BAB 9

1506 Kata
Noah mencukur cambang tipisnya bersih. Satu goresan pisau cukur mengenai kulit putihnya, dan dia mengerang kesakitan. Darah meluncur lambat dari dagu bekas cukurannya. Entah kenapa dia merasa payah semalam. Bella—model berdarah Italia yang menetap dan berkarir di London itu memintanya untuk menginap di apartemennya selama Noah berada di London. Noah nyaris menolak, tapi ketika seorang wanita menawarkan sesuatu yang memabukkan, Noah tak sanggup menolaknya. Noah tidak sepenuhnya memahami status seperti apa yang dijalaninya bersama Bella ini. Mereka sering mengirim pesan, memberi kecupan hangat, bercinta dan kadang mereka—beberapa kali pelesiran ke negara-negara eksotis di dunia. Hubungan mereka terbilang lama, dua tahun. Namun, dalam dua tahun itu semuanya sudah pernah mereka lakukan. Satu hal yang mengganjal hati Noah, Bella pernah menjalin asrama dengan rivalnya saat Noah dan Bella masih bersama. Tiga bulan tidak saling mengabari dan ketika Noah datang ke London untuk mengecek lokasi pembangunan hotel barunya, Bella muncul kembali. Semalam, hubungan intim yang panas itu mengoyak keinginan Noah untuk putus dari Bella. Wanita kaukasia itu seakan memiliki sihir bila sedang berada di atas ranjang. Ngomong-ngomong, Noah berniat memutuskan Bella karena dia tidak mau memperebutkan seorang wanita dengan rivalnya. Ini memalukan. Noah bisa saja mendapatkan seratus gadis yang melebihi Bella dari segala aspek. “Noah, kau lama sekali di kamar mandi. Keluarlah dan temani aku belanja.” Bella sudah siap setengah jam yang lalu. Dia mengenakan blazzer mahal berharga ratusan ribu dolar yang di dapatkannya dari Noah. Noah sengaja berlama-lama di kamar mandi. Dia merenung. Memikirkan kata-kata perpisahan terbaik untuk Bella-nya. “Noah,” panggil Bella ketika Noah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masam. “Ayolah sayang, aku butuh banyak baju baru.” Dengan tidak sabar Bella bangkit dari kursinya dan mendekati Noah. Dia berniat mengecup bibir pria itu, tapi sayangnya Noah melenguh. “Bella, aku ingin bicara serius.” Tatapan dan wajahnya tampak serius, Bella merasakan perasaan tidak nyaman. “Bicara apa?” tanyanya, dengan wajah penuh ketegangan. “Aku tahu skandalmu dengan pengusaha sialan itu. Dan aku merasa terluka.” Dustanya. Noah sama sekali tak merasa terluka. Bagaimana dia bisa merasa terluka sedangkan di Amerika dia memiliki banyak w************n yang siap menghiburnya setiap malam. Dan jangan lupakan Melissa yang cantik dan lembut itu. “Itu hanya permainan media, sayang. Hanya gosip murahan. Tolong, jangan kau dengarkan.” Sepertinya kehidupan Bella memang penuh dengan kebohongan. Pernyataan itu hanya pembelaan diri yang sebenarnya tidak akan dipercaya siapa pun. Bahkan makhluk luar angkasa pun tak akan percaya akan elakan Bella. “Kau cantik dan sempurna. Semua pria pasti tergila-gila padamu, termasuk aku. Tapi, untuk saat ini, kita akhiri dulu hubungan jarak jauh yang selalu membuatku waswas. Aku mencintaimu lebih dari wanita-wanita cantik di Amerika sana. Tapi, saat ini aku tidak bisa sepenuhnya bersamamu.” Noah beringsut pergi, mengambil jas hitamnya. Bella mungkin masih belum mampu mencerna ucapan pria itu sepenuhnya hingga dia hanya terdiam layaknya gadis remaja yang t***l. “Noah,” panggilnya, menghentikan langkah Noah sejenak. “Ma’af, untuk tadi malam, aku payah sekali dan kau hebat!” puji Noah jujur lalu melesat pergi secepat meteor yang jatuh. Bella kebingungan. Dia pikir percintaan hebatnya tadi malam akan membuat Noah semakin tergila-gila padanya. Nyatanya dia salah. Pria itu malah pergi meninggalkannya. Dan keinginannya untuk membeli baju-baju baru yang super mahal harus dilenyapkan. Bella beringsut lemas. “Aku harus menelpon Noah dan berpura-pura sekarat. Dia pasti akan kembali lagi.” *** Noah bersyukur bisa pergi secepat itu dari apartemen Bella, dia tidak tahu apa jadinya jika tetap bersama Bella. Mungkin hari ini akan dihabiskan dengan belanja, makan, club, mabuk dan akhirnya bercinta lagi. Sial! Dia sekarang punya Melissa. Tapi ya, Melissa itu di New York bukan di London. Hidup akan lebih berwarna jika Noah menemukan wanita baru di London. Tapi entah bisikan darimana, Noah tiba-tiba mendambakan wanita polos yang misterius. Wanita yang isi hatinya sulit ditebak, wanita yang memerlukan perjuangan eksklusif untuk mendapatkannya. Nalurinya sebagai pemangsa menggelayut di dadanya. Saat kuliah, ketika untuk pertama kalinya Noah terluka dan patah hati, dia berubah menjadi pemangsa. Serigala. Dan dengan kekuatan wajahnya, bentuk tubuh atletis dan kekayaan orang tuanya semua gadis bertekuk lutut padanya kecuali gadis yang membuatnya terluka. Entah kemana perginya gadis itu. Semoga dia sudah mati.                                                              Teleponnya berdering. Tertera nama di layar, Mom. “Halo, Noah,” suara Mom-nya terdengar semringah. “Ya, Mom. Ada apa?” tanya Noah, sedikit tidak berselera. “Cepat pulanglah, ada kejutan manis untukmu. Kau pasti menyukainya.” Dahinya mengerut, “Kejutan manis? Apa itu semacam kedatangan Santa Clause di bulan februari.” Candanya. “Hahaha, tidak sayang. Santa Clause tidak akan mendatangi anak nakal sepertimu. Lagian Natal sudah usai. Ini soal pernikahanmu.” Nada serius Mom pada kalimat akhir membuat Noah mengumpat kesal dalam hati. Orang tuanya sudah membahas masalah pernikahan dengan putri Mr. Davidson yang hilang. Pernikahan? Bahkan Noah tak menginginkan hubungan dengan ikatan sah di mata hukum. Dia belum puas menjelajahi hati dan tubuh berbagai macam wanita. Dan pernikahan tentu saja akan menghalangi keinginannya untuk memangsa banyak wanita. “Mom—“ “Jangan membantah apa pun, Noah. Sudahi semuanya, Mom dan Dad ingin menimang cucu. Dan kami percaya pada keluarga Davidson. Kami ingin memperkuat jaringan bisnis. Kau tahu, bisnis adalah kekuatan. Semakin kuat bisnis yang kita miliki semakin kuat pengaruh kita pada dunia.” “Alasan sesungguhnya adalah Mom, Dad dan Mrs. Davidson tidak menyukai Melissa.” Ya, itu alasan utama Mom. Tapi, yang lebih penting adalah kau menikah dengan putri Davidson—tak peduli latar belakang putri itu, Mom hanya ingin kau melepas semua skandal-skandal murahan dengan selebritas dan model-model miskin itu. “Cepatlah pulang, Mom sudah melihat foto gadis itu. Dia cantik sekali! Mirip almarhumah ibunya.” Mrs. Sanders pernah melihat Anne beberapa kali saat hubungan gelap Mr. Davidson dan Anne tidak diketahui banyak orang. Dan menurut Mrs. Sanders, Anne adalah orang baik yang terperanjat pada kehidupan gelap New York. Bahkan Mrs. Sanders berpendapat kalau Anne lebih baik dari Sandra Davidson. “Ya, jika itu keinginan Mom dan Dad, aku bisa apa untuk menolaknya. Asal...” “Kenapa?” potong Mrs. Sanders cepat, penasaran. “Aku tidak tinggal di rumah keluarga Davidson.” Katanya dengan memberi penekanan pada setiap patah katanya. Noah tidak sudih tinggal satu rumah dengan Rey. Meskipun, dia tahu Rey punya apartemen sendiri tapi, Rey bisa pulang kapan saja dan bisa bertemu dengannya kapan saja. Noah sebenarnya ingin punya rumah sendiri, bukan apartemen karena dia tidak suka tinggal di apartemen. Tapi, Mom dan Dad tak pernah mengizinkannya membeli ataupun membangun rumah. “Ya, ya, dalam hal ini, Mom dan Dad membiarkanmu memilih untuk tinggal dimana pun. Kau juga boleh membeli atau membangun rumah, seperti yang selalu kau inginkan.” Suara Mom terdengar hangat di seberang sana. Sebelah sudut bibir Noah tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman yang—wanita manapun yang melihat senyuman itu akan meleleh seperti lumeran es krim yang terkena paparan sinar matahari. “Tuan, ini laporan keuangan yang Anda minta.” Seorang pria pekerja proyek hotel yang akan dibangun itu menyodorkan file berisi laporan keuangan. “Ya, terima kasih.” Noah menerima file tersebut dan memberi isyarat agar pria itu pergi. Pria itu mengangguk dan melesat pergi. “Sayang, Mom akan mengirim beberapa foto putri Mr. Davidson itu. Tolong perhatikan wajahnya dengan seksama karena menurut Mom dia memiliki kecantikan unik. Perpaduan antara kelembutan dan ketegasan. Benar-benar mirip almarhumah Anne.” “Boleh, baiklah. Mudah-mudahan dia bisa membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama.” Noah tampak pesimis. Jatuh cinta pada pandangan pertama lewat sebuah foto yang dikirim ibunya? Konyol. Mrs. Sanders terkikik geli di seberang sana. Noah tersenyum penuh arti setelah berhasil membuat Mom terkikik. “Hati-hati sayang. Jangan lupa makan, karena kau akan menikah. Jaga kesehatanmu. I love you.” Mrs. Sanders selalu memperlakukan Noah seperti anak kecil berumur 7 tahun. Ya, karena bagi seorang ibu sedewasa apa pun anaknya, dia akan tetap menjadi putra kecil kesayangannya. “Love you too, Mom.” Balas Noah, lalu mematikan ponselnya. Sejenak dia berpikir. Melissa, mantan Rey menjadi pacarnya sekarang dan adik Rey akan menjadi istrinya nanti. Takdir yang ditulis Tuhan memang selalu mengejutkan. Tak pernah terbayang olehnya siapa yang akan menjadi pacarnya dan siapa yang akan menjadi istrinya. Tanda tanya yang menggelayut di benaknya saat ini adalah bagaimana cara memberitahu Melissa dan memberinya pengertian kalau pernikahan ini terjadi bukan atas dasar nama cinta dan mungkin akan ada perceraian nanti. Dan bagaimana caranya dirinya akan bertahan hidup dengan wanita yang bahkan tak dikenalnya sama sekali, hidup dengan wanita asing sebagai pasangan suami-istri. Selang beberapa saat ketika Noah hendak memeriksa laporan keuangan di tangannya, ponselnya kembali berdering. Bella.                                                    Memutuskan seorang wanita secepat dan semudah itu, Noah tahu risikonya. Dia akan diteror oleh si wanita. Jangan lupa, Noah sudah berpengalaman akan hal ini, bahkan ada yang mengancam bunuh diri jika Noah benar-benar memutuskannya. Bagaimana dengan Bella? Apakah dia juga akan mengancamku dengan ancaman bunuh diri? Mungkin lebih baik aku memberinya uang untuk belanja pakaian baru, seperti yang diinginkannya. “Halo.” “Ya.” “Noah aku sekarat sekarang, bisakah kau datang ke apartemenku? Aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi selain dirimu.” ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN