Yang aku ingat dari peristiwa beberapa menit lalu itu adalah Noah muncul di kamarku tanpa kuduga. Dia berjalan mendekat dan dia menyentuh pipiku, menariknya dan menciumku. Aku seakan tidak bisa berontak. Dia mencium bibirku begitu saja dan kejadian itu terjadi cukup lama. Dia melepaskanku, tersenyum tanpa rasa bersalah seakan tidak terjadi apa-apa.
“Jadi, kau akan pergi denganku hari ini, kan?”
Mataku menyipit, “Keluar dari kamarku.”
“Okay, tapi lain kali aku akan ke kamarmu lagi.”
Aku tidak mengatakan apa-apa lagi dan Noah melesat pergi. Aku menghapus bekas bibirnya dari bibirku. Aku membatu, mengingat dan membayangkan yang dilakukan Noah kepadaku. Dia berani menciumku...
“Jangan pernah membiarkan pria manapun menciummu tanpa kau izinkan dia merasakan bibirmu.” Aku masih ingat pesan Nenek ketika usiaku menginjak 14 tahun. Aku menggeleng dan berjanji untuk tidak membiarkan pria manapun menciumku tanpa izin dariku. Ya, kecuali kalau dia memang kekasihku. Tapi, aku tidak mengindahkan pesan Nenek. Aku membiarkan pria itu mencium bibirku. Membiarkannya merasakan apa yang bukan haknya.
“Lalu, apa bedanya aku menciummu sekarang dengan nanti. Toh, nanti juga kau akan menjadi Mrs.Sanders.” Aku membayangkan Noah melontarkan kalimat itu dengan gaya eksentrik yang menawan untuk membela diri.
Tapi aku tidak menginginkan ciuman itu. Ciuman yang mendesak. Ciuman yang terjadi di saat aku menyukai pria lain.
“Non Cind,” Olivia muncul dengan napas tersengal-sengal, dia buru-buru menutup pintu kamar.
“Olivia kenapa?” tanyaku cemas melihat raut wajah panik Olivia.
“Tuan Rey,” katanya terbata.
“Kenapa dengan Rey?”
Olivia menghela napas panjang. “Tuan Rey bertemu dengan Noah di bawah.” Kata Olivia dengan mata melebar.
Aku terkejut, namun hanya sekilas. “Ada Rey di sini?”
“Ya, mereka berdua saling tatap dan mengobrol. Tapi, cara mereka mengobrol tidak biasa. Seperti orang yang mau bertarung.”
Aku tidak mengerti dengan apa yang baru saja Olivia ucapkan. Tanpa bertanya lagi, aku menuruni tangga dengan langkah cepat. Sesampainya di bawah, aku melihat Rey dan Noah. Mereka berdiri. Noah tersenyum tipis sebelum keluar dari pintu rumah. Senyum yang tampak seperti seringai dingin seorang pemangsa.
“Rey,” panggilku. Rey menoleh.
“Apa yang dikatakan Noah?” tanyaku ingin tahu.
“Dia tidak mengatakan apa-apa.” Jawab Rey datar.
“Olivia bilang, kalian mengobrol.” Kataku seraya menatap Olivia yang beberapa detik sudah di sampingku. Olivia memasang ekspresi takut dan tidak mengaku dengan menggeleng-gelengkan kepala.
“Hanya obrolan ringan yang tidak ada artinya sama sekali.”
Bola mata biru Rey menatapku, “Kita jadi liburan ke London, kan?”
Kata ‘kita’ yang keluar dari kedua daun bibir Rey terdengar hangat di telingaku. “Iya, Dad mengizinkan aku pergi ke London. Aku juga sudah memberitahu keluarga angkatku. Lizzy juga terus menanyakan kapan aku datang.”
“Lusa kita pergi ke London.” Ujar Rey.
“Lusa?” aku menganga senang.
“Aku mau mengajakmu pergi, tapi sebelum pergi kita ke kantor dulu. Aku ada perlu sebentar dengan Camilla.”
“Siapa itu Camilla?” tanyaku dengan sebelah alis terangkat. Jangan-jangan Camilla pacar baru Rey.
“Sekretaris ayahmu, sekaligus teman dan mata-mataku.” Rey mengangkat tangannya menunjuk mata seperti berkata, ‘ i got my eyes on you’.
Aku memiringkan kepala. “Mata-mata?”
Rey terbahak.
“Ayo!” katanya setelah tawanya reda.
“Camilla itu temanku, aku menyuruhnya untuk mematai orang-orang di kantor dan memberitahu apa pun yang dibicarakan Davidson tentangku.”
“Oh,” gumamku paham.
“Kau tidak menyukai ayahku ya?” Rey melirikku seakan-akan matanya berkata ‘ya’.
“Setiap kali kau menyebut nama ayahku, kau seperti menyebut nama orang yang sudah mengacaukan hidupmu.”
“Davidson tidak jahat padaku hanya saja aku membencinya karena...” Rey tidak malanjutkan kalimatnya, membuatku penasaran.
“Karena apa?” aku menatap Rey dengan tatapan menuntut.
“Karena dia merebut ibuku dari ayah kandungku.” Wajah imutnya berubah kaku. Sorot mata biru Rey menyiratkan kesedihan, tekanan dan banyak hal yang berhubungan dengan duka.
Aku berdeham untuk mencairkan suasana. “Aku akan buat teh. Lebih baik kita duduk di teras belakang.” Kataku berlalu ke dapur.
Teras belakang penuh dengan banyak pohon-pohon besar. Teras belakang rumah adalah salah satu tempat favoritku di rumah. Catnya berwarna hijau pastel yang meneduhkan. Kursi kayu yang panjang dan meja kaca yang futuristik. Aku dan Rey duduk sambil menyesap teh dari cangkir motif bunga vintage.
“Jadi ayahmu bunuh diri setelah Kelly memilih ayahku.” Kataku mengulang cerita Rey. Aku tidak menyangka kalau kisah hidup Rey sedramatis dan semelankolis ini.
Rey mengangguk. “Anehnya, kisah percintaanku ini mirip dengan kisah ayahku. Bedanya aku belum memiliki anak.”
“Jangan sampai kau bunuh diri hanya karena Melissa memilih Noah.”
“Aku tidak akan melakukannya, Cind. Tapi, aku dan ayahku benar-benar mirip. Nyaris keseluruhan dari diriku diwarisi dari ayahku.”
Entah kekuatan dari mana, tanganku menyentuh punggung tangannya yang berada di atas pahanya. “Ayahmu akan bahagia kalau kau juga bahagia di sini, Rey. Jangan pernah berlutut di depan wanita yang memilih pergi darimu.”
Kami saling menatap untuk beberapa saat hingga dadaku berdesir karena tatapan mata kucing Rey yang dalam. “Terima kasih. Terima kasih karena telah hadir di hidupku dan memberiku kekuatan untuk melepaskan seseorang yang sudah lepas.” Ujarnya seraya tersenyum lembut dan hangat. Aku membalas senyum Rey seraya melepaskan genggaman tanganku.
Cind apa yang kau lakukan? Kau menggenggam tangan Rey. Ah, berani-beraninya aku! Aku terus menggerutui diriku sendiri yang—seakan menganggap Rey adalah Lizzy. Mulai detik ini semuanya berbeda. Karena hatiku kini mengharapkan Rey. Aku tahu, bahwa aku selalu merasakan kesedihan yang Rey rasakan. Aku ingin membuatnya bangkit, melupakan Melissa dan menjadikan pria yang hidupnya dipenuhi kebahagiaan. Aku menginginkan Rey. Aku mau Rey.
Satu hal yang perlu aku ingat, aku adalah calon istri Noah Sanders.
***