Setelah beberapa menit menyusuri ruangan demi ruangan, akhirnya Vanka sampai di depan kelasnya dan kembali duduk di samping bangku Abel. Abel yang mulai heran dengan raut wajah Vanka sejak pertama masuk sepulang dari toilet itu langsung menepuk pundak Vanka pelan.
"Et dah, kenapa lu?" Tanya nya.
"Hooh kesambet apaan lu Van." Ujar Lulla yang langsung mendapat anggukan dari Alana, menandakan bahwa ia pun menyetujui pertanyaan dari Lulla, namun orang yang dituju nya hanya menjawab dengan deheman kecil saja.
"Sialan lu, gue nanya." Seru Abel sedikit agak ngotot.
"Abis ketemu sama apaan sih lo kok tiba-tiba gitu dah." Tanya Alana yang baru membuka mulutnya yang sejak tadi hanya diam menyimak.
"Abis ketemu demit." Jawab Vanka datar.
Abel sontak terkejut hingga refleks menggebrak meja dengan kencang.
"Heh, lo beneran ketemu sama dedemit di toilet?"
"Terus, lo gimana tadi,Demit nya lo tonjok gak,Lo tampar gitu, atau lo smackdown gak?" Umpat Alana dengan nada paniknya.
Sedangkan Abel, Lulla dan juga Vanka hanya memutar bola matanya malas, lalu Abel menoyor kepala Alana kencang.
"Bodoh,itu demit bukan manusia Alana mana mungkin bisa ditinju." Ucapnya sinis.
Alana nyengir kuda memperlihatkan gigi putihnya yang rapi sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
"Iya juga sih ya, hehe."
"Gak usah nyengir gitu, udah mirip kuda kok." Celetuk Lulla sambil terkekeh geli, sedangkan Alana langsung melihat Lulla dengan sinis sambil memutar bola matanya malas.
"Seriously Van, tadi lo beneran ketemu sama demit di toilet?" Tanya Abel serius. Dan lagi-lagi hanya di balas deheman kecil oleh Vanka.
"Demit yang lo liat tadi bentuknya kayak gimana? Kayak tante key kah?" Ujar Alana yang membuat suasana di sekitar mereka terasa semakin mencekam.
"Demit kayak yang kalian bilang ketua geng Ambadistira itu." Jawab Vanka dingin dan juga datar.
Abel, Alana dan Lulla menarik nafasnya berat. Vanka memang sangat berbeda dari yang lain, jika saja semua murid yang ada di sekolah Dirga ini memandang Jhordan adalah most wanted nya sekolah, namun berbeda dengan Vanka yang hanya melihat Jhordan biasa saja layaknya pria pada umumnya. Jika dibilang tidak normal, Vanka tidak pernah mencintai sesama lawan jenisnya. Tapi jika dibilang normal, ia sama sekali tidak tertarik dengan sosok pria tampan seperti Jhordan yang bahkan handsome man yang ada di sekolah Dirga.
"Cowok seganteng Jhordan lo miripin sama demit, Van?" Tanya Alana pelan. Yang langsung mendapat deheman kecil dari Vanka sebagai jawaban.
"Selama dua tahun kita pisah, lo masih sama kan kayak dulu,Van. Masih normal kan?" Ujar Lulla sedikit terkejut.
"Jadi sekarang lo nganggep gue lesbian gitu?" Sahut Vanka dengan tatapan sinis.
"Ya gak gitu juga." Lulla menggantung ucapannya, "Maksud gue tuh, cowok yang setampan, Jhordan lo samain sama demit yang muka nya aja jelek dan abstrak gitu. Gada perasaan perasaan kagum gitu sama,Jhordan dikit aja." Lanjut Lulla sambil menghimpitkan jari telunjuk dan jari jempolnya mendefinisikan sekecil apa yang dimaksud Lulla.
"Gak." Jawab Vanka singkat dengan wajah datarnya.
Ketiga sahabatnya menarik nafas berat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya bersamaan. Mereka hanya tidak menyangka, sosok perempuan secantik Vanka sebegitu tidak pedulinya dengan sekitar. Bahkan pemandangan indah sekalipun tak pernah dirinya lihat meski ada di depan mata sekalipun. Dunianya terlalu abu-abu untuk melihat sesuatu yang terang, tidak terbilang hitam, juga tidak terlihat cerah hanya saja redup.
Tak lama setelah perbincangan itu, tiba-tiba pak Andri, seorang guru matematika datang ke kelas mereka lebih tepatnya IPA I.
"Selamat siang anak-anak." Sapa nya.
"Siang pak." Jawab murid-muridnya secara bersamaan.
"Wow, siang ini cerah ya secerah hatiku saat melihatmu." Ujar pak Andri seraya menunjuk ke arah Vanka yang diiringi dengan kedipan matanya genit.
Sontak semua murid yang ada di kelas langsung menyoraki pak Andri dengan kencang, hingga membuat seisi ruangan berisik dengan teriakan - teriakan yang dilontarkan murid-muridnya.
Abel berdiri dari duduknya, lalu mengangkat satu tangan kanannya.
"Password pak Andri!" Teriaknya kencang.
"Liat yang cantik, mata langsung genit." Jawab semua siswa siswi di kelas IPA I secara serempak yang diakhiri dengan kekehan geli.
"Ah sudah sudah, kalian bisa saja" Ucap pak Andri sambil duduk di kursi khususnya.
"Oh ya, bapak belum kenalan dengan murid baru dikelas ini. Boleh kamu kedepan untuk memperkenalkan diri lagi?" Tanya pak Andri yang langsung mendapat anggukan dari Vanka.
Vanka bangkit dari bangkunya lalu berjalan kedepan dan berdiri di sebelah pak Andri.
"Hai, kenalin aku Vanka Queenadira." Ucap Vanka dengan lembut lalu menghadap pak Andri mengisyaratkan bahwa perintahnya sudah selesai Vanka lakukan.
"Oh ya Vanka, kaki kamu sakit?" Tanya pak Andri tiba-tiba.
"Tidak pak." Jawab Vanka dengan wajahnya yang kebingungan. Padahal tidak ada sesuatu yang Vanka perlihatkan bahwa kakinya sedang sakit, lalu mengapa pak Andri menanyakan hal itu kepadanya, membingungkan memang.
"Bisa jalan?" Ujar pak Andri.
"Bisa pak."
"Yuk kapan?" Sahut pak Andri cengengesan yang sontak kembali mendapat sorakan heboh dari murid-murid yang lainnya.
"Bapak sekarang pintar modusnya ya."
"Bapak udah tua masih aja genit sama perawan."
"Astagfirullah inget istri sama anak pak."
"Bapak inget umur."
Begitulah teriakan-teriakan heboh dari para muridnya, sedangkan pak Andri hanya cengar cengir merasa salah tingkah.
"Kalian memang pintar kalau soal mengomentari kehidupan orang" Sahutnya seraya berdiri dari bangku duduknya.
"Vanka, kamu boleh kembali ke bangku mu" Pak Andri menggantung pembicaraan nya. Sedangkan Vanka hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya mengiyakan perintah dari pak Andri.
" Oke anak-anak, bapak kesini hanya akan memberikan satu buku mata pelajaran matematika yang harus kalian pelajari dirumah nanti. Hari ini bapak tidak bisa memberikan pemahaman dulu karena hari ini semua guru akan mengadakan rapat dadakan. Bapak harap kalian mengerti, dan kalian cukup membaca-baca saja buku yang sudah kalian catat" Jelas pak Andri sambil kembali membereskan buku-bukunya yang ada di atas meja.
"Sudah ya saya tidak memiliki banyak waktu, kalian diam dan jangan dulu kemana-mana sebelum bel pulang berbunyi." Lanjut pak Andri sambil berjalan menuju pintu kelas.
"Baik pak." Jawab para murid siswa siswi kelas IPA I secara bersamaan.
Setelah melihat kepergian pak Andri yang semakin jauh dari kelasnya, keriuhan di kelas pun terjadi, namun hanya sekedar bising suara saja tidak dengan tingkah-tingkah aneh yang lainnya.
Memang siang hari ini semua kelas sedang jamkos, karena ya seperti yang tadi pak Andri bilang bahwa hari ini sedang ada rapat dadakan. Begitupun dengan kelas IPA II, kelas yang ditempati kelima most wanted di sekolah ini.
"Gabut nih gue." Ujar Aji sambil mengangkat satu kaki kirinya ke atas bangku yang di dudukinya. Kemudian Arka menggebrak meja dengan kencang seraya berdiri dengan memperlihatkan tatapan aneh pada keempat sahabatnya itu.
"Nah, gimana kalau kita konser?" Sahutnya sambil menurun naikkan kedua alisnya meminta persetujuan dari keempat sahabatnya.
"Kuy lah." Ucap Aji dengan semangat empat limanya,kemudian ia mulai naik ke atas meja miliknya.
"Perhatian, kepada seluruh siswa siswi kelas IPA II konser dadakan akan segera dimulai. Maka dari itu persiapkan diri kalian untuk segera menyambut boy band kita yang akan menghibur kalian semua disini!" Teriak Aji dengan kencang sambil memegang batang sapu sebagai mikrofon.
Siswa siswi yang ada di dalam kelas sontak bersorak kegirangan, seakan-akan mereka benar-benar nyata berada di sebuah tempat hiburan. Arka kemudian ikut naik ke atas meja mengikuti Aji yang sudah sedari tadi berdiri disana.
"Hai guys, kembali lagi dengan kita grup boy band acakadut yang akan menghibur kalian semua yang ada disini dengan senang hati!" Sahut Arka seraya melambai-lambaikan tangannya.
"Ya, tampaknya kita tidak perlu banyak basa basi lagi kawan mari kita bersenang-senang bersama, wuhhhhh!" Ucap Aji yang diakhiri dengan teriakan kencang.
"One, two, three, go!" Teriak Arka seraya menggerakan jari jemarinya mengisyaratkan.
Kemudian dengan serempak semua siswa siswi di kelas IPA II bernyanyi dengan suara nyaring. Bahkan Aji dan Arka terlihat sangat asik menjadi sebagai panduan utama mereka bernyanyi dan itu berlangsung lumayan cukup lama hingga pada akhirnya Aji menghentikan nyanyinya dengan mengangkat satu tangan kanannya.
"Bentar-bentar gue mau nyanyi yang sad sekarang, nyanyian yang mewakili perasaan gue saat ini." Ucapnya dengan wajah sendu. Aji menundukkan kepalanya dan berdehwm pelan. Kemudian Aji mulai membuka suara dengan alunan nada yang indah dan merdu. Arka yang ada di sampingnya pun ikut bernyanyi bersamanya, bahkan Arka merangkul Aji dari arah sampingnya.
Para siswa siswi yang lainnya pun merasa sedikit iba kepada Aji yang membawakan lagu sad itu di hadapan banyak orang. Baru kali ini dia benar-benar terlihat sangat murung, bahkan tatapannya pun terlihat sangat sendu.
"Percaya sama takdir Tuhan Ji. Kalau emang dia milik lo, orang lain gak bakalan pernah bisa genggam dia meski sekuat apapun itu." Ucap Arka dengan perasaan tulus, kemudian Aji mengangguk kan kepalanya. " Gue pasti bakalan percaya itu Ka, gimanapun juga Tuhan selalu ngasih sesuatu yang terbaik buat semua ciptaannya." Jawab Aji sambil tersenyum tipis bahkan sangat tipis.
"Sahabat gue gak ada yang lemah, mereka kuat semua." Sahut seseorang dari arah belakang mereka. Sontak Aji dan Arka menoleh ke arah suara itu berasal, ternyata di belakang mereka sudah ada Jhordan, Maikal dan juga Barra yang tengah berdiri tegak sambil tersenyum.
Aji dan Arka membalas senyuman mereka, betapa beruntungnya Aji mendapat sosok sahabat seperti Jhordan, Maikal, Barra dan juga Arka. Mereka adalah satu-satunya sosok manusia yang tidak pernah meninggalkan nya ketika sedang kesulitan, dan tidak pernah menjauhi nya ketika mereka mempunyai segalanya. Mereka adalah sahabat yang selalu ada disaat Aji suka maupun duka dan bagi Aji merekalah keluarga kedua tempatnya untuk pulang.
Maikal mendekat lalu menepuk pundak Aji seolah menguatkan.
"Denger tuh kata pak ketu." Ucapnya sambil tersenyum.
"Seseorang yang bukan hak kita, mereka pasti bakalan punya seribu satu cara untuk pergi meninggalkan kita, Ji. Begitupun sebaliknya, kalau memang dia udah jadi takdir lo, sejauh apapun dia pergi tetep lo yang bakalan jadi tempatnya pulang." Ungkap Barra.
"Strong man, jangan cuma karena itu lo hancur dengan sia-sia. Kita bakalan selalu ada buat lo kalau lo lupa." Timbal Arka lalu kembali merangkul Aji dari samping.