Episode 9

1615 Kata
"Raga, nurut dengan papamu." Timpal Alma sambil melihat ke arah Raga dengan tatapan datarnya. Tidak ada lagi yang harus Raga lakukan selain menuruti perintah Devan dan Alma. Dengan berat hati Raga akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan meninggalkan Vanka. Hatinya terus memberontak ingin sekali menemani dan berusaha untuk menenangkan Vanka, namun Devan dan Alma sudah lebih dulu membentak nya dan menyuruh untuk meninggalkan Vanka seorang diri. "Renungkan kesalahanmu, Vanka!" Tegas Devan kemudian berlalu pergi dari hadapan Vanka, kini disana hanya tinggal Vanka dan Alma. Alma masih tetap diam dan berdiri di hadapan Vanka, kedua tangannya disilangkan di depan dadanya. "Jujur, aku bahagia melihatmu menderita, Vanka Queenadira." Ucap Alma sambil tersenyum sinis. Kemudian ikut berlarut dari hadapan Vanka untuk menghampiri Devan yang sudah pergi lebih dulu. Sakit yang dirasakan Vanka saat ini, rasa sesak di dadanya begitu sangat amat perih. Tangisnya kembali meluruh membasahi pipi chubby nya itu, bahkan kini Vanka tidak lagi peduli dengan apa yang sudah dikomitmenkannya sejak awal, bahwa dia tidak akan terlihat lemah dihadapan orang-orang seperti Devan, Alma dan Raga. Namun karena pertahanan dirinya runtuh begitu saja, Vanka kini menumpahkan semua air matanya ditempat ini. Seisi ruang tamu, seperti kursi meja dan lain-lain nya adalah saksi dari rasa sakit yang dirasakan Vanka saat ini. Dengan hati yang terluka dan tubuh yang terasa ngilu juga terasa sakit akibat benturan keras tadi, akhirnya Vanka memilih untuk pergi ke lantai dua ke tempat kamar nya berada. Langkah yang terlihat begitu lelah, Vanka sempoyongan menaiki anak tangga selangkah demi selangkah. Kedua tangannya memegang besi dengan sangat erat sepanjang tangga untuk membantu menopang tubuhnya yang sudah terasa melemah. Setelah beberapa menit, akhirnya Vanka sampai di sebuah ruangan yang ia tuju. Vanka membuka pintu dengan perlahan, meletakkan tas sekolahnya di bangku yang berhadapan dengan meja nakas miliknya. Vanka mendekat ke arah meja itu, kemudian mengambil satu buah figura yang di dalamnya terdapat satu foto Vanka dengan Merry. Vanka menjatuhkan dirinya di lantai, tubuhnya terhuyung lemas tanpa daya. Hatinya sakit ketika melihat gambar Merry yang sedang tersenyum senang di samping Vanka.Vanka memeluk figura itu dengan sangat erat, dadanya terasa semakin mencekat membuat Vanka agak kesulitan untuk bernafas. "Ini yang Tuhan kasih setelah Vanka kehilangan mama," Lirih nya dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya. "Kenapa!" Teriak Vanka sangat kencang. Untung saja kamarnya kedap suara, sehingga mau sekencang apapun Vanka berteriak tidak akan ada satupun orang yang mendengarnya. "Kenapa harus hidup, Vanka yang Tuhan takdirkan seperti ini. Hidup di dalam kegelapan dan lingkungan yang penuh dengan orang-orang keji seperti mereka tanpa adanya sosok seorang ibu yang bisa menjadi penguat buat, Vanka." Lanjutnya dengan isakan tangis yang terus semakin menjadi-jadi. Tubuh Vanka benar-benar tidak ada daya sedikitpun, akhirnya Vanka memilih untuk membaringkan diri di atas kasur king size miliknya dengan tangan yang masih setia memeluk pigura itu dengan erat. Tak lama setelah itu Vanka tertidur dengan lelap bersama foto Merry yang tidak ia lepaskan dari dekapannya. Disisi lain, ada seorang lelaki yang tengah berdiri di balik pintu kamar Vanka yang sedikit terbuka. "Maaf," Lirih pria itu sambil menundukan kepalanya, merasa bersalah. "Maaf karena sudah membuatmu hancur dan menderita seperti sekarang." Lanjutnya. Kemudian Raga memberanikan diri untuk kembali melihat ke arah Vanka. Raga menghela nafas nya berat kemudian berbalik kembali ke kamarnya. *** "Kapan jomblo gue kelar ya, Ji." Ucap Arka sambil menatap sendu ke arah bintang bintang di langit dengan balkon kamarnya. "Gue bukan Tuhan, Ka makanya gue gak tau," Jawabnya kemudian ikut menatap bintang bintang malam seperti Arka. Malam ini memang sedang giliran Aji yang menginap di rumah Arka, dengan alasan karena mereka di jakarta tidak tinggal bersama kedua orang tuanya. Maka dari itu mereka selalu bergantian menempati rumah mereka, ditambah lagi dengan kedua orang tua Aji dan Arka yang memang sudah saling kenal bahkan akrab jadi kedua orang tuanya mempercayai Aji dan Arka untuk bisa saling menjaga rumah selama kedua orang tuanya berada di negeri seberang. "Lo pernah ngerasa gak sih, Ka penasaran sama jodoh lo sendiri?" Tanya Aji serius. Arka memalingkan pandangannya ke arah Aji sekilas, kemudian kembali menatap bintang malam yang indah. "Gue bukan penasaran, Ji. Tapi gue lebih ke mikir gimana kalo pasangan gue gak bisa nerima gue apa adanya, gue takut kalo gue punya kekurangan yang gak dia suka terus dia nge khianatin gue gitu aja." Ujar Arka dengan wajah melasnya. "Itu alesan lo kenapa sampe sekarang gak mau serius sama cewek?" Tanya Aji sambil mengangkat sebelah alisnya.Arka mengedikkan bahunya singkat. "Ya bisa jadi." Jawabnya. "Kalo lo gimana?" Arka bertanya balik. "Secara tingkat buaya gue sama kayak lo, udah tingkat kelas kakap," Ucap Aji sambil merangkul Arka dengan wajah tanpa dosa, sedangkan sang empu langsung melihat ke arahnya dengan tatapan sinis. "Gue juga sama kayak lo, Ka. Jadi gue ngerasa gak yakin aja kalo gue mau serius sama satu cewek, lagian jadi buaya juga seru kan." Lanjutnya. "Hooh." Jawab Arka sambil menganggukan kepalanya dengan tatapan yang tidak sedikitpun berpaling dari bintang-bintang yang berserakan di atas langit malam. Arka Adinata dan Aji Delton, dua manusia yang berkedok sebagai buaya darat tingkat kelas kakap. Berganti ganti pasangan adalah satu hal yang biasa bagi mereka, bahkan bisa dibilang mereka berganti perempuan bisa satu minggu sekali, dan bukan Arka dan Aji jika dalam waktu satu bulan mereka hanya berganti 3 kali perempuan saja. Kebiasaan menjadi buaya daratnya itu memang sudah tumbuh sejak dini, dan memiliki banyak mantan adalah satu hal yang mereka banggakan dalam hidupnya. Selain karena merasa laku, mereka juga menganggap bahwa banyak mantan itu menandakan bahwa mereka terkenal. Namun wajar wajar saja jika Arka dan Aji adalah dua manusia buaya darat, karena mereka memiliki wajah yang tampan juga body yang bagus, lebih tepatnya sempurna. Tidak ada yang berbadan kurus di anggota Ambadistira, semua anggotanya memiliki badan yang kekar dan gagah apalagi kelima anggota intinya seperti Jhordan sangat ketua, Maikal si tangan kanan, Aji, Arka dan Barra. Selain anggota inti mereka juga anggota yang masih berdarah muda juga paling tampan. "Gue laper nih, Ka" Ucap Aji sambil memegangi perutnya. "Cacing cacing di perut gue udah pada demo nih." Lanjutnya. "Hooh sama, gue juga laper." Timpal Arka. "Yaelah cari makanan kek. Malah ngadu nasib." Arka kemudian mengambil dompet di dalam saku celana pendeknya. "Yah, Ji gue belum di transfer duit sama nyokap," Ucap Arka setelah membuka isi dalam dompetnya yang kosong, tidak ada uang sedikitpun dan hanya ada kartu KTP saja di dalamnya. "Lo ada gak?" Lanjut Arka bertanya. "Lu kayak yang nggak tau aja, lo sama gue tuh udah kayak kembar tak seiras, Ka. Lo di transfer nyokap gue juga pasti. Jadi kalo sekarang lo gak punya, gue juga mana ada." Keluh Aji. Hening, nampaknya Aji dan Arka sedang memikirkan sesuatu. Ya, memikirkan bagaimana supaya perut kedua buaya darat itu bisa kentang tanpa harus mengeluarkan uang. Setelah beberapa menit mereka berpikir, Tiba-tiba saja Aji mengatakan sesuatu. "Aha, gue punya ide, Ka." Sahut Aji sambil menunjukkan satu jari telunjuknya ke atas. "Apa?" Tanya Arka sambil mengerutkan kedua alisnya. "Gue juga yakin dalam hati nurani lo, lo juga pasti berpikir apa yang gue pikirin." Sahut Aji dengan menaik turunkan alisnya seraya tersenyum. Arka ikut tersenyum sambil mengangguk anggukan kepalanya seolah mereka sedang saling berkomunikasi antara batin satu sama lain. "Jhordan!" Ucapnya bersamaan yang diakhiri dengan kekehan gelinya. Setelah akhirnya memutuskan Jhordan adalah solusi terbaiknya saat ini, mereka bersiap-siap untuk pergi ke rumah sahabat kaya rayanya. Setelah semua persiapannya selesai, kemudian mereka pergi ke garasi untuk mengambil mobil milik Arka. Mereka melajukan mobil dengan kecepatan standar karena jalanan yang penuh dengan pengemudi roda dua dan juga empat. Malam ini sudah menunjukan pukul sepuluh malam, dan setelah tiga puluh menit perjalanan akhirnya Arka dan Aji sampai di depan mansion Jhordan. "Hallo." Sapa Arka ketika teleponnya sudah tersambung dengan Jhordan. Jhordan hanya berdehem pelan saja, dikarenakan dia pun baru sampai lagi ke mansion nya setelah tadi mengantarkan Vanka pulang. "Gue ada di depan mansion lo nih sama, Aji." Ucap Arka di dalam telepon. "Mau ngapain?" Tanya Jhordan dengan qm raut wajah bingungnya, meskipun mungkin Akra dan Aji tidak akan melihatnya. Karena saat ini Arka hanya menelepon biasa bukan video call. "Suruh masuk dulu kek, Dan. Lo tega bener liat sahabat lo yang baik dan tidak sombong ini nungguin di luar." Cerocos Arka sambil terus mengedarkan pandangannya ke sekitaran Mansion Jhordan. "Para buaya kelas kakap." Cetus Jhordan yang langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. "Yeh, sialan malah dimatiin." Pungkas Arka dengan raut wajah kesalnya. Tak lama setelah itu gerbang mansion Jhordan terbuka lebar dan menampakkan sosok pria yang berwibawa nan tampan. "Masuk." Titah Jhordan kepada Arka dan Aji. Arka kemudian mengacungkan jempolnya dari dalam mobil kemudian mulai memasukan dan memarkirkan mobilnya di dalam mansion jhordan. Arka, Aji dan sang tuan rumah kini sedang berjalan menuju kamar jhordan. Namun sebelum sampai ke tujuan, mereka bertemu dengan Devi dan Edric. "Hai anak anak ganteng." Sapa Devi dengan senyum ramahnya. "Oh, Hai tante." Balas Arka dan Aji secara bersamaan. "Tumben kalian kesini nya tengah malam." Tanya Devi yang berhasil membuat Arka dan Aji jadi Salah tingkah. Kedua manusia berkedok buaya kelas kakap itu saling beradu pandang. Mereka bingung apa yang harus mereka jawab dengan pertanyaan yang dilontarkan Devi kepada mereka. Secara niat mereka ke rumah jhordan pun hanya ingin menumpang makan saja. Arka kemudian menyenggol tangan Aji sambil melihat ke arahnya. Arka menatap Aji sambil menganggukan kepalanya pelan, seolah Arka sedang memberi pemahaman kepada Aji. Aji yang mengerti pun langsung tersenyum ramah kepada Devi. "Oh iya, tante kita disini mau ngerjain PR." Ucap Aji cengengesan, merasa salah tingkah. Devi mengangguk anggukan kepalanya paham, namun tampaknya ada sesuatu yang kurang di antara mereka. "Kok kalian gak bawa bukunya? Atau PR kalian online?" Ucap Devi sambil mengangkat sebelah alisnya bertanya. "Euh anu, tante itu lho," "Palingan juga mereka mau numpang makan." Cetus Jhordan memotong pembicaraan Arka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN