Aku mengenakan sepatu flat berbahan kanvas dengan corak bunga tulip. Rey tidak berkomentar banyak soal style yang aku kenakan. Maksudku—aku adalah putri salah satu orang terkenal di Brooklyn. Apa pun yang aku kenakan seharusnya sesuai dengan penampilan khas anak orang kaya, pakaian branded dan bukan sepatu murah dari bahan kanvas ini. Ya, ini hanya masalah selera saja. Aku tidak terlalu suka mengenakan pakaian yang menarik perhatian banyak orang. Aku suka sesuatu yang sederhana namun mengesankan.
Saat aku dan Rey berjalan memasuki gedung pencakar langit Brooklyn, semua mata mengarah kepada kami. Mereka menatapku dan Rey secara bergantian. Siapa pun yang melewati kami pasti akan menyapa kami dengan ramah. Sejujurnya, aku tidak terlalu suka menjadi orang yang diperhatikan banyak orang seperti ini.
“Rey, ini pertama kalinya aku ke kantor Dad.” Bisikku seraya berjalan.
“Dan akulah orang pertama yang mengajakmu ke kantor bukan ayahmu.”
“Rey!” seru seorang wanita berambut bob pirang berponi lurus dengan kacamata berbingkai besar. Sesaat dia mengingatkanku pada salah satu pemain kartun Scooby Doo.
“Camilla,” sahut Rey.
Camilla menatapku dari atas ke bawah dan ke atas lagi. Lalu tatapannya fokus pada wajahku. “Siapa dia?” Camilla menunjuk tepat di depan wajahku.
“Hei, kau tidak sopan seperti itu.” tegur Rey seraya menurunkan tangan Camilla.
“Oh, ma’af. Aku kira dia calon mata-mata baru.” Katanya seraya tersenyum malu.
“Dia, Cinderella.” Beritahu Rey tenang.
“Cin-de-re—“
“Putri bosmu.” tukas Rey.
“Astaga...” dia berujar dengan ekspresi bersalah.
“Ayo ke ruanganmu!” ujar Rey mengalihkan topik pembicaraan.
Tanpa mempedulikan Rey, Camilla maju beberapa langkah di sampingku. “Ma’afkan aku ya, kupikir kau bukan putri, Tuan Davidson.”
Aku tersenyum. “Tidak apa, santai saja.”
Aku membelalak terkejut ketika mataku bersitatap dengan mata pria yang beberapa jam lalu menciumku. Dia berjalan mendekat. Aku tahu dia punya pesona yang tak pernah aku lihat pada pria manapun.
Noah berhenti tepat di depanku. Dadaku berdebar. Perasaanku campur aduk dan aku tidak bisa menjelaskannya. Matanya menyipit. Dia menatapku, Rey dan Camilla secara bergantian. “Calon istriku ada di sini rupanya,” katanya dengan senyum tipis, Noah tidak menatapku. Dia menatap Rey ketika mengatakan kalimat itu. Tapi entah kenapa aku merasa kalimat itu bertujuan untuk memanas-manasi Rey.
“Calon istri,” gumam Camilla yang tidak mendapatkan respon dari Noah.
“Senang bertemu denganmu, Rey.” Noah tersenyum sinis. Dia mengalihkan tatapannya padaku dan mencubit lembut daguku sebelum pergi.
Hening.
“Putri bosku adalah calon istri Noah Sanders. Wow!” Camilla berdecak kagum.
“Ayo ke ruanganmu,” kata Rey seraya berjalan. Aku dan Camilla mengekor.
***
“Jadi, dia adikmu?” bisik Camilla, tapi aku masih bisa mendengar suaranya dengan jelas.
“Tidak juga, sih.” jawab Rey acuh tak acuh.
“Jadi bagaimana dengan usulan proyek yang aku ajukan?” Rey bertanya sambil memilah-milah file di atas tumpukan meja.
“Awalnya ayah tirimu tidak setuju. Dia malah terlihat heran melihat proposal yang aku berikan. Dia tidak yakin proyek itu berhasil. Terlalu beresiko, katanya. Ada proyek yang lebih strategis untuk ditangani, katanya.” Camilla membenarkan letak kacamata bingkai besarnya.
“Sudah kuduga.”
“Kenapa kau tidak langsung berdiskusi dengannya saja. Dia Presdir di perusahaan ini dan kau anak tirinya yang dulu dijadikan CEO lalu didemosi menjadi manajer SDM.” Camilla menguap. “Aku rasa kita harus memperbaiki komunikasi yang buruk di perusahaan ini. Kalau komunikasi membaik, aku yakin semua proyek bisa berjalan lancar. Rey, kau harus memulai untuk menjalin hubungan baik dengan ayah tirimu.” Kata Camilla. Aku melihat sorot harapan di sana.
Sepertinya Rey selalu punya masalah dengan banyak orang. Dengan ibunya, ayahku dan Noah.
“Rey,” Rey tidak merespon suara Camilla. “Aku rasa ayah tirimu sebenarnya menyayangimu, Rey. Kalau dia membencimu, dia pasti sudah menendangmu dari dulu untuk pergi dari perusahaan ini. Iya, kan, Cinderella?”
Aku tersentak mendengar namaku disebut Camilla. “I-iya,” jawabku terbata.
“Putri kandungnya saja mengiyakan ucapanku.”
Rey menatap sengit Camilla yang terus-terusan mengoceh mirip burung beo. “Aku bawa lagi proposal proyeknya.” seru Rey tanpa berterima kasih dan tanpa pamit pada Camilla, Rey menggandeng pergelangan tanganku dan meninggalkan ruangan Camilla. Aku merasa ada sengatan listrik yang menjalar ketika tangan Rey menyentuh pergelangan tanganku.
Camilla masih terus mengoceh. Suaranya terdengar samar-samar di telingaku.
***
Rey membawaku ke sebuah kedai sederhana bernuansa asia. Suara alat musik tradisional Indonesia membuatku merasa seakan dibawa pada suasana ketenangan yang nyaman. Tunggu... Indonesia? Bukankah itu salah satu negara yang ingin aku kunjungi. Joe? Dadaku terasa mulas mengingat Joe. Ternyata rasa sakit karena pengkhianatan itu tidak bisa sepenuhnya hilang.
Di sepanjang dinding kedai berjejer lukisan-lukisan kuno. Seorang wanita mengenakan gaun merah dan selendang merah. Dia tampak cantik sempurna. Lalu di sebelahnya sebuah candi. Tertulis : Candi Prambanan. Lukisan seorang gadis dengan pakaian tradisional Indonesia berwarna putih dengan seorang pangeran bermahkota. Aku yakin pemilik kedai ini adalah orang Indonesia.
“Cind,” aku terkesiap mendengar Rey memanggil namaku.
“Ya,” jawabku agak bingung.
“Minum tehnya, nanti dingin.” Aku nyaris lupa kalau teh yang aku pesan sudah ada di atas meja.
“Kau pasti bingung dengan kedai ini?” terkanya.
“Ya, aku rasa orang yang memiliki kedai ini orang Asia. Indonesia.” Kataku, lalu menyesap teh yang masih hangat.
“Kau tahu negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-empat itu?” kata Rey, dia tampak takjub.
“Ya. Dulu, aku ingin sekali menjelajahi seluruh negara di dunia dan salah satu destinasi negara favoritku, Indonesia.”
“Percayakah kau kalau Indonesia itu adalah Benua Atlantis yang hilang?” aku mengernyit mendengar perkataan Rey yang tak terduga itu.
Aku memiringkan kepala.“Benua Atlantis?”
Rey mengangkat dagu. “Penelitian yang dilakukan ilmuwan Brazil, Aryso Santos, mengatakan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang kita sebut Indonesia.”
Aku tercengang mendengar perkataan Rey. Atlantis? Ya, aku pernah mendengar benua Atlantis yang ada dalam teori Plato. Tapi, aku masih merasa asing. Mungkin Lizzy tahu. Ya, bocah itu pasti tahu tentang Atlantis.
“Sungguh, aku sangat ingin pergi ke Atlantis,” jeda sejenak, “maksudku, Indonesia.”
“Aku juga!” selorohku bersemangat.
Lalu kita berdua tersenyum. Kemudian tertawa kecil secara bersamaan.
“Kalau begitu, bagaimana kalau setelah kita berlibur ke London kita liburan ke Indonesia?” seruku semangat, lalu seketika aku menatap cemas ke sekeliling, takut-takut ada yang marah karena teriakanku. Syukurlah, kedai ini cukup sepi. Ada beberapa pengunjung, tapi mereka duduk terlalu jauh.
Rey hanya senyam-senyum melihat tingkahku yang mirip bocah 6 tahun.
“Deal,” Rey mengulurkan tangannya.
“Deal,” aku membalas uluran tangannya seraya tersenyum.
Ponselku berdering, tertera nama di layar Noah.
***