25. Z I N A “Dua hari lagi kita menikah!” Bagaikan petir di tengah hari, seluruh tubuhku terasa terbakar. Aku gemetaran mendengar gelegar suara Mas Awan ditambah wajah memerah penuh dengan emosi. Dia segera meninggalkan ruangan makan. Aku menyentuh dadaku. Aku terkejut melihat reaksi Mas Awan setelah aku selesai bercerita. Mengikuti saran dari Meilina tadi malam, aku sudah jujur kepada Mas Awan. Terbata-bata aku akui kalau diriku pernah khilaf melakukan dosa terlarang. Aku juga mengaku pernah keguguran. Mas Awan tadi menggebrak meja keramik, lalu membanting gelas berisi air putih ke lantai. Beberapa belingnya menyambar kaki telanjangku. Lukanya bahkan tidak apa-apa dibandingkan ketakutan yang kurasakan saat didamprat Mas Awan. Reaksi yang dikeluarkan Mas Awan sama sekali tidak pern

