BAB 23

849 Kata
Aku tercengang mendengar Dad masuk rumah sakit. Tubuhku membeku beberapa saat hingga Rey memanggil-manggil namaku dan membuyarkan kebekuanku. Setelah memberitahuku perihal Dad yang di bawa ke rumah sakit, Noah langsung mematikan ponselnya. “Dad di rumah sakit, Rey.” Kataku lirih, mataku nanar. “Ayo kita ke rumah sakit!” ajak Rey. “Ayahmu memang punya riwayat sakit jantung. Tapi, itu sudah lama dan aku kira dia sudah sembuh meskipun masih sering check-up.” Ujar Rey seraya berjalan terburu-buru. Walaupun Rey membenci Dad, tetapi aku melihat kepanikan di wajahnya ketika aku memberitahu kalau Dad di rumah sakit. *** Sesampainya kami di rumah sakit, kami langsung menuju kamar VVIP di mana Dad dirawat. Ada Kelly dan Noah di sana. Kelly menatapku sedih hingga perutku melilit tegang. Aku tak pernah melihat wajahnya sesedih ini. Noah dan Rey bersitatap sesaat. Tatapan sengit, seperti tatapan antara singa dan beruang kutub. Tajam dan mematikan. Noah menatapku tajam seakan tatapannya berkata, “Ayahmu sekarat dan kau jalan-jalan dengan si Rey!” “Bagaimana keadaan Dad?” tanyaku menatap Dad. “Dad tidak apa-apa, sayang.” Jawab Dad dengan senyum yang mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Aku tahu itu bohong. “Apa yang Dad rasakan? Dad sakit apa?” tanyaku kembali memancingnya untuk menceritakan tentang penyakitnya. “Hanya nyeri di d**a, sayang. Dad tidak apa-apa. Jangan kahwatir, Cind.” katanya masih dengan senyumnya. “Kelly memang kadang berlebihan, padahal Dad hanya jatuh.” Aku melirik Kelly yang membuang muka, air mata yang mengalir cukup deras di pipinya. Aku memeluk Dad yang terbaring lemah. Wajahku tenggelam di dadanya. Aku menangis. Aku takut kehilangan dia. “Cind, Dad tidak apa-apa, sayang. Jangan menangis.” “Aku sudah kehilangan Mom dan aku tidak mau kehilangan Dad.” *** Setelah tangisku reda, aku pergi keluar sebentar untuk merenung. Aku butuh waktu sendiri. Aku melihat Rey duduk di sofa beledu. Dia membaca sebuah koran. Tapi, aku tahu dia hanya berpura-pura membaca koran. Koran yang dibacanya terbalik. Noah juga duduk di sofa. Dia duduk paling ujung. Mereka seakan menjaga jarak satu sama lain. Aku memilih berdiri menatap orang-orang berlalu lalang di bawah. Tanganku menyentuh pagar yang tingginya menyamai dadaku. Aku melihat seorang wanita menangis meraung-raung di bawah. Dia pasti baru kehilangan seseorang yang disayanginya. “Kau tidak mau seperti wanita itu, kan?” refleks, aku menoleh. “Noah,” gumamku. “Cind,” dia menatapku perihatin, “kau tahu riwayat penyakit ayahmu, kan?” aku memilih diam. Aku hanya menatapnya dan membasahi bibirku yang mendadak kering. “Kau bisa membayangkan kalau kau membatalkan pernikahan apa yang akan terjadi dengan Davidson.” Aku menatapnya tajam.  “Aku tidak akan membatalkan pernikahan.” Noah menatap sekeliling dengan ekspresi yang menggambarkan kesenangan dan kebanggaan dirinya. Dia menatapku lekat, mendekatkan wajahnya pada wajahku hingga aku yakin satu senti lagi hidungnya menyentuh hidungku. “Davidson sudah menyetujui kalau pernikahan ini harus dipercepat. Kita punya waktu seminggu lagi untuk mempersiapkannya, Cinderella.” Ucap Noah. Mataku yang membulat dan mata Noah saling beradu. Salah satu sudut bibir Noah melengkung. “Kenapa kau ingin menikah cepat-cepat denganku?” tanyaku curiga. “Menikah sekarang atau nanti sama saja, tapi... pernikahan itu lebih baik disegerakan.” Noah menoleh sekilas ke arah yang lain, arah di mana ada Rey. Rey di sana. Menatap kami dengan tatapan yang sulit aku mengerti. Tanpa permisi, Noah kembali melahap bibirku. Sejenak aku membeku karena bingung. Namun, secara perlahan aku mendorong Noah menjauh. Aku melihat Rey masih menatap kami. “Aku tidak mengerti dengan tindakan impulsifmu.” Aku melesat pergi meninggalkan Noah dan Rey. *** Aku memainkan kotak musik dari Rey. Katanya, suara kotak musik klasik ini dapat menenangkanku. Kelly di rumah sakit menemani Dad, dokter bilang, Dad bisa pulang besok. Dad hanya perlu istirahat dan Dad tidak boleh banyak pikiran. Berbagai dugaan berlalu lalang di kepalaku. Mungkinkah Dad memikirkan perusahaannya? Memikirkan para karyawannya? Jika itu benar, mungkin lebih baik kalau aku segera menikah dengan Noah. Dengan ataupun tanpa cinta, aku akan tetap menikah dengan Noah. “Cind,” suara Rey terdengar dari balik pintu. “Ya, masuklah. Aku tidak mengunci pintunya.” Rey masuk dengan sebelah tangan membawa segelas s**u putih. “Minumlah, aku tidak mau kau sakit. Cukup ayahmu yang sakit, Cind.” Aku merasa hatiku menghangat mendengar ucapannya yang mengkhawatirkanku. “Aku baik-baik saja,” kataku seraya mengambil segelas s**u dari tangan Rey dan meminumnya setenggak. Rey duduk di atas ranjangku. “Hei, kau tidak bisa membohongiku.” Dia menyenggol lenganku. Rey tersenyum. “Aku baik-baik saja.” ulangku. “Jangan memikirkan kesehatan ayahmu. Besok dia sudah boleh pulang, itu artinya ayahmu tidak sekarat.” Aku yang sekarat, Rey. “Jangan memikirkan masalah pernikahanmu dengan Noah. Biarkan semua berjalan sesuai takdir. Jangan takut aku ada di sini, Cind. Aku akan melindungimu.” Hatiku kembali menghangat. Entah apakah Rey memang benar-benar tahu apa yang aku rasakan ataukah itu hanya instingnya sebagai kakak—meskipun bukan kakak kandungku—atau apa pun itu, aku sungguh merasa tenang. Aku meletakkan gelas di atas nakas. Aku menatapnya dan sejurus kemudian dorongan kuat membuatku memeluknya begitu saja. Sekilas Rey tampak terkejut. Dia membalas pelukanku. Aku merasakan kenyamanan yang sempurna dari pelukannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN