2. Gemerlap di kota Paris

1390 Kata
Hari ini aku mengikuti rapat untuk Peragaan Busana Fashion Show di Paris. Aku banyak bertemu dengan orang-orang baru dan ahli dalam bidang masing-masing di Fashion Show ini. Aku sangat takjub dan terkesima dengan ide-ide berlian mereka karena baru pertama kali aku kesini, aku sangat menikmati rapat ini. Tidak seperti yang ku bayangkan bahwa akan sulit untuk beradaptasi dengan mereka,mereka sangat lah ramah ke padaku. ***** ***** ***** ******* ****** Beberapa jam kemudian, kami selesai dengan rapatnya. Satu persatu kami memutuskan untuk pulang, sebagian ada yang masih menetap disana. Kalau aku, ya..aku pasti akan menikmati jalan-jalan ku di kota Paris ini. Sejak kecil aku ingin sekali kesini tapi karena masa lalu ku,aku jadi tidak terlalu berani untuk pergi terlalu jauh dari kota kelahiranku. Aku pun memutuskan untuk berjalan sendirian menuju tempat-tempat wisata yang ada di Paris,hingga waktu tidak terasa sudah pukul 18.30. Aku pun pergi untuk mencari makan di restoran terdekat. Aku memesan makanan dan minuman, tidak lupa aku mengabari Rose bahwa aku pulang agak malam, karena aku masih ingin berjalan jalan di kota ini. Selesai makan, aku memutuskan untuk berjalan ke Pantai di malam hari. Aku sangat ingin ke pantai Plage de l'Escalet, ku dengar pantai ini sangat indah di malam hari. ****** ****** ***** ***** ***** Setelah beberapa menit perjalanan ke sini, akhirnya aku sampai di Pantai ini. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan di Gemerlap kota Paris ini. Rasanya pikiranku rileks dengan melihat deburan ombak laut yang sangat tenang,di tambah hilir angin yang sepoi-sepoi menerpa rambutku yang panjang sebahu ini. Aku pun memutuskan untuk duduk sebentar di hamparan pasir putih di pinggir pantai. Aku sangat menikmati moment ini, laut dan langit yang penuh dengan hiasan bintang. Aku sangat terkesima melihat pemandangan indah ini. "Hai Ev?" sapa seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di belakang ku yang membuat diriku kaget. "Ya Tuhan, aku pikir siapa!" jerit ku kaget. "Haha, kau sangat lucu Ev. Maafkan atas ketidak sopanan ku" ujarnya berangsut duduk di sampingku. "Iya, tidak apa-apa Robert." senyumku sambil melihat hamparan laut yang luas. "Apa yang kau lakukan disini Ev?Apa kau tidak ke dinginan?" ucapnya sambil melepas jaketnya dan memasangkannya di pundakku. "Oh tidak apa-apa Robert. Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku" "Kamu belum jawab pertanyaan ku tadi loh? " ucapnya penuh tanya "Aku kesini karena aku ingin menghabiskan waktuku bersantai karena mulai besok sampai 1 minggu ke depan aku akan sangat sibuk" ucapku menjelaskan. "Wow, aku takjub denganmu Ev!Kamu wanita karir pekerja keras!" ujarnya "Apakah kamu mengejekku?" ucapku manyun. "Haha tidak seperti itu Ev. Aku memang takjub melihat mu yang seperti ini. Jujur kamu termasuk tipe ku" lirihnya pelan di akhir kalimat. "Apa? Aku tidak dengar yang kau ucapkan terakhir tadi?" tanyaku yang tidak dengar karena desiran air laut. "Haha tidak. Apakah kamu kesini untuk bekerja?" tanya ya. "Iya, Robert. Aku di suruh Direktur ku untuk mengikuti peragaan busana Fashion show di kota Paris. Bagaimana denganmu,secara kebutalan kita selalu bertemu Robert?" tanyaku penuh heran "Aku disini karena ada satu hal yang harus ku urus Ev.Mungkin kebetulan itu adalah pertanda Ev" ucapnya dengan tenang dan penuh teka-teki. Aku melihatnya dengan seksama. "Apakah ini wajah tertampan manusia? Apalagi di tambah sinar bulan yang memantul.... " (pikir ku) Oh, tidak. Apa yang ku pikirkan! Aku langsung salah tingkah, dan Robert menyadarinya. "Ada apa Ev?" tanya ya "Oh, tidak apa-apa Robert. Haha" ucapku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. "Oh iya, Ev. Apakah besok aku bisa mengajakmu jalan-jalan?" tawarnya kepadaku. "Oke, tapi tunggu aku selesai dengan kerjaanku. Bagaimana?" "Baiklah, kalau begitu aku minta nomor telpon mu biar aku bisa menghubungi mu Ev" "Baiklah Robert.. " Di malam itu kami berdua bertukar nomor telpon masing-masing dan saling mengobrol satu sama lain tentang diri kami masing-masing. Entah kenapa aku merasa nyaman berbicara dengan Robert.Saking ke asyikan mengobrol,tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 22.30. Aku pun memutuskan untuk pulang tapi Robert menawarkan tumpangan kepadaku. Aku pun pulang dengannya menggunakan mobilnya. Di perjalanan kami hanya diam dan sesekali mengobrol sampai akhirnya kami sudah berada di apartemen Rose. "Terimakasih Robert atas tumpangannya." ucapku "Sama-sama Ev, selamat malam dan jangan lupa mimpi indah" lirihnya lembut. Aku pun segera turun dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam apartemen.Aku membuka pintu rumah, dan langsung terduduk. Aku tersipu malu, baru kali ini ada lelaki yang mengucapkan hal seperti itu kepadaku. Ada apa dengan jantungku, kenapa berbunyi deg deg. Tanpa sadar Rose sudah berdiri di depanku. "Ev, ada apa? Kenapa kamu duduk di depan pintu? " tanya ya kebingungan. "Oh, tidak apa-apa Rose. Aku baik-baik saja. Hanya kelelahan." ucapku sambil bangkit dan menyuruhnya masuk ke ruang tengah agar Rose tidak khawatir kepadaku. "Baiklah, kalau begitu mandi lah sana Ev. Aku memasakan mu Coq Au Vin, ku harap kamu suka dengan hidangan yang ku buat Ev" ucapnya senang. "Terimakasih Ros. Pastilah enak, karena kamu adalah seorang Chef yang terkenal di Paris" ucapku tersenyum kepadanya. "Haha, kamu ini bisa aja Ev. Jago sekali untuk memuji orang. " ucapnya tertawa "Baiklah, kalau begitu aku mandi dulu setelah itu baru aku makan masakanmu Ros." "Oke, kalau gitu aku pergi tidur kekamar duluan Ev. Karena aku sangat mengantuk" ucapnya berlalu. Aku pun segera menuju ke kamarku, untuk mandi dan lainnya. Setelah beberapa menit selesai semua, aku pun memakan masakan Rose. "Wow, ini sangat lezat. Aku tidak menyangka sahabatku benar-benar seorang chef yang handal di kota ini" ucapku lirih sendiri. Aku pun dengan lahap menghabiskan masakan Ros tanpa tersisa sedikit pun. Setelah makan, aku masuk kamar dan berbaring. Entahlah di pikiranku saat ini teringat pembicaraan ku dengan Robert, terutama pembicaraan perpisahan di mobil barusan. Pikiranku sangat kacau. Perasaan apa ini? Tidak mungkin bahwa aku... "Oh, tidak jangan sampai seperti ini" (pikir ku dalam hati) sambil mengacak acak rambutku. Aku bimbang dengan perasaan ini. Jujur saja aku tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Dari dulu aku hanya fokus terhadap pendidikan ku,cara mengatasi phobia dan trauma ku. Aku hanya tinggal dengan ibuku saja karena ayah meninggal di usiaku 7 tahun.Ini lah penyebab diriku mengalami phobia ketinggian terutama aku mempunyai trauma berat. Tanpa ku sadari.. Aku mengingat masa kelam saat itu. *flashback* Aku pergi liburan ke Jepang dengan ayah dan ibuku, saat itu usiaku 7 tahun. Aku ingat pertama kali aku menaiki pesawat. Saat itu liburan pertama ku.Aku di ajak oleh ayah berlibur karena ayah sangat sibuk dengan pekerjaannya. Aku berpikir diriku di hari itu sangatlah bahagia sebelum tragedi itu menimpaku. "Ayah, kita berada sangat tinggi loh" ucapku kegirangan saat itu. "Haha, iya nak.Kita akan terbang tinggi" ucap ayahku memangku diriku yang sedang melihat ke arah samping jendela pesawat. Ibu yang berada di samping ayah ikut tersenyum. Tiba-tiba "Brughhhh" pesawat oleng, penumpang panik, pramugari dan pramugara pesawat berhambur untuk memenangkan kami, dan sebuah informasi dari pramugari "Bahwa sayap pesawat sebelah kanan meledak, kemungkinan selamat 1% ". Aku yang saat itu tidak mengerti dan kebingungan dengan raut wajah ayah dan ibu yang berubah panik.Mereka segera memelukku sekencang kencangnya. Aku tidak tau apa yang terjadi, aku hanya mendengar suara teriakan dan kepanikan. Tiba-tiba pandanganku gelap dan kabur. "Brugghhhh"(suara pesawat jatuh) ****** ****** ****** ***** ***** Beberapa jam kemudian aku terbangun di Rumah sakit.Aku bingung kenapa kaki dan tanganku penuh perban. Di sebelah ku ada ibu yang kepalanya di perban, ibu melihatku dan menangis. "Ibu ada apa? Ayah kemana? Kok kita tidak terbang lagi" ucapku heran "Nak.. Maafkan ibu. Ibu akan berusaha untuk mu nak." ujarnya terisak "Ibu jangan menangis, ayah kemana? " "Ayah udah tiada nak, ayah memilih untuk terbang tinggi nak." "Maksud ibu ayah terbang sendiri ke Jepang, tidak mengajak kita?" ucapku penuh tanya "Tidak nak. Ayah mu sudah meninggal nak,maaf kan ibu nak" isak tangis ibu pecah,perawat yang ada di sana pun turut sedih dengan kami. Aku syok mendengar ucapan ibu. Aku yang berumur 7 tahun saat itu tidak tahu harus berbuat apa dan mengalami apa? Aku tiba-tiba pingsan, dan para perawat segera menangani ku. Di dalam mimpi selalu terbayang wajah ayah untuk terakhir kalinya, pesawat yang terbang ke arah kegelapan dan aku yang selalu terbangun di iringi sesak yang sangat berat di dadaku. Sehingga sampai sekarang aku harus bergantung oleh obat yang di berikan secara khusus oleh Dokterku,kalau kalau terjadi hal yang tidak terduga. *off flashback* Aku pun menangis mengingat kenangan masa kelamku.Perlahan rasa sesak menjalar ke dadaku. Aku berusaha mengambil obat di tas ku dan sesegera mungkin meminumnya. Perlahan tapi pasti, rasa sesak ini berangsur-angsur hilang. Hingga tanpa ku sadari,Aku terlelap dalam tidur ku. Ya Tuhan, apakah aku bisa menyembuhkan penyakit ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN