Aku mengenakan parka berwarna hitam dengan syal merah menutupi leher. Sepatu boot warna cokelat tua dan topi kupluk dari kain wol untuk menghindari radang telinga di musim dingin. Mataku sedikit sembab karena menangis semalam. Aku benar-benar merasa aneh untuk menerima kenyataan bahwa aku adalah anak yang dibuang orang tuanya. Anak yang diadopsi oleh keluarga baik hati yang tak pernah mengatakan sejujurnya kepadaku.
Aku mematut diri di cermin, memandangi mata hazelku. Mata yang baru kusadari tak mirip dengan Nenek, Mam dan Pap.
Suara ketukan pintu, membuatku terkesiap. Aku buru-buru menghapus air mata yang jatuh karena satu kedipan. “Ya,” sahutku.
“Masuklah, Lizz.”
Lizzy masuk dengan rambut pirang yang selalu dikuncir kuda. Mata biru menyala yang indah dan senyum manis milik Mam. Lizzy adalah perpaduan nyata Mam dan Pap, karena dia anak kandung mereka.
“Meghan ada di ruang tamu.” Informasi yang meluncur dari kedua daun bibir tipis Lizzy membuat kepalaku mendadak pening.
Meghan datang ke rumah. Apakah dia belum menyadari kekecewaanku terhadapnya. Aku belum siap menerima kebersamaan dengannya lagi. Dia mengkhianatiku, lebih dari aku mengkhianatinya.
“Kenapa kau malah diam?” tanyanya kristis.
Aku mengulas senyum. Membungkuk untuk menyamakan tinggiku dengan Lizzy. “Maukah kau bilang pada Meghan kalau aku tidak bisa menemuinya?”
Lizzy tampak menimbang-nimbang. Aku tahu dia sedang berpikir dan mencoba membaca perselisihan yang terjadi antara aku dan Meghan. “Akan aku bilang padanya. Ada lagi?”
“Mm-hmm, suruh dia berangkat sekolah duluan.”
“Okay,” Lizzy mengacungkan jari jempolnya.
Aku bersumpah tak ada orang dewasa manapun yang tidak menyukai Lizzy. Anak itu salah satu anugerah Tuhan untuk aku, Mam dan Pap. Dia penurut dengan kecerdasan dan kekritisannya. Aku percaya jika suatu saat nanti Lizzy akan menjadi seorang yang berpengaruh pada dunia.
“Terima kasih, anak manis.” Aku mencubit lembut dagunya.
Lizzy tersenyum.
Setelah Lizzy keluar kamar, aku mengekornya. Aku mengintip Lizzy dan Meghan dari balik dinding.
“Lizzy, aku ada perlu dengan kakakmu itu.” Ekspresi Meghan tampak memohon.
“Ma’af, tapi Cind tidak bisa menemuimu. Mmm, sebenarnya Cind tidak ingin menemuimu, jadi kau berangkat sekolah duluan saja.” Aku menggerutukki kejujuran Lizzy. Tapi, itulah yang membuatku semakin menyayanginya.
Meghan menarik napas dalam. “Baiklah, kalau begitu. Sampaikan salamku padanya.” Meghan beranjak dari sofa dengan raut wajah kecewa.
“Akan aku sampaikan.”
“Aku seperti robot penyampai pesan,” gumam Lizzy saat Meghan sudah melesat pergi.
***
Aku tidak berminat untuk pergi ke Sekolah. Tidak sama sekali setelah melihat wajah Meghan. Aku memilih untuk pergi ke Coffe Shop dan menikmati waktu sendirian di sana. Suasana di Coffe Shop cukup sepi sehingga aku bisa menikmati waktu kesendirian dengan perenungan-perenungan tentang apa pun yang terjadi dalam hidupku. Terkhusus tentang rahasia besar mengenai diriku.
Aku memilih duduk di sudut, dekat dengan jendela agar aku bisa menikmati pemandangan Kota London yang dipenuhi salju. Aku memesan caffe latte pada seorang waitress yang cukup cantik. Dia tersenyum ramah dan menanyakan apakah aku ingin memesan menu tambahan. Aku menggeleng.
Sebelum pesananku datang, aku mengencangkan syal merah favoritku yang mengendur. Tak sengaja aku menatap seorang pria yang berusia sekitar 26 atau 27 tahun dengan cambang tipis yang membuatnya terlihat tampan secara dewasa. Dia mengenakan jas hitam disertai dasi. Mungkin dia seorang CEO atau manajer. Dia duduk dua meja dari mejaku. Dia melihatku dan balik menatapku, aku mengalihkan pandangan. Berpura-pura sibuk mengencangkan syal. Caffe latte datang dan tanpa berlama-lama membiarkannya mendingin, aku menyesapnya.
Beberapa saat kemudian, seorang wanita yang wajahnya beberapa kali muncul di televisi menghampiri pria itu dan mengecup lembut pipi kanan dan pipi kirinya. Aku mendengar mereka membicarakan sesuatu dengan nada serius. Aku sempat melihat high heels wanita itu, mungkin tinggi heelsnya sampai 15 atau 17 sentimeter. Ya, sekitar segitu. Apa tidak menyiksa mengenakan heels setinggi itu di musim dingin seperti ini?
Aku memilih menyesap kembali caffe latte. Tiba-tiba aku seakan mengenal wajah pria itu. Aku melihatnya lagi untuk beberapa saat, dan aku ingat, aku pernah melihatnya di media online yang pernah aku baca. Seorang pebisnis Amerika. Dia adalah seorang pria pewaris jaringan hotel terbesar di dunia. Tapi, aku tidak ingat namanya. Aku hanya ingat nama belakangnya, Sanders.
***