BAB 5

1048 Kata
Bukan tanpa alasan Rey mash mencintai sosok Melissa, perempuan itu—selain menawan dia juga pandai merayu. Melissa memiliki daya pikat sensual yang membuat banyak pria bertekuk lutut padanya selain Rey. Dan sekarang, pria yang sudah jatuh ke pelukannya adalah Noah. Mungkin, Mrs. Davidson menganggap remeh Melissa karena merasa perempuan seperti Melissa banyak berjejer di sepanjang jalan New York. Tapi, satu hal yang tak kan dimengerti Mrs. Davidson tentang Melissa, perempuan itu lihai dalam segala hal hingga sulit membuat barisan para mantan kekasih melupakannya, termasuk dalam hal percintaan.             Siang itu, Melissa mengajak Rey bertemu di sebuah kafe berkonsep vintage. Rey bukan pria berengsek seperti mantan-mantannya yang lain, Rey tipikal pria setia. Penyebab Melissa masih memiliki rasa kendati dia lebih memilih Noah sebagai kekasihnya. Ajakan Melissa melalui pesan singkat langsung dibalas Rey dengan persetujuan. Dan tanpa menunggu lama, Rey meninggalkan kantor dan pekerjaannya demi Melissa-nya itu.             Melissa tampak cantik dan lebih menawan setelah sekian lama berpisah dengan Rey. Dia mengenakan rok panjang motif bunga favoritnya. Rambut ikal cokelat tuanya dibiarkan terurai indah.             Dia menatap Rey dengan tatapan yang selalu Rey rindukan. Tatapan mata misterius dari bola mata hijau Melissa. Misterius namun terkesan lembut dan penuh kasih. Kekuatan Melissa ada di kedua matanya yang seakan memiliki sihir untuk memikat siapa pun yang menatapnya.             Melissa tidak tampak canggung tapi Rey—tampak seperti menemukan permatanya kembali. Pertemuan sesaat yang mungkin membuatnya bernostalgia. Mengingat segala kenangan indah dengan Melissa. Menyentuh pipi Melissa, mencubit lembut pinggang langsing Melissa dan mencium rakus bibir tipis Melissa. Dia merindukan itu semua.             “Kuharap, kita tetap akan berteman baik, Rey.” Melissa berkata dengan nada lembut namun, Rey tahu bahwa Melissa masih ingin memanfaatkannya. Mungkin sebagai pelampiasan saat Noah ketahuan selingkuh dengan wanita lain.             “Ya, kita akan tetap berteman.” Kata Rey setengah hati, jelas dia mengharapkan sesuatu yang lebih dari sekadar berteman.             “Noah,” Nama yang meluncur dari kedua daun bibir tipis Melissa itu membuat Rey tersentak dan seketika tidak merasa nyaman.             “Tidak selalu ada untukku, dia selalu sibuk dengan segala aktivitas bisnisnya. Terkadang aku merasa kalau sebenarnya aku tidak memilikinya.” Melissa mengekspresikan ketegaran yang entah asli atau hanya kamuflase belaka demi meraih simpati Rey.             Demi Bumi dan seluruh penduduknya, Rey ingin sekali beranjak dari kursi kayu eboni yang didudukinya. Dia ingin merasakan tendangan dashyat yang menerbangkannya hingga ke lapisan langit ke tujuh. Dia tak tahan mendengar Melissa menceritakan pria lain di depannya. Tapi, Rey adalah seorang aktor hebat yang patut mendapatkan award atas kedamaian wajah yang ditujukannya untuk Melissa. Rey tahu, Melissa tak akan pernah bahagia dengan seorang Noah Sanders.             Rey belum berani berkomentar, ia takut salah ngomong tentang seorang pria yang merebut kekasihnya dan sekarang mantan kekasihnya itu membicarakan pacarnya di depan Rey.             “Aku merasa kesepian Rey,” Melissa berkata seolah dia adalah wanita paling kesepian di dunia.             Rey menarik napas dalam melihat kesedihan di kedua mata Melissa. Mulutnya tidak tahan untuk segera menawari Melissa kembali ke dalam pelukannya dan melupakan Noah yang akan dan selalu membuatnya kesepian. Tapi, logika menahan Rey untuk meluncurkan kalimat penawaran yang akan disiapkannya.             “Aku meminta Noah menikahiku.” Rey membelalak tak percaya. Jantungnya serasa jatuh begitu saja. Menikahi?             “Aku ingin mendapatkan ketenangan dengan menjadi seorang Mrs. Sanders.”             Ketenangan? Cih! Itu karena kau menginginkan harta keluarga Sanders. Umpat Rey dalam hati.             “Apa jawabannya?” Rey belum mampu menyebut nama Noah di hadapan Melissa.             Melissa mendesah pelan. “Dia belum mau menikah. Katanya, aku harus menunggu hingga umurnya 33 tahun.”             Noah ingin menikah diusia 33 tahun? Rey tersenyum ironi. Apa anak itu tidak tahu kalau orang tuanya menginginkan ia secepatnya menikah dan perempuan pilihan orang tuanya jatuh pada adik tiri Rey. Entahlah apa sebutan adik dari ayah dan ibu yang tidak sedarah itu.             “Kau akan menunggunya?” Rey bertanya penasaran.             “Aku tidak tahu, tapi aku ingin cepat-cepat menikah dengannya.” Agaknya Melissa memang benar-benar jatuh cinta pada Noah. Dia ingin mendapatkan pria itu seutuhnya, segenap jiwa, raga dan tentu saja hartanya.             Rey tersenyum miris. Bagaimana dengan penawarannya? Sanggupkah dia menawarkan cinta yang tak ‘kan membuat Melissa-nya kesepian sedang dia tahu kalau Melissa benar-benar menginginkan Noah?             “Lalu, apa rencanamu sekarang?”                                            Melissa memperbaiki  poni rambutnya, dan untuk beberapa saat dia tampak berpikir.             “Maukah kau menemaniku saat Noah tidak bersamaku? Aku tidak bisa kesepian Rey, kau tahu, aku takut hal itu terjadi lagi. Aku takut jika ada seseorang yang sembunyi di apartemenku dan dia tiba-tiba menyentuh tubuhku saat aku tidur. Aku takut...” Melissa tidak melanjutkan kalimatnya, suaranya tenggelam oleh ketakutannya sendiri.             Rey, sungguh tidak bisa menolak permintaan wanita yang dicintai dan disayanginya itu. Akan tetapi, jika dia mengabulkan permintaan Melissa, bagaimana dengan harga dirinya sebagai seorang pria? Dan Rey hanya menemani Melissa saat Noah tak bersama perempuan itu. Ya Tuhan... hati Rey terasa berat.             “Rey,” panggilnya dengan lirih dan ekspresi wajah penuh harap.             “Melissa, kau tahu aku mencintaimu. Dan kau tahu kelemahanku itu. Aku tidak bisa menolakmu. Tapi, aku tidak bisa berjanji untuk ada setiap saat untukmu setelah apa yang kau lakukan itu.”             Melissa menarik napas dalam. “Ya, aku tahu, Rey.” Kemudian sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk kurva senyuman melankolik. “Kau selalu punya tempat istimewa di sudut hatiku. Kau, orang yang akan selalu kukabarkan tentang segala hal mengenai diriku. Terima kasih atas kebaikanmu. Aku sayang padamu, Rey.” Entah kalimat terakhir itu tulus dari dalam lubuk hatinya atau tidak yang jelas Rey merasa tersentuh.             Rey merindukan kalimat itu. Kalimat yang membuat hari-harinya terasa berwarna. Tapi jelas, kalimat itu memiliki makna yang berbeda sekarang. Karena rasa sayang sesungguhnya bukan untuk Rey, tapi... Noah. Noah Sanders.             Ponsel Melissa berdering. Memecah keheningan sejenak di antara mereka. Dia mengangkat ponselnya dari atas meja dan memeriksanya. Tertera nama di layar ponsel, Noah. Sejenak Melissa menatap wajah Rey yang sedang memperhatikannya.             “Noah menelponku, Rey.”             Rey menyipit. Tapi dia tidak berkomentar apa pun.             Melissa mengangkat ponselnya tanpa segan. Dia tak peduli bagaimana perasaan Rey saat ini. Dia hanya mempedulikan dirinya sendiri. Lemah, rapuh dan perlu diperhatikan adalah sosok yang diperankannya. Dia menggunakan alibi kejadian setahun  lalu untuk mendapatkan perlindungan Rey. Padahal pria yang menyentuhnya adalah Bryan. Teman Rey sendiri. Tapi, Melissa tidak memberitahu Rey bahwa Bryan—pria yang menyentuh tubuhnya itu. Selalu dan selamanya kejadian itu akan dijadikan alasan traumatiknya untuk mendapatkan simpati Rey. ***                                                    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN