Episode 5

1590 Kata
Vanka yang baru menyadarinya sontak langsung mengerjapkan penglihatannya dan kembali bernafas secara beraturan. Bagaimana bisa Jhordan bisa mengetahui bahwa Vanka sedang menahan nafasnya, apa sebegitu dekat kah dirinya dengan Jhordan hingga Jhordan bisa merasakan tidak ada nafas yang berhembus dari rongga pernafasan Vanka. "Lagian gue juga gak mau mengakhiri hidup gue di mobil lo." Cetus Vanka dengan wajah kesalnya. "Lo belum pake sabuk pengaman bodoh," Jhordan menggantung ucapannya sambil menggerakan tangannya mengunci Vanka dengan sabuk pengamannya. "Jangan cepet baper jadi orang." Lanjutnya sambil menyentil jidat Vanka pelan. Vanka mengusap-usap jidatnya yang sudah memerah sambil meringis. "Sssttt sakit banget astaga, sialan lo." Jhordan melihat ke arah Vanka dengan tatapan sinis dan misterius nya. "Mulutnya ya lo, minta di iket." Sahut Jhordan lalu memutar bola matanya malas. "Ssg." Jawab Vanka singkat, sedangkan Jhordan mengerutkan kedua alisnya tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Vanka baru saja. "What, can you explain?" Tanya Jhordan dengan tatapan bertanya. "Suka-suka gue." Jawab Vanka sambil melihat singkat ke arah Jhordan dan memutar bola matanya jengah. Jhordan menghela nafas sambil tersenyum miring. Niat awalnya Jhordan hanya ingin mengantarkan Vanka pulang, namun dikarenakan Jhordan merasa sedikit agak senang bersama Vanka, akhirnya Jhordan mengurungkan niatnya untuk mengantar Vanka pulang dan akan mengajaknya makan terlebih dulu. Tidak ada pembicaraan di sepanjang jalan, mereka saling diam dan hanya memandangi jalanan jalanan dan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Hingga pada akhirnya, Vanka tertidur di dalam mobil yang membuat Jhordan kebingungan kemana harus mengantarkannya pulang. Secara Jhordan tadi belum sempat menanyakan dimana tempat tinggal Vanka. Tidak ada jalan lain yang harus Jhordan lakukan selain membawa Vanka ke rumahnya untuk membiarkan dia beristirahat sejenak. Jhordan tadinya mau mengajak Vanka untuk makan malam bersamanya di luar. Namun dikarenakan Vanka tertidur akhirnya Jhordan lebih memilih pulang ke rumahnya dengan membawa Vanka. Setelah hampir setengah jam Jhordan menempuh perjalanan menuju rumahnya, akhirnya kini dia sudah sampai di depan halaman mension nya. Jhordan memarkirkan mobilnya di tempat biasa, kemudian dia turun dan berjalan menuju bangku penumpang. Tidak banyak basa basi Jhordan langsung menggendong Vanka ke pangkuannya dengan gaya ala bridal style. Salah satu pria paruh baya yang bekerja di kediaman Jhordan pun menghampiri tuan mudanya yang terlihat seperti sedang kesulitan. "Tuan muda, apakah anda butuh bantuan saya?" Tanya mang yanto kepada Jhordan. "Iya mang saya butuh bantuan," Jhordan menjeda ucapannya berusaha untuk menutup pintu mobilnya, namun dikarenakan kini ada Vanka di pangkuannya, akhirnya Jhordan memilih untuk meminta bantuan kepada mang Yanto. "Jhordan minta tolong tutup pintu mobil nya aja ya, mang." Lanjutnya yang langsung mendapat anggukan paham dari mang yanto. Setelah itu Jhordan langsung membawa Vanka ke dalam mension nya. Tidak lupa dengan pintu yang sudah terbuka luas oleh seorang maid yang bekerja di disana. "Terima kasih." Ucap Jhordan sambil tersenyum ramah. "Sudah menjadi tugas saya, Tuan muda." Balas seseorang diambang pintu itu dengan menganggukan kepalanya sebagai tanda hormat. Jhordan berjalan menyusuri ruangan yang ada di dalam mensionnya. Namun tiba-tiba saja Bunda nya, Devi Audy datang menghampiri nya. "Siapa dia, Jhordan." Tanya sang bunda kepada anak tunggalnya. "Teman, Jhordan bun. Tadi mau Jhordan anterin pualng eh malah ketiduran dianya." Sahut Jhordan yang masih setia menggendong Vanka di pangkuannya. "Cantik ya," Ucap Devi sambil tersenyum lalu mengusap puncak kepala Vanka dengan lembut. "Ya sudah tidurkan dia di kamarmu saja dulu, para maid belum sempat membersihkan kamar yang lainnya." Lanjutnya dengan suara halus yang langsung mendapat anggukan paham dari Jhordan. "Baik bunda, Jhordan pergi ke kamar dulu." Ucapnya, kemudian Devy hanya tersenyum sambil mengusap usap pundak Jhordan lembut sebagi jawaban. Setelah berpamitan kepada Devy, Jhordan langsung membawa Vanka ke lantai tiga dimana letak kamar Jhordan berada. Untung saja dimension nya ada lift jadi Jhordan tidak harus bersusah payah menggendong Vanka ke lantai tiga. Terlebih tubuh Vanka yang tinggi juga tipis namun sedikit agak berisi membuat Jhordan sedikit keberatan. Namun meskipun begitu tubuh Vanka sangatlah ideal, sexy juga termasuk salah satu kriteria idaman bagi Jhordan. "Nice body banget nih cewek." Ucapnya pelan. Akhirnya setelah beberapa detik Jhordan menaiki lift, kini liftnya sudah terbuka dan menampakkan sebuah ruangan yaitu kamar milik Jhordan. Tanpa pikir panjang, Jhordan langsung menidurkan Vanka di atas kasur king size miliknya yang sangat empuk, kemudian ia menyelimuti Vanka sampai ke batas dadanya saja. Jhordan merapikan rambut Vanka yang menghalangi permukaan wajahnya, menyelipkan ke telinganya. "Cantik." Ucap Jhordan pelan sambil tersenyum. Sedangkan Vanka tidak terusik sama sekali, bahkan belaian tangan Jhordan saat merapikan rambutnya pun ia masih saja tertidur dengan lelap. Jhordan bangkit dari duduknya, ia berniat untuk mandi sore ini karena dirasa semua badannya sudah sangat lengket dengan keringat. Jhordan mengambil handuk kemudian pergi ke kamar mandi untuk memulai ritual mandinya. Setelah hampir dua puluh menitan akhirnya ritual Jhordan selesai, kemudian ia kembali ke kamar nya untuk mengambil pakaian santainya. Saat itu Jhordan hanya mengenakan handuk saja namun bagian atas tubuhnya tidak memakai sehelai kain pun. Dengan Vanka, ia masih tertidur sangat nyenyak di atas ranjangnya. Baru saja Jhordan hendak mengambil baju dari lemarinya tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Jhordan mengambil ponselnya yang terletak di samping Vanka. Jhordan duduk di ujung kasur king size nya dengan keadaan yang masih hanya mengenakan handuk saja. "Halo." Ucap Jhordan mendahului. "Besok si Devin ngajak balapan tuh, Dan. Gimana? Mau gak." Tawar Maikal selaku tangan kanan di anggota Ambadistira. "Jam?" Tanya Jhordan. "Katanya sih jam empat sore." Balas Maikal. "Sip, besok gue ke markas." "Kenapa besok, kenapa gak sekarang aja. Banyak anak-anak yang lainnya juga udah pada kumpul disini, Dan." Cerocos Maikal. "Lagi ada urusan, suruh pulang dulu aja." Seru Jhordan "Sip deh nanti gue bilang ke anak-anak yang lainnya." Jawab Maikal yang langsung mendapat deheman kecil dari Jhordan. "Aaaa!" Teriak seorang perempuan sangat kencang. Namun meskipun begitu, untungnya kamar Jhordan kedap suara, sehingga tidak akan terdengar sampai keluar. Jhordan langsung memalingkan tubuhnya melihat ke arah dimana perempuan itu berteriak. "Lo abis ngapain gue!" Teriak Vanka sangat kencang didalam kamar Jhordan. Secara Vanka melihat Jhordan yang hanya mengenakan handuk dengan tubuh bagian atasnya tidak terhalang sehelai kain pun. "Woy, Dan. Di kamar lo ada cewek?" Tanya Maikal. "Abis ngapain lo?" "Wah lu diem diem menghanyutkan ya." Cerocos Maikal diseberang telepon. Sedangkan Jhordan yang terkejut dan tak mau Maikal tau tentang ini, akhirnya Jhordan mengakhiri sambungan teleponnya sepihak. Kemudian Jhordan mendekat ke arah Vanka, berniat untuk menaruh teleponnya di atas nakas tepat di samping Vanka tertidur tadi. "Berisik." Ucapnya dengan wajah datar. "Lo abis ngapain gue, hah? Kenapa gue ada disini, ini rumah siapa, Jhordan!" Teriak Vanka dengan kencang. Sedangkan Jhordan hanya memutar bola matanya malas dengan kedua tangan yang menutupi kedua telinganya karena merasa berisik. "Bisa dipelanin gak?" Tanya Jhordan santai. "Apanyah?" Vanka yang balik bertanya dengan wajah bantalnya. "Suaranya." "Ya terus lu udah ngapain gue ih." Rengek Vanka pelan. Yang langsung mendapat tatapan yang tidak dapat diartikan dari Jhordan kemudian mendekat ke arah Vanka. Vanka yang melihat Jhordan mendekat ke arahnya, sontak ia langsung menarik selimut milik Jhordan untuk menutupi seluruh tubuhnya. "Heh, mau apa lo?" Tanya Vanka dengan nada panik. Tanpa menjawab pertanyaan dari Vanka Jhordan terus saja berjalan mendekat ke arah Vanka. Vanka menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut tebal milik Jhordan, hingga tidak ada satu bagian pun yang tidak tertutup selimut. Tangan Jhordan mulai terasa mendekat ke bagian kepala Vanka, bahkan Vanka pun sangat merasakannya. "Aaaaaaa, Jhordan!" Teriak Vanka sambil mengubrak abrik selimut yang dikenakannya tadi. "Apa." Jawab Jhordan datar sambil mengerutkan kedua alisnya merasa bingung. "Eh, lo ko disitu?" Tanya Vanka. "Terus harus dimana?" Jhordan bertanya balik. "Tadi kan bukannya lo disini." Ucap Vanka sambil menunjuk ke arah samping tempat nya tidur. Kemudian Jhordan tersenyum tipis lalu berjalan kembali mendekat ke arah Vanka. "Disini." Seru Jhordan sambil duduk di atas ranjang tepat di samping Vanka. Vanka yang duduk berdampingan dengan Jhordan dengan jarak yang begitu dekat, membuat dirinya diam mematung. Munafik jika Vanka tidak merasakan debaran jantung yang sangat kencang saat ini. Jhordan yang tahu bahwa Vanka mematung membuat dirinya tersenyum simpul. Bukan hanya Vanka ternyata yang merasakan detakan jantung yang seperti sedang berdisko itu, bahkan Jhordan pun sama hal nya merasakan seperti Vanka, nyaman batinnya. Jhordan berdehem pelan, sehingga membuat Vanka kembali tersadar dari diamnya. "Tau kok nyaman ya deket gue." Ucap Jhordan sambil mengedarkan pandangannya agar suasana tidak semakin canggung. "A'apaan sih, geer banget jadi orang." Cetus Vanka yang sudah salah tingkah. "Masa sih?" Sahut Jhordan tepat di samping telinga Vanka, bahkan hembusan nafasnya pun begitu sangat terasa mengibas ke daun telinganya. Perlakuan itu membuat Vanka sedikit merinding, apalagi kini Jhordan yang sedang menyandarkan tubuhnya ke dinding kasur miliknya, sehingga tepat ada di belakang Vanka. Ditambah lagi dengan Vanka yang masih terduduk di atas karus empuk milik Jhordan dengan masih terbalut selimut yang hanya setengah badan. "Keep calm, Vanka. Tarik nafas lalu hembuskan dan rileks." Bantin Vanka sambil terus mengontrol nafas nya yang sudah tidak beraturan. Vanka mendengus kesal, pasalnya Jhordan masih saja ada di belakangnya tidak mau berpindah tempat. "Ih, Jhordan sana gak?" Usir Vanka sambil mendorong dorong lengan Jhordan pelan. "Mana belum pake baju lagi ih." Vanka yang sudah uring uringan sejak tadi, namun tetap tidak digubris oleh Jhordan, malah saat ini Jhordan sibuk memainkan ponselnya tanpa memikirkan tubuhnya yang masih hanya berbalut kain handuk saja. Daripada Vanka semakin kesal dengan Jhordan lebih baik ia memainkan ponselnya saja. "Lah, handphone gue mana ya,"Tanya Vanka pada dirinya sendiri, sambil mengobrak abrik selimut milik Jhordan. "Perasaan tadi ada, tapi dimana ya." Lanjutnya. Kemudian Vanka melihat ke arah Jhordan yang terus sibuk memainkan ponsel di genggaman tangannya. Setelah diperhatikan, Vanka baru menyadarinya ternyata ponsel yang Jhordan pegang itu adalah ponsel miliknya. "Ini handphone gue, kok ada di lo?" Tanya Vanka sambil merebut ponsel nya dari tangan Jhordan. "Salah sendiri naro sembarangan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN