"Ya kan gue tadi tidur, Jhordan!" Bentak Vanka.
"Gak usah ngegas juga, munah." Balas Jhordan sambil menoyor kepala Vanka.
"Heh ini tuh kepala gue udah di fitrahin ya, Dan. Jangan asal noyor dong ih." Cercos Vanka lalu mengerucutkan bibirnya kesal.
"Suatu saat nanti gue yang bakalan fitrahin tuh kepala," Ucap Jhordan sambil tersenyum malu. "Percaya deh sama gue." Lanjutnya terkekeh geli.
"Ogah banget mending fitrahin sendiri." Jawab Vanka sambil memutar bola matanya malas. Kesal rasanya jika harus berhadapan dengan Jhordan. Jika saja Vanka tahu akhirnya bakalan seperti ini, mungkin tadi lebih baik Vanka menolak ajakan dari Jhordan dan memilih untuk berjalan kaki tampaknya.
Jhordan tidak menyahuti nya lagi. Jhordan tahu jika sekarang Vanka sudah dibuat salah tingkah olehnya. Jhordan tersenyum senang didalam hatinya, ternyata berkenalan dengan siswi baru bukanlah suatu hal yang membosankan.
Jhordan akhirnya beranjak dari tempat duduknya, kemudian menghampiri lemari bajunya berniat untuk berganti baju. Jangan ditanya dengan Vanka ia sejak tadi masih tetap setia berada di atas ranjang Jhordan, karena alasan nyaman katanya.
"Mau tutup mata sendiri atau gue tutupin?" Tanya Jhordan dengan tangan yang sibuk memilih milih baju di dalam lemarinya.
"Gak usah bisa sendiri." Cetus Vanka sambil memutar bola matanya malas. Sedangkan Jhordan hanya mengangkat satu alisnya sambil mengedikkan bahunya singkat.
Dikarenakan tadi Vanka mengatakan bahwa ia bisa menutup matanya sendiri, akhirnya Jhordan segera memakai semua pakaian santainya. Vanka sudah gelisah, karena Jhordan belum juga selesai berganti baju padahal dia sudah lumayan cukup lama memejamkan matanya hanya karena tidak ingin melihat Jhordan yang sedang berganti pakaian.
"Ck, ah lama banget sih lo!" Bentak Vanka dengan kedua tangan yang masih setia menempel menutupi seluruh permukaan wajahnya.
"Udah." Jawab Jhordan singkat.
Setelah mendengar jawaban dari Jhordan, akhirnya Vanka menurunkan kedua tangannya lalu perlahan membuka matanya. Vanka kembali melihat ke layar ponselnya, kini jam sudah menunjukan pukul delapan malam.
"Ah sialan, gue bisa dimarahin bokap nih kalo kayak gini." Umpat Vanka, kemudian beranjak bangkit dari atas kasur berniat untuk mencari barang-barang miliknya.
Vanka mengedarkan pandangannya mencari tas sekolahnya di sekitar kamar Jhordan, namun tidak ditemukan.
"Ck, sialan dimana tas gue." Sahut Vanka dengan nada pelannya sambil terus bolak balik kesana kemari mencari keberadaan tas sekolahnya.
Setelah merasa dirinya lelah bolak balik di kamar Jhordan yang luas itu, akhirnya Vanka memilih untuk diam sejenak. Tak lama setelah itu, Jhordan menghampirinya dengan membawa tas sekolah miliknya. Tanpa ada kata yang terucap Jhordan memberikan tas itu kepada Vanka.
"Kenapa gak dari tadi sih ah." Omel Vanka kepada Jhordan. Sedangkan sang empu hanya berdehem pelan sambil mengerutkan kedua alisnya. Perempuan seperti Vanka memang harus ekstra sabar menghadapinya, perempuan yang keras kepala juga sering marah marah tak jelas.
Tanpa pikir panjang, Vanka langsung berlari keluar dari kamar Jhordan. Sedangkan Jhordan hanya diam saja tidak berbuat apapun atau bahkan berkata apapun. Memang sosok pria ini jika sikap dingin nya sudah kembali ke dalam dirinya, maka apapun yang terjadi dia akan acuh tak acuh, terkecuali jika hal itu bertentangan dengan dirinya atau dengan orang-orang yang dekat dengannya.
Setelah Vanka keluar dari kamarnya, Jhordan memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur king size yang tadi ditempati oleh Vanka saat tidur, satu kata untuk Jhordan saat itu hangat batinnya. Baru saja Jhordan ingin memejamkan matanya, tiba-tiba pintu kamarnya kembali terbuka dan menampakkan sosok Vanka yang sedang berdiri di ambang pintu kamarnya. Jhordan hanya melihat sekilas ke arah Vanka kemudian kembali memejamkan matanya. "Mengganggu saja".batinnya.
" Jhordan gue mau pulang." Rengek Vanka yang masih tetap diam di ambang pintu kamarnya.
"Terus?" Tanya Jhordan dengan mata terpejam.
"Anterin gue ke depan. Masa iya gue harus keluar sendirian, ini kan rumah lo," Ucap Vanka sambil mengerucutkan bibirnya, kesal. "Nanti kalo udah di luar gue pulang sendiri." Lanjutnya.
"Pulang sendiri ya ke bawah sendiri lah." Cetus Jhordan, kemudian berbalik membelakangi Vanka dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut yang tadi dipakai Vanka. "Wangi bener." Batinnya.
Vanka menghampiri Jhordan sambil menghentak hentakan kakinya diatas lantai. Kesal rasanya menghadapi pria yang memiliki sikap tidak beraturan ini, tadi saja membuat Vanka hampir terbawa perasaaan dan sekarang dengan mudahnya membuat Vanka sangat kesal terhadapnya.
Vanka membuka selimut yang dipakai Jhordan dengan kasar, sehingga kini Jhordan terlepas dengan balutan selimut ya.
"Anterin gue gak!" Bentak Vanka setelah berhadapan dengan Jhordan.
Jhordan mendengus kasar, Vanka benar-benar membuat dirinya merasa kesal.
"Pulang sama gue," Ucap Jhordan sambil bangkit dari tidurnya. "Tidak ada penolakan." Tegas Jhordan ketika ia melihat bahwa Vanka hendak protes ajakannya.
Vanka menghela nafas berat, rasanya tidak ada lagi cara yang harus Vanka lakukan selain menurut saja dengan Jhordan.
"Oke." Balas Vanka singkat dengan raut wajah kesalnya,namun berhasil membuat Jhordan tersenyum senang dalam hatinya.
Setelah perdebatan kecil akhirnya Jhordan dan Vanka pergi ke lantai bawah. Seperti biasa dikarenakan Jhordan malas berjalan, akhirnya Jhordan memilih untuk menggunakan lift daripada harus berjalan menuruni anak tangga.
Jhordan masuk ke dalam lift yang diiringi dengan Vanka di belakang nya. Tidak ada pembicaraan di dalam sana hingga sampai di lantai bawah pun tidak ada yang memulai pembicaraan. Namun dikarenakan malam ini sudah menunjukan pukul delapan malam, berarti saat ini adalah waktu makan malam bagi keluarga Pradistira.
"Hai anak bunda." Sapa Devi ramah kepada anak tunggalnya.
"Hallo, bunda." Balas Jhordan sambil tersenyum.
"Dih tadi aja ngegas mulu ngomong sama gue." Batin Vanka sambil memutar bola matanya malas.
Devi tersenyum manis ketika melihat seorang gadis di hadapannya yang tengah berdiri berdampingan dengan putra tunggalnya.
"Sudah bangun, Cantik." Sahutnya yang langsung mendapat tatapan terkejut dari Vanka. Yang awalnya Vanka hanya menundukan kepala di depan Devi, karena alasan malu katanya. Kini dia angkat dengan cepat setelah mendapat sapaan darinya.
"Eh hehe iya sudah, tante." Jawab Vanka sambil tersenyum ramah.
"Mau kemana sekarang?" Tanya Devi kepada Jhordan.
"Jhordan mau mengantarkan nya pulang, bunda." Jawabnya.
"Loh kok buru-buru." Tanya Devi kepada Vanka.
"Sudah malam, tante nanti takut papa nyariin." Jawab Vanka yang tidak luput dengan senyum ramahnya.
"Siapa namamu?" Tanya Devi sambil memegang pundak Vanka.
"Vanka Queenadira, tante."
"Wah namanya cantik ya, sama seperti orangnya."
Vanka tertawa kecil dengan pujian yang Devi berikan untuk nya. Disisi lain Vanka tidak menyangka ternyata bunda Jhordan begitu sangat cepat akrab dengan orang baru, begitu ramah dan terlebih Vanka disambut dengan sangat baik disana.
"Tante bisa aja. Padahal tante juga cantik kok, Vanka suka." Ungkap Vanka sambil terkekeh geli begitu pun dengan Devi.
"Makan malam bareng dulu yuk. Kamu pasti belum makan kan, Vanka." Ajak Devi.
"Gak usah, tante lain kali aja ya." Tolak Vanka dengan perasaan tidak enak nya.
"Makan dulu ayo, tante mau makan sama, Vanka. Boleh ya." Paksa Devi dengan raut wajah yang sengaja di sedih sedihkan.
Devi Audy, mengingatkan sekali Vanka kepada ibu kandungnya. Perasaan tak tega mulai muncul di benak Vanka, mungkin dengan ini Vanka bisa sedikit mengobati rasa rindunya kepada Merry ibu kandungnya.
"Jangan paksa, Vanka ya bun. Nanti papa nya nyariin. Kapan-kapan lagi aja makan bareng nya." Ucap Jhordan yang membuat Devi menunjukan raut wajah sedihnya. Melihat Devi yang semakin terlihat sedih, Vanka semakin tak tega untuk menolaknya.
"Vanka takut terlalu merepotkan disini, tante." Ucap Vanka merasa tidak enak. Secara tadi Vanka sudah menumpang untuk tidur disini, dan sekarang Vanka harus makan, itu salah satunya yang membuat Vanka menolak ajakan Devi.
"Tidak merepotkan sama sekali, Vanka. Malah tante akan senang jika kamu ikut makan disini." Sahut Devi yang langsung mendapat tatapan dari Jhordan.
"Bun jangan maksa orang buat,"
"Ayo tante, Vanka mau." Ujar Vanka sengaja memotong pembicaraan Jhordan, hanya karena tidak ingin membuat Devi semakin bersedih.
Devi tersenyum senang, kemudian memegang tangan Vanka dengan lembut.
"Wah benarkah?" Tanya Devi yang langsung mendapat anggukan dari Vanka.
"Ayo deh kalau begitu. Yuk kita ke ruang makan." Ajak Devi sambil memegang tangan Vanka kemudian berlalu pergi ke ruang makan untuk makan bersama. Jangan tanya dengan Jhordan, kini dia diacuhkan oleh bundanya sendiri dikarenakan ada Vanka yang sudah menggantikan posisinya.
"Bunda, Jhordan kok ditinggalin!" Sahut Jhordan sambil berteriak.
"Kamu sudah besar sayang, ayo kesini sendiri saja!" Teriak Devi yang sudah berada di ruang makan bersama Vanka.
"Yakali cewek bar-bar itu di depan bunda kayak bocil." Ucap Jhordan pelan sambil berjalan mengikuti Devi dan Vanka ke ruang makan.
Setelah Jhordan sampai di ruang makan, Jhordan tersenyum senang ketika melihat Devi dan Vanka yang terlihat begitu sangat akrab.
"Hallo, selamat malam." Sapa Edric setelah berada di ruang makan.
"Hai, yah." Jawab Jhordan sambil tersenyum.
"Hai, om selamat malam." Ucap Vanka dengan senyum ramahnya.
Edric Axton Pradistira seorang tuan besar yang terkenal dengan kekayaan hartanya yang melimpah ruah. Tingkat kekayaannya berada di atas kedudukan ayahnya Vanka, Devan Kingarta. Selain kedermawanan nya, keluarga Pradistira ini juga terkenal dengan keluarga harmonis nya. Beruntung sekali baukan hidup yang diposisikan sebagai Jhordan, berbeda dengan Vanka yang selalu menjadi bahan pelampiasan amarah ayahnya.
"Wah, ada tamu ternyata." Ucap Edric sambil melihat ke arah Vanka. Vanka tersenyum sambil mengangguk ramah.
"Iya om. Maaf jika, Vanka merepotkan." Sahut Vanka dengan raut wajah yang sedikit terlihat agak gugup.
"Oh namamu, Vanka?" Tanya Edric yang langsung mendapat anggukan dari Vanka.
"Benar sekali, om."
"Perkenalkan saya, Edric ayah Jhordan." Ucapnya sambil mengulurkan tangan meminta bersalaman dengan Vanka. Dengan senang hati Vanka membalas uluran tangan dari Edric sambil tersenyum.
"Saya Vanka Queenadira, om." Jawab Vanka.
"Ya sudah, kita mulai makan saja yuk." Ajak Devi sambil memegang tangan Vanka yang sedari tadi tampaknya sangat enggan sekali untuk dirinya lepas. Ketiga orang di hadapannya hanya mengangguk sambil mengulas kan sedikit senyuman sebagai jawaban dari ajakan Devi.
Keempat orang itu akhirnya duduk di kursinya masing-masing dengan posisi duduk Vanka yang berhadapan dengan Jhordan.
Bersambung…