Cind menatap kalender di ponselnya. Musim dingin tinggal beberapa hari lagi. Dia bersiap-siap kembali ke London. Tapi, sebelum itu, Cind mengingat kalimat yang meluncur dari kedua daun bibir Rey. Kalimat yang sederhana namun mengena sasaran.
“Akan kucoba.” kalimat Rey itu masih terngiang-ngiang di telinga Cind. Setidaknya dia telah mengingatkan dan mungkin membantu Rey untuk move on dari Melissa. Tapi... bukankah Cind akan menikah dengan Noah? Apakah Noah akan putus dengan Melissa dan Melissa kembali ke pelukan Rey? Atau mungkin Noah akan tetap menjalin hubungan dengan Melissa, untuk penuntasan dendamnya pada Rey.
Cind menatap langit kamarnya, dia memikirkan pernikahannya dengan Noah. Pernikahan macam apa? Pernikahan yang bagaimana? Di satu sisi, Cind ingin memberontak. Dia tidak ingin menikah secepat ini, dia masih belia. Tapi di sisi lain, banyak orang yang mengharapkan pernikahannya terjadi. Mereka butuh kerja dan uang.
“Non,” suara Olivia disertai ketukan pintu.
“Ya, masuk!” seru Cind seraya bangkit dari ranjangnya.
“Ada Noah di bawah.” kata Olivia memberitahu.
Cind tercengang. “Noah?” Ucapnya tak percaya. “Ada apa dia ke sini?”
“Tidak tahu, Non.” Jawab Olivia disertai kedikkan bahu.
“Aku akan turun.” Olivia mengangguk dan berbalik badan memberitahu tamu Cind untuk menunggu.
Mr. Davidson dan istrinya tidak ada di rumah. Mereka menghadiri acara kaum jet set yang—tidak begitu membuat Cind tertarik. Tentu saja acara itu hanya pesta dan mabuk-mabukkan tidak jelas. Cind turun masih mengenakan piyama dengan gambar winnie the pooh. Cind mendapati pria itu menatapnya dengan senyum dingin yang tajam.
Noah memakai kemeja warna biru tua yang memberinya kesan elegan. Rambut yang ditata dengan pomade memberi kesan retro yang menawan. Brewok tercukur rapi. Cind tampak terkesima sesaat melihat pria itu duduk dengan salah satu kaki di atas.
“Dad dan Kelly tidak ada di rumah.” katanya masih berdiri.
“Aku tahu. Orang tuaku juga datang ke pesta itu.” Noah tampak santai memandangi Cind.
“Kenapa kau tidak ikut, kau suka pesta, kan?” siapa pun bisa meraba kesinisan di balik kalimat yang meluncur dari kedua daun bibir Cind.
“Aku tidak tertarik ke pesta yang dihadiri banyak orang tua.” Noah tersenyum puas. “Kau sendiri kenapa tidak ikut?”
“Aku tidak suka pesta.” jawab Cind jujur. “Ngomong-ngomong di sana juga pasti banyak wanita cantik.” Lanjut Cind sinis.
Noah tersenyum lebar, “Kau cemburu.” itu bukan kalimat pertanyaan tapi pernyataan.
Cind mengernyit heran. “Percaya diri sekali.”
“Apa kau akan tetap berdiri dan menjaga jarak seperti itu? Tenang saja, aku ini bukan serigala, kok.”
Untuk menghormati Noah sebagai tamu, Cind akhirnya duduk. Dia memilih duduk berhadapan dengan Noah. “Ngomong-ngomong aku ke sini karena ibu tirimu memberitahuku kalau kau sendirian di rumah. Kelly bilang, kau butuh teman.”
Cind mendesah, “Dia berlebihan.”
“Tapi, tanpa pemberitahuan dari Kelly pun aku memang berniat datang ke sini.”
Dahi Cind kembali mengernyit, “Ada perlu apa?”
“Aku Cuma ingin bertemu.” Noah tersenyum kecil.
“Melissa pasti marah kalau tahu kau datang ke sini dan menggodaku.” kata Cind bersusah payah menahan diri untuk tidak tertawa. Rayuan seorang playboy memang terkadang terdengar jujur, tapi Cind yakin itu hanya omong kosong.
“Jangan bahas wanita dan pria lain. Karena di sini hanya ada aku dan kau. Oh ya, aku sedikit aneh melihat Rey dan kau di The Chocolate Room.” Katanya membenarkan posisi duduk agar lebih dekat menatap Cind.
“Apanya yang aneh? Tidak ada yang aneh, Noah. Kau saja yang aneh,” Cind membuang muka ketika mengatakan, “kau saja yang aneh,”.
Noah mengerucutkan bibir. “Aku akan meminta Davidson dan Kelly untuk mempercepat pernikahan kita.” d**a Cind berdesir.
“A-apa?”
“Kau akan merasakan bagaimana bahagianya menikah dengan orang aneh.” ujar Noah dengan seringai menawan yang tampak teramat menyebalkan bagi Cind.
“Noah, beri aku waktu untuk menikmati kesendirianku sebelum aku benar-benar menjadi istrimu.” Cind memohon dengan mata nanar. Entah kenapa, tapi menikah seperti sesuatu yang menyerupai makhluk yang menyeramkan. Makhluk yang akan membatasi dirinya.
“Kesendirian? Bukankah kau memang sudah sendiri. Kau tidak punya pacar.”
“Noah, kau tidak bisa mempercepat pernikahan begitu saja, Dad dan Kelly bahkan belum memberitahuku soal pernikahan.”
“Aku sudah memberitahu ayahmu dan Kelly. Apa pun jawabanmu tentang pernikahan ini, pernikahan ini tidak bisa dibatalkan atau ayahmu akan menerima kerugian yang akan disesalinya karena memiliki anak sepertimu.” Ancam Noah. Noah tersenyum dingin. Cind melihat ambisi dan obsesi di mata pria itu. Cind merasa Noah memiliki tujuan tersembunyi di balik pemaksaannya untuk segera menikah.
Kenapa dengan pria itu?
Cerita tentang Rey dan Noah yang dulu bersahabat terlintas di pikiran Cind. Dia membayangkan betapa terkesimanya orang-orang di seluruh dunia apabila mengetahui persahabatan Rey dan Noah. Dua pemuda tampan yang berasal dari keluarga kaya raya. Ya, walaupun Rey hanya anak tiri dari Davidson, tapi setidaknya pria itu memegang jabatan yang cukup menarik sebagai senjata untuk memikat banyak wanita muda.
“Aku setuju,” ujar Cind, matanya menatap kuat pada Noah. “Asalkan kau memutuskan semua wanita yang menjadi pacarmu, atau wanita yang kau kencani, atau p*****r yang kau temui di bar. Termasuk, Melissa.” Cind berkata dengan tegas dan penuh penekanan. Wajahnya yang anggun sekaligus kuat tampak seperti wanita berumur 25 tahun yang siap memutuskan pacarnya yang ketahuan selingkuh.
Noah tercengang. Memutuskan para wanitanya? Memutuskan Melissa? Tapi, entah insting keplayboy-annya ataukah mungkin nalurinya sebagai lelaki, Noah merasa Cind memintanya memutuskan para wanitanya adalah karena Cind cemburu. Cind mulai jatuh cinta padanya?
“Syarat darimu berat juga,” protes Noah dengan cengiran kecil.
“Siapa wanita yang paling berat untuk kau lepaskan?” pertanyaan Cind kali ini tidak terduga, Noah terperanjat mendengar pertanyaan beraroma dingin itu.
***
Musim semi telah tiba. Tumbuhan-tumbuhan yang rontok berubah indah. Pohon-pohon mulai tumbuh, daun-daun muncul dan bunga-bunga bermekaran. Musim semi adalah musim favorit Cind di antara tiga musim lainnya. Musim semi adalah saat yang tepat untuk berpiknik. Cind ingin menggambar wajah seseorang. Wajah imut yang memiliki bola mata biru cerah. Wajah Rey.
Cind sudah memberitahu Mr. Davidson dan ibu tirinya tentang rancana liburannya bersama Rey ke London. Awalnya Mr. Davidson tidak setuju, tapi, Mrs. Davidson melobinya untuk mengizinkan Cind ke London bersama Rey. Mrs. Davidson juga senang melihat kedekatan putri tirinya dengan putra kandungnya itu. Dia bahkan tak menyangka sama sekali kalau Rey akan secepat ini akrab dengan Cind. meskipun jauh di kedalaman hatinya, dia dan Mr. Davidson menaruh kecurigaan terhadap kedekatan Cind dan Rey. Dia takut Rey memengaruhi Cind untuk menolak menikah dengan Noah. Namun Noah sudah memberitahu kepadanya dan Mr. Davidson kalau Cind bersedia menikah dengan Noah. Kelly tentu saja bahagia mendengar informasi tersebut. Dia tidak perlu bersusah payah mengatakannya kepada Cind.
Cind memiliki argumen yang kuat sebagai alasannya menerima perjodohan ini. Cind menyukai Noah. Tentu saja itu bohong. Dan kebohongan itu sudah tercium oleh Kelly dan ayahnya. Namun, mereka berpura-pura kalau itu adalah alasan sebenarnya Cind menerima perjodohan.
Telepon berdering, Cind nyaris terlonjak karena melamun. Tertera nama di layar, Lizzy.
“Halo.” suara di sana. Suara yang menahan luapan kebahagiaan.
“Iya, Lizzyku, sayang.” Sahut Cind tak kalah bahagianya.
“Kapan kau ke sini, Cind?” nada suara Lizzy terdengar tak sabar.
Cind memutar bola matanya. Rey belum menghubunginya lagi. “Akan aku beritahu nanti setelah aku bertemu Rey.”
“Rey?!” serunya terkejut. Sebelumnya, Cind pernah menceritakan soal kakak tirinya itu pada Lizzy.
“Kau akan ke sini bersama Rey?”
“Iya, Lizz. Dia akan berlibur di London untuk beberapa hari. Kita akan menemaninya menikmati keindahan London.”
“Wow! Aku akan menemani pria tampan dari Amerika?” kata Lizzy takjub.
Cind terkekeh.
“Kenapa kau tertawa?”
“Kau lucu sekali! Hei, dengar ya, kau ini masih bocah.” Cind mengingatkan.
“Kenapa dengan aku yang masih bocah?” tanya Lizzy menantang.
“Kau tidak boleh menyukai seorang pria sebelum usiamu 14 tahun. Itu pesan Nenek.” Cind kembali mengingatkan pesan almarhuma neneknya.
“Aku hanya memuji Rey sebagai pria tampan dari Amerika, bukan berarti aku menyukainya.” Protes Lizzy.
“Aku hanya mengingatkan.”
“Aku hanya memuji.” Lizzy tak mau kalah.
“Huh! Susah ya, kalau bicara dengan bocah 8 tahun.”
“Huh! Susah ya, kalau bicara dengan gadis 18 tahun.” Lizzy meniru gaya bicara Cind.
“Non Cind,” seru Olivia masuk ke kamar Cind. Cind maklum karena pintu kamarnya tidak tertutup.
“Kenapa Olivia?” tanya Cind dengan ponsel masih menempel di telinganya.
“Ada Noah di bawah.” jawab Olivia.
Noah lagi?
“Aku akan turun sebentar lagi.” katanya pada Olivia.
“Baik Non.” kata Olivia patuh. Dia melesat pergi meninggalkan Cind.
“Siapa itu Noah?” tanya Lizzy. Cind belum pernah menceritakan soal Noah kepada Lizzy. Meskipun Noah telah membantunya menyumbang pada salah satu organisasi amal. Namun, Cind masih enggan menceritakan Noah pada adiknya.
“Kalau aku sudah di London, aku akan menceritakannya, Lizzy.” Kata Cind berniat menutup telepon.
“Tadi Megh mencarimu.” Lizzy menahan Cind mengucapkan ‘bye’.
“Megh?” Cind menganga, cukup terkejut. Mendengar nama itu membuat hati Cind serasa diremas.
“Megh bilang, dia ingin bertemu denganmu. Katanya, Dia rindu denganmu, Cind. Dia banyak bercerita tentangmu. Dia bahkan menangis saat Mam memberitahu kalau kau sekarang tinggal di Brooklyn.”
Bagaimana pun juga, Cind sudah mema’afkan Megh meski pengkhianatan itu belum bisa dilupakannya. Cind bukan Noah yang melakukan balas dendam dengan menjadi playgirl dan merebut kekasih sahabatnya.
Aku tahu, ternyata ini yang dirasakan Noah. Berdamai dengan seseorang yang sudah merebut orang yang dicintai adalah hal yang sulit.
“Berapa lama lagi aku harus menunggu Cinderella?” suara pria yang tak asing itu membuat Cind tersentak.
“Noah?” matanya terbelalak lebar melihat Noah secara ajaib ada di dalam kamarnya. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah santai. Dia tidak mempedulikan Cind yang terkejut sekaligus ketakutan.
“Aku akan menelponmu lagi nanti.” Cind mematikan ponselnya secara sepihak.
“Kau—“ Cind beranjak dari ranjangnya, dia berniat mengusir pria kurang ajar yang masuk ke kamarnya tanpa izin.
“Aku mau mengajakmu pergi,” kata Noah, dia terus berjalan mendekat. Cind mundur teratur hingga dia tidak bisa mundur lagi karena dinding sudah menyentuh tubuhnya.
“Aku tidak bisa, Noah. Aku ada perlu,” ujarnya bohong.
“Perlu apa?” Noah sampai di hadapan gadis muda yang tampak kikuk dan gugup itu.
“Kau tidak perlu tahu.”
“Perlu! Aku calon suamimu. Itu hakku untuk mengetahui kegiatanmu.” Noah menatap bibir bentuk busur cupid Cind. Bentuk bibir yang persis seperti Nicole Kidman. Bentuk bibir busur cupid adalah bentuk bibir kesukaan Noah.
Cind mengernyit bingung. “Posesif,” tukas Cind.
Noah tersenyum legit. Tanpa aba-aba, pria itu meraih wajah Cind dengan tangannya dan mencium rakus bibir busur cupid Cinderella. Ciuman itu cukup panjang hingga tak memberikan Cind kesempatan untuk bernapas.
Di balik pintu kamar yang terbuka, Rey yang baru datang dan hendak memberitahu Cind tentang rencana liburannya ke London—menatap adegan itu dengan ekspresi terluka.
***