23. Pengaduan Tiba di rumah pukul tujuh malam lampu rumah telah benderang menyambut pandangan. Ini pasti Meilina. Kugegas langkah masuk ke rumah dan pintunya ternyata dikunci. Kunci dari luar sepertinya. Setelah merogoh tas, kuambil satu set kunci, yang terdiri dari beberapa anak kunci. Kubuka pintu dan kosong ruangan tiada siapa-siapa di sini. Biasanya juga seperti ini. Tapi bukankah saat ini, dua malam ini, aku sudah memiliki teman. Kemana Meilina? Tidak membutuhkan waktu lama untuk membersihkan diri. Aku pun sudah bisa duduk santai di tempat tidur dengan memegang ponsel. Kucek notifikasi. Tadi aku pulang diantar Mas Awan. Ya ini masih tentang pertanyaan Mas Awan tadi siang. Aku mulai kepikiran—kembali. Apa yang harus kujawab? Mas Awan memang benar. Kami harusnya segera memastikan

