Chandra semakin mendekat ke arah Vanka dengan terus menyodorkan pisau lipat itu kde arahnya. Hingga satu goresan meluncur di tangan kanan Vanka. Vanka hanya bisa meringis menahan rasa sakit karena goresan benda tajam itu, bahkan kini darah segar pun mulai keluar dan menetes ke bawah lantai tempatnya duduk. "Aww sakit." Ringis Vanka dengan air mata yang sudah berderai membasahi pipi chubbynya. Darah segar dari tangannya semakin banyak yang keluar bahkan kini lantai yang putih pun sudah hampir terbanjiri oleh darah yang keluar dari tangan Vanka. Chandra kembali mendekat ke arah Vanka, kemudian kembali menggoreskan benda tajam itu ke tangan kanannya. Tangisan Vanka kini pecah, dia tak lagi bisa menahan rasa sakit dan juga perih di tangannya, Vanka terisak, dia benar-benar menangis kali

