“Mas! Tolong aku!” Suara Novia yang melengking bagai sirene tanda kebakaran, tidak dihiraukan oleh Kairo yang memapah Aika untuk duduk di sofa yang ada di lobi. Dia bahkan lupa pada keberadaan karyawan yang memperhatikan kerusuhan yang jarang terjadi di kantor ini. “Ini, Pak. Buat Aika,” ucap Bianca yang rupanya sudah berlari untuk mencarikan air minum untuk istrinya yang masih terlihat shock. “Diminum dulu, Aika,” bujuk Kairo yang mendekatkan gelas ke bibir wanita yang sudah membuatnya cemas dari tadi. “Nggak mau. Aika mau pulang saja!” Ucapan itu terdengar pelan dan tenang, tapi Kairo malah merasa sedang dalam perjalanan menembus badai yang penuh petir dan curahan hujan. Kairo pun menyanggupi permintaan Aika. Sudah kepalang tanggung, mereka juga sudah tidak bisa meredam gosip yang

