24. Meilina Aku memiliki kesiapan untuk menikah ketika menjalin hubungan dengan Dovan Elrangga. Waktu itu mimpiku seperti dekatnya kedua mata. Seakan pernikahan dengan Anel—Dovan Elrangga—tidak ada lagi yang akan menghalanginya. Kesiapan itu menguap hilang seiring dengan kepergian Anel. Lelaki itu membawa jauh niatku untuk menikah. Aku tidak alergi dengan pernikahan, bukan itu. Sudah pernah kubilang, aku hanya mengharapkan Anel menjadi suamiku. Dia adalah kekasih terbaikku. Kekasih terbaik itu dahulu, kini hanya masa lalu. Hanya sesuatu yang pernah singgah mengisi masa mudaku. Sebatas seseorang yang mengajarkan kepadaku arti luka. Sampai saat ini, alhamdulillah, Allah telah membabat habis perasaanku kepada lelaki itu. Aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi kepada Dovan Elrang

