tidak ingin menyapa jika tidak disapa. Disapa pun jika bukan pertanyaan yang begitu penting, maka ia jarang menggubrisnya.
"Geng Chander katanya mau balas dendam karena kematian Alex kemarin," celetuk Barra yang sedari tadi hanya diam dan perkataannya lebih tertuju kepada Jhordan yang merupakan ketua geng mereka.
"Kali ini kayaknya bakalan jadi pertempuran hebat deh," ucap Arka sambil mengedikkan bahu.
"Mungkin selain balas dendam karena kematian Alex kemarin, mereka juga belum bisa nerima kalo mereka kalah," timpal Aji yang mengatakan apa yang ada di pikirannya.
Maikal menyugar rambutnya ke belakang. "It's ok, kita ikuti saja permainannya," jawaban Maikal langsung mendapat anggukan dari teman-temannya dan deheman kecil dari ketuanya.
***
"Maaf mau tanya, kalau ruang guru di sebelah mana ya?" tanya seorang gadis kepada salah satu siswa di sana.
"Murid baru ya?" tanyanya yang langsung mendapat anggukan dari gadis itu. "Lo tinggal jalan aja lurus, terus belok kanan abis itu ada satu ruangan yang dicat beda, nah lo tinggal masuk aja!" lanjutnya menjelaskan.
Vanka mengangguk paham. "Oke, thanks ya," jawab Vanka yang dibalas dengan acungan jempol dari siswa itu.
Tak banyak basa-basi lagi, Vanka akhirnya pergi ke tempat yang sudah dijelaskan siswa tadi. Setelah beberapa menit menyusuri ruangan demi ruangan, Vanka dikagetkan dengan satu teriakan dari seseorang.
"Vanka Queenadira!" teriak seseorang dengan lantang dari arah belakang tubuhnya.
Vanka sontak menoleh ke arah sumber suara itu, ternyata di sana sudah ada ketiga sahabatnya. Abel, Alana, dan yang terakhir Lulla. Tak banyak bicara lagi ketiga sahabatnya itu langsung berlari menghampiri Vanka.
"Gak nyangka kita sekarang satu sekolah lagi," ucap Abel yang terdengar sangat bahagia setelah memeluk singkat tubuh Vanka.
"Dikira bakalan LDRan terus kita," timpal Alana yang juga tersenyum bahagia menyambut kedatangan Vanka di sekolahan mereka sebagai siswi baru.
"Gue dipindahin papa ke sekolah ini, katanya biar tetap kepantau. Anyway, gue seneng banget bisa satu sekolah lagi sama kalian bertiga," jawab Vanka seraya mengulas senyuman manis dari kedua sudut bibirnya.
"Ya, mungkin papa lo khawatir kalau lo jauh dari pantauannya. Tapi lo harus betah sekolah bareng kita di sini ya!" ucap Lulla menyemangati Vanka.
Vanka pun menganggukkan kepala untuk mengiyakan perkataan Lulla. Memang benar apa yang dikatakan gadis itu. Devan, papanya Vania sengaja memindahkannya ke SMA DIRGA karena semata-mata ia khawatir jika membiarkan putrinya sekolah jauh-jauh dari pantauannya.
"Tapi ada bagusnya juga sih, jadi gue bisa gabung lagi sama kalian." Vanka menjawabnya dengan penuh rasa lega.
"Gue udah kangen banget sama lo, tau gak sih!" Abel yang seolah belum puas melampiaskan rasa rindunya pada Vanka, ia pun kembali memeluk singkat tubuh sahabatnya, lalu merangkul pundak Vanka.
"Gue juga tau, Van." Alana ikutan merangkul bahu Vanka, begitu pun dengan Lulla yang tak mau ketinggalan. "Gue apalagi."
Vanka merasa terharu memiliki tiga sahabat yang begitu menyayanginya. Keempatnya pun saling berpelukan untuk melepas rasa rindu satu sama lain. Setelah puas mengobati kerinduan mereka, Vanka pun teringat dengan tujuan awalnya.
"Oh ya, gue harus cari ruang guru," ucap Vanka pada ketiga sahabatnya.
Abel menarik tangan Vanka. "Yuk kita anter," jawabnya sambil berlalu lebih dulu dan memegang tangan Vanka yang diikuti kedua sahabatnya di belakang, Alana dan Lulla.
Setelah lima menit berjalan, akhirnya mereka sampai di ruang guru.
"Permisi, Pak." sapa Abel kepada salah satu guru yang sedang duduk di mejanya.
"Ada perlu apa, Bel?" tanya Pak Erwin sambil menatap ke arah siswi yang menyapanya.
"Ini ada murid baru, Pak," jawab Abel sambil menarik tangan Vanka supaya sejajar dengannya. Sedangkan Vanka hanya tersenyum sebagai sapaan pertama.
"Oh ini. Cantik ya, pasti murid pintar!" ungkap Pak Erwin, lalu membalas senyuman dari Vanka.
Alana yang mendengar perkataan itu pun langsung menepuk pundak Pak Erwin pelan. "Ah, si bapak sa ae." Alana berucap dengan bahasa gaul sambil terkekeh lucu.
"Huh, dasar liat yang cantik aja langsung baik." Abel protes lalu mengerucutkan bibirnya geram.
"Tapi memang benar cantik kan?" klarifikasi Vania si pemilik wajah cantik. "Udah ah, Abel, jangan sok-sokan monyongin bibir kamu terus. Udah mirip bebek kok!" lanjutnya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Abel. Sedangkan yang lainnya terkekeh geli melihat ekspresi wajah yang ditampilkan oleh Abel.
"Bel masuk sebentar lagi akan berbunyi. Kalian bertiga duluan ke kelas, biar murid baru ini biar di sini dulu!" titah Pak Erwin sambil menunjuk arah jarum jam dinding.
Alana, Lulla dan Abel mengerucutkan bibirnya bersamaan, seolah tidak rela berpisah dengan Vanka. Kemudian berlalu dari ruang guru menuju kelasnya sambil menghentak-hentakan kakinya karena kesal pada Pak Erwin yang tak membiarkan mereka masuk kelas bersama Vanka.
Mereka bertiga akhirnya sampai di kelas, dan duduk di bangku masing-masing. Mereka menempati kelas IPA II, di mana kelas yang paling anggun dan kalem, juga ramah-ramah penghuninya, kelas yang paling dicap rapi bahkan terbersih di seantero sekolah. Berbeda dengan kelas IPA I yang bahkan berbanding balik dengan kelas IPA II. Ya, berarti kelas paling kotor, kusam, dihuni oleh orang-orang yang kurang rapi.
"Vanka makin cantik aja ya setelah dua tahun gak ketemu," papar Alana sambil duduk menghadap belakang, ke tempat duduk Abel.
Abel mengangguk. "He'em makin good looking aja si Vanka."
"Gak salah pilih gue punya sahabat cantik kayak Vanka," timpal Lulla sambil menaikkan kedua alisnya yang merasa bangga.
"Heh, sahabat kita juga ya, kalo lu lupa." Abel protes sambil menyentil jidat Lulla sedikit kencang.
"Argh, sakit tahu!" keluh Lulla sambil mengusap-usap jidatnya yang terasa perih setelah disentil oleh sahabatnya yang ringan tangan.
"Selamat pagi, murid-muridku sekalian!" Sapa seseorang dengan suaranya yang halus dan khas.
Seluruh siswa-siswi kelas IPS II sontak langsung melihat ke sumber suara yang berasal dari ambang pintu kelas.
Ternyata itu adalah Pak Erwin yang sudah melangkah masuk ke dalam kelas dan langkahnya diiringi oleh Vanka yang berada di sampingnya.
"Oh my God, akhirnya bisa ngerasain satu kelas lagi sama sahabat gue yang tajir!" ujar Abel dengan penuh rasa syukur.
Melihat kehadiran siswi cantik yang berada di samping Pak Erwin membuat seisi kelas heboh dan bertanya-tanya siapakah sosok gadis cantik itu.
"Perkenalkan semua, yang bersama bapak saat ini adalah siswi baru yang akan bergabung dengan kalian mulai hari ini. Teman baru kalian di kelas, baikpun di sekolah. Ayo Vanka, silakan perkenalan dirimu pada teman-teman di sini!" ucap Pak Erwin menjawab rasa penasaran murid yang tidak tahu siapa sosok Vanka. Lalu mempersilakan gadis itu untuk memperkenalkan diri dari depan kelas.
"Baik, Pak. Terima kasih." Vanka tersenyum sembari mengangguk. Lalu ia menatap lurus ke depan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas, menatap sekilas calon teman-teman barunya, selain Abel, Lulla dan Alana.
"Hai, teman-teman semua. Salam kenal, namaku Vanka Queenadira, pindahan dari sekolah lain. Tapi tenang aja, aku pindah bukan karena buat masalah, tapi biar dekat sama papaku." Dengan suaranya yang halus, Vanka memperkenalkan diri sambil melambaikan tangan, menebarkan senyuman manis membuat para siswa terbuai akan kecantikannya.
"Salam kenal, Vanka cantik. Semoga betah ya di sini dan jangan pindah-pindah lagi," sahut seorang murid lelaki yang langsung berani menggoda Vanka.
Beberapa siswa dan siswi lainnya pun menyambut baik perkenalan diri Vanka. Lalu Pak Erwin mempersilakan gadis cantik itu untuk duduk agar bisa ikut pelajaran pertama di SMA DIRGA.
Dan pada saat itu Vanka duduk tepat di samping Abel, ia terlihat siap untuk memulai pelajaran pertamanya dengan raut bahagia.
***
Tepat pukul 10.00, bel istirahat pun berbunyi. Menyudahi kegiatan belajar mengajar di seluruh kelas SMA DIRGA. Para siswa-siswi terlihat lega setiap mendengar bel tersebut. Rencana di kepala mereka saat ini adalah datang ke kantin, mengisi perut yang lapar setelah menghadapi dua mata pelajaran.
"Bel istirahat sudah berbunyi, kalian silahkan istirahat!" ucap Pak Erwin memberitahu, sekaligus menyudahi kelasnya.
"Siap, Pak!" jawab para siswa siswi IPA II serempak.
"Kuy ngantin!" ajak Abel pada ketiga sahabatnya sambil berdiri dari bangku duduknya.
Vanka, Alana dan Lulla pun ikut berdiri menyusul Abel. "Ayo," jawab ketiganya bersamaan.
Mereka pun keluar kelas bersama-sama, berjalan melewati kelas IPS I yang terkenal dengan kelas yang tercap buruk. Sepanjang perjalanan mereka mendapat sorak teriakan yang berbau pujian dari para siswa yang tertuju pada Vanka.
"Hai, cantik. Kamu pasti murid baru pindahan dari kayangan ya?" goda seorang siswa genit yang berani menggombal secara terang-terangan, tidak tahu malu.
"Kenalan dong, gue Aldi si ganteng dar kelas sebelah nih!" susul murid yang lainnya.
"Lempar line-nya dong cantik."
"Wow, cantik sekali everibadeh."
"Bidadari turun ke SMA DIRGA, guys."
Begitulah riuhnya para siswa ketika melihat gadis cantik bernama Vanka melintas di hadapan mereka semua saat hendak pergi ke kantin.
Abel menyenggol lengan Vanka yang tidak terusik sama sekali. Bahkan sorakan pujian itu sangat ramai dan berisik sekali, akan tetapi Vanka tidak menggubrisnya sedikitpun.
"Gila, baru beberapa jam pindah ke sekolah ini, lo langsung punya banyak fans berat, Van!" ucap Abel dengan penuh bangga.
Sementara Vanka hanya tersenyum tipis, karena semua pujian yang saat ini tertuju padanya sudah sering ia dengar di sekolah sebelumnya. Vanka tak ingin terlalu menanggapi, takut membuat salah paham dan akan ada yang menjadi korban baper.
Bersambung...