Episode 4

1562 Kata
Sahabat itu bukan tentang siapa yang selalu ada dikala kita sedang berduka, melainkan siapa yang tidak meninggalkan meskipun dia telah memiliki segalanya. Menguatkan dikala salah satu di antara kita sedang terjatuh, dan mendukung disaat kita memiliki satu hal keputusan tujuan. Tak terasa setelah satu jam kosong, akhirnya bel pulang berbunyi, satu-satunya suara yang selalu ditunggu-tunggu anak sekolah. "Huh, akhirnya bunyi juga tuh bel pulang." Sahut Abel seraya membereskan alat-alat tulis dan buku-bukunya, begitupun dengan ketiga sahabatnya. "Kayak yang baru denger bel pulang aja." Ujar Lulla sambil memutar bola matanya malas. "Satu hal yang paling semua murid sekolah tunggu-tunggu itu cuma suara bel. Bel istirahat sama bel pulang." Seru Alana sambil terkekeh geli. Sedangkan Vanka hanya menyimak dan tetap fokus membereskan alat-alat tulisnya. Abel menyenggol tangan Vanka pelan yang membuat sang empu langsung menengok ke arahnya. "Apa?" Jawab Vanka datar. "Fokus banget mbaknya. Pulang bareng siapa lo?" Tanya Abel. "Gak tau." Jawab Vanka seperlunya lalu tiba-tiba suara ponselnya berbunyi. Vanka mengambil ponsel di dalam saku bajunya, kemudian memandangi layar ponselnya melihat siapa yang tengah menelpon kepadanya. Vanka menghela nafas berat setelah mengetahui siapa yang kini tengah memanggil ke nomor teleponnya. Mau tidak mau Vanka harus tetap menjawab panggilan dari seseorang itu. Vanka kemudian menekan tombol hijau di layar ponselnya lalu dia arahkan ke telinganya. "Hallo." Sapa seseorang dari seberang telepon yang menyuarakan sosok pria. Vanka hanya menjawab nya dengan deheman kecil saja, sebenarnya malas sekali untuk mengangkat panggilan dari satu nama ini. Tapi bagaimana lagi Vanka harus tetap melakukannya meskipun terpaksa. "Pulang bareng siapa, gue jemput ya." Ucapnya di dalam telepon. "Gak usah." Jawab Vanka singkat. "Lo belum tau jalan pulang." Khawatir Raga. "Bisa pake taksi." Jawab Vanka. "Jangan naik taksi sendiri bahaya,Vanka." Ucap pria itu dengan nada khawatirnya. "Ck, bukan urusan lo." Sahut Vanka penuh penekanan. "Jelas urusan gue. Lo adek gue, Van." "Sejak kapan?" "Sejak bokap lo sama nyokap gue nikah, dan semenjak itu lo resmi jadi adek gue." "Gak usah halu." Jawab Vanka yang langsung mematikan sambungan teleponnya sebelah pihak seraya menghela nafas berat. "Emosi banget mbaknya." Sahut Abel sambil menyenggol tubuh Vanka pelan yang langsung mendapat deheman kecil dari Vanka sebagai jawaban. "Siapa emang?" Tanya Lulla penasaran. "Raga." Jawabnya dingin kemudian Alana beranjak menghampiri Vanka agar jaraknya lebih dekat. "Segitu bencinya ya lo sama bang Raga?" Tanya Alana penuh introgasi. "Padahal setau gue bang Raga baik banget sama lo, Van. Bahkan dia selalu perhatian sama lo, khawatirin keadaan lo, bahkan kayaknya kalo diliat-liat dia sayang banget deh sama lo, kayak yang udah nganggep lo sebagai adik kandungnya sendiri." Jelas Lulla yang langsung mendapat tatapan sinis dari Vanka. "Kalian gak akan pernah tau gimana rasanya jadi gue" Vanka menggantung ucapannya kemudian menarik nafasnya yang sudah terasa berat dan sesak. "Kalian gak tau gimana sakitnya kehilangan sosok mama kandung dan sekarang gue harus bisa nerima kenyataan bahwa gue punya mama tiri dengan waktu yang secepat ini." Lanjut Vanka dengan ekspresi wajahnya yang sendu. Abel yang melihat sahabatnya seperti itu pun langsung merangkulnya dari arah samping. "Gue ngerti apa yang lo rasain. Apalagi dengan kedatangan mama tiri lo yang selalu bikin lo sakit hati dan selalu berusaha buat jauhin lo sama bokap lo. Tapi itu semua gak ada sangkut pautnya sama bang Raga, Van. Lo tetep gak boleh melakukan bang Raga kayak gitu, seenggaknya meskipun dia cuma abang tiri lo, tapi dia sayang banget sama lo, Vanka." Ungkap Abel. "Bang Raga emang anak nya tante Alma tapi dia sama sekali gak ada keterlibatannya sama semua ini, Van" Lulla menggantungkan ucapannya lalu mendekat ke arah Vanka sambil menepuk pundaknya pelan. "Coba buka hati lo buat bang Raga, anggap dia sebagai abang lo sendiri. Lo juga tau sendiri kan gimana perlakuan dia ke lo, gue yakin lo juga pasti bakalan bisa ngerasain itu. Disaat lo lagi di pukulin sama bokap lo, yang selalu ngelindungin lo siapa lagi kalo bukan bang Raga, Van. Jadi gue minta sama lo, buka perlahan hati lo. Kasih bang Raga celah buat masuk ke ruangan hati lo sebagai abang lo sendiri, sebagaimana dia perlakukan lo." Lanjut Lulla yang berusaha meyakinkan Vanka. Vanka menghela nafasnya berat. "Gue masih belum bisa dan belum siap aja." Lulla tersenyum simpul, lalu merangkul pundak Vanka dari arah sampingnya. "Its oke, semua butuh proses kok, gak semestinya apa yang kita harapkan dan apa yang kita pengen langsung bisa dilakukin gitu aja." Ucap nya yang langsung mendapat senyuman dari Vanka sebagai balasan. "Udah yuk kita ke parkiran." Ajak Alana yang langsung mendapat anggukan dari ketiga sahabatnya secara bersamaan. Akhirnya mereka berjalan beriringan menuju ke parkiran. Setelah beberapa menit berjalan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, seperti biasa parkiran begitu sangat ramai, siswa siswi banyak yang sedang mengeluarkan kendaraan nya masing-masing, bahkan yang sedang berlalu lalang. "Rame banget." Sahut Vanka sambil mengedarkan pandangannya. "Udah biasa." Jawab Abel lalu menghela nafas berat. Vanka tidak menyahut lagi, ia hanya mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya. Tiba-tiba Lulla menepuk pundak Alana pelan. "Eh, tuh papa lo udah jemput." Ucapnya yang langsung mendapat anggukan dari Alana. "Yaudah gue duluan ya, kalian hati-hati dijalan" Alana menggantungkan ucapannya dan langsung mendapat anggukan dari ketiga sahabatnya. "Bye hanny." Lanjutnya sambil melambaikan tangan kanannya. Vanka tersenyum tipis bahkan sangat tipis melihat betapa indahnya pemandangan yang ada di hadapannya. Beruntung sekali hidup menjadi manusia seperti Alana, memiliki keluarga yang utuh dan seorang papa yang menyayanginya dengan tulus. Kehidupannya sangat berbanding balik dengan kisah Vanka, bahkan perbedaannya pun sangat jauh. Jika saja Alana memiliki segalanya dan hidup bahagia, maka Vanka tidak memiliki apapun dan jauh dari kata bahagia. Vanka menghela nafas berat. "Kayak gitu ya gambaran gue dulu sama bokap?" Batin Vanka bicara pada diri nya sendiri. "Terakhir terjadi adalah tepat satu tahun yang lalu." Lanjutnya dalam hati sambil tersenyum sinis dengan tatapan yang sendu. Abel merangkul Vanka dari arah sampingnya yang membuat sang empu melihat ke arahnya lalu tersenyum. "Next, suatu saat lo bakalan ngerasain lagi gimana rasanya ada diposisi, Alana," Abel menggantungkan ucapannya setelah melihat perubahan pada raut wajah Vanka. " Percaya sama gue." Lanjutnya sambil menepuk-nepuk pundak Vanka pelan. Sedangkan Vanka hanya tersenyum seraya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai jawaban. *** Sahabatnya satu persatu pulang lebih dulu setelah mereka mendapat jemputan masing-masing. Vanka kini sedang menunggu taksi online yang dipesan nya tadi, namun sudah hampir dua puluh menit taksi itu belum juga datang menjemputnya. Vanka tak henti-hentinya untuk terus mengecek ponselnya, namun tidak ada pemberitahuan yang muncul satupun. Vanka mengacak rambutnya frustasi, kini sudah setengah jam Vanka menunggu taksi itu. "Sialan, kok belum datang juga sih." Sahut Vanka dengan perasaan kesalnya lalu menghela nafas berat sambil memutar bola matanya malas. Sudah satu jam lamanya Vanka menunggu namun tetap tidak ada tanda-tanda taksi itu akan datang. Padahal tidak ada kesalahan sama sekali ketika Vanka memesannya, bahkan Vanka seperti biasa memesan taksinya dengan cara yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Jam sudah menunjukan pukul lima sore. Akan sia-sia jika Vanka harus terus menerus menunggu taksi itu, lebih baik Vanka beranjak pergi dari tempat tunggunya dan mulai mencari kendaraan lain yang bisa mengantarkan Vanka pulang. Langkah demi langkah Vanka lalui di sepanjang jalan, hari sudah hampir mulai gelap. Jarak dari rumah ke sekolahan nya memang tidak terlalu jauh, hanya saja mungkin karena Vanka jalan kaki bisa-bisa pukul tujuh malam Vanka baru bisa sampai ke rumahnya. Setelah berjalan lumayan cukup jauh, tiba-tiba ada lampu yang terang mengarah ke arahnya. Ternyata itu lampu dari sebuah mobil sport berwarna merah terang milik seseorang yang entah siapa dan entah kenapa mobil itu kini berhenti tepat di hadapan Vanka. Vanka memberhentikan langkahnya, dan melihat ke arah mobil mewah itu dengan tatapan bingung juga sedikit agak takut. Tak lama setelah beberapa menit mobil itu berhenti, akhirnya kaca mobilnya terbuka dan menampakkan seorang pria yang masih mengenakan seragam SMA sama seperti yang dikenakan Vanka. "Naik." Ajak Jhordan dengan wajah datar dan tanpa melihat ke arah Vanka sedikit pun. Vanka sedikit terkejut dengan ajakan Jhordan tadi. Siapa yang sedang diajak bicara olehnya,Vanka kah? Atau orang lain. Jika memang benar Vanka yang di ajak, mengapa wajahnya harus terus lurus ke depan, bahkan di sana jelas tidak ada siapapun selain Vanka dan Jhordan saja. Merasa ajakannya tidak ada jawaban, kemudian Jhordan melihat ke arah Vanka dengan tatapan tajam, sedangkan Vanka menatap balik Jhordan dengan wajah polosnya yang tampak sedang kebingungan. "Ck jangan bilang lo budek." Ucap Jhordan dingin. Vanka mengerutkan kedua alisnya, betapa anehnya orang yang sedang ada dihadapannya ini. Vanka menunjuk diri nya sendiri. "Gue?" Tanya nya, sedangkan sang empu hanya berdehem kecil untuk menjawabnya. Keadaan kembali menjadi hening setelah Jhordan hanya menjawabnya dengan deheman kecil saja, rasanya bingung bagi Vanka harus melakukan apa dia saat ini. Jika Vanka langsung masuk dia merasa tidak enak karena Jhordan belum mengajaknya lagi, namun jika tidak, bagaimana kalau jhordan meninggalkan nya di jalan sepi dan gelap ini. Jhordan menghela nafas berat. "Ngapain masih disitu?" Tanya nya sambil memperhatikan Vanka yang sejak tadi hanya diam. "Ya kan belum di ajak masuk." Ucap Vanka sambil memain-mainkan ujung bajunya. "Lo gak denger tadi gue udah nyuruh lo naik!" Cetus Jhordan. "Iya denger tapi kan lo belum nyuruh la,, ." "Cepet naik." Sarkas Jhordan memotong ucapan Vanka. Vanka mengerucutkan bibirnya kemudian membuka pintu mobil milik Jhordan dan duduk di bangku penumpang paling depan. Setelah Vanka duduk dengan posisinya sebagai penumpang, kemudian Jhordan mendekat ke arah Vanka bahkan sangat dekat. Mustahil jika Vanka baik-baik saja ketika berdekatan dengan jarak yang begitu dekat seperti ini dengan Jhordan. "Nafas, lo bisa mati kalau terus ditahan kayak gitu." Ucap Jhordan dengan wajah polosnya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN