Episode 8

1601 Kata
Apalagi setelah Vanka memberinya sedikit perhatian, membuat jantungnya berdangdutan di dalam sana. Jhordan menyunggingkan sebelah bibirnya, sehingga mengulaskan sebuah senyuman. Mungkin akan menjadi sebuah keajaiban jika Jhordan melakukannya di depan banyak orang. *** Vanka berjalan dari halamannya menuju pintu utama, dikarenakan Jhordan mengantarkannya hanya sampai di seberang jalan halaman rumah Vanka. Ceklek Vanka membuka pintu utamanya dengan pelan, lampu di dalam rumahnya pun sudah sebagian terlihat gelap juga sepi. "Dari mana saja kamu?" Tanya seseorang dari balik pintu kamar tidur diruang bawah. Vanka berhenti sejenak sambil menghela nafasnya berat. "Apa yang perlu papa tau?" Tanya nya balik. Devan kingarta lah yang sedang berada di hadapan Vanka saat ini. Ayah kandung yang selalu menjadi penghancur bagi anaknya dan selalu menjadi tempat dimana anaknya merasa takut ketika berada disampingnya. Devan menghampiri Vanka dengan kedua tangan yang sengaja dilipatkan di depan dadanya. "Papa tanya kamu dari mana, Vanka!" Tegas Devan dengan nada yang sedikit agak membentak. Terkejut? Tentu saja tidak. Vanka sudah biasa mendapat bentakan bahkan perlakuan kasar dari Devan semenjak Merry meninggalkan nya, dan lebih tepatnya, semenjak Alma hadir. "Pulang sekolah, kenapa?" Sahut Vanka sambil melihat ke arah Devan dengan wajah datarnya. "Pulang sekolah kamu bilang, Vanka? Lihat ini sudah jam berapa." Ucap Devan sambil menunjuk ke arah jam dinding. Vanka melihat ke arah jam dinding sekilas, sesuai dengan arahan yang ditunjuk Devan. "Jam sembilan tiga puluh, pah kenapa?" Tanya Vanka tanpa rasa takutnya. "Kamu sekolah hingga larut malam seperti ini!" Bentak Devan dengan kedua bola mata yang sudah menyala,itu menandakan bahwa Devan sudah benar-benar marah terhadap Vanka. "Lihat abang mu, Raga. Dia selalu pulang tepat waktu, Vanka." Lanjutnya. Vanka berdecih pelan. "Papa mau bandingin, Vanka sama bang Raga lagi?" Tanya Vanka dengan wajah marahnya. Satu hal yang tidak pernah bisa Vanka Terima adalah ketika dia dibanding-bandingkan dengan abang tirinya Raga Erlangga anak kandung dari Alam amanda. "Silahkan, pah. Vanka juga bisa bandingin papa sama papa papa yang lainnya!" Lanjut Vanka membentak. Plak Satu tamparan kencang berhasil meluncur di pipi chubby nya. Bahkan saking kencang nya hingga wajah Vanka sedikit terhempas ke arah samping. "Berani sekali kamu membentak dan membantah saya!" Tegas Devan dengan suara yang kencang. Vanka memegangi pipi nya dengan satu tangan kanannya, panas dan perih rasanya yang dirasakan Vanka saat ini. Tak terasa kini air matanya muluruh membasahi pipi nya,air matanya terlihat mengalir begitu sakit. Namun tangisnya, bukan karena rasa sakit bekas tamparan di pipinya, melainkan karena rasa sakit didalam hatinya yang membuat Vanka sampai meluruhkan air mata berharganya. "Kenapa cuma sekali? Tampar lagi, Vanka pah tampar. Kalo cuma sekali gak kerasa buat, Vanka." Ucapnya dengan deraian air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Bukannya berhenti, Devan malah kembali menampar pipi kiri Vanka dengan kencang. "Puas kamu!" Teriak Devan dengan wajah murkanya. "Semakin besar kamu semakin tidak berguna saja, Vanka." Ucapnya dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya, kemudian berlalu pergi di hadapan Vanka. Membiarkan anaknya sendirian dengan perasaan dan fisik yang terasa sakit. Setelah Devan menghilang dari hadapannya, seketika tubuhnya terasa lemas hingga meluruh ke lantai. Vanka terhuyung di atas lantai dengan air mata yang sudah mengalir deras dari pelupuk matanya. Sebelah tangan kanannya memegangi d**a kirinya, sesak, nyeri dan juga rasa perih yang Vanka rasakan saat ini. Pundaknya semakin bergetar sangat hebat ketika Vanka sudah tidak lagi bisa menahan rasa sakit yang dirasakannya. Tangan yang kekar dan besar itu menyentuh pundak Vanka yang terus bergetar kencang karena menahan isakan tangisnya. "Dek." Sapanya dengan penuh kelembutan. Vanka seketika menghentikan tangisnya kemudian melihat ke arah dimana suara itu berasal. Raga Erlangga, abang tirinya yang selalu bersikap tulus untuk membantunya dan satu-satunya orang yang selalu ada disaat Vanka membutuhkan. Namun berbeda di dalam pandangan Vanka, justru Vanka malah menganggap Raga berbuat baik kepadanya hanyalah pencitraan semata, agar Vanka bisa menerima Raga dan merebut segalanya yang telah dimiliki Vanka. Tidak ada ekspresi apapun yang Vanka perlihatkan ketika Raga menyapa nya dengan kelembutan. Justru Vanka malah berdecih kecil sambil memutar bola matanya malas. "Ngapain lo kesini?" Tanya nya. "Gue mau lihat keadaan lo, Dek." Jawab Raga kemudian berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Vanka. "Apa peduli lo?" Tanya Vanka. Sedangkan Raga hanya diam tak bisa berkutik apapun selain merasakan rasa sakit di dadanya. Bukan karena perilaku Vanka yang selalu ketus kepadanya, melainkan karena Raga yang tak tega melihat keadaan Vanka yang selalu terlihat hancur berantakan ketika berada di dalam rumah. "Semua ini juga karena lo sama cewek perebut itu!" Bentak Vanka yang kembali menangis dan menumpahkan semua air matanya di depan Raga. Bukan perasaan marah atau benci yang Raga rasakan ketika ibu kandungnya dikatai parasit oleh Vanka. Malah d**a Raga semakin terasa sesak ketika melihat Vanka semakin terisak di hadapannya. Tangisnya terlihat begitu sendu, tampaknya hati nya sekarang benar-benar perih dan kesakitan. Raga menundukan kepalanya, seraya menahan rasa sesak di dadanya. Ingin sekali rasanya Raga ikut menangis di hadapan Vanka, namun itu tidak akan pernah dia biarkan. Sebisa mungkin Raga harus tetap menjadi sosok lelaki yang kuat untuk adik tirinya. "Gue minta maaf, dek kalo selama ini gue selalu bikin lo sakit hati dan mungkin gue selalu menjadi sumber rasa sakit buat lo." Ucap Raga tanpa melihat sedikitpun ke arah Vanka. Rasa bersalahnya kini semakin menggebu-gebu ketika Vanka benar-benar sepenuhnya menyalahkan dirinya. Vanka menatap Raga dengan tatapan nyalang. Tangisnya kembali pecah ketika, melihat wajah Raga yang berada tepat di depannya. Entah kenapa rasa sakit di hatinya semakin terasa begitu menyakitkan. "Iya memang, semua rasa sakit yang gue rasain sekarang itu bersumber dari lo!" Bentak Vanka dengan kencang sambil menunjuk ke arah Raga penuh kebencian. "Apa apaan kamu, Vanka!" Bentak seseorang dari arah belakang Vanka. Dengan cepat, Vanka langsung menoleh ke arah dimana sumber suara itu berasal. Vanka berdecih pelan. Wajah dan tatapan matanya tidak pernah padam dengan sorotan mata kebencian. Apalagi selain Raga yang ada disini, kini ada Alma Amanda yang sedang berjalan ke arahnya,seorang mama tiri yang benar-benar Vanka sangat benci. "Apa.Lo manggil gue?" Tanya Vanka dengan wajah tanpa dosa nya, bahkan terlihat begitu sangat santai. Tangisnya sudah dihentikan sejak Vanka mendengar bentakan dari Alma. Karena saat ini Vanka tidak boleh terlihat lemah di hadapan wanita parasit itu, maka dari itu sebisa mungkin Vanka kini menahan tangisnya. "Yang sopan kamu dengan saya, Vanka." Tegas Alma dengan perasaan tidak sukanya. "Apa perlu saya perjelas disini siapa yang harus diperingati agar memiliki sikap sopan santun,nyonya Alma Amanda." Tanya Vanka sambil menatap Alma penuh amarah. "Oh ya, seorang perebut sepertimu mana bisa mengerti penjelasan dari saya." Lanjutnya dengan ekspresi wajah mengejek. Vanka mendekat ke arah Alma. Setelah dirinya sudah berada tepat di hadapannya, Vanka meneliti tubuh Alma dari atas kepalanya hingga ujung kakinya. "Perempuan yang tidak punya harga diri." Ucap Vanka dengan santai. Plak Satu tamparan kembali meluncur di pipi Vanka. Bukan, bukan Alma yang menamparnya melainkan Devan. "Jaga ucapan kamu, Vanka!" Bentaknya dengan raut wajah yang sudah benar-benar marah. Vanka sontak langsung memegangi pipinya yang kembali terasa panas. Tamparan yang tadi saja masih membekas di pipinya, dan kini sudah kembali mendapat tamparan lagi. "Saya tidak pernah mengajarkan kamu menjadi seorang anak yang tidak tahu malu." Lanjutnya penuh amarah. Sia sia sudah Vanka menahan air matanya dengan mati matian agar tidak meluruh lagi di hadapan mereka. Ya, kini Vanka kembali menangis. "Iya, memang tidak. Tapi," Vanka menjeda ucapannya. Penuturan kata yang terlihat begitu sendu dan menyakitkan bagi siapapun yang melihatnya. "Sekarang papa tidak pernah lagi peduli dengan, Vanka. Bahkan perhatian papa sekarang cuma buat dia!" Ucap Vanka dengan meninggikan nada bicara di akhir kalimatnya, sambil menunjuk ke arah Raga dan Alma yang tengah berdiri di sampingnya. "Dan apa sekarang papa terlihat menyayangi, Vanka? Oh tentu saja tidak pah. Dan apa papa tahu hati, Vanka sakit karena kedatangan mereka!" Air mata Vanka mengalir begitu deras dari sisi pelupuk matanya, rasa sakit dan rasa sesak di dadanya semakin terasa. "Mama meninggal belum satu bulan aja papa udah bawa perempuan lain kerumah ini. Apa papa tahu gimana rasanya,Vanka saat itu? Enggak kan." "Vanka depresi pah, Vanka sakit liat papa bersenang-senang dengan perempuan lain sedangkan disini Vanka masih merasakan rasa sakit karena kehilangan mama." "Dan lebih sakitnya sekarang, Vanka harus terus hidup dengan penuh kehancuran dan siksaan. Semua muncul ketika perempuan parasit itu datang!" Bentak Vanka sambil menunjuk ke arah Alma dengan sorot mata yang penuh dengan kebencian. "Semakin tidak tahu sopan santun kamu, Vanka!" Teriak Devan membentak Vanka. Kemudian kembali menamparnya dengan amat sangat kencang, bahkan saking kencangnya tubuh Vanka hingga terpental dan membentur dinding dengan keras. "Aww." Ringis Vanka kemudian badannya meluruh lemas terduduk di lantai. "Dek!" Teriak Raga dengan wajah terkejut nya ketika melihat Vanka sudah terduduk lemas di lantai yang sedang memegangi kepalanya. Wajah Devan terlihat begitu sangat tenang dan santai, bahkan tidak sedikit pun memperlihatkan akan rasa kasihannya kepada Vanka. Tanpa pikir panjang, juga tanpa memikirkan Vanka akan menolaknya, Raga menghampiri gadis malang itu kemudian duduk disampingnya. "Lo gak apa apa?" Tanya Raga. Raut wajahnya terlihat begitu sangat khawatir. Memang saat itu Raga benar-benar takut akan terjadi sesuatu kepada Vanka. Sedangkan Vanka tidak menjawabnya, dia hanya terus menangis sesegukan. Mengapa rasa sakit di dadanya terasa begitu semakin sesak, harusnya saat itu Vanka terlihat biasa saja dihadapan mereka. Bukankah perilaku ini sudah biasa Vanka dapatkan dari Devan? Lalu mengapa Vanka harus terus menangis dan terlihat lemah di hadapan mereka. "Raga," Panggil Devan yang membuat sang empu pun menoleh ke arahnya. "Pergi ke kamar kamu, biarkan gadis yang tidak memiliki rasa sopan santun itu meratapi kesalahannya sendiri." Tegasnya dengan tatapan sinis ke arah Vanka. Di sisi lain, Alma diam bukan karena dia tidak ingin ikut campur melainkan Devan sudah cukup membuat dirinya puas akan penderitaan yang Vanka alami saat ini. "Tapi, pah." Elak Raga yang masih tetap setia duduk disamping Vanka. "Sekarang!" Bentak Devan sambil menunjuk ke sembarang arah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN