Arka dan Aji cengengesan mendengar ucapan yang dilontarkan Jhordan. Memang benar begitu kenyataannya bukan, Arka dan Aji hanya ingin menumpang makan saja disana.
"Kalian berdua belum makan?" Tanya Devi dengan nada terkejutnya. Arka dan Aji seketika mengangguk mengiyakan apa yang dibicarakan Devi kepada mereka berdua.
"Kalau begitu sana makan, nanti biar tante yang akan nyuruh maid buat siapin makanannya ya." Lanjutnya.
"Terima kasih banyak, tante." Ucap Arka dan Aji bersamaan.
"Kalau begitu, tante kesana sebentar ya mau minta tolong ke para maid nya dulu." Ucap Devi.
"Oh iya, tante. Sekali lagi Terima kasih banyak ya." Ucap Arka dengan Aji, dia tersenyum ramah kepada Devi. Setelah itu Devi pergi ke arah dapur, dimana ada beberapa maid dan juga chef yang biasa bertugas membuatkan makanan untuk keluarga Pradistira.
"Ih iyi, tinti. Sikili ligi tirimi kisih binyik yi nyenyenye." Cibir Jhordan sambil memutar bola matanya malas. Sedangkan Arka dan Aji yang merasakan cibiran jhordan itu untuk mereka, malah tersenyum kuda memperlihatkan seluruh gigi putihnya.
"Arka, Aji. Ayo sini makan dulu!" Teriak Devi dari arah ruang makan.
"Woy, bos. Gue sama, Aji makan dulu ya, lo tunggu disini aja." Ucap Arka sambil menepuk nepuk pundak Jhordan pelan, kemudian Arka berlalu pergi dari hadapan Aji dan Jhordan.
Aji melihat ke arah Jhordan dengan senyum kemenangan.
"Bye bye, ganteng." Ujar Aji sambil menoel dagu Jhordan singkat, kemudian ikut berlalu menghampiri Arka yang sudah lebih dulu pergi ke ruang makan.
"Sialan." Cetus Jhordan setelah mendapat sentuhan dari salah satu buaya kelas kakap itu.
***
Vanka terbangun dari tidurnya karena pantulan sinar matahari yang menembus jendela kamarnya, hari sudah menunjukan pukul 06:30. Masih ada waktu satu jam untuk Vanka bisa bersiap-siap pergi kesekolah.
Vanka terbangun dengan keadaan mata yang sembab, rambut yang lengket dan acak-acakan, juga dengan pipi yang terlihat memar dan merah. Bagaimana cara agar semua bekas-bekas luka di wajahnya tidak terlihat. Oke, tampaknya Vanka harus mengenakan masker dan kacamata untuk saat ini.
Setelah 20 menit menjalankan ritual mandinya, akhirnya Vanka selesai dan segera memakai baju seragamnya. Tidak ada banyak hal lagi yang harus Vanka lakukan selain hanya menempelkan day cream yang selalu rutin di pakainya, menaburkan sedikit bedak bayi dan sedikit polesan lip tint di bibir mungil nya. Tidak lupa untuk hari ini Vanka wajib mengenakan masker dan kacamata untuk menutupi lebam lebam di wajahnya.
Akhirnya setelah membutuhkan waktu beberapa menit untuk persiapan Vanka pergi ke sekolah, akhirnya selesai. Vanka keluar dari kamarnya kemudian turun ke lantai bawah. Di meja makan sudah terdapat Devan, Alma dan juga Raga yang tengah melaksanakan sarapan tanpa menunggu dirinya.
Vanka menghentikan langkahnya ketika melihat suasana itu, hatinya kembali terasa sakit melihat pemandangan buruk di hadapannya. Vanka menghela nafasnya berat, berusaha untuk menenangkan dirinya.
"It's ok no problem, Vanka." Ucapnya pelan, kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
"Makan dulu, Vanka." Sahut Devan ketika melihat Vanka sedang berjalan melewatinya.
"Ayo, dek kita makan bareng." Ajak Raga. Sedangkan Vanka terus berjalan tanpa menggubris ajakan dari Devan dan Raga.
"Vanka kamu tidak mendengar papa berbicara kepadamu?" Tegas Devan sambil melihat ke arah Vanka sinis.
Vanka menghentikan langkahnya saat mendengar Devan yang sudah berbicara dengan nada tinggi kepadanya. Vanka tersenyum sinis kemudian berbalik arah dan melihat ke arah, Devan dengan tatapan datarnya
"Tidak," Jawab Vanka singkat.
"Ada lagi yang mau dibicarakan? Kalau enggak, Vanka mau berangkat." Lanjut Vanka sambil mengangkat satu alisnya bertanya.
"Gue anterin aja yuk, Dek jangan berangkat sendirian." Ajak Raga sambil berdiri dari duduk nya.
"Gak usah repot-repot gue bisa sendiri." Cetus Vanka kemudian berbalik kembali melangkahkan kakinya.
"Enggak jangan, Vanka tungguin gue dulu," Raga kemudian mengambil koper miliknya dan berpamitan kepada Devan dan Alma.
"Ma, pa, abang berangkat dulu ya sekalian nganterin, Vanka kasian kalau berangkat sendirian." Pamitnya kemudian berlari ke arah pintu utama menyusul Vanka yang sudah lebih dulu berjalan keluar.
"Dek tunggu!" Teriak Raga sambil berlari menghampiri Vanka. Vanka tidak menggubrisnya, malah semakin mengencangkan langkahnya.
"Ck disuruh tungguin juga." Ucap Raga sambil menahan tangan Vanka.
"Apaan sih. Lepasin gak?" Bentak Vanka sambil mengepiskan tangannya dari cek akan Raga. Namun Vanka tidak bisa melepaskannya, karena genggaman yang diberikan Raga sangat kuat.
"Gak usah banyak ngomong deh, ayo berangkat bareng." Ajaknya sambil menarik Vanka agar mengikuti langkahnya.
"Kalo gue gak mau gimana?" Tanya Vanka dengan nada yang sedikit ditinggikan.
"Ya harus mau." Balas Raga yang masih tetap setia menggenggam lengan Vanka sambil menariknya ke arah mobil.
"Ayo masuk." Titah Raga setelah membuka pintu mobil sport hitamnya.
Vanka memutar bola matanya malas. Dengan terpaksa Vanka harus masuk ke dalam mobil milik Raga itu meskipun dengan perasaan kesal.
Setelah melihat Vanka sudah benar-benar masuk ke dalam mobil sport miliknya, kini tinggal hanya dirinya yang masuk. Raga berlari kecil ke arah samping mobil dan mulai membuka pintunya kemudian masuk dan duduk di bangku kemudi.
Setelah dirasa sudah siap, Raga kemudian Kmulai menyalakan mesin mobilnya dan segera mengemudikannya secara perlahan.
Hening yang dirasakan mereka saat ini. Tidak ada suara apapun di dalam mobil selain suara klakson, suara motor dan mobil yang sedang berlalu lalang di jalanan. Vanka juga tidak sama sekali melihat ke arah Raga bahkan hanya melirik nya pun terasa sangat enggan.
"Berhenti." Titah Vanka ketika sedang berada di tengah-tengah jalan yang sepi bahkan mungkin bisa dikatakan tempat ini semacam hutan.
"Kenapa, Dek?" Tanya Raga yang kebingungan.
"Gue bilang berhenti!" Tegas Vanka dengan nada suaranya yang meninggi.
Akhirnya Raga memberhentikan mobilnya kemudian membuka setengah jendelanya.
"Lo boleh duluan, gue mau ke makam mama dulu." Ucap Vanka dengan tatapan kosong tanpa melihat ke arah Raga sedikitpun. Untung pagi ini tidak terlalu macet seperti biasanya, jadi Vanka masih ada kesempatan untuk menjenguk makam Merry terlebih dahulu.
"Enggak deh, gue mau nungguin aja." Ucap Raga sambil tersenyum. Baru kali ini Vanka berbicara lembut kepadanya, meskipun sedikit agak ketus tanpa senyuman.
"Up to you." Sahut Vanka singkat. Kemudian membuka pintu mobil Raga dan berjalan masuk ke dalam hutan yang berada di pinggir jalan itu.
Raga tak henti hentinya melihat ke arah Vanka. Bahkan dirinya kini merasa sangat penasaran, ingin rasanya ikut bersama Vanka namun Raga takut Vanka tidak mengizinkan nya.
Vanka berjalan semakin jauh, bahkan kini Vanka sudah berada di tengah-tengah hutan. Namun di dalam hutan ini tidak sama sekali menyeramkan, tidak seperti yang kita lihat dari luarnya. Apalagi kini Vanka yang sudah hampir sampai di makam Marry, keindahan alam di dalam hutan ini sudah mulai terasa menenangkan perasaan Vanka yang masih terasa berkecamuk rasa sakit.
Gundukan tanah itu sudah mulai terlihat di depan mata Vanka. Langkahnya semakin ia percepat, rasa rindunya semakin memberontak di dalam hati Vanka. Vanka berjongkok kemudian mengelus batu nisan yang tertancap di atas gundukan tanah itu. Vanka mengecupnya singkat, kemudian mengelus elus batu nisan itu yang disertai dengan deraian air mata dari pelupuk matanya.
"Hai, Ma selamat pagi. Seperti apa yang selalu, Vanka janjiin ke mama. Bahwa, Vanka akan selalu kesini buat mampir, dan nemenin mama disini biar mama gak merasa kesepian." Ucapnya lirih. Air matanya semakin deras saja mengalir membasahi pipi chubby nya. Rasa sesak di dadanya semakin terasa begitu nyeri, ketika Vanka kembali teringat memori kenangan antara dirinya dengan Merry sewaktu masih hidup.
"Vanka rindu mama, Vanka mau peluk mama, Vanka mau sama mama, Vanka pengen mama ada disini bersama, Vanka. Kenapa mama yang harus ninggalin, Vanka. Mama tau?" Vanka menjeda ucapannya. Mengapa semakin banyak Vanka mencurahkan isi hatinya, malah semakin sakit yang dirasakan Vanka saat ini. Bukankah semua orang selalu merasakan ketenangan ketika mereka mencurahkan semua masalahnya kepada seseorang, tapi mengapa Vanka tidak pernah merasakan hal itu ketika dia mengadu semua perasaan yang dirasakan kepada mamanya.
"Sampai kapanpun, Vanka gak akan pernah siap kehilangan mama. Vanka selalu berharap kepada Tuhan buat kembalikan mama ke dalam hidupnya, Vanka. Vanka selalu nunggu mama pulang. Meskipun, Vanka tau itu adalah hal mustahil yang gak bakalan Tuhan kabulkan untuk, Vanka. Tapi, Vanka selalu berharap akan hal itu, dan sampai kapanpun, Vanka gak akan pernah menghilangkan semua harapan itu, gak akan ma, hiks." Isak tangis Vanka semakin kencang. Untung saja kini dia berada di tengah-tengah hujan jadi, tidak akan ada yang mendengar tangisan kencangnya yang pilu.
"Harus seperih ini ya mah, Vanka hidup."
"Liat mah papa berubah. Papa sekarang lebih mengutamakan tante Alma dan bang Raga. Sedangkan, Vanka?" Vanka menggantungkan ucapannya, bibirnya terasa semakin berat, hatinya terasa semakin sakit.
"Vanka selalu menjadi orang yang kesekian di dalam kehidupan papa yang sekarang. Bahkan, Vanka sering banget papa pukul sampai ada bekas lebam di seluruh tubuh, Vanka mah. Bang Raga yang selalu nolongin, Vanka. Tapi hati, Vanka rasanya masih belum siap menerima bang Raga sebagai abang tiri, Vanka. Vanka gak sebegitu bencinya sama bang Raga, Vanka juga punya perasaan yang bisa membedakan mana tulus mana bohong. Vanka juga pengen deket sama bang Raga tapi hati, Vanka. Hati, Vanka selalu sakit ketika berada di dekat bang Raga."
Punggung Vanka semakin bergetar sangat kencang dengan kepala tertunduk menyandar di batu nisan. Tiba-tiba saja cuaca pagi ini mendung, padahal tadi pagi matahari pun menyapa tidurnya begitu sangat terang. Seolah alam tau jika hati Vanka yang sedang mendung dan gelap.
Disisi lain ada seorang pria yang tengah memperhatikannya sejak tadi. Mana tega Raga membiarkan Vanka masuk ke dalam hutan yang menyeramkan ini. Sejak Vanka berjalan masuk pun Raga menyelinap mengikuti ke arah mana Vanka berjalan. Namun ternyata hutan ini tidak seperti apa yang Raga duga, dalamnya justru terlihat sangat indah dan nyaman. Hati Raga sakit ketika mendengar semua keluhan Vanka di hadapan makam Merry, ibu nya. Apalagi ketika ia mendengar bahwa Vanka tidak membenci dirinya hanya saja hatinya terlalu sakit ketika berada di dekatnya.
Rintikan hujan mulai turun dari atas awan yang hitam. Tampaknya awan sudah tidak lagi bisa menahan air yang sudah tertampung banyak di dalamnya. Semakin lama rintikan hujan itu semakin deras dan besar, namun Vanka masih enggan untuk meninggalkan makan Merry. Rasanya berat sekali untuk pergi meninggalkannya sendirian dengan keadaan hujan seperti ini.
"Mah, apa mama kedinginan disana? Apa mama tergenang air di dalam sana? Bilang ke, Vanka mah." Ucap Vanka dengan perasaan paniknya. Meskipun Vanka tahu jikapun memang iya mama nya tergenang air, atau bahkan kedinginan sekalipun mama nya tidak akan pernah merasakan akan hal itu, tapi tetap saja bagi Vanka itu sangat mengkhawatirkan.
Hujan pagi ini semakin deras dan Vanka masih tetap terduduk di samping gundukan tanah itu. Air matanya tak kunjung reda, tanpa diundang air mata itu terus mengalir dari pelupuk mata Vanka.
Air yang menerpa seluruh tubuh Vanka begitu sangat deras, tiba-tiba saja berhenti membasahi Vanka begitu saja. Bukan, bukan karena hujan itu berhenti, melainkan ada seseorang berbadan kekar yang sedang berdiri di sampingnya sambil mengenakan payung.
"Pulang, hujan." Sahut Jhordan dingin dengan satu tangan yang masih setia memegangi payung untuk melindungi Vanka dari terpaan hujan yang deras pagi ini.
"Iya tau." Balas Vanka seperlunya.
"Yaudah ayo pulang." Ajak Jhordan. Sedangkan Vanka masih tetap berjongkok di samping makam Merry. Terlihat dari raut wajahnya, Vanka masih terlihat sedang menahan tangisnya.
"Ngapain lo disini?" Tanya Vanka dingin. Kemudian satu tetesan air mata kembali membasahi pipi chubby nya. Begini rasanya dipedulikan, begini rasanya diperhatikan. Karena semenjak Merry meninggal, sejak itu pula tidak ada satupun orang yang peduli dengan keadaannya.
"Ck banyak tanya banget sih, ayo ikut dulu hujannya makin deras, nanti di mobil gue cerita kenapa gue ada disini." Jelas Jhordan.
Vanka mengusap kembali batu nisan itu dengan lembut, tangannya bergetar menahan air mata dan rasa sesak di dadanya.
"Vanka pulang dulu ya, mah. Besok, Vanka kesini lagi. Vanka kan udah janji bagaimanapun keadaannya, Vanka bakalan selalu kesini nemenin mama, see you." Ucapnya kemudian mencium batu nisan itu yang sudah basah kuyup karena guyuran air hujan yang lebat.
Setelah dirasa sudah cukup, Vanka berdiri berdampingan dengan Jhordan. Untung saja payung yang dibawa Jhordan lumayan agak besar hingga cukup untuk keduanya saling
berteduh dari lebatnya hujan.
Vanka dan Jhordan berjalan bersama di tengah-tengah hutan yang rimbun disertai dengan hujan yang lebat,keduanya saling berdampingan dalam satu payung yang sama. Dengan pemandangan yang hijau dan sejuk membuat keduanya merasakan ketenangan. Pantas saja Vanka tidak merasa takut sama sekali pergi ke dalam hutan seperti ini, ditengah-tengah hutannya pun terlihat begitu sangat indah dengan berbagai macam keindahan alam.
Jhordan membuka pintu mobil sport yang berwarna merahnya, sengaja ia buka kan untuk Vanka.
"Masuk." Titahnya dingin.
Vanka melihat ke arah Jhordan sekilas, kemudian masuk ke dalam mobilnya duduk di bangku penumpang paling depan.