BAB 17

1539 Kata
Aku merasa Noah memang bukan pria biasa. Dia, tentu saja tampan dan menawan. Dan dia tidak hanya memujiku tetapi juga mendukung dengan ikut menyumbangkan uangnya  untuk organisasi amal. Lizzy pasti akan sangat berterima kasih pada Noah melihat nominal uang yang Noah sumbangkan. Tapi di balik itu semua, ada sesuatu dari pria itu. Aku menangkap tatapan yang jelas bukan tatapan biasa. Tatapan ganjil yang seakan mencoba menghipnotisku dan menarik diriku masuk ke dalam samudera matanya. “Cind,” aku menoleh dan melihat Kelly dengan rok high waisted berwarna biru. Dia duduk di sampingku, tersenyum ramah. “Bisakah kau kecilkan volume televisinya, aku ingin berbicara denganmu, sayang.” Pintanya. Tanpa mengatakan ‘iya’ aku mengecilkan volume suara televisi. “Bagaimana pendapatmu tentang Noah?” Aku mengernyit. “Noah?” “Ya, bagaimana penilaianmu tentang Noah?” tanyanya dengan sorot mata berbinar. “Menawan dan tentu saja, tampan.” Jawabku sedikit acuh tak acuh. Kelly tersenyum dan menjulurkan kepalanya mendekat. “Apa kau penasaran dengannya? Kau tahu, nyaris seluruh wanita di dunia ini ingin berkencan dengannya. Kalau saja aku masih muda, aku pasti masuk dalam jajaran wanita yang rela mengantre hanya untuk berkencan dengannya.” Aku menahan diri untuk tidak tertawa. “Ya, aku tahu.” Aku menahan diri untuk mengatakan bahwa aku pernah melihat Noah dengan salah satu model seksi di Coffe Shop dan ya, si Melissa? Mungkinkah itu mantan pacar Rey? Anakmu, Kelly? “Begini, kuharap kau bisa dekat dengannya. Dia pria istimewa, Cind. Hanya wanita beruntung yang mendapatkannya.” “Iya, banyak wanita beruntung yang dikencaninya.” Celetukku masih acuh tak acuh. Kelly terdiam sesaat sebelum berdeham dan mengatakan, “Kalau kau memiliki kesempatan untuk dekat dengannya, apakah kau mau?” dia bertanya dengan raut wajah penuh harap. Aku menarik napas perlahan, “Sebenarnya, tidak.” Raut wajah Kelly tampak kecewa. “Tapi, melihat dia yang rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit demi organisasi amal, aku mulai tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.” Aku tidak tahu kenapa kalimat seperti ini yang keluar dari kedua daun bibirku. Aku jelas menyesali ucapanku. “Aku senang mendengarnya, sayang.” Katanya seraya bangkit dari sofa dengan bibir terus mengembang senang. Tapi aku tidak senang mendengar ucapan konyolku. “Non, ada telepon dari Tuan Rey,” seru Olivia dengan tangan membawa ponsel standar miliknya. “Rey,” aku mengernyit heran. “Kenapa dia tidak menelponku saja?” “Kalau Tuan Rey tahu nomor telepon Non Cind, pasti dia menelpon Non.” Kata Olivia dengan cengirannya. “Iya juga, ya. Emmm—“ aku mengambil ponsel yang terjulur dari tangan Olivia. “Hallo, Rey,” sahutku. “Cind, hari ini aku berniat mengajakmu ke suatu tempat. Aku tunggu kau di toko bunga Rose Coff. Olivia akan mengantarmu ke sana.” Tut-tut-tut. Tanpa menunggu jawabanku, Rey langsung mematikan ponselnya secara sepihak. “Ayo, Non, kita siap-siap.” Kata Olivia dengan  wajah cerah seakan dia akan dilepas dari penjara yang kumuh. Dalam lautan pikiranku, aku bertanya-tanya. Namun, aku mencoba membungkam semua pertanyaan. Aku akan tahu setelah nanti aku bertemu Rey. Memang agak aneh, Rey tipikal pria cuek yang cukup menyebalkan. Lalu, tiba-tiba dia mengajakku pergi ke suatu tempat. Aneh. Dia penuh kemisteriusan. Tapi aku suka, setidaknya Rey dan aku bisa akur. Dan jauh di dalam lubuk hatiku, aku ingin lebih dekat mengenal Rey. Bukan Noah. Aku lebih penasaran dengan karakter dan kehidupan Rey. Ada sesuatu di dalam pria itu. “Non, ayolah siap-siap. Tuan Rey sudah menunggu Non Cind.” desakkan dalam nada bicara Olivia membuyarkan pikiranku tentang Rey. Aku tersenyum dan bangkit dari sofa. “Non,” panggilnya lirih. “Ya,” sahutku.                                   “Jarang, lho, Tuan Rey seperti ini, dia pria yang dingin kecuali dengan mantan pacarnya.” Bisiknya dengan kerlingan mata menggoda. *** Jarang, lho, Tuan Rey seperti ini, dia pria yang dingin kecuali dengan mantan pacarnya. Ucapan Olivia terus terngiang di telingaku. Aku tidak tahu bagaimana ucapan itu seakan hidup dan menciptakan sesuatu di hatiku. Sesuatu yang seakan-akan Rey mempedulikanku, meskipun dalam kalimat yang dilontarkan Olivia menegaskan bahwa Rey masih mencintai mantan kekasihnya. Sekarang aku berada di The Chocolate Room. Setelah aku menemui Rey di Rose Coff, Olivia pulang dan Rey mengajakku ke kafe ini. Aroma cokelat menguar ke udara. Aku suka bau cokelat. Ruangan kafe ini di d******i warna cokelat tua, nyaman dan menentramkan. Aku memesan Cheesecake dan Berry Kolak dan Chocolate Milk sedangkan Rey hanya memesan Classic Hot Chocolate. Dia menyesap minumannya dan aku mulai mengacak-ngacak Cheesecake. Sesekali aku mencuri pandang untuk melihat mata kucing berbola mata biru cerah miliknya. Wajah imut dengan penampilan maskulin yang unik dan menurutku—itu salah satu daya tarik Rey yang tidak bisa dipungkiri. “Kenapa?” tanyanya ketika matanya beradu pandang denganku. Dia menangkapku sedang menatapnya. Ah, sial! “Tidak apa. Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau mengajakku ke sini?” Rey mengalihkan pandangan, menatap seorang wanita berpenampilan retro dengan anjing jenis Chihuahua warna cokelat muda. “Aku...” dia menatapku. “Aku tidak tahu.” Katanya seraya mengangkat bahu. “Lho, kok tidak tahu?” Dia menarik napas perlahan dan mengembuskannya perlahan. “Aku hanya ingin mengajakmu pergi. Itu saja. Kau kesepian, kan, di rumah?” “Aku tidak percaya dengan alasanmu, Rey.” kataku jujur. “Baiklah, kau pintar mengenali kebohongan.” Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas. “Aku hanya ingin menjadi kakak yang baik. Aku ingin tahu perkembangan hubunganmu dengan Noah.” Nada suara Rey terdengar santai tapi siapa pun itu pasti dapat merasakan sedikit kesinisan di dalamnya. Meskipun aku meyakini kalau Rey memang berbohong ketika dia mengatakan hanya ingin mengajakku pergi, Namun saat mendengar jawaban yang terdengar jujur, dia benar-benar unpredictable. “Jadi, kau sudah bertemu dan berbicara langsung dengan Noah?” dia duduk bersender di sofa beledu. “Ya.” aku mulai menggigit Cheesecake. Dia mengangguk-ngangguk seolah sedang memikirkan pertanyaan selanjutnya. “Bagaimana kesan pertamamu bertemu dengannya?” “Aku sudah pernah bertemu dengannya di London—aku sudah mengatakannya padamu, kan?” “Ya, aku ingin tahu isi percakapanmu dengan Noah.” Aku meletakkan sendok dan garpu di atas piring dengan emosi tertahan yang entah datang darimana emosi itu, aku menatapnya serius. “Kemarin, aku, Dad dan Kelly datang ke rumah megah keluarga Sanders. Di sana ada Melissa,” aku sengaja memberi jeda dan Rey tampak setengah terkejut. “Ibumu berbicara dengan Melissa. Aku tidak tahu masalah apa yang ada di antara mereka, tapi yang jelas—mereka seperti kucing dan anjing. Noah datang masih mengenakan piyama, dia menyambut kami, Melissa tampak tidak suka, lalu dia pergi. Sepertinya dia cemburu padaku.” “Cukup?” tanyaku pada Rey yang duduk terpaku. Wajahnya berubah sendu. Apakah Rey begitu mencintai Melissa hingga terlihat jelas bahwa dia merana mendengar Melissa bersama Noah? Rey duduk tegak. “Cukup.” “Kau mengajakku ke sini hanya untuk tahu kejadian kemarin?” Aku menatapnya penasaran. “Emm—tidak juga.” “Lalu?” Rey berusaha menutupi kesenduan di wajahnya, namun, aku termasuk orang yang bisa menangkap sesuatu dari ekspresi wajah seseorang. “Setelah musim dingin ini selesai, aku ingin ke London. Aku ingin berlibur di sana untuk beberapa hari. Aku butuh tour guide. Apakah Cinderella ini mau menjadi tour guide?” “Hahaha,” aku terkekeh. “Hei, kenapa tertawa?” tanyanya dengan ekspresi heran. “Tentu saja, aku mau!” seruku gembira. “Sebentar lagi musim dingin berganti dan aku akan kembali ke London...” ceracauku pada diri sendiri. “Oh ya, kau tidak perlu menginap di hotel. Kau tinggal di rumahku saja. Di rumah ada adikku. Namanya Lizzy, kau pasti menyukainya. Dia masih bocah tapi pemikirannya mirip gadis 17 tahun.” Rey hanya diam dengan senyuman tipis seakan bingung dengan celotehku. Dan aku tidak tahu bagaimana bisa aku berbicara seriang dan segembira ini pada seseorang yang masih asing. Aku mengenalnya tidak lebih dari 200 jam. “Ma’af, aku terlalu bersemangat.” Wajahku pasti sudah memerah. “Tidak apa. Aku pasti menyukai adikmu.” Katanya dengan senyum yang secara ajaib menghilangkan sendu di wajah imut Rey. “Aku benci kau mengabaikanku!” kata seorang wanita dengan nada cukup tinggi, aku dan Rey menoleh ke sumber suara. Melissa... Melissa dan Noah. “Ma’af, tapi aku harus mengutamakan keluarga Davidson. Kau tahu betapa Dad begitu menghormati sahabatnya itu.” Ujar Noah membela diri. Aku dan Rey terpaku menatap dua orang yang sedang berjalan menuju meja di depan kami. Mata kami saling beradu. Hening. Senyap. Seakan kami berada di dimensi lain. Hiruk-pikuk di sekitar kami seakan lenyap begitu saja. Aku menoleh pada Rey, “Rey,” panggilku lirih. “Lebih baik kita pergi.” katanya dengan nada rendah namun tegas. Aku mengekor Rey yang berjalan menuju pintu keluar. Noah dan Melissa terdiam di tempat. Mereka membatu. Rey dengan sengaja berhadapan dengan Noah. Kilatan emosi sesaat membara di kedua bola mata biru milik Rey. Aku dan Melissa hanya menatap mereka dengan kebingungan bercampur ketakutan. Aku takut mereka melakukan tindakan yang mengarah pada kriminal. Rey menatap mata Noah beberapa saat. Aku seakan menonton sebuah film yang mempertontonkan dua pria dewasa yang tampan dan sempurna yang siap mati untuk mendapatkan seorang ratu. “Cinderella,” panggil Noah lirih ketika aku mengekor Rey. Aku menoleh, menatap wajah berahang kukuh itu. Entah dorongan dari mana, aku tersenyum. Lalu kembali mengekor Rey tanpa mau menunggu senyuman balasan dari Noah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN