Vanka mengerjapkan penglihatannya kemudian melepaskan pelukannya dengan Raga. "Eh sorry-sorry refleks." Ucap Vanka dengan gugup. Raga terkekeh pelan kemudian mengusap puncak kepala Vanka lembut. "Udah sana kasihan, Jhordan nunggu lama." Sahut Raga. Vanka tersenyum, lagi-lagi dirinya dibuat merasakan arti ketulusan dari seorang Raga Erlangga yang notabenya adalah seorang kakak tiri. "Oke, gue pergi dulu." Pamit Vanka kemudian pergi dari hadapan Raga berlari keluar rumah. Raga hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkat labil dari seorang Vanka Queenadira. Raga terus memperhatikan seorang gadis yang tengah berlari menjauh darinya. Punggung kecil dengan rambut yang terurai rapi itu semakin menghilang dari pandangannya. Setelah benar-benar Vanka keluar d

