Beberapa menit selepas kepulangan Melissa yang meninggalkan jejak kecemburuan yang begitu kentara, Cind permisi ke toilet. Noah dengan ramah mengantarnya ke toilet. Sembari berjalan mereka terdiam. Bergulat dengan pemikiran masing-masing tapi Cind tahu kalau Noah memperhatikannya seperti seekor beruang kutub yang melihat anak rusa menyebrang.
“Tidak usah menatapku seperti itu.” kata Cind, Noah terkesiap. Entah apa yang ada di pikiran pria dengan predikat Bad Boy itu.
“Aku bukan alien yang baru turun dari UFO. Aku manusia.” Noah mengenyit heran. Apakah itu semacam gurauan? Lelucon? Atau suatu pernyataan?
“Aku tidak menganggapmu alien, emmm, Cin-de-re-lla.” Noah mengatakan nama Cinderella seperti anak 5 tahun yang sedang mengeja.
“Tapi tatapanmu mengatakan hal demikian.”
“Toiletnya di sebelah sana,” Noah menunjuk pintu toilet berwarna cokelat muda.
“Terima kasih.”
“Ngomong-ngomong, kau ini sensitif sekali,” ujar Noah mendekat pada wajah Cind seraya menyunggingkan senyum maut yang jika senyum itu ditujukan pada tanaman di hutan, tanaman-tanaman itu akan layu seketika. Saking mematikannya senyum itu. Senyum yang sebenarnya hanya ditujukan pada gadis-gadis yang disukainya. Apakah dia mulai menyukai Cinderella?
Sejenak Cind bergeming seakan terhipnotis oleh senyuman Noah. Lalu dia mengerjap-ngerjap.
“Kau sudah tahu tentang perjodohan itu, kan?”
Cind mengangguk. “Sebenarnya Dad dan Kelly belum memberitahu perjodohan ini, tapi aku sudah tahu. Dari Rey.”
Pelipis Noah berdenyut-denyut mendengar nama ‘Rey’ disebut calon istrinya itu. Rahangnya seketika mengeras.
“Dan dari Olivia,” lanjut Cind.
“Siapa Olivia?”
“Salah satu pelayan keluarga Dad.”
“Kau masih muda, Cinderella.” Kata Noah jujur.
“Ya, aku 18 tahun. Oh ya, gadis yang tadi siapa ya? Pacarmu? Bukankah di Coffe Shop sewaktu kau di London kau bersama dengan si model panas itu? Dan pacarmu itu namanya Melissa ya? Aku pernah melihat Rey mengigau nama Melissa.” Cind sempat terkejut akan ucapannya yang panjang lebar seakan tidak dipikir terlebih dulu. Bahkan Cind nyaris melanjutkan ucapannya dengan: Saat itu Rey menjatuhkan aku di ranjangnya, dia memelukku dan menyebut-nyebut nama Melissa seolah aku adalah Melissa yang akan meninggalkannya.
Noah bergeming beberapa saat. Antara terkejut dan bingung. Gadis ini mengintimidasinya. Gadis ini seperti wartawan, penyelidik atau detektif. Ya, semacam itu. Dia berbicara seakan mengatakan, ‘hey, pacarmu banyak ya. Dan Rey mencintai salah satu kekasihmu, namanya Melissa. Namanya Melissa, dengar tidak?!’
“Aku akan ke toilet. Permisi.” Kata Cind canggung, gugup dan ada sedikit rasa takut sekaligus bersalah setelah ucapan liarnya itu.
Noah kembali dengan wajahnya yang agak masam. Tapi dia berusaha tampil memaksimalkan pesonanya pada siapa pun hingga tak ada orang yang akan menyadari bahwa hatinya saat ini agak kacau dan Cinderella dari negeri dongeng itulah penyebabnya. Calon istri yang nyata. Gadis 18 tahun yang sensitif. Mengintimidasi dan berbicara seperti tak punya otak. Apa jadinya jika pernikahan itu benar-benar terjadi. Tapi, tunggu... setelah gadis itu mengetahui bahwa dirinya memiliki kekasih, apakah dia mau menikah dengan Noah. Namun, pasti Mr. Sanders dan Mrs. Sanders memaksanya untuk memutuskan Melissa dan meyakinkan Cinderella kalau Melissa itu tak lebih dari sekadar kapas yang melayang di udara dan jatuh di pangkuannya beberapa saat sebelum kembali diterbangkan angin.
***
“Aku berniat membuat pesta besok malam.” Kata Mr. Davidson.
“Pesta?” Sebelah alis Noah terangkat. Pesta apa ya? Apa semacam perayaan kemenangan karena pria tua itu memiliki seorang putri bernama Cinderella yang akan menikah dengan pria kaya raya yang menyelamatkan aset perusahaannya? Terkaan-terkaan Noah berlalu lalang begitu cepat.
“Ya, pesta untuk putriku, Cind. Dia butuh pengakuan dari publik tentang siapa dirinya.”
“Tidak, Dad.” Cind muncul tiba-tiba. tiga pasang mata menatapnya. “Aku rasa tidak perlu ada pesta. Aku juga tidak butuh pengakuan apa pun dari publik.”
“Ya ampun, Cind, padahal kami ingin memberikanmu kejutan dengan pesta itu.” sela Kelly tersenyum manis.
Terlalu dibuat-buat. Pikir Cind.
Cind duduk tegak seakan dia akan di interview sebuah perusahaan swasta yang merekrutnya sebagai marketing. “Aku baru mendapatkan kabar tentang p********n seks anak-anak. Aku tidak bisa menikmati pesta dan membiarkan anak-anak yang jadi korban p********n seks tersiksa. Kalau Dad bertanya apa yang kuinginkan, aku ingin Dad menyumbangkan uang untuk pesta itu ke organisasi amal yang menangani anak-anak.”
Seketika ketiga wajah yang mendengarkan permintaan Cind melongo antara terkejut dan takjub. Tapi tentu saja ekspresi Kelly berubah cepat, menjadi ekspresi tidak suka.
Cind melihat Noah tersenyum. Ada sedikit ketertarikan di sana, di kedua bola mata pria itu. Namun, tetap saja bagi Noah itu menggelikan. Dia akan menikahi gadis dengan jiwa sosial tinggi. Gadis itu siap membuang-buang uangnya pada organisasi amal.
Sebenarnya Cind tidak bermaksud seperti itu, tapi entahlah. Dia teringat Lizzy yang menelponnya beberapa saat sebelum mereka ke rumah keluarga Sanders. Lizzy menangis sesenggukan seakan Catchy (kucing liar yang sering diberi makan Lizzy) meninggal.
“Cind, aku benar-benar merasa payah jika aku diam saja. Aku melihat banyak anak kecil yang—“ suara Lizzy tertelan tangisnya.
Cind tentu saja bingung dengan adiknya itu. dia baru 8 tahun. Dan dia seorang pemikir berat. Bahkan dia merasa bersalah akan kejadian yang menimpa anak-anak malang di luar sana. Seolah dialah penyebab semuanya, seolah itu adalah kesalahannya.
“Lizzy, tenanglah. Aku berjanji aku akan menyumbangkan uangku untuk organisasi amal. Percayalah, aku akan melakukan itu. Kau tidak perlu bersedih seperti itu, itu bukan kesalahanmu, sayang.”
“Apakah dengan menyumbangkan uang untuk oragnisasi amal akan membantu anak-anak lepas dari p********n?” tanya Lizzy agak tenang. Cind tahu ada harapan dari suara imut Lizzy.
“Ya, jika organisasi amal memiliki banyak dana dari donator, mereka akan mempercepat, memperbaiki dan memaksimalkan semuanya untuk mencapai tujuan organisasi. Tujuanmu dan tujuanku.”
Cind tersenyum. Tentu saja kalau uang untuk pesta disumbangkan semua untuk organisasi amal akan membuat Lizzy bangga padanya. Padahal dia hanya berniat menyumbang 150 Euro.
“Kau luar biasa, Cind.” seru Mr. Davidson. Cind yakin pujian itu jujur dari dalam hati ayahnya.
“Putrimu menakjubkan.” Noah tersenyum, namun entah bagaimana Cind melihat senyuman itu sebagai sebuah seringai yang—
“Tidak, sayang. Kau—“ Kelly menangkap suaminya menatap dengan tatapan teguran. “Ya, tentu saja organisasi amal lebih membutuhkan dana daripada pesta.” Kelly berkata dengan cengiran aneh.
“Aku juga akan menyumbangkan uangku untuk organisasi amal yang kau maksud.” Noah tersenyum miring dan Cind menangkap sesuatu yang aneh dari senyuman pria itu.
Noah mulai tertarik padanya.
Noah menginginkannya.
***