Hari yang ditunggu-tunggu oleh Amanda dan Clair sudah tiba. Mereka berdua sedang mempersiapkan berkas-berkas yang akan dibawanya menuju gedung kantor Roosevelt Corp, untuk menyelesaikan perkara dugaan kecurangan oleh perusahaan SEMA Capital Corp. Beberapa rekan kerjanya juga terlihat sibuk dengan layar komputernya masing-masing, untuk mengecek kembali kekurangan file yang akan dicetak dan dibawa ke pertemuan itu.
Pertemuan hari itu tidak dihadiri oleh Sean. Ia harus kembali ke Nevorusstate untuk menghadiri acara wisuda gelar ‘doktor’nya di University of Nevorusstate. Sean sudah menghubungi Amanda melalui panggilan telepon, dan memberinya arahan untuk menghadapi tim legal dari Roosevelt Corp. Ia juga menyampaikan kepada Amanda, agar memercayai Clair dengan analisisnya. Tugas Amanda hanya bertanggung jawab sebagai seorang presiden direktur di perusahaan SEMA. Apapun hasil dari acara pertemuan itu, Sean memberi kepercayaannya kepada Amanda untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan.
Clair memasukkan berkas-berkas yang tersusun rapih ke dalam mobilnya. Dua anggota timnya yang lain, Zydan dan Kate juga ikut membantu Clair memasukkan barang-barang yang diperlukan ke dalam mobil Clair. Sebelum berangkat, Clair meminta kepada rekannya itu, agar siap sedia untuk dihubungi jika ada suatu kendala yang terjadi di acara pertemuannya dengan Roosevelt Corp.
“Clair, 15 menit lagi,” ujar Amanda mengirimi pesan singkat kepada Clair melalui handphonenya.
“Iya, aku segera ke sana,” balasnya.
*
Clair tiba di ruangan pertemuan, dan duduk di sebelah meja Amanda Roose. Beberapa orang karyawan dari perusahaannya yang terlihat berada di belakang mereka sedang mengeluarkan berkas dari dalam kotak yang dibawanya, dan menyusunnya di meja Clair dan Amanda. Tumpukan kertas-kertas itu adalah hasil pekerjaan analisis Clair dan anggota timnya. Ia yakin mampu menyelesaikan dugaan yang dilemparkan perusahaan Roosevelt Corp terhadap SEMA Capital Corp.
Tim legal Roosevelt Corp mulai memasuki ruangan itu, disusul oleh Joseph Roose yang berjalan di barisan paling belakang. Matanya tertuju pada Clair De Lune. Dua bulan yang lalu, ia masih menjadi seorang mahasiswi amatir yang sedang mempresentasikan analisisnya di ruangan yang sama. Namun hari ini, Clair berpenampilan seperti seorang ahli keuangan dari perusahaan SEMA. Gaun berwarna merah tua sedikit kecokelatan, dengan syal putih yang dipakai melingkari lehernya.
Amanda memulai pertemuan di hari itu dengan memperkenalkan dirinya dan tim yang dibawanya.
“Tunggu, di mana Sean?” ujar Joseph Roose yang memotong pembicaraan Amanda.
“Dia tidak bisa datang ke pertemuan hari ini, karena sedang berada di Nevorusstate untuk menghadiri acara wisudanya,” jawab Amanda.
Joseph mengangguk-anggukkan kepalanya, “baiklah, silahkan melanjuti,” ujarnya.
Amanda meneruskan pembicaraannya terkait dengan permasalahan laporan keuangan yang disusun oleh tim lamanya beberapa bulan lalu. Ia memberikan waktu bicara kepada Clair De Lune untuk melakukan analisis ulang terhadap kesalahan yang mengakibatkan perusahaan Roosevelt Corp itu merugi hingga puluhan miliar dalam waktu kurang dari dua bulan tersebut.
Clair terlihat sangat lugas menjelaskan analisis yang dibuatnya kepada seluruh staf karyawan Roosevelt Corp yang menghadiri pertemuan pagi itu. Ia bolak-balik dari laptopnya ke sebuah papan tulis di belakangnya berdiri. Membuat beberapa skenario yang dipikirnya mampu menggantikan kerugian yang dialami perusahaan tersebut. Joseph Roose hanya sesekali menganggukkan kepalanya selama melihat penjelasan Clair, sedangkan tim legalnya masih menulis banyaknya dugaan yang disengaja dilakukan oleh tim keuangan SEMA yang lama.
Sempat terjadi perselisihan pikiran antara karyawan kedua perusahaan tersebut. Joseph Roose menengahi cekcok yang terjadi antara Clair dan beberapa orang dari tim legalnya. Suasana di ruang itu semakin runyam karena lontaran pernyataan-pernyataan menyudutkan yang dilemparkan oleh tim legal Roosevelt Corp. Kedua pihak itu terlihat saling serang argumen. Amanda tidak dapat membantahnya, namun ia bersikeras bahwa tidak ada unsur kesengajaan yang dilakukan oleh tim lamanya. Ia juga menyangkal pernyataan ‘beneficial factor’ yang diucapkan oleh salah seorang tim legal Roosevelt.
Clair pun melanjutkan pembicaraannya. Menurut pikirannya, ‘beneficial factor’ yang ditujukan kepada perusahaannya, merupakan hasil kesengajaan yang dilakukan oleh beberapa oknum yang terkait dengan transaksi kedua perusahaan tersebut. Ia merinci lebih detail lagi permasalahan tersebut, dan menunjukkan berkas jurnal umum keuangan itu kepada mereka.
Amanda memerhatikan Clair yang terlihat sangat sibuk dan bersemangat untuk menyangkal pernyataan-pernyataan negatif dari tim legal Roosevelt. Beberapa orang karyawan SEMA yang bertugas sebagai asisten di pertemuan itu juga menggeleng-gelengkan kepalanya, karena takjub melihat performa Clair De Lune yang membantai habis pertanyaan yang menyudutkannya.
Joseph Roose melihat tajam ke arah Clair. Ia menyadari ada hal yang tidak beres dari kedua perusahaan yang dimilikinya. Ia berjalan ke arah Clair untuk menyuruhnya duduk kembali di kursinya dan menggantikannya sebagai pembicara di pertemuan siang itu. Joseph mengatakan bahwa timnya akan mengusut lebih jauh permasalahan ini, dan akan membawa perkara ini ke sebuah persidangan hukum untuk menentukan pihak yang bersalah atas kerugian yang dialami perusahaan Roosevelt Corp.
“Saya tidak setuju,” tegas Amanda yang berdiri dari duduknya dan mengangkat tangannya, “sudah jelas apa yang dikatakan oleh Clair, bahwa ada oknum yang bersepakat untuk melakukan ini,” lanjutnya.
“Lalu, apa yang Sean dan anak buahnya bisa lakukan untuk mengganti ini semua?” ujar Joseph Roose yang terlihat menunjukkan ekspresi wajah yang marah.
“AYAH!”
Semua orang di ruangan itu tertunduk mendengar suara Amanda yang sangat lantang. Ia kecewa terhadap perkataan ayahnya yang terasa seperti merendahkan Sean dan juga dirinya di hadapan banyak orang.
“Maaf, Amanda,” ujar Joseph yang tersenyum kecil seperti menyepelekan pernyataan anaknya sendiri, Amanda, “ini satu-satunya cara untuk keluar dari masalah ini.”
Amanda sangat marah kepada Joseph Roose. Ia bergegas memasukkan barang-barangnya dan pergi meninggalkan ruangan itu. Clairpun berlari mengikuti langkah Amanda yang keluar dan memilih pergi dari pertemuan siang itu dengan kekecewaannya. Clair menghampiri Amanda yang terduduk menangis di halaman gedung kantor itu.
“Maafkan perkataan ayahku, Clair,” ujar Amanda dengan isak tangisnya.
“Tidak masalah, Kak Amanda, aku malah mengkhawatirkan kamu,” jawab Clair sambil merangkul bahu Amanda.
“Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, dia sosok yang selalu mendukungku. Tapi kenapa hari ini dia menjatuhkan aku seakan-akan aku bukan anak perempuannya?”
Clair mencoba untuk menenangkan dan mengusap air mata Amanda yang menangis di pelukannya. Ia juga berpikir sama seperti Amanda, mempertanyakan apa yang terjadi terhadap Joseph Roose yang melakukan hal seperti itu. Padahal, Joseph yang ia temui pertama kali adalah sosok orang yang sangat baik, ia bahkan memberi kesempatan kepadanya untuk dapat bergabung ke dalam perusahaan SEMA. Mata Clair menghadap ke arah lantai 35 gedung itu.
“Kak, ayahmu adalah orang yang baik. Dia yang membuatku bergabung bersamamu di SEMA, kalau saja bukan karenanya, mungkin aku tidak bisa bertemu denganmu,” ungkap Clair yang masih merangkul Amanda, “mungkin Pak Joseph Roose sedang mengalami hari buruknya, dan dia tidak bermaksud untuk mengatakan itu kepadamu.”
Amanda menegakkan duduknya kembali dan melihat Clair yang tersenyum ke arahnya.
“Mungkin iya dan mungkin tidak, tapi terima kasih ya, Clair, kamu menjadi orang yang selalu ada di saat-saat aku seperti ini,” ungkapnya.
“Sama-sama, Kak Amanda, satu minggu yang lalu kan aku yang menangis dan membuat bajumu jadi sedikit basah,” canda Clair.
Keduanya kemudian tertawa kecil. Clair mengajak Amanda untuk kembali ke gedung SEMA dan segera mengabari tentang keputusan pertemuan di hari itu ke Sean yang sedang berada di Nevorusstate. Amanda mengiakan ajakan Clair, dan berjalan menuju mobilnya masing-masing yang terparkir tidak jauh dari tempatnya duduk.
Sesampainya di gedung kantor, Amanda segera menutup pintu ruang kerjanya. Beberapa karyawannya mengintip Amanda dari celah-celah pintu itu untuk memastikan keadaan Amanda baik-baik saja. Clair datang ke arah mereka dan menepuk pundak salah seorang karyawan yang berdiri di sana.
“Heh! Sedang apa kalian?” tanya Clair yang mengejutkan mereka dari arah belakang.
“Astaga, Clair, kau hampir saja membuatku jantungan,” ujar seorang karyawan.
“Zydan!” teriak Clair, “tolong urus ketiga orang ini supaya tidak berdiri di sini lagi,” Clair menunjuk matanya dengan dua jarinya, mengisyaratkan kepada mereka bahwa Clair mengawasi mereka jika mereka melakukan hal-hal aneh lagi.
Clair mengetuk pintu ruang kerja Amanda.
“Masuk saja, Clair,” ujar Amanda dari dalam ruang kerjanya.
“Ini, aku melihat sebuah berita di sosial media, tentang jumpa pers yang dilakukan oleh Roosevelt Corp tentang pertemuan dengan kita hari ini,” ujar Clair sambil memberikan handphonenya kepada Amanda.
“Kalau itu mau mereka, kita akan hadapi tanpa rasa takut,” jawabnya.
Clair mengingatkan Amanda untuk segera menelepon Sean. Ia lalu bergegas keluar dari ruang kerja Amanda dengan ambisi seperti seorang pengacara. Pintu ruang kerja itu terbuka, dan Clair meloncat ke arah depan pintu itu.
“Semuanya, kita akan perang menghadapi Roosevelt Corp di persidangan!” Teriak Clair penuh semangat dengan posisi kedua tangannya terangkat ke atas, serta kakinya yang membentuk posisi kuda-kuda.
Semua orang di hadapannya terdiam melihat perilaku Clair yang baru saja keluar dari ruang kerja Amanda. Senyum di wajah Clair menghilang, dan matanya melihat kebingungan ke arah orang-orang di depannya. Suara gelak tawa di ruang utama kantor itu, menggema melihat tingkah laku aneh seorang Clair. Ia menutupi wajahnya yang memerah itu karena malu melakukan hal yang baru saja ia lakukan tanpa sadarnya.
**
“Sean, ayahku memutuskan untuk membawa masalah ini ke sebuah persidangan hukum,” Amanda mengawali panggilan teleponnya dengan Sean.
“Oh ya? Saya sudah menduganya dari awal ia memberikan surat itu padaku,” jawab Sean.
“Lalu apa yang akan kita lakukan?”
“Saya akan menghubungi beberapa pengacara terbaik di Meeskatania untuk menjadi perwakilan legal dari SEMA, kamu tenang saja,” ujar Sean dengan tegas.
“Baiklah. Ngomong-ngomong, kapan kamu tiba di Meeskatania?” tanya Amanda.
“Besok pagi saya sudah tiba di Zeeskatania.”
“Boleh aku menjemputmu lagi?”
“Tidak perlu, Amanda, saya bisa memesan taksi dari bandara. Kalau begitu, saya tutup teleponnya, ya? Saya masih dalam perjalanan menuju rumah,”
“Hati-hati di jalan, Sean,” ungkap Amanda sambil mengakhiri panggilan teleponnya itu.
**
Sean telah tiba di Bandar Udara Internasional Zeeskatania, ia langsung bergegas memesan taksi untuk menuju ke apartemennya. Pagi itu, Sean sudah menyelesaikan hitungan yang dibuatnya sebagai barang bukti tambahan yang akan digunakan oleh pengacara di persidangan nanti. Ia juga mengundang Amanda dan tim keuangannya untuk berkumpul di ruang kerja di apartemennya.
Para pengacara, Amanda, dan juga tim keuangannya sudah tiba siang itu di apartemen Sean. Setelah Sean menjelaskan apa saja yang harus disiapkan, semua orang di sana menyegerakannya. Sean terduduk di meja kerjanya, menopang dagunya sambil memikirkan rencana selanjutnya yang akan dilakukan. Ini baru pertama kalinya Sean mengalami masalah seperti ini di perusahaannya.
Sudah dua hari semenjak kejadian di gedung kantor Roosevelt, semua stasiun televisi di Meeskatania menyiarkan berita tentang kedua perusahaan terbesar itu. Nampak Joseph Roose sedang memberikan pernyataan kepada para wartawan, tentang sebuah tuduhan kepada SEMA Capital yang akan dihadapinya di sebuah persidangan hukum yang akan berlangsung satu bulan lagi di Pengadilan Tinggi Hukum Zeeskatania.
***