Bukannya ke kantor Rey malah pergi ke apartemen Melissa. Tadi malam, dia bermimpi buruk tentang Melissa dan rindu tiba-tiba begitu deras membanjirinya hingga dia memilih bolos ke kantor dan ingin menghabiskan waktu bersama Melissa-nya. Dia belum sempat menghubungi Melissa karena ingin memberikan kejutan pada wanita cantik berwajah lembut itu.
Jam tangan mewah berwarna emas dari brand termana dunia, dibelinya secara mendadak sebelum sampai di apartemen Melissa. Rey akan melihat senyum menghiasi wajah Melissa ketika kedua bola mata Melissa melihat jam tangan mewah.
Rey hafal kode pintu apartemen Melissa. Kode pintu tanggal lahir Rey. Ya, itu karena apartemen yang ditinggali Melissa adalah apartemen pembelian Rey.
Sesuai dengan harapannya, Melissa masih tidur dengan memakai lingeria mahal pemberian Noah. Lingeria warna merah dengan tambahan renda. Rey tidak bisa menahan gelombang adrenalin yang mendadak hadir. Tanpa permisi pada si pemilik tubuh, Rey mengecup kening Melissa. Kecupan itu berlangsung secara terus menerus, turun hingga ke bagian d**a Melissa.
Melissa mengerjap-ngerjapkan mata dan menguap beberapa kali. Dia bahkan tidak terkejut melihat Rey yang sudah menguasai tubuhnya seakan itu adalah hal yang biasa.
***
“Di mana Rey?” tanya Mr. Davidson pada sekretarisnya yang sibuk menatap layar komputernya.
“Saya belum melihatnya, Sir.” Jawab sekretaris berkaca mata tebal itu.
“Anak itu, tidak tahu apa kalau hari ini kita punya proyek baru.” Katanya dengan wajah penuh emosi.
“Hubungi dia, dan bilang untuk segera datang.” Titah bosnya. Terkadang wanita 27 tahun itu bingung dengan hubungan bos dan anak tersebut. Kenapa tidak menghubungi sendiri saja? Dia, kan, ayahnya? Bukannya mereka satu rumah? Keluarga yang aneh.
“Nomornya tidak aktif, Sir.” Ucap sekretaris bernama Camilla itu.
Wajah bosnya semakin menegang. Davidson berusaha menahan gejolak emosinya.
Bisa-bisanya anak k*****t itu... berapa banyak kerugian perusahaan karena Rey. Kalau Rey hari ini tidak hadir, mau tidak mau aku akan memecatnya sebagai CEO perusahaan ini. Aku tidak akan memedulikan omelan Kelly, anaknya memang kurang ajar dan tidak tahu diri. Aku yakin karakter ayah biologisnya pun begitu.
“Hubungi John, dan suruh dia ke ruanganku sekarang.”
“Baik, Sir. Tapi—”
“Apa?”
“Bagaimana dengan—“
“Aku akan berkonsultasi dengan John tentang Rey.” Potong Mr. Davidson seakan tahu apa yang akan dipertanyakan sekretarisnya itu.
***
Camilla menghubungi Rey berkali-kali dan memberikannya pesan suara; Angkat teleponmu bodoh! Cepatlah datang ke kantor, ayah tirimu berniat memecatmu sebagai CEO. Atau mungkin jabatanmu diturunkan sebagai manajer Sumber Daya Manusia.
Hubungi John?
Camilla mendesah pasrah. “Apakah aku harus menghubungi John sekarang, tapi Rey... bocah itu belum menerima pesan suaraku. Aduh, bagaimana ini? Kalau sampai Mr. Davidson tahu aku belum menghubungi John dan malah menghubungi anak tirinya berkali-kali, bisa mati aku!” Camilla menyenderkan bahunya pada sandaran kursi.
Namun, akhirnya dia memencet nomor telepon John.
“Nomor yang Anda hubungi tidak—“
“Yes!” Camilla merasa lega untuk sesaat. Nomor ponsel pribadi John tidak aktif. John adalah konsultan pribadi Mr. Davidson, memberi solusi untuk masalah SDM dan perusahaannya.
“Tunggu, aku belum menghubungi nomor kantor John,” wajahnya seketika berubah layu lagi. Memucat seperti kapas putih.
Rey, adalah teman dekat Camilla. Camilla bekerja di sini pun berkat Rey. Bisa dibilang mereka sahabat meskipun di kantor mereka tidak bertegur sapa dan hanya berbincang seperlunya soal urusan pekerjaan. Tidak lebih. Tapi, tentu saja Camilla merasa bersalah jika Rey harus turun jabatan ataupun dipecat ayah tirinya. Camilla menjalani dua peran, yaitu, sebagai sekretaris Mr. Davidson dan mata-mata untuk Rey. Itulah sebabnya Rey—sampai detik ini masih bertahan dan belum digeser siapa pun meskipun dalam hal kinerja dia tidak bagus dan sering menyepelehkan proyek.
“Rey, ma’afkan aku, ma’af...” gumamnya, lalu memencet nomor kantor John.
***
Lagu Said I Love You But I Lied dari penyanyi lawas Michael Bolton mengalun lewat musik ponselnya. Entah kenapa lagu itu seakan menyihirnya untuk beberapa saat sebelum benar-benar pergi meninggalkan London.
Berita-berita tentang dirinya yang sudah memiliki pacar baru tersebar luas di berbagai portal media online dunia.
Pewaris Jaringan Hotel Terbesar di Dunia Menjalin Asmara dengan Kekasih Mantan Sahabatnya.
Siapa Pacar Pewaris Jaringan Hotel Terbesar Sekarang?
Hati Milyader Muda Pewaris Tahta Jaringan Hotel Terbesar Sudah ada Pemiliknya?
Noah mendecakkan lidah pilu. Dia sudah berusaha menyembunyikan kisah cintanya dari publik setelah skandal-skandal percintaannya dengan aktris, model hingga seorang pelayan bar terus diliput para wartawan. Pasti ada orang yang membocorkan kisah cintanya.
“Siapa pun itu yang memberitahu media tentang ini, semoga Tuhan mempercepat kematiannya.”
Telepon berdering, Bella.
Wanita ini, lagi-lagi menghubungiku.
Padahal ketika ada pesan yang memberitahu bahwa dirinya sekarat, Noah tidak langsung pergi ke apartemen wanita itu. Noah memilih menghindar dan mengabaikan wanita itu. hal ini sebagai pemberitahuan tidak langsung bahwa dia tidak peduli dengan Bella. Lagian, wanita itu pasti berbohong.
Dari puluhan kali percintaannya, Noah mendapatkan satu teori tentang wanita. Wanita adalah makhluk matrealistik. Nyaris keseluruhan mantan kekasihnya termasuk yang saat ini menjalin hubungan dengannya—Melissa, selalu meminta sesuatu yang berhubungan dengan materi. Dia tidak sepenuhnya menyalahkan wanita tentang itu, karena itu memang kodrat setiap wanita.
Bip-Bip
Ponselnya berdering.
Dari Mom.
Tidak ada teks dalam pesan yang dibukanya tetapi ada sebuah foto seorang gadis dengan senyum terlukis di wajahnya. Senyum itu seakan menegaskan kepribadiannya. Lembut, tegas, polos dan unik. Dan... manis. Lesung pipinya menambah kesan kemanisan yang nyata.
Pesan teks dari Mom datang menyusul.
Foto calon istrimu, sayang. Maniskan?
Tanpa sadar Noah tersenyum membaca pesan dari Mommy-nya itu.
Namun seketika dahinya mengernyit ketika dia mengingat pertemuannya dengan Bella di sebuah coffe Shop. Dia masih ingat wajah gadis muda yang mengenakan syal merah yang duduk di sebelah mejanya.
Bukankah aku pernah melihatnya di Coffe Shop waktu itu?
***