Satu bulan sudah berlalu, berita tentang aktivitas perekrutan yang dilakukan oleh SEMA Capital Corp dan juga Roosevelt Corp, sudah menyebar luas di Meeskatania melalui pemberitaan media sosial yang masif. Semua mata petinggi perusahaan-perusahaan di negara itu, kini tertuju pada dua perusahaan besar itu. Banyak dari mereka ingin mengadakan kerjasama dalam bidang teknologi dan juga penasihat keuangan.
Sean yang tengah berada di sebuah pertemuan dengan karyawannya, menerima banyak sekali panggilan masuk yang ditujukan kepadanya. Masalah yang dihadapi perusahaannya dengan perusahaan Roosevelt, hanya terhitung beberapa hari lagi sebelum diadakannya konferensi pers oleh tim legal dari Roosevelt Corp. Para staf dari SEMA bekerja keras untuk kembali melakukan analisis terhadap kesalahan pelaporan dari salah satu proyek yang dijalankan dengan Roosevelt Corp.
Sean sebelumnya sempat tidak menghiraukan ajakan Amanda untuk memberi tugas itu kepada tim yang baru saja direkrutnya. Hingga siang itu tiba, Amanda datang dengan 3 orang lainnya yang sudah dihubungi olehnya untuk berkumpul di gedung SEMA Capital. Mereka berempat menunggu di ruang kantor Sean, sampai ia selesai dari pertemuannya. Zydan Aszack, Kate Magdalena, dan Clair De Lune terlihat sudah saling mengenal, karena mereka sempat satu kelas di salah satu mata kuliah Metode Penelitian Bisnis di kampusnya.
Amanda yang sedari awal sibuk dengan print-out laporannya, mencoba mencari celah untuk bergabung dengan topik bicara yang sedang didengarnya.
“Itu adalah salah satu mata kuliah yang susah, ‘kan?” tanya Amanda ke arah mereka bertiga.
“Memang susah, tapi saya dapat nilai A,” jawab Zydan.
“Aku juga A,” sambung Kate.
“Hah? Kok kalian bisa dapat A? Aku dapat nilai B di mata kuliah itu,” jawab Clair dengan suara yang terdengar kecewa.
“Hahahaha,” Amanda tertawa mendengarnya, “yang terpenting bukan nilai akhirnya, tapi kalian mampu memahami materi itu, bukan?”
Ketiganya mengangguk dan saling melirik satu sama lain.
“Sebentar lagi Sean akan bergabung bersama kita,” lanjut Amanda, “ini, coba kalian lakukan analisis di laporan keuangan perusahaan Roosevelt. Sebelumnya, mereka menemukan masalah di pelaporan yang tim kita buat.”
Amanda memberikan beberapa lembar kertas yang sudah dicetaknya. Zydan, Kate, dan Clair terlihat sangat antusias mengerjakannya. Terlebih ini adalah tugas pertama bagi mereka setelah diterima menjadi bagian perusahaan itu. Clair yang menerima tumpukan kertas paling banyak, membaginya menjadi beberapa tumpukan lainnya. Ia menyusun satu per satu bagian berdasarkan tahun yang tertulis di kertas itu.
Tidak lama berselang, Sean datang menghampiri ruangan itu. Ia melihat semua orang di ruang kerjanya yang sedang fokus mengerjakan laporan yang diberikan oleh Amanda. “Halo semuanya,” Sean menyapa keempat orang itu, “sebelumnya, saya ucapkan selamat bergabung dengan perusahaan ini. Cepat atau lambat, kalian akan berproses menjadi orang yang hebat jika kalian mampu menggunakan ilmu yang kalian dapat di sini.”
Lagi-lagi Clair tersipu malu. Wajahnya kini memerah melihat Sean yang berdiri tepat di depan meja tempat ia menulis.
“Halo, selamat pagi, Pak —” ujar ketiga orang tersebut.
“Panggil Sean saja, setua itukah saya bagi kalian?” tanya Sean dengan senyuman yang muncul di wajahnya.
Amanda berjalan menuju Sean, dan menjelaskan beberapa hal yang sedang dikerjakan oleh tim baru tersebut. Sean mengangguk dan mengiakan penjelasan Amanda. “Oke, jadi saya dan Sean sudah sepakat untuk memberikan tugas ini ke kalian. Dan yang bertanggung jawab untuk tim kali ini adalah Clair.”
Clair terbelalak sambil menunjuk dirinya.
“Aku?” katanya.
“Betul. Jika ada menemukan kendala lainnya, beritahu saja ke saya atau langsung ke Sean,” tegas Amanda.
“Aku sudah menyelesaikannya,” jawab Clair.
Sean dan Amanda terkaget dan saling bertatapan setelah mendengar ucapan Clair. Clair sudah menyelesaikannya, padahal baru beberapa menit yang lalu lembaran itu diberikan Amanda.
“Sudah selesai, Clair?” tanya Sean yang keheranan.
“Iya, aku sudah menyelesaikannya bulan lalu. Aku sempat menemui Pak Joseph Roose dua hari sebelum acara perekrutan, dan mengerjakan masalah pada laporan keuangan ini di kantor Roosevelt.”
“Ayahku? Bagaimana bisa—”
Amanda berjalan menuju meja tempat Clair menulis. Ia mendekati Clair untuk mendengar penjelasan dari ucapan Clair yang sempat menemui ayahnya. Clair menceritakan pertemuannya dengan Joseph Roose pada Amanda, ia juga menjelaskan dengan terperinci masalah-masalah yang terdapat pada laporan keuangan tersebut. Amanda sempat menyimpulkan, bahwa Clair adalah salah satu penyebab ayahnya tidak meneruskan masalahnya ini pada waktu itu. Namun di sisi lain, Amanda Roose bersyukur bahwa Clair kini menjadi bagian dari perusahaannya.
Mendengar penjelasan Clair, Sean menghampiri Clair untuk memberinya ucapan terima kasih atas apa yang sudah dilakukannya. Ia juga mengatakan bahwa Clair adalah orang yang sangat tepat untuk mengisi salah satu posisi sebagai seorang analis keuangan di perusahaannya itu. Semua orang di ruangan itu bertepuk tangan atas keberhasilan tugas pertama yang dilaluinya.
Setelah menyelesaikan tugas pertama yang diberikan untuk tim itu, Sean dan Amanda mengapresiasi ketiganya, terutama Clair. Mereka hendak mentraktir makan malam hari itu di sebuah kedai di seberang kantor. Zydan, dan Kate bergelegak mendengar ajakan makan malam itu. Tapi tidak dengan Clair, raut wajahnya kini datar. Baginya, tempat itu adalah sebuah memori pertamanya bertemu dengan Sean. Tatapan mata Sean di hari itu yang melihatnya, punya arti sendiri untuk Clair.
Clair membendung pikirannya itu dalam-dalam. Ia meyakini dirinya, apa yang dirasakannya saat itu tidak seharusnya berkepanjangan hingga saat ini. Ditambah karena alasan mereka yang sudah satu tempat kerja, Clair harus menunjukkan sikap profesionalitasnya kepada Sean sebagai seorang atasan. Jika saja, Clair sanggup untuk mengabaikan. Bagaimana jika ia tidak sanggup?
*
Meja yang ditempati mereka itu, diiringi dengan suara tawa yang terdengar sampai ke luar kedai. Beberapa lelucon yang dilontarkan secara bergantian oleh Zydan dan Kate, membuat suasana di acara makan malam tersebut terlihat sangat meriah. Kesan pertama yang diciptakan oleh tim tersebut, berhasil membuat Sean dan Amanda merasa sangat bangga memiliki mereka di perusahaannya.
“Aku sangat terhibur sekali berada di antara kalian,” ujar Amanda.
“Kadang kita harus menjalani hidup ini dengan santai dan tidak terburu-buru, ya ‘kan, Clair?” Tanya Zydan yang menoleh ke arah Clair.
“Eh?”
“Clair, jangan terlalu memikirkan pekerjaan, kita bersenang-senang saja di sini,” ungkap Kate yang duduk di sebelah Clair.
Wajah Clair yang datar sedari awal tiba di kedai itu, membuat Sean bertanya-tanya dalam hatinya. Sebenarnya, Sean masih menyimpan rasa penasarannya itu kepada Clair semenjak pertama kali melihatnya di kedai yang sama tepat satu bulan yang lalu.
“Sebentar, ya? Aku ingin memesan makanan penutup untuk malam ini,” ujar Amanda sambil meninggalkan kursinya menuju kanopi bar tersebut.
Clair juga bergegas meninggalkan kursinya untuk mencari angin segar di balkon lantai 2 kedai itu. Ia berdiri di sepanjang langkan, menyilangkan kedua tangannya, dan memandangi kendaraan-kendaraan yang melintasi jalan tol di hadapannya. Angin malam itu membuat suasana hati Clair sedikit menjadi lembut. Ia mengingat lagi kejadian-kejadian dahulu yang pernah dialami selama perjalanan hidupnya. Mungkin setelah pertanyaan dari Zydan tentang kehidupan.
“Clair, apa kamu baik-baik saja?” Terdengar suara Sean dari belakang tempat Clair berdiri.
Clair menoleh ke arah belakang, melihat Sean yang menyusulinya ke lantai 2.
“Apa kamu percaya, bahwa hidup di dunia ini hanya sekali saja?” tanya Clair yang menjawab pertanyaan dari Sean.
“Tentu saja saya memercayainya, bukankah memang seperti itu? Yang sudah mati tidak akan hidup lagi.”
Clair menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil hingga menampakan bentuk lesung pipitnya yang membuat wajahnya terlihat sangat keperempuanan.
Keduanya saling menyilangkan tangannya masing-masing di langkan dan menikmati suasana di kota Zeeskatania malam itu. Sean sangat ingin sekali menanyakan kepada Clair, tentang hari dimana ia melihatnya melambaikan tangan dan tersenyum kepadanya. Sean berusaha untuk mengurangi rasa egonya sebagai seorang atasan, bibirnya berulang kali terlihat bergumul seperti mengucapkan sesuatu.
“Clair, tepat di bawah lampu jalan itu, saya melihatmu sedang memegang payung dan melambaikan tanganmu ke arah saya.”
Clair sontak melihat Sean. Ia tidak menyangka pertanyaan itu keluar dari mulut Sean.
“Maaf, Pak—”
“Sean,” tegasnya.
“Aku tidak mengerti maksud pembicaraanmu. Seharusnya kita membahas tentang pekerjaan, di samping itu, aku akan bersikap seperti seorang bawahan, karena kamupun adalah atasanku,” ujar Clair yang tidak ingin menjawab pertanyaan Sean.
“Sejak hari itu, saya bertanya-tanya, siapa wanita yang menggenggam payung dan tersenyum ke arah saya, dan meninggalkan saya begitu saja,” ungkap Sean, “kemudian di hari pengumuman hasil internship, bagaimana bisa saya tetap melihat ke arahmu dan kembali mengingatmu untuk kedua kalinya?”
Sikap tubuh Clair seperti tertekan oleh pertanyaan-pertanyaan yang diutarakan oleh Sean. Berkali-kali matanya berputar ke arah yang berbeda, seperti ingin mencari jawaban yang tidak akan ia ucapkan, dan cukup tersimpan di hatinya saja. Sedangkan Sean pergi perlahan meninggalkan Clair yang masih nyaman bersandar di langkan lantai dua kedai itu. Tanpa satu katapun terucap saat Sean berjalan meninggalkannya. Clair tertunduk, kepalanya bertumpu pada tangannya yang masih dalam posisi menyilang. Ia kebingungan untuk menjelaskan semua itu pada
Sean.
Air mata Clair mulai mengalir turun membasahi kedua pipinya. Ini pertama kali baginya merasakan kesedihan yang ia sendiri pun tidak mengetahui alasan pasti. Hanya saja, suasana hatinya saat itu sangat sensitif. Isak menahan air mata yang semakin deras mengalir, sesak dadanya menahan gelisah di batinnya. Orang-orang di sekitarnya sempat memerhatikan Clair yang masih tertunduk mengeluarkan air matanya. Terdengar langkah kaki Amanda Roose dari anak tangga, berlari kecil menghampiri Clair. Tanpa sebuah kata pun, Amanda langsung memeluknya sangat erat. Tangis Clair semakin menjadi-jadi di bahu Amanda.
“Kenapa kamu menangis seperti ini?” tanya Amanda sambil mengusap pundak Clair untuk menenangkannya.
“Maaf, Kak Amanda, bajumu jadi basah begini gara-gara aku,” ucap Clair dalam tangisnya.
“Iya, tidak apa-apa. Sekarang cuci mukamu, biar malam ini kuantar pulang,” Amanda melepaskan pelukannya sambil merapihkan lengan dress Clair yang sedikit terlihat kusut masai akibat lekukan tangannya.
Mereka berdua menuruni anak tangga untuk kembali ke meja tempatnya berkumpul bersama Sean dan anggota timnya yang lain. Clair keluar dari kamar kecil dengan perasaan sedikit lebih tenang setelah Amanda memintanya untuk mencuci muka.
Sean yang menunggunya di meja makan, berdiri untuk meraih tangan Clair dan menuntunnya untuk kembali duduk di kursi yang sempat ditinggalinya itu. Suasana menjadi sedikit canggung di antara mereka ketika melihat pemandangan itu. Clair mencoba untuk mencairkan kembali suasana yang sempat hening karena kekhawatiran timnya.
“Aku masih cantik, ‘kan?” Clair bertanya kepada Kate dan juga Zydan sambil mengedipkan matanya beberapa kali.
“Cantik, tapi matamu jadi sembap karena menangis,” ujar Kate.
“Jujur saja, Clair, di awal semester dulu, aku sempat menyukaimu karena parasmu yang, ah—tidak ada duanya,” canda Zydan.
Clair tersenyum lantaran teman-temannya menghibur dirinya agar kembali senang.
“Coba waktu itu kamu bilang ke aku, siapa tau aku bisa menerimamu menjadi kekasihku. Belum pernah kan kamu punya kekasih cantik sepertiku?” tanya Clair.
Semua orang di meja itu kembali tertawa mendengar Clair yang gemar benar memperguraukan parasnya yang cantik. Tingkah dan sifat kelakar yang dimiliki Clair, memang selalu mampu untuk menghibur teman-temannya, tak terkecuali bagi Sean, yang diam-diam mencuri-curi senyum padanya.
Malam sudah semakin larut, pertemuan mereka di malam itu diakhiri dengan sebuah pelukan. Clair keluar bersama Amanda berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari kedai itu. Sebelum menaiki mobilnya, Clair memastikan lagi jika Amanda benar yakin ingin mengantarnya pulang ke rumahnya di Buitenkatania, yang sangat jauh dari Zeeskatania. “Kak Amanda, kamu yakin ingin mengantarku sampai rumah? Rumahku jauh sekali, loh,” ujar Clair sambil menjinjing tas kecilnya.
“Sejauh apa? Buitenkatania, ‘kan? Sebelum pindah ke apartemen di kota ini, rumahku juga di Buitenkatania,” jawab Amanda sambil membuka pintu mobilnya.
“Tapi, ini juga sudah larut malam—”
“Sudah, masuk saja ke dalam mobil,” ucap Amanda memotong pernyataan Clair yang mengingatkan jam pada saat itu.
“Iya, cepat masuk ke mobil Amanda,” terdengar suara Sean yang tiba-tiba datang ke arah mereka dan membukakan pintu mobil untuk Clair.
Amanda menghentikan langkahnya untuk masuk ke dalam mobil. Ia melihat ke arah Sean yang dengan dewasanya melakukan hal sekecil itu terhadap Clair. Clair hanya tertunduk menganggukkan kepalanya dan menyelipkan rambutnya yang terurai ke belakang telinganya. Ia segera masuk ke dalam mobil Amanda dan menutup pintunya. Clair melihat bayangan Sean berjalan ke arah Amanda, dan mendengar pembicaraan mereka yang tidak bersuara dari dalam mobil itu. Tidak lama kemudian, Amanda masuk ke dalam mobil, dan menyalakan mesin untuk berkendara meninggalkan tempat itu. Dari kaca spion sebelah kiri, Clair melihat kembali Sean yang berdiri di bawah sinar lampu jalan di malam itu.
Selama perjalanan, Amanda tidak menanyakan sama sekali kepada Clair, tentang hal yang membuatnya menangis di pertemuan tadi. Amanda hanya berbasa-basi tentang perjalanan hidupnya selama bekerja sebagai rekan dari Sean. Clair pun mengakui bahwa dirinya mengagumi Amanda Roose sebagai orang yang menginspirasinya untuk menekuni bidang keuangan. Clair bercerita panjang lebar tentang wawasan dan ketertarikannya di bidang itu. Amanda mendengarkannya dengan rasa senang. Ia juga mengetahui kemampuan Clair yang sudah ia lihat sebelumya di portepel milik Clair.
“Oh ya, Clair, perusahaan SEMA akan mengadakan pertemuan dengan perusahaan Roosevelt. Apa kamu bisa menggantikan Sean untuk menemaniku?” tanya Amanda yang sedang fokus untuk menyetir.
“Boleh, Kak, kapan acaranya?”
“Tim legal mereka akan menghubungiku, nanti akan kuberitahu lebih lanjut lagi.”
“Baiklah, dengan senang hati aku melakukannya.”
Mobil mereka melaju pelan setelah keluar dari jalan tol di Buitenkatania. Clair memberi arahan menuju rumahnya kepada Amanda, yang hanya melewati satu jalan besar lagi. Amanda membuka kaca mobilnya, dan menghirup udara malam di Buitenkatania yang sudah lama tidak ia rasakan. Clair juga mengikuti gerakan Amanda.
“Itu dia rumahku,” ujar Clair menunjuk ke arah rumahnya.
Mereka berhenti tepat di depan rumah Clair, dan memarkir mobilnya di depan pagar Clair. Clair meminta Amanda agar menginap di rumahnya malam itu, mengingat malam sudah sangat larut dan berbahaya jika berkendara sendirian di jalan yang sepi itu. Amanda tidak bisa menolaknya karena ia juga merasakan kantuk. Clair meminta tolong asisten pengaman rumahnya, untuk memarkirkan mobil Amanda di dalam garasinya. Setelah keluar dari kendaraannya, Clair meraih tangan Amanda Roose dan menuntun masuk ke dalam rumahnya.
“Besar sekali rumahmu, Clair,” ujar Amanda melihat sekeliling di dalam rumah Clair.
“Terlalu besar untukku yang tinggal sendiri di rumah ini. Aku berniat untuk menjualnya.”
“Kamu tinggal sendiri? Orang tuamu, di mana?”
“Mereka sudah lama meninggal, Kak, dan aku tinggal bersama 3 orang asistenku: Mbak Emma, Pak Ezra, dan Mbak Judith. Mereka sudah kuanggap seperti keluarga sendiri,” jelas Clair sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
“Maaf, Clair.”
“Tidak apa-apa, lagipula aku senang, akhirnya ada orang lain yang menginap di rumahku.”
Melihat kebaikan dan kelapangan hati Clair, membuat Amanda berpikir jika suatu saat dirinya hidup seorang diri seperti Clair. Amanda baru ditinggal ibunya beberapa tahun lalu, setelah meninggal karena sebuah penyakit hati yang dideritanya sejak tahun 2020. Meskipun Amanda tinggal seorang diri di apartemennya, tapi beruntung baginya masih memiliki ayah dan adik laki-laki yang selalu mencintainya.
“Clair, boleh aku tidur bersamamu di kamarmu? Aku tidak ingin tidur sendiri malam ini,” tanya Amanda sambil memerhatikan Clair yang tidak jauh di depannya.
“Boleh dong!” serunya.
Amanda mulai merasa nyaman saat bersama dengan Clair. Sifat Clair yang ramah, mampu membuat seorang Amanda menjadi dirinya sendiri sebagai wanita. Selama ini, rekan kerjanya dan orang-orang yang mengenalnya, melihat Amanda sebagai seorang wanita karir yang sangat pintar dan kaya raya, namun hal itu juga membuat Amanda merasa sukar untuk hidup bersosialisasi seperti wanita lainnya. Bukan Amanda yang menutup dirinya, tetapi orang lain yang terlebih dahulu merasa tidak mampu mengimbangi Amanda yang statusnya adalah anak dari pemilik perusahaan teknologi terbesar di negara itu, dan ia juga sebagai salah satu pendiri perusahaan keuangan terbesar di Meeskatania.
Semua hal itu terbantahkan oleh Clair saat meminta Amanda untuk menginap di rumahnya, dan tidur di satu kamar yang sama. Bagi Clair, berteman dekat dengan Amanda adalah sebuah anugerah untuknya. Hanya segelintir orang yang mampu menerima dirinya, termasuk temannya, Lany dan Emma, salah satu asisten di rumahnya.
Menjadi orang dengan sebuah rahasia besarnya, dinilai Clair sangat menyusahkan dirinya dalam memilih-milih orang yang ia rela hadirkan dalam hidupnya kali ini. Namun perjuangan Clair tidak semudah membalikkan kedua telapak tangannya. Ia bersikeras untuk meneruskan perjalanan kisah hidupnya itu.
Adaptasi baru pada sebuah lingkungan yang dilihat sanggup untuk dimulainya kembali, membutuhkan waktu setidaknya satu tahun sejak kepindahannya ke Meeskatania di tahun 2027. Satu tahun itu pula Clair menutup dirinya dari banyak orang yang menyimpan rasa penasaran pada dirinya, termasuk Sean Rafsanjani.
Clair merasa sangat bersalah saat mulai mengagumi seorang Sean. Yang dilakukannya itu dinilai sangat bodoh dan tidak bertanggung jawab, karena ia tidak memikirkan dampak untuk dirinya dalam waktu dekat atau bahkan untuk jangka waktu yang lama. Dalam hatinya, Clair menyadari rasa kagum itu perlahan berubah menjadi bunga cinta. Ia akan menguburnya dalam-dalam hingga tidak seorangpun dapat melihatnya, atau merasakannya. Meskipun Clair harus merelakan beberapa air mata yang terjatuh akibat pikiran yang selalu berselisih dengan hatinya. Adaptasi baru itu, bukan hanya untuk Clair, tapi juga untuk orang-orang yang selalu berpindah-pindah tempat setiap harinya.