Malam itu, malam dimana aku menginginkan Noah. Tapi, setelah terbangun dari percintaan penuh kasih itu, aku menyesal. Entah apa yang membuatku bergelora meraih bibir Noah. Mungkin cinta, atau mungkin cinta yang dibalut hasrat sesaat. Penyesalan yang memberati kepalaku adalah ketika wajah Rey kembali melayang di benakku. Aku merasa kembali menjadi pengkhianat. Pengkhianat melebihi Joe dan Megh mengkhianatiku. Aku merasa tidak pantas mendapatkan cinta Rey. Aku tidak pantas. “Cind...” Noah memanggilku dengan suara serak. Dia menguap lebar dan meregangkan tubuhnya. Aku bangun setengah jam lalu dan langsung mandi. Aku menjepit rambut asal, menoleh, menatap Noah yang juga menatapku. “Ayo bangun, mandi dan sarapan.” Kataku selembut beledu. “Kau sudah mandi?” tanyanya, yang sebenarnya tanpa ku

