Satu persatu para maid di rumah Jhordan berdatangan dengan memakai baju lengkap ala chef dengan kedua tangannya yang penuh oleh piring makanan. Seperti inilah makan malam di keluarga Pradistira, untuk sekedar makan malam saja mereka dibuatkan makanan khusus oleh para chef ternama se asia.
"Cuma makan malam aja, pake chef ya." Batin Vanka dengan penuh rasa kagumnya.
"Selamat menikmati untuk para tuan dan nyonya." Ucap salah satu chef yang berdiri tepat di samping Edric, yang langsung mendapat anggukan dari keempat orang yang sedang duduk di meja makannya masing-masing.
Tidak ada pembicaraan ketika acara makan malam sudah dimulai. Hanya ada suara benturan antara piring dan sendok saja yang berdenting. Vanka tidak melirik kemanapun, ia hanya fokus pada makanannya yang enak. Entah itu karena Vanka yang sedang lapar atau memang benar-benar enak, Vanka rasa keduanya.
"Manis." Batin seseorang yang sejak tadi memperhatikan saat Vanka makan.
Setelah satu jam Lamanya,akhirnya acara makan malam selesai. Para maid yang bertugas membereskan rumah saling berlalu lalang untuk membersihkan meja makan.
Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, jika Vanka sekarang pamit rasanya tidak sopan , namun jika tidak ini sudah hampir larut malam. Vanka duduk dengan perasaan gelisah nya, Jhordan yang sedari tadi memperhatikan Vanka mengernyitkan alisnya merasa bingung.
Jhordan berdiri dari tempat duduknya, kemudian melihat ke arah Vanka sambil memberi isyarat lewat kedua bola matanya. Vanka yang mengerti pun langsung ikut berdiri mengikuti Jhordan.
"Bunda udah jam sembilan nih, Jhordan mau nganterin, Vanka pulang dulu ya bun." Ucap Jhordan, yang langsung mendapat senyuman dari Vanka.
"Ternyata Jhordan cowok peka juga ya." Batin Vanka sambil terus tersenyum simpul.
"Vanka kamu mau pulang, nak?" Tanya Devi sambil berjalan mendekat ke arah Vanka.
"Iya, tante. Maaf, Vanka habis makan pulang, gak bantuin dulu, tante beres-beres." Ucap Vanka dengan perasaan tidak enak nya.
"Gak apa-apa, sayang. Kan ada maid yang sudah beresin semuanya." Balas Devi sambil tersenyum lalu memegang pundak Vanka. Vanka memejamkan matanya sekilas, betapa bodohnya dia berkata seperti itu. Sudah jelas tadi para maid yang membereskan semua pekerjaan rumahnya. "Mereka kan orang kaya, kenapa gue ngomong kayak gitu ya." Batin Vanka malu. Seketika raut wajah Vanka berubah, permukaan wajahnya sedikit agak memerah. Jhordan yang melihatnya pun terkekeh geli sambil menutup mulutnya. Berniat hanya untuk tidak membuat Vanka semakin merasa malu lagi.
"Hehe oh iya ya tante, Vanka lupa." Sahut Vanka sambil cengengesan.
"Kamu jangan panggil tante dong, panggil bunda aja biar sama kayak, Jhordan." Canda Devi sambil mencolek dagu Vanka singkat.
"Emang gak apa-apa, tante?" Tanya Vanka.
"Enggak dong, sayang malah bunda senang." Ucap Devi lalu meraih tangan Vanka dan menggenggamnya sambil menepuk-nepuk punggung tangannya pelan.
Vanka tersenyum, bingung antara tersenyum senang atau sedih. Senangnya karena Vanka mendapat perlakuan hangat dari Devi, sehingga membuat Vanka kembali merasakan bagaimana lembutnya perhatian sosok Merry dulu. Sedihnya karena Devi, semua memori Vanka dengan Merry kembali teringat membuat dirinya terenyuh, dan merasakan rasa sesak di dadanya. Akankah, perlakuan Devi kepadanya berlangsung lama? Vanka berharap sekali akan terus mendapatkan perhatian kecil ini dari Devi. Karena Alma sosok ibu tirinya pun tidak bisa memberinya kenyamanan seperti sedang bersama Devi sekarang. Alam hanya menjadi sosok pengganggu bagi Vanka, sosok perempuan penghancur yang telah berhasil merenggut semua kebahagiaannya.
"Terima kasih banyak ya," Vanka menjeda ucapannya, matanya tersorot menatap Devi dengan penuh ketulusan. Entah dari mana rasa hangat itu mulai terasa, pada intinya Vanka merasa hidup berada disamping Devi. "Bunda." Lanjutnya sambil tersenyum, namun tidak menunjukan senyum gembira melainkan senyum haru.
Devi menganggukan kepalanya seraya tersenyum senang.
"Ya sudah kalau kamu mau pulang, sering-sering main kesini ya, Cantik." Ucap Devi yang langsung mendapat kekehan geli dari Vanka.
"Iya bunda nanti kapan-kapan, Vanka main lagi kesini." Jawabnya sambil terus mengulaskan senyumnya.
"Bener ya, bunda tunggu."
"Iya bunda. Kalau begitu, Vanka pamit pulang dulu ya." Ucap Vanka lalu mengulurkan tangannya meminta bersalaman, biar sopan katanya. Setelah bersalaman dengan Devi, kemudian Vanka menoleh ke arah Edric dan juga kembali mengulurkan tangannya.
"Vanka pulang dulu ya, Om. Terima kasih banyak untuk makannya." Ucapnya.
Edric mengerutkan kedua alisnya sambil membalas uluran tangan Vanka.
"Kok om, ayah dong," Sahutnya yang langsung mendapat tatapan terkejut dari Vanka.
"Biar sama. Jadi, ayah Bunda. Masa iya bunda sama om, kelihatannya om jadi kakak nya ,jhordan dong." Lanjut Edric sambil mengangkat kedua alisnya singkat kemudian dibarengi dengan kekehan gelinya.
Bukankah memang begitu kenyataannya bukan? Keluarga pradistira terkenal dengan keharmonisan keluarganya, dan memang nyata. Salah satu saksi matanya adalah Vanka Queenadira yang melihat seperti apa keharmonisan keluarga Pradistira itu.
"Ayah gak liat dia kebingungan, kasian itu anak orang,yah." Sahut Jhordan sambil terkekeh geli.
"Jhordan keliatan beda banget ya di sekolah sama di rumah." Batin Vanka sambil terus memperhatikan Jhordan.
Edric menepuk pundak Vanka pelan hingga membuat sang empu melihat ke arahnya.
"Saya bercanda, Vanka. Tak apa panggil saya om saja, saya masih muda kok. Masih bisa kayaknya kalau mau nambah satu istri lagi." Ucapnya sambil melihat ke arah Devi lalu mengedipkan sebelah matanya, genit.
Devi menyilangkan kedua tangannya sambil melihat ke arah Edric sinis. Namun sebelum Devi berbicara Jhordan sudah lebih dulu merangkul pundak nya dari arah samping.
"Nanti bunda, Jhordan carikan ayah baru yang lebih dari ayah." Ucapnya dengan menatap ke arah Edric sambil tersenyum sinis.
Vanka tersenyum sambil berjalan mendekat ke arah Devi.
"Mana ada om Edric ninggalin bunda," Vanka menjeda ucapannya, kemudian meraih tangan Devi dan menggenggamnya dengan lembut. "Kan bunda bidadari satu-satunya." Lanjutnya sambil tersenyum. Devi terkekeh geli mendengar ucapan Vanka terhadapnya, andai saja Vanka adalah anaknya mungkin kebahagiaan dan keharmonisan keluarga Pradistira akan semakin bertambah.
"Nah betul tuh kata, Vanka." Timpal Edric sambil merebut Devi dari rangkulan Jhordan, sedangkan Jhordan hanya mendengus kesal.
"Jadi kapan kita mau pergi nya, bun kalau begini terus." Ucap Jhordan dengan wajah datarnya.
"Iya bunda, Vanka mau permisi pulang dulu ya udah malem." Pamit Vanka kepada Devi.
"Hati-hati dijalan ya, bunda pasti nunggu kamu kesini lagi." Sahutnya sambil terus memegang tangan Vanka.
"Iya bunda nanti kapan-kapan, Vanka kesini lagi."
"Bunda tunggu."
"Iya bunda." Ujar Vanka lalu menoleh ke arah Jhordan yang sudah berdiri tepat di sampingnya.
"Jhordan antar, Vanka pulang dulu ya bun." Ucap Jhordan yang langsung mendapat anggukan dari Devi.
"Hati-hati ya, sayang." Peringat Devi kepada putra tinggalnya. Jhordan mengangguk kemudian seperti biasa melakukan ritual sebelum pergi kemana pun, bersalaman dengan kedua orang tuanya.
Devi dan Edric mengantarkan Jhordan dan Vanka hingga halaman depan mensionnya. Kini dua anak muda itu sudah berada di dalam mobil sport yang berwarna merah terang.
Jhordan mulai menyalakan mesin mobilnya kemudian memencet klakson untuk kembali berpamitan.
"Bye bunda, om!" Teriak Vanka dari dalam mobil.
"Bye, sayang. Hati-hati ya." Sahut Devi sambil melambai lambaikan tangan.
"Iya bunda." Jawab Vanka kemudian membalas lambaian dari Devi.
Tak lama setelah itu Jhordan mulai mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Kini mereka berdua sudah tidak lagi berada di dekat mension rumah Jhordan tapi mereka sudah berada di tengah-tengah jalanan yang ramai. Tidak ada yang berbicara di dalam mobil, mereka hanya saling diam dan mendiamkan. Jhordan fokus mengamati jalanan, sedangkan Vanka senyum-senyum sendiri. Entah, hari ini sangat membahagiakan baginya, bukan karena hampir seharian dia bersama Jhordan namun karena Devi bundanya Jhordan yang membuat hari nya berkesan sore ini. Meskipun hanya sebentar namun membuat sebuah kenangan yang membekas sekali bagi Vanka. Rasanya ingin selalu dekat dengan Devi, namun tidak dengan Jhordan. Karena baginya Jhordan sangatlah menyebalkan dan selalu membuat dirinya marah, marah dan marah. Vanka hanya senang ketika bersama Devi dan Edric, kedua orang tua Jhordan.
Jhordan melihat Vanka yang sedari tadi terus senyum-senyum sendiri, dan dia malah menggedik kan bahunya acuh. Satu hal yang harus Jhordan tahu sekarang, ialah alamat rumahnya Vanka. Sampai kapan pun mereka tidak akan pernah sampai jika saling diam dan tak mau bertanya atau bahkan memberi tahu tujuan mereka saat ini. Akhirnya dengan perasaan malas, Jhordan memberanikan membuka pembicaraan nya mendahului.
"Alamat." Cetus Jhordan dengan wajah datarnya. Vanka tidak sama sekali mendengarkan nya, dia tetap fokus dengan dirinya sendiri. Karena merasa kesal, akhirnya Jhordan memencet klakson dengan kencang.
"Astaga mamah katak loncat!" Teriak Vanka dengan kedua tangan yang sontak menutup seluruh permukaan wajahnya. Jhordan terkekeh geli melihat ekspresi Vanka yang sedang terkejut itu.
"Kenapa lo?" Tanya Jhordan dengan menahan tawanya mati-matian.
Vanka menurunkan kedua tangannya lalu membuka matanya secara perlahan. Kemudian melihat ke arah Jhordan sekilas sambil memutar bola matanya malas.
"Lo kenapa, tadi bilang apa?" Jhordan kembali bertanya dengan tatapan yang masih fokus melihat ke jalanan yang semakin malam terasa semakin ramai.
"Lo ngapain sih bunyiin klakson kenceng banget." Ucap Vanka dengan nada tinggi sambil memperlihatkan wajah kesalnya.
"Biar lo gak budek." Jawab Jhordan datar.
"Gue gak pernah tuli ya." Bentak Vanka kesal.
"Terus tadi apaan?"
"Kapan?"
"Tadi gue nanya alamat rumah lo, bodoh." Cetus Jhordan sambil menyentil jidat Vanka pelan.
"Kok gue gak denger ya." Jawabnya sambil mengusap-usap jidat bekas sentilan Jhordan tadi.
"Udah gue bilang kalo lo itu budek."
"Enak aja." Timpal Vanka merasa tidak terima.
"Yaudah buruan alamat rumah lo dimana."
"Nanti gue kasih tau ish, bawel banget." Cetus Vanka sambil memutar bola matanya malas.
Debat, debat dan debat yang Vanka rasakan ketika bersama Jhordan. Sore ini Vanka benar-benar dibuat mumet oleh Jhordan, untung saja mungkin tadi sedikit terobati dengan Devi dan Edric.
Akhirnya setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan, Vanka dan Jhordan kini sudah sampai di depan halaman rumahnya. Rumah yang tidak kalah mewahnya dengan mension yang dimiliki Jhordan, namun tetap Jhordan pasti akan berada di kedudukan nomer satu.
Vanka keluar dari mobil Jhordan setelah sampai di depan rumahnya.
"Makasih." Ucap Vanka dengan wajah datarnya, yang langsung mendapat deheman kecil dari Jhordan.
"Gue pulang." Ucap Jhordan dengan wajah datarnya.
"Oke, hati-hati." Jawab Vanka yang lagi lagi hanya mendapat deheman kecil saja dari Jhordan.
Jhordan kembali fokus dengan mobilnya, sengaja tidak Jhordan matikan mesinnya, karena pikirnya tidak akan lama jika hanya menurunkan Vanka saja. Wajahnya memang datar, namun tidak dengan hati dan jantungnya yang sedari tadi terus berdenyut tak beraturan.