BAB 19

968 Kata
Aku mengikuti Rey yang melangkah dengan wajah tertegun. “Rey, aku tidak mau pulang sekarang.” Kataku berhasil menghentikan langkahnya. “Aku masih ingin ke tempat lain,” lanjutku yang menuai senyuman manis dan lebar yang memperlihatkan lesung pipi Rey. “Siapa yang mau mengajakmu pulang?”    Aku terpana mendengar ucapannya. Aku menatap Rey dengan ekspresi tenang dan tersenyum semanis senyum Rey. *** Rey membawaku ke sebuah wilayah sub-urban yang tenang. Aku melihat toko-toko vintage yang menjual barang-barang klasik dari mulai pakaian hingga aksesori dan perbotan rumah tangga. “Williamsburg adalah salah satu wilayah sub-urban yang aku sukai.” Katanya seringan mungkin seakan tak terjadi apa-apa sebelum ke sini. “Aku juga sepertinya mulai jatuh cinta dengan suasana di sini.” Aku menggembungkan pipi, entah bagaimana tapi aku mulai melakukan ekspresi wajah yang sering dilakukan Lizzy. “Williamsburg juga dikenal sebagai hipster Culture, lho. Banyak komunitas seniman di sini.” “Wah, sepertinya kalau aku menikah dan tinggal di sini, seru juga ya. Mungkin aku bisa menjadi bagian dari komunitas seniman.” Rey tersenyum kecil. “Itu kalau Noah mau tinggal di sini.” Komentar Rey sukses membuat mulutku menganga. “Noah?” Mataku menyipit, meminta penjelasan Rey. “Ya, dia calon suamimu, Cind.” “Tapi aku tidak bilang aku menikah dengannya,” elakku seraya merapikan sarung tangan yang—sebenarnya tidak perlu dirapikan. “Tapi kau akan menikah dengannya.”                                          Hening. Aku memandangi setiap pejalan kaki yang tampak sibuk memilih toko yang akan dimasukkinya terlebih dulu. Aku menghela napas panjang, ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada Rey. Ini sesuatu yang pribadi. Tentang Melissa. “Apa Melissa yang bersama Noah itu—Melissa kekasihmu atau—“ “Mantan kekasihku.” sela Rey. “Kenapa?” “Oh. Tidak. Aku sudah menduganya. Lalu kenapa sekarang Melissa bersama Noah? Mereka berpacaran, kan?” Rey menatapku. Dia hanya diam. Hanya menatapku. Aku balas menatapnya. Aku seakan hanyut akan tatapan mata birunya. Aku suka mata itu. “Noah mengambilnya dariku.” ucapnya getir. “Kau masih mencintainya?” tanyaku penasaran. Teramat penasaran meski aku tahu Rey masih mencintai Melissa sepenuhnya. Tidak ada yang berubah dari perasaannya kepada Melissa. “Aku—“ “Kalau kau tidak mau mengatakannya, tidak usah dikatakan Rey.” Aku memegang bahunya. Aneh. Aku merasakan getaran listrik ketika menyentuh bahu yang dilapisi mantel cokelat tua itu. Rey tersenyum tipis, tapi aku tahu kalau hatinya bergejolak. Aku melepas tanganku dari bahunya. “Mam pernah berkata bahwa sesuatu yang sudah lepas, lepaskanlah. Dia tidak akan lepas kalau dia memang ditakdirkan milik kita.” Rey bergeming. Dia mencoba mencerna apa yang aku sampaikan. Aku mengaplikasikan apa yang Mam katakan ketika aku tahu Joe mengkhianatiku. Dan ya, Joe memang tidak layak untukku. Cinta itu pun luruh begitu saja. “Sebenarnya, dulu saat aku dan Noah masih kuliah, aku dan Noah adalah sahabat dekat. Sedekat ini,” dia menunjukkan kedua tangannya yang dirapatkan seperti orang berjabat tangan. Sungguh, aku terkejut mendengar bahwa mereka pernah bersahabat sedekat itu. “Kami saling mengatai orang tua kami. Kami sering pergi ke bar bersama setelah pulang kuliah.” Rey menghela napas panjang. Matanya menerawang jauh ke masa itu. “Kami sangat dekat, Cind. Aku menganggapnya bukan sebagai sahabat tapi saudara. Apalagi orang tua kami begitu akrab.” Aku mendengarkan ceritanya dengan seksama tanpa menyela dan bertanya. Karena Rey perlu didengar. Aku yakin dia tidak pernah bercerita kepada siapa pun tentang masa lalunya dengan Noah. “Kami berjanji untuk tidak akan menyukai gadis yang sama. Saat itu kami menyukai gadis yang sama, namun karena janji yang sudah diikrarkan kami memutuskan untuk menjauhi gadis itu. Sialnya, gadis itu terus mendekatiku hingga aku tidak bisa menolaknya—ketika dia mengajakku ke rumahnya yang sepi. Dan saat itulah aku tahu bahwa dia merekam kami yang sedang berciuman. Aku tidak tahu soal rekaman itu, bahkan gadis itu tidak memberitahuku. Noah tahu dari gadis itu langsung, aku tidak tahu apa maksud gadis itu dengan memberitahu Noah soal rekaman ciuman kami. Dan aku masih ingat wajahnya yang terluka. Noah mencintai gadis itu melebihi aku menyukai gadis eksostis itu.” “Aku tidak ingin berteman denganmu lagi. Aku kecewa padamu Rey.” “Ma’afkan aku Noah tapi aku tidak bermaksud, aku tidak bisa menolaknya dan aku tidak—bermaksud—“ “Noah pergi dan sampai sekarang kami tidak pernah bicara.” “Ya ampun,” Aku menyesal mendengar cerita masa lalu antara Rey dan Noah. Aku mendecakkan lidah. “Itu hal sepele.” komentarku. Rey tersenyum miring. “Tidak sepele kalau kau benar-benar mencintai seseorang, pastilah kau marah dengan apa yang aku lakukan.” “Bagiku persahabatan lebih penting daripada soal percintaan.” Aku menatap kosong salah satu toko vintage di depannya, mataku seakan menerawang pada Joe dan Megh. Persahabatan dan cinta sekaligus pengkhianatan. Apa bedanya kisahku dan kisah Noah. Kami sama-sama merasa dikhianati. “Aku akan berusaha mema’afkan,” Ya, setidaknya aku sudah mema’afkan Joe dan Megh meski mema’afkan juga bukan berarti melupakan. “Tapi Noah tidak bisa mema’afkanku. Kadang orang baik memang akan menjadi jahat ketika merasa dikhianati. Dia mempermainkan banyak wanita. Dia juga telah merebut—” Mata kami saling bersitatap, “Melissa.” Rey menghela napas dalam. “Baru kali ini aku merasa benar-benar jatuh saat kehilangan Melissa. Butuh waktu lama untuk bisa melupakan dan mema’afkannya. Tapi...” Rey tersenyum hambar. “aku tidak bisa. Aku masih sering datang ke apartemennya.” Aku tertegun mendengar cerita Rey. Ini kisah yang rumit. Kalau aku bisa melepas Joe dengan mudah, Rey malah tidak bisa melepas Melissa. “Lepaskan apa yang sudah lepas, Rey. Melissa tidak memilihmu, sekali dia tidak memilihmu, dia tidak akan pernah memilihmu lagi.” Kataku memberi penekanan pada setiap patah kata. Rey menatapku penuh makna. Dia tersenyum lembut. “Akan kucoba.” katanya masih dengan senyum yang lebih lebar seakan bebannya terbang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN