Bab 2

1909 Kata
Gila sih, ini beneran gila, sahabat gue banyak yang naksir guys!" sorak Lulla dengan penuh decak kagum. Alana menepuk pundak Vanka pelan. "Van, banyak cowok yang naksir lo tuh!" ucapnya memberitahu karena sedari tadi Vanka tak menanggapi apa-apa. Vanka hanya berdehem pelan sebagai jawaban. Dingin? Tidak juga, Vanka bukan dingin, dia hanya acuh dan cuek juga tidak terlalu peduli dengan sekitar. Sedangkan di sisi lain Jhordan dan kawan-kawannya sedang asik duduk di bangku kelasnya. Sorakan-sorakan yang berasal dari luar kelas itu terdengar sangat nyaring hingga mereka yang tengah duduk santai merasa terganggu. "Ck, apaan sih berisik banget!" umpat Maikal sambil menutup telinganya. "Pada heboh bener sih, kayak abis nemu harta karun aja!" timpal Aji sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Berusaha mencari tahu apa yang terjadi di luar sana. Hingga pandangannya terhenti, menatap sesuatu yang indah dari posisinya saat ini. Barra menoyor kepala Aji pelan. "Ji, lo kenapa dah? Kesambet lu," tanyanya yang merasa risih dengan gelagat Aji. Aji tidak menggubrisnya, ia tetap fokus pada pemandangan indah yang sudah ada di depan matanya. Karena kesal, Arka ikut menoyor kepala Aji dengan kencang. "Aw, sakit sialan!" umpat Aji sambil mengusap-usap kepalanya. "Lagian ditanya malah diem aja. Mau bisu lu?" sewot Arka sambil melempar kulit kacang tepat mengenai hidung mancung Aji. "Liat tuh, di luar ada cewek cantik. Kayaknya dia murid baru deh!" jawab Aji yang seketika menyudahi rasa penasaran teman-temannya sejak tadi. Lalu ia kembali fokus menatap gadis yang bagaikan bidadari turun dari langit. Karena penasaran, Arka, Barra, Maikal dan Jhordan pun ikut menoleh ke arah di mana Aji mengarahkan pandangannya. "Wow, amazing." Sontak saja mereka secara bersamaan memuji penuh decak kagum gadis cantik yang tak lain dan tak bukan itu adalah Vanka. Mereka menggelengkan kepalanya karena baru melihat gadis secantik itu, terkecuali dengan Jhordan, ia hanya diam dan hanya tersenyum seperlunya. *** "Mau pesen apa?" tanya Alana setelah keempatnya duduk di sebuah meja yang berada di kantin. "Emang ada menu apa aja?" tanya balik Vanka. "Banyak sih, bentar deh gue ambilin buku menunya dulu," Jawab Alana yang langsung mendapat anggukan dari Vanka. Alana pergi ke kasir untuk meminta buku menu kantin. Sedangkan Vanka, Abel dan Lulla tengah asik memainkan ponselnya. Setelah beberapa menit menunggu, Alana pun datang kembali, lalu terdengar suara sorak-sorai yang sangat ramai. Entah ada sesuatu apa yang sedang terjadi, yang jelas suara itu terdengar dari para siswi-siswi. "Ck, kenapa sih pada berisik?" tanya Vanka yang merasa aneh karena terjadi banyak keributan di sekolah barunya. "Ada geng ambadistira deh kayaknya," jawab Lulla yang sudah hafal betul dengan apa yang terjadi jika terdengar suara teriakan histeris seperti itu, sambil melirik dan mengedarkan pandangannya untuk memastikan keberadaan geng inti Ambadistira. "What? Ambadistira? Apa sih itu, gue gak ngerti." Vanka mengernyitkan dahinya karena tidak paham. "Geng motor yang terkenal itu loh Van, masa lo gak tau sih?" jawab Abel menjelaskan. Sementara Vanka hanya menggeleng menandakan bahwa ia tidak tahu. Abel menghela napasnya berat, lalu memutar bola matanya malas. "Ambadistira siapa deh, Na?" tanya Vanka pada Alana yang duduk di hadapannya. "Geng motor gabungan antara jakarta sama bandung. Mereka terkenal sama kekejamannya, tapi berlaku cuma buat musuhnya aja. Selebihnya mereka sering membantu banyak masyarakat yang membutuhkan," jawab Alana menerangkan dan membuat Vanka mulai paham dengan nama geng yang baru di dengarnya. Vanka hanya mengangguk sambil menyimak dengan baik. " Intinya geng Ambadistira ada lima anggota. Nah, itu mereka!" lanjut Alana sambil menunjuk ke arah di mana ada lima orang lelaki yang gagah dan berwibawa sedang berjalan masuk ke dalam kantin. "Yang paling depan itu adalah Jhordan Axston Pradistira, ketua geng Ambadistira. Jendral gengnya juga ayahnya sendiri. Lo tau 'kan Mr. Edric?" tanya Alana sambil menatap Vanka serius. "Tau kok," jawab Vanka sambil mengangguk. "Nah, Jhordan terlahir dari keluarga itu, dia anak tunggal. Lo juga tau kan edaran berita tentang kekayaan harta dari keluarga Pradistira? Mereka pengusaha terkenal se-asia dan keluarga terkaya nomor satu juga. Nah, itu sekilas tentang Jhordan dari gue, tapi selebihnya gue gak tau apa-apa, cuma itu doang yang gue tau sih." Alana yang berbaik hati mau repot-repot menjelaskan tentang siapa Jhordan pada sahabatnya yang baru bergabung di sekolah tersebut. Dan Vanka masih setia mendengarkan sambil menyimak. "Yang di samping kanan itu adalah Maikal, tangan kanannya geng Ambadistira atau wakilnya Jhordan. Dia dari keluarga Pratama yang menduduki perusahaan pertamina terkenal nomor tiga setelah keluarga Jhordan dan keluarga lo." "Nah, yang tiga itu mereka Barra, Arka, dan Aji. Kalo Barra yang lagi ngunyah permen karet itu, noh lo liat aja mulutnya kunyam-kunyem gitu." Alana kembali menjelaskan, namun kali ini malah mendapat bogeman kecil dari Lulla sambil terkekeh geli. Begitupun dengan Vanka dan Abel ikut tertawa kecil karena ucapan receh dari Alana. " Kalo Arka, dia yang ada di samping kirinya Jhordan. Nah, yang terakhir Aji yang ada di tengah, di antara mereka. Tentang keluarga mereka bertiga gue gak tau sih, yang jelas mereka semua terlahir dari keluarga pengusaha ternama semua. Keren 'kan, satu geng cowoknya tajir dan tampan-tampan semuanya." Dari cerita panjang kali lebar yang dijelaskan Alana, Vanka hanya membalasnya dengan anggukan paham. "Udah ah yok makan, tenggorokan gue juga udah kering nih gegara ngomong mulu." Alana pun langsung mengambil gelas yang berisi jus jeruk yang baru saja diantarkan oleh pelayan kantin, dan bergegas menyeruputnya. Mereka berempat pun mulai menyantap makanannya masing-masing, tanpa ada suara yang berbicara. Namun, tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang memperhatikan salah satu dari mereka. "Cantik!" batin seseorang di kedalaman hatinya. *** Bel sebagai tanda bahwa istirahat sudah berakhir pun berbunyi, Vanka dan teman-temannya sedang berjalan menuju kelas, tapi tiba-tiba Vanka menghentikan langkahnya secara mendadak. "Van, lo kenapa?" tanya Alana dengan kedua alis yang saling bertaut. "Lo gak apa-apa?" tanya Lulla yang sedikit bingung. Abel menyentil jidat Vanka pelan. "Heh dodol, kenapa sih?" "Kebelet pipis," jawab Vanka seraya terkekeh. Dan itu terkesan sangat menyebalkan di mata ketiga sahabatnya yang sempat dibuat kaget. "Sialan, bikin kaget aja!" emosi Abel sambil memukul pelan lengan vanka. "Tinggal bilang aja kenapa sih, gak usah bikin tegang deh!" sewot Alana sambil menoyor kepala Vanka. "Ih, sakit!" protes Vanka sambil mengusap kepalanya. "Mau dianter gak?" tanya Lulla menawarkan. "Gak usah deh, gue udah gede. Kalian duluan aja, nanti gue nyusul." Vanka menolak dengan halus karena tak ingin merepotkan teman-temannya, sebab bel istirahat sudah berakhir dan mereka harus segera kembali ke kelas. "Awas, nanti lo lupa jalan pulang, Van." Alana meledek Vanka sembari mengingatkan untuk berhati-hati. "Enak aja lu, dikata gue bocah!" balas Vanka, lalu memutar kedua bola matanya dengan malas. "Ya kali." sambar Alana, lalu terkekeh geli. "Ya udah, kita duluan ya, kalo ada apa-apa langsung kontek kita!" pesan Abel sebelum berlalu pergi, dan langsung mendapat anggukan paham dari Vanka. Vanka berbalik arah menuju toilet, sedangkan ketiga sahabatnya pergi ke kelas. Tak butuh waktu lama, akhirnya Vanka menemukan tempat yang akan ia tuju. Vanka membuka pintu toilet dan menutupnya kembali. Lalu ia membalikan tubuhnya hendak kembali ke kelas setelah selesai dari toilet. Namun, sebelum berjalan ada seseorang yang tengah berdiri tepat di hadapannya. Vania yang merasa kaget, ia hampir saja berteriak. Namun, itu tak sampai terjadi karena seseorang yang berada di hadapannya langsung membekap mulut Vanka dengan tangan kekarnya. Seseorang itu berpikir, bisa berabe kalau sampai ada orang yang mendengar jeritan dari Vanka. "Lepasin!" tegas Vanka yang tak terdengar jelas karena masih dibekap oleh pria itu. Dengan cepat pria itu langsung melepaskan tangannya setelah membekap mulut Vanka. Akhirnya kini Vanka bisa bernapas dengan lega dan bebas. "Lo ngapain di sini? Apa jangan-jangan lo ngintip gue ya?" tuduh Vanka yang bertanya penuh nada interogasi. Tidak ada jawaban dari pria itu. Dia malah membalikan badannya dan berlalu meninggalkan Vanka begitu saja. Namun, sebelum pria itu membuka pintu, Vanka menahan tangan kekarnya dan membalikan badan pria itu agar berhadapan dengannya. "Jawab dulu pertanyaan gue!" tanya Vanka dengan memaksa. "Ck, apa?" tanya pria itu sembari melengkungkan sebelah alisnya. "Lo ngintip gue 'kan? Atau sengaja Lo ngikutin gue?" tanya Vanka mengulangi pertanyaannya. "Gak guna!" jawabnya begitu terasa dingin. "Terus ngapain di sini?" tanya Vanka yang semakin kesal sembari menghentakkan kakinya. Pria itu tidak menjawabnya, ia hanya menunjukan satu jarinya ke arah belakang Vanka. Lebih tepatnya ke atas pintu toilet yang terpangpang jelas gambar seorang pria. Vanka melongo tidak percaya bahwa ia salah masuk toilet. "Ck, bodoh! Kok bisa sampe salah masuk toilet gini sih," batin Vanka penuh sesal dan rasa malu. Vanka membalikan badannya kembali menghadap pria tinggi di depannya lalu tersenyum lebar, karena merasa bahwa dirinyalah yang salah, sedangkan pria itu hanya memandang Vanka dengan ekspresi datar. Gadis itu menunduk karena merasa begitu malu, niatnya ia ingin segera keluar dari toilet khusus pria itu. Namun, baru saja selangkah tangannya sudah lebih dulu dicekal kuat oleh pria bertubuh tinggi tadi. Terpaksa Vanka kembali menoleh menghadap pria itu, hanya kepalanya saja yang memperlihatkan wajah cantik dan menawannya. "Apa?" tanya Vanka sambil mengerucutkan bibirnya. Pria itu sontak langsung membalikan tubuh mungil Vanka dan memojokkannya di dinding toilet. Jarak antara keduanya begitu sangat dekat, bahkan napas pria itu bisa Vanka rasakan berhembus di depan hidungnya. "Ih bodoh, jauh-jauh sana!" ketus Vanka sambil mendorong tubuh kekar pria itu. Namun, tidak ada hasil, tubuhnya terlalu besar dan tinggi hingga Vanka yang mungil tidak bisa menggeser tubuh pria itu sedikitpun. Pria itu memajukan wajahnya semakin mendekat. Hingga Vanka memalingkan wajahnya ke samping, tidak berani menatap pria itu dengan jarak yang sangat dekat. "Gue Jhordan Axston Pradistira, bukan si bodoh!" tegas pria itu memperingati Vanka dengan suaranya yang terdengar berat, tepat di telinga Vanka hingga hembusan napasnya pun sangat terasa hangat di daun telinga gadis itu. Sedangkan Vanka terdiam kaku. Tubuhnya tiba-tiba bergidik ngeri, apalagi ketika merasakan hembusan napas Jhordan yang mengibas di daun telinganya, membuat bulu kuduknya merinding karena baru pertama kali Vanka berinteraksi sedekat ini dengan pria lain. Sementara Jhordan tertawa puas di dalam hati melihat Vanka yang mematung tanpa bergerak sedikitpun. "Ini toilet pria, lo gak mau keluar?" tanya Jhordan yang membuat Vanka kembali tersadar. "Ya mau lah. Ngapain juga gue di sini. Makanya cepetan enyah dari hadapan gue!" titah Vanka yang berusaha menutupi kegugupannya. Jhordan kemudian enyah dan segera membuka pintu kamar mandi tersebut. "Cepat keluar!" titahnya membuat Vanka merasa jengkel bukan kepalang. "Tanpa disuruh dan dibukain pintu juga gue bakalan keluar sendiri!" jawab Vanka sambil melangkahkan kakinya hendak keluar. Namun, tiba-tiba pintunya kembali Jhordan tutup sampai rapat. "Ish, kenapa ditutup lagi sih?" tanya Vanka yang semakin kesal berurusan dengan Jhordan yang seperti sengaja mempermainkannya. "Tadi bilangnya bisa keluar sendiri 'kan? Sana, buka pintunya sendiri, jangan manja!" ledek Jhordan sambil tersenyum sinis. "Menyebalkan! Dasar lo cowok paling nyebelin di muka bumi ini! Awas, gue mau lewat!" umpat Vanka yang serasa ingin meninju wajah pria itu sampai babak belur, namun ia berusaha menahan diri. Kemudian Vanka membuka pintu toilet dan segera melangkah pergi meninggalkan tempat yang akan menjadi kenangan paling buruk untuk diingat kembali. Setelah memastikan Vanka sudah benar-benar tidak ada di sekitar kamar mandi, Jhordan terkekeh geli, bahkan sampai senyum-senyum sendiri sambil memandangi dirinya di pantulan kaca yang ada di ruang toilet. Ia merasa lucu mengingat tingkah Vanka yang jika semakin dibuat marah terlihat semakin menggemaskan. Vanka berjalan dengan tergesa-gesa sambil menghentakkan kakinya karena merasa sangat kesal. Baginya ini adalah hari yang sangat menyebalkan, bisa-bisanya ia salah masuk toilet, dan lebih parahnya lagi Vanka harus bertemu dengan Jhordan, si pria paling menyebalkan yang ada di bumi ini. "Nyebelin! Bisa-bisanya si Jhordan itu ngerjain gue kayak tadi! Awas aja kalau sampai gue ketemu dia lagi, gue akan balas perbuatannya!" umpat Vanka berdecih kesal di dalam hati, merutuki perbuatan Jhordan tadi sewaktu ia salah masuk kamar mandi. Bersambung….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN