BAB 10

1806 Kata
Dengan mata terpejam, aku meraba sekeliling kasur dan  menemukan ponsel hanya dalam waktu beberapa detik. Mataku terbuka dan mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk melihat penelpon di jam 2 dini hari. “Lizzy,” gumamku, aku mengangkat telepon dan mengatakan ‘halo’ dengan suara parau. Suara khas orang baru bangun tidur. “Halo, Cind, kau baru bangun ya?” dia bertanya tanpa rasa salah karena menelponku di pagi buta. “Di New York masih jam 2 pagi, Lizzy.” Kataku setengah menggerutu. “Hahaha, ma’af. Aku lupa New York dan London berbeda beberapa jam. Di sini sudah pagi, lho. Aku bahkan sudah siap-siap berangkat sekolah.” “Emmm, dasar kau ini.” Mataku terpejam kembali namun, aku masih terjaga. “Bagaimana dengan New York? Apakah kau sudah merindukan gadis 8 tahun ini?” Aku tersenyum tipis, ya, aku tahu Lizzy tidak akan melihat senyum tipisku. “Kadang-kadang aku merasa bahwa kau bukan gadis 8 tahun Lizz, kau terlalu dewasa untuk disebut gadis cilik 8 tahun. Kau seperti remaja 15, 16, 17 tahunan.” “Kau malah membicarakan aku, bukan jawaban itu yang kumau.”  Dari nada suaranya aku bisa menebak ekspresi Lizzy. Bibirnya pasti mengerucut lucu. “Bisa kau ulang pertanyaanmu, otakku belum sepenuhnya bekerja.” Aku mendengar desahan napas Lizzy, “Bagaimana dengan New York? Kau sudah merindukanku belum?” Lizzy berkata dengan memberikan setiap penekanan pada setiap patah kata, membuatku geli. “Entahlah, tidak ada yang mengajakku berkeliling New York. Aku belum bisa komentar. Rindu? Ya, aku selalu merindukanmu di setiap jam Lizzy.” Aku mendengar Lizzy terkekeh dan berteriak, “Mam, Cind merindukan aku setiap jam. Huahaha.” Tanpa sadar aku ikut tertawa. “Sayang, jangan ganggu kakakmu. Sekarang dia pasti masih tidur. Matikan teleponnya dan biarkan dia istirahat.” Suara Mam di sana. Suara yang pasti dan akan selalu aku rindukan. “Cind, Mam memintaku untuk membiarkanmu istirahat. Aku tutup teleponnya ya.” Aku mengangguk dan seketika tersadar kalau Lizzy tidak melihat anggukkanku. “Ya, aku merindukanmu, Lizzyku sayang.” “Aku juga Cind, aku merasa kesepian tanpa kau di rumah.” Nada suaranya terdengar murung. Telepon mati dan aku melanjutkan tidurku. *** Aku melihat dua orang pelayan sibuk menyiapkan sarapan di meja makan. Pelayan wanita berkulit hitam dan satu lagi yang wajahnya asing bagiku. Tapi, dia sepertinya masih muda. Kelly sibuk dengan ponselnya dan Dad juga sama. Pemandangan yang buruk! Sungguh, aku tak pernah melihat Mam dan Pap melakukan hal ini di meja makan. Biasanya makanan sudah siap sebelum aku dan Lizzy datang ke meja makan. Barulah setelah kami selesai makan, Pap akan mengecek ponselnya, Mam akan kembali membereskan piring-piring dan mencucinya. Tapi... di sini, di rumah sebesar dan semewah ini, para pelayan bekerja seakan kewalahan. Secara ajaib, aku teringat wajah Rey dan tak melihatnya di sini. “Dad,” kataku. “Ya,” sejenak Dad mengalihkan tatapan matanya ke arahku. “Rey kemana?” ketika aku menyebut nama Rey, Kelly ikut menatapku. “Dia, sepertinya belum bangun.” Jawab Dad sekenanya dan kembali memusatkan perhatiannya pada ponsel. Astaga... aku benar-benar tidak suka dengan sikap keluarga baruku ini. Bagaimana bisa Dad hanya membalas pertanyaanku sekenanya dan kembali memusatkan perhatiannya pada benda mati itu. Menyebalkan sekali! Kelly berdeham. “Mungkin kau bisa membangunkan Rey. Kamar Rey ada di lantai dua, dia pasti akan terbangun kalau kau yang membangunkannya. Dia akan terkejut melihat gadis asing di rumah ini.” Kata Kelly seraya tersenyum licik. “Rey sudah tahu aku.” ujarku, memberitahu. “Oh,” sejenak Kelly tampak berpikir. “Kurasa tidak ada salahnya kau tetap membangunkannya.” “Tidak usah.” sela Dad menolak saran Kelly. “Nanti juga Rey akan bangun.” Lanjutnya. “Rey akan bangun setelah kita semua beraktivitas. Lalu dia sarapan sendirian, begitu?” aku memiringkan kepala menatap Dad. “Ya, memang begitu jadwalnya Rey. Dia bangun setelah kita semua beraktivitas dan dia sarapan sendirian lalu pergi ke kantor. Dari dulu kakakmu memang seperti itu, Cind.” “Aku akan membangunkan Rey sehingga kita bisa sarapan bersama-sama.” Kataku seraya beranjak dari kursi. Dad dan Kelly menatapku heran. Sekilas aku melihat mereka saling berpandangan, sebelum aku meluncur ke kamar Rey. Setelah di depan kamar Rey, aku mengetuk-ngetuk pintu kamarnya yang terbuat dari kayu mahoni. Tidak ada sahutan apa pun. Aku memberanikan diri untuk menekan tangkai pintu. Pintu terbuka. Rey tidak mengunci pintu kamarnya. Aku terbelalak melihat Rey yang tertidur dengan posisi menelengkup dan bertelanjang d**a. Helo, musim dingin seperti ini apakah akan baik-baik saja dengan tidur bertelanjang d**a seperti itu? Ya, okay, meskipun ada penghangat ruangan di dalam kamar, tapi... Tiba-tiba ada gelombang adrenalin yang aneh dalam diriku. Aku berusaha menenangkan diri. Okay, Rey, kakakku. “Rey,” aku mencolek-colek bahunya. “Rey,” ada tekanan dalam colekanku. “Rey, bangunlah. Waktunya sarapan, Rey.” Kali ini aku menepuk-nepuk punggungnya. Ternyata membangunkan seorang pria dewasa itu sulit sekali. Aku teringat Lizzy dan betapa mudahnya membangunkan gadis kecil itu hanya dengan memanggil namanya beberapa kali. “Rey! Hei, bangun pemalas!” akhirnya aku memilih berteriak, kuharap teriakan dari suaraku berhasil membangunkannya. Dan ya, Rey mengubah posisi tidurnya. Aku melihat bagian perutnya yang tidak terlalu kotak-kotak, namun masih membuatku tergoda untuk menatap beberapa saat. Rey menarik tanganku dan... “Wuaaah!” aku terjatuh di ranjang, dia memelukku erat. Aku membatu karena keterkejutan. Aku sama sekali tidak menduga dia akan menarikku di atas ranjangnya. Ya Tuhan, aku berada dalam pelukan pria ini. Tangannya melingkar di bagian dadaku dan sebelah kakinya menindih kedua kakiku. Rey anak Kelly dan Kelly adalah istri Dad. Ini akan menjadi skandal buruk jika Rey menyentuhku. “Melissa... Melissa...” gumamnya dengan mata terpejam. Aku menatap dan memperhatikannya. Ya Tuhan, syukurlah. Dia hanya mengigau. “Rey,” bisikku ditelinganya. “Melissa, aku...” Dug! “Aww!”                                 Untuk menyadarkan seorang pria dewasa aku butuh sebuah tenaga untuk memukulnya. Berhasil! Rey mengerang kesakitan dan perlahan matanya terbuka. “Kau, sedang apa kau?!” pekiknya seraya bangkit dan menatapku tajam. Aku menghela napas panjang, beringsut menuruni ranjangnya. “Aku berniat membangunkanmu. Tapi kau malah menarikku dan mengigau.” Jelasku yang terdengar seperti gerutuan. Hening sejenak. Mungkin Rey sedang mengumpulkan pecahan-pecahan otaknya yang—tampaknya dia belum sepenuhnya mencerna perkataanku. Tunggu... tadi apa? Dia memanggil-manggil nama Melissa? *** Seperti yang sudah aku duga, Dad pergi ke kantor dan sarapan tanpa mau menunggu Rey sampai di meja makan. Kelly, dia bilang ada urusan dengan teman-temannya. Biar kutebak; mungkin maksud dari urusan dengan teman-teman adalah bersenang-senang dan menghabiskan uang. Seperti itulah yang aku tangkap dari kata-kata dan ekspresinya. Ada yang tidak beres dengan keluarga baruku ini. Aku tidak merasakan kehangatan seperti di London. Baik Dad maupun Kelly dan juga Rey, mereka individualistik. Aku belum menanyakan soal pangeran yang dimaksud Rey pada Dad. Entahlah, kurasa nanti juga aku akan mengetahuinya. Mungkin tadi malam Rey hanya bicara ngawur karena mabuk. Ya, mungkin seperti itu. Rey meneguk susunya dalam satu tegukan. Dia mengangkat sebelah alisnya saat memperhatikan wajahku. “Kenapa pakai mantel motif zig zag seperti itu sih? Ya ampun, di dalam rumah ini ada banyak sekali penghangat ruangan. Kau tidak akan kedinginan, Nona... Cinderella.” Aku melihat binar ledekan dari matanya. “Aku tahu kok.”                                                “Lalu?” “Aku mau pergi.” “Pergi? Jalan-jalan?” “Tidak tahu.” Rey menghela napas panjang. Dia menggelengkan kepala dan melanjutkan memakan sandwich-nya. Aku sudah menghabiskan sarapanku beberapa saat yang lalu. Aku sengaja duduk di meja makan bersamanya, karena—aku merasa kesepian. Aku ingin berteman dengannya. Kupikir dia bukan pria yang buruk. Aku ingin menjalin kedekatan sebagai kakak dan adik. Permasalahannya adalah—Rey sepertinya tidak tertarik untuk mengakrabkan diri denganku. Ini cukup menyedihkan, mengingat Dad dan Kelly yang seakan mengabaikanku. “Kau, hari ini akan kemana?” tanyaku akhirnya. Dia menoleh dan menggigit sandwich terakhirnya. “Kantor.” “Oh,” aku mengangguk. Dia benar-benar cuek. “Boleh aku ikut ke kantor?” aku bertanya seraya memiringkan kepala, berharap mendapatkan belas kasihnya dan mengajakku. “Aku tidak tahu. Di kantor ada Davidson.” “Ya, aku tahu. Aku hanya ingin ditemani di lingkungan yang asing ini. Dad begitu sibuk saat di meja makan begitu pun dengan Kelly. Padahal baru sehari aku di sini, tapi mereka mengabaikanku begitu saja. Tidak ada yang mengajakku jalan-jalan menikmati tempat wisata di sini.” Entah kenapa aku merasa melow. Aku melihat matanya beberapa detik, mata yang seakan mengatakan keibaannya. Tapi itu tidak lama, tatapannya kembali acuh tak acuh. “Kau bisa meminta Alan, Olivia atau siapa pun itu yang ada di rumah ini. Mereka pasti bersedia menemanimu.” “Siapa itu Alan dan Olivia?” “Ketua pengamanan rumah dan pelayan rumah tangga termuda di sini.” Seketika tubuhku seakan luruh mendengar orang yang bukan siapa-siapaku harus menemaniku jalan-jalan. Begitu sibukkan orang-orang di rumah ini. Kalau seperti ini, aku jadi ingat Lizzy, Meghan, Mam. Ah, kenapa tiba-tiba aku merindukan Meghan? “Baiklah,” aku beranjak dari kursi dengan wajah menyedihkan. “Hei,” aku menoleh setelah menjauh beberapa langkah. “Kalau aku pulang sore, kita akan jalan-jalan.” Seketika aku merasa ada balon yang mengembang di dadaku. Akhirnya... ada yang menjadi temanku. *** Setelah Rey pergi beberapa jam lalu, aku membuka ipad dan membaca salah satu cerita favoritku. Okay, aku adalah gadis remaja yang beranjak dewasa, tapi aku sangat menyukai cerita ini. Aku mulai membaca Alice Adventures In Wonderland sejak usia 12 tahun dan sudah menamatkannya puluhan kali. Lizzy, dia hanya membaca Alice Adventures In Wonderland satu kali. Dia bilang, isinya kurang menantang. Lizzy adalah gadis cilik aneh. Dia lebih suka buku atau film bergenre misteri dan horor. Terkadang aku merasa ingin sekali menjadi Alice yang terjebak dalam dunia fantasi dengan berbagai macam makhluk aneh di dalamnya. Sejak pertama kali aku membaca Alice Adventures In Wonderland, Lewis Carroll menjelma menjadi salah satu penulis favoritku. Bagiku, Alice Adventures In Wonderland adalah dongeng menakjubkan tentang petualangan Alice. Terdengar suara ketukan pintu yang mengalihkan perhatianku dari ipad. “Ya,” kataku seraya bangkit dan membuka pintu kamar. Seorang gadis muda yang berumur sekitar 15 tahun tersenyum ramah. Mungkin ini yang namanya Olivia. “Nona, ada Mr dan Mrs. Sanders di ruang tamu ingin bertemu dengan Anda.” Katanya dengan lembut. Dahiku mengernyit tebal. “Keluarga Sanders? Ingin bertemu denganku?” “Iya, Nona. Ketika saya melihat mereka di depan pintu, saya bilang jika Nyonya Kelly dan Tuan Davidson tidak ada di rumah. Tapi, Mrs. Sanders bilang, dia ingin bertemu Anda.” Aku bertambah bingung dan tidak mengerti. Keluarga Sanders? Milyarder itu? Ya, aku pernah melihat anak tunggal mereka yang penuh dengan skandal percintaan yang rumit. Di sebuah Coffe Shop, bersama seorang model. “Tunggu, aku tidak mengenal mereka.” “Nona, keluarga Sanders sering bertandang ke rumah ini. Saya rasa meskipun Nona tidak mengenal mereka, mereka pasti mengenal Nona. Mr. Sanders adalah teman baik Tuan, begitupun dengan Mrs. Sanders juga teman baik Nyonya.” “Baiklah, aku akan turun sebentar lagi.” ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN