BAB 18

665 Kata
Dalam atmosfer cokelat yang aromanya menguar ke udara, Noah dan Melissa duduk dalam diam. Melissa masih tercengang atas apa yang dilihatnya barusan. Mantan pacarnya bersama adik tirinya. Hanya berdua. Dan Noah, tentu saja ia merasakan hal yang sama. Rey yang dikenalnya dulu bukanlah tipikal pria yang gampang dekat dengan wanita. Namun dalam pandangan Noah, pertemuannya dengan Rey dan Cinderella seolah ada sesuatu di sana. Sesuatu yang jarang Noah temukan dalam tatapan mata Rey—selain tatapan ke Melissa, tentunya. Melissa membelai bagian pinggir rok motif bunga-bunganya seakan di sana ada debu yang menempel. “Kau cemburu melihat Rey dengan Cind?” tanya Noah seraya melonggarkan dasi abu-abu motif zig zag. Beberapa detik Melissa menatap Noah dalam tatapan yang memiliki makna sebaliknya dari apa yang diucapkannya, “Tidak.” Aku cemburu... sangat cemburu pada gadis itu. Bagaimana bisa Rey pergi dengannya, berdua? meskipun dia adik tiri Rey tapi... Rey tidak semudah itu dekat dengan wanita. “Tidak usah cemburu begitu, Cind adik tiri Rey. Mereka tidak mungkin punya hubungan khusus.” Noah tampak tenang seakan dia tahu kalau Melissa memang cemburu melihat kebersamaan Rey dan Cinderella. Tapi apa hak Melissa untuk cemburu? Dia hanya mantan pacar yang membutuhkan Rey ketika Noah pergi.  Melissa menatapnya kesal. “Aku tahu dan aku tidak cemburu. Aku kekasihmu, Noah. Rey hanya masa laluku.” Noah membasahi bibirnya. “Aku ingin menikah secepatnya.” ucapan itu meluncur begitu saja seperti meteor yang jatuh. Noah tidak terkejut. Mungkin ini ucapan ke seratus kalinya dari bibir tipis lembut Melissa. Dan ke seratus itu pula Noah mengelak dengan alasan-alasan yang ditambah-tambahkan. Tahukah kamu, Melissa... Cinderella—adik Rey itu—calon istriku. Bagaimana cara aku memberitahumu bahwa aku tidak bisa menikah denganmu? Kalau saja aku boleh menikah lebih dari satu kali, aku akan menikahi 10 wanita sekaligus. Cih!                                                              Noah tersenyum masam. Andai saja fantasinya menikah dengan 10 wanita sekaligus adalah kenyataan, dia pasti akan menjadi pria yang berbahagia. 10 wanita sekaligus? “Kalau kau masih membicarakan pernikahan, lebih baik aku pergi.” Ancamnya serius. Melissa tersenyum miring. “Apakah kau baru saja korslet?” tanyanya tak percaya. “Melissa, kita bisa berpelukan, berciuman dan melakukan apa saja kapan pun kita mau tanpa harus menikah. Aku bisa memberikanmu apa saja yang kamu minta, tapi, tolong, jangan menuntutku untuk menikahimu secepatnya.” Sebuah ekspresi terluka terlukis di wajah Melissa. “Aku takut kau akan berpaling dariku. Aku takut kehilanganmu, Noah. Aku sayang dan aku merasa nyaman bersamamu. Sangat nyaman. Aku tidak pernah merasakan kenyamanan dan ketakutan segila ini sebelumnya.” Ada ledakan kecil di d**a Noah, rasa bangga sekaligus terharu. Noah menatap lamat-lamat bola mata hijau milik Melissa seakan menelusuri kejujuran di setiap perkataannya. “Apa yang bisa menjamin ucapanmu itu, bahkan kau meninggalkan Rey demi aku. Bisa saja suatu saat nanti kau meninggalkan aku demi pria lain.” Kata Noah mencoba menguji Melissa. Melissa menelan ludah. Pahit. Itu yang dirasakannya. “Kau meragukan kesetiaanku?” Wajah cantik Melissa berubah gelap. “Noah, selama ini aku tahu bahwa kau tidak hanya mengencaniku. Kau mengencani banyak wanita. Aku—bahkan menelan semua kepahitan ketika di media online kau muncul dengan wanita lain selain aku. Aku bersabar atas apa yang kau lakukan terhadapku. Aku diam, bukan berarti aku tidak tahu. Aku tahu. Aku tahu, Noah!” Matanya memanas. Sudut mata Melissa menghangat. “Melissa...” lirihnya. Noah tampak tenang sekalipun Melissa menangis meraung-raung di hadapannya. Itu tidak akan mampu membuatnya berubah dari Bad Boy menjadi Good Boy. Noah bukan burung merpati yang setia kepada pasangannya. Butuh waktu dan butuh cinta yang tak biasa untuk dapat menaklukan kenakalannya. Melissa bukan wanita yang tepat untuk membuat Noah berubah. Karena di dalam cinta Melissa ada hal lain yang tidak menyangkut hati. “Aku butuh waktu untuk menenangkan diriku. Aku butuh waktu untuk menghilangkan segala rasa sakit yang kau buat, Noah.” Melissa meraih tas Luis Vuitton asli miliknya, dan pergi dengan langkah cepat. Noah tidak berniat mengejarnya. Sama sekali tak berniat. Entahlah, tapi dia yakin beberapa saat kemudian, Melissalah yang akan menghubunginya lebih dulu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN