Para wartawan yang membawa kamera, mulai mengerumuni gedung kantor SEMA Capital pagi hari itu. Mereka berkumpul untuk menanyakan keputusan dari pihak perusahaan pada masalah yang sedang terjadi antara Roosevelt Corp dengan SEMA Capital. Pengamanan ketat dilakukan oleh pihak kepolisian Zeeskatania di depan pintu masuk gedung, untuk menahan para wartawan yang sedang menunggu kedatangan Sean Rafsanjani dan juga Amanda Roose yang akan keluar dari gedung tersebut.
Persidangan hukum akan berlangsung beberapa minggu lagi, tetapi Sean dan juga Amanda belum menemukan titik terang untuk menghadapinya. Meskipun sudah melaksanakan beberapa kali pertemuan kerja dengan jajaran direksinya, Sean masih belum merasa cukup dengan saran ataupun tanggapan dari bawahannya. Begitu juga dengan Amanda. Ia sangat kesulitan untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan tim lamanya, yang terlibat langsung dengan transaksi kedua perusahaan itu seperti dugaan Clair sebelumnya.
Di sisi lain, Clair dan juga timnya yang baru, sedang bertugas untuk menyelesaikan persiapan yang diminta oleh Sean semenjak kepulangannya ke Meeskatania. Beberapa pengacara Sean juga berada di ruang kerja apartemen Sean untuk turut serta membantu Clair dan juga timnya. Pengacara itu menjelaskan kepada Clair dalam pandangan hukum di negara Meeskatania. Dugaan yang bertubi-tubi dari Roosevelt Corp kepada pihak Sean, bisa dijadikan sebagai tuduhan yang tidak mempunyai landasan dasar hukum.
Clair tidak begitu mengerti apa yang dibicarakan pengacara Sean kepadanya. Yang Clair tau, ia dan timnya sudah menemukan bahwa kecurangan itu sengaja dibuat oleh seorang oknum di salah satu perusahaan itu. Clair tidak tau pasti, apakah pihak Roosevelt Corp, atau malah pihak SEMA Capital Corp yang melakukan kecurangan itu.
“Clair, kalau saja kita bisa mendapatkan informasi tentang orang yang melakukan transaksi ini,” ujar Zydan sambil memberikan Clair selembar kertas yang berada di tangannya, “kita bisa membawanya sebagai saksi di persidangan nanti,” sambungnya.
“Coba aku lihat.”
Clair mengamati selembar kertas yang Zydan berikan kepadanya. Di kertas tersebut, tertulis tanggal saat terjadinya transaksi palsu yang menjadi penyebab masalah ini. Tanggal itu tepat tiga hari sebelum diadakannya acara hasil perekrutan di Universitas Zeeskatania. Clair memejamkan matanya, dan mencoba mengingat kembali seluruh aktifitasnya di hari itu.
“Aku tau orang yang membuat ini,” tegasnya.
“Bagaimana kamu tau?” tanya Kate.
Clair hanya tersenyum menjawab pertanyaan Kate dan langsung merapihkan barang-barangnya untuk bergegas menemui orang yang dilihatnya itu. Ia mengendarai mobilnya menuju gedung kantor Roosevelt Corp yang tidak jauh dari apartemen Sean.
Sesampainya di gedung kantor Roosevelt, Clair berjalan menuju ruang tunggu di gedung itu, menantikan orang yang dilihatnya di dalam ingatannya. Tidak lama berselang, pandangan Clair tertuju kepada seseorang yang baru saja memasuki lobi utama di gedung itu. Ia berjalan membawa beberapa kertas yang mengepit di antara tangan dan dadanya. Beberapa orang pengawal juga mengikutinya dari belakang. Clair berjalan menghampiri pria tersebut.
“Hai, aku karyawan SEMA Capital, bisa kita berbicara sebentar?” tanya Clair.
“Maaf, saya sedang terburu-buru,” ujar pria itu yang melihat sinis ke arah Clair.
“Aku hanya butuh waktu 5 menit untuk berbicara di luar.”
Pria itu melihat ke arah pengawal di belakangnya, dan memintanya untuk meninggalkan mereka berdua. Clair mendahului pria itu berjalan ke arah luar gedung.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya pria tersebut.
“Di perusahaan ini, kamu bekerja di bagian apa?”
“Saya bekerja sebagai pengawas transaksi keuangan di Roosevelt.”
“Dari yang aku lihat, kamu sudah bekerja lebih dari 2 tahun di perusahaan ini.”
“Betul, ada perlu apa kamu dengan saya?”
“Ini adalah bukti transaksi yang sudah kamu tandatangani,” ungkap Clair menunjukkan kertas yang ia terima dari Zydan sebelumnya.
"I…ya, untuk apa kamu menunjukkan itu ke saya?”
Clair tersenyum sinis memandangi pria yang terlihat ketakutan itu. Lembaran kertas yang terapit di tangannya, berantakan tertiup angin yang tiba-tiba saja lewat di antara sela-sela mereka berdua.
“Saya tidak tau apa-apa tentang itu, tugas saya hanya menandatangani saja,” ujar pria itu sambil merapihkan kertas yang berhamburan jatuh ke bawah.
“Benarkah? Aku seperti meragukannya, ya?” tanya Clair.
“Saya… saya benar-benar tidak tau,” jawab pria itu ketakutan, “maaf saya harus kembali masuk ke dalam kantor,” pria itu melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Clair dari tempat itu.
Tubuh Clair yang berdiri di belakang pria itu, menghilang perlahan dan berubah menjadi cahaya putih yang bergerak sangat cepat menyusul ke depan pria yang sedang berlari meninggalkannya itu. Wujud Clair kembali utuh menjadi manusia yang sudah berdiri di hadapan pria itu. Orang-orang berada di sekitarnya, berjalan sangat lambat. Daun-daun di ranting pohon juga bergerak sangat pelan saat tertiup angin.
“HAAAH....” Pria itu tersungkur di atas tanah karena terkejut melihat Clair yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya, “SIAPA KAMU SEBENARNYA?” teriak pria yang mencoba merangkak perlahan menjauhi Clair.
“Dylan Fiennes, aku tau kamu adalah orang yang memalsukan banyak hal demi keuntunganmu, termasuk perekrutan beberapa waktu lalu agar kamu dapat bergabung ke perusahaan Roosevelt,” jelas Clair.
*
Dylan Fiennes, adalah orang kepercayaan Joseph Roose yang sangat jenius. Ia mendapatkan kepercayaan dari Joseph Roose sebelum dirinya berada di lembaga pemasyarakatan tahanan pusat kriminal di kota Zeeskatania satu tahun yang lalu. Ia rela melakukan apa saja untuk Joseph Roose, agar mendapatkan jumlah uang yang tidak sedikit darinya, termasuk menggantikan seorang Joseph Roose yang seharusnya berada di dalam lembaga pemasyarakatan tahanan pusat.
Saat keluar dari lembaga pemasyarakatan, Dylan ditugaskan oleh Joseph Roose untuk memalsukan transaksi Roosevelt Corp dengan SEMA, agar terlihat seperti merugikan perusahaannya. Dan salah satu caranya adalah menjadi bagian dari perusahaan Roosevelt. Joseph Roose dengan sengaja memalsukan dan mencantumkan informasi tentang Dylan menjadi salah satu mahasiswa yang terdaftar di proses perekrutan untuk bergabung bersamanya di dalam Roosevelt Corp.
Clair terpaku mendengar penjelasan dari Dylan. Rasanya, seperti tidak masuk akal bagi Clair mengartikan apa yang dilakukan oleh Joseph Roose kepada dirinya, Sean, dan bahkan anak perempuannya sendiri, Amanda Roose. Clair tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah mendengar semua ucapan Dylan tentang Joseph Roose. Ia juga mengancam Dylan agar tidak menceritakan apapun kepada siapa saja tentang hari itu, termasuk kejadian saat ia menunjukkan dirinya yang asli kepada Dylan.
**
“Kenapa orang berjalan sangat lambat? sedangkan kita berdua tidak,” Dylan masih terduduk setelah tersungkur dikejutkan oleh Clair di hadapannya.
“Aku memperlambat waktu dimensimu,” jawab Clair yang merentangkan kedua tangannya, selayaknya orang sedang menahan pergerakan waktu, “sekarang kamu harus cerita padaku, apa yang Joseph akan lakukan pada Sean?”
“Percayalah, Clair, dia bukan orang baik dan kau hanya dimanfaatkan saja sebagai tameng paling depan di perusahaan Sean.”
Clair menurunkan kedua tangannya, ia membalikkan waktu ke keadaan normal kembali. Clair meraih tangan Dylan dan membantunya untuk berdiri. Apapun yang Dylan ucapkan padanya, Clair menemukan sebuah alasan kenapa dirinya dengan mudah masuk ke tim baru perusahaan SEMA. Ia menyadari Joseph Roose ingin anak perempuannya tetap di dalam jangkauan Sean, agar Sean tidak menaruh curiga pada Amanda tentang kejadian ini.
Lambat laun, Clair mengetahui apa yang akan terjadi di beberapa kejadian ke depannya. Juga apa yang akan dilakukan oleh Joseph Roose, jika setelah ini ia mengetahui bahwa Clair sudah mulai memahami permainannya. Clair berjanji pada Dylan untuk segera menyelesaikannya, dengan satu syarat, Dylan akan datang sebagai saksi di persidangan yang akan dilaksanakan satu minggu lagi. Setelah itu, Clair akan membantu untuk membebaskan Dylan dari Joseph Roose seperti yang Dylan alami selama satu tahun terakhir.
Clair pergi meninggalkan Dylan seorang diri di halaman gedung kantor Roosevelt. Mata Dylan menyorot ke arah mobil Clair yang kemudian keluar dari halaman parkir di gedung kantor. Pikirnya, setelah memberitahu Clair dan menjelaskan siapa Joseph Roose sebenarnya, Clair akan membantunya untuk melepaskan jeratan antara dirinya dengan Joseph Roose.
Dylan kembali ke dalam gedung kantor Roosevelt Corp, diikuti beberapa pengawal yang tadi sempat meninggalkannya berdua dengan Clair. Para petinggi di perusahaan itu kini sedang menunggu kedatangannya di sebuah ruangan khusus yang tidak pernah ia masuki sebelumnya. Ruangan yang berada tepat di belakang ruang kerja Joseph Roose, hanya bisa dimasuki melalui pintu yang ada di samping lemari di dalam ruang kerja itu. Langkah kakinya melambat setelah membuka pintu itu sambil membawa tumpukan lembar kertas. Terlihat hanya 3 orang komisaris perusahaan Roosevelt Corp, termasuk Joseph Roose di dalam ruangan itu sambil menelungkupkan kedua tangan di bawah dagunya.
“Kalian berdua silahkan pergi, saya ingin berbicara dengan kerabat lama saya,” ujar Joseph pada dua orang di hadapannya.
Kedua pria itu saling bertatap mata kemudian berdiri untuk pergi dari ruangan itu.
“Kau tau? Sudah berpuluh-puluh tahun saya mendirikan perusahaan ini, dan melakukan apa saja agar selalu berada di tempat paling tinggi di Meeskatania,” ungkap Joseph Roose yang berjalan menuju ke arah brankas di belakangnya.
“Kau tau sudah berapa banyak orang silih berganti menempati dua kursi di hadapanmu?”
“Sa...saya tidak tau berapa banyak, Pak,” jawab Dylan gemetar.
“Banyak sekali, apa kau tau alasannya?” tanya Joseph sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam brankasnya.
“Saya—”
“Karena saya benci pengkhianat.”
*DOR*
Suara tembakan pistol dari ruangan itu memantul di ruang kerja Joseph Roose, namun tidak sampai keluar ke lantai di bawah atau di atasnya. Dylan Fiennes mati dengan luka tembak di bagian dadanya, tepat di area jantung. Darahnya mengucur perlahan dari tubuhnya yang tergeletak kaku di ruangan itu. Joseph Roose menelepon pengawalnya untuk membersihkan percikan darah di sekitar meja kerja di ‘ruang khusus’ miliknya, serta membuang jasad Dylan Fiennes ke tempat yang tidak seorangpun tau.
Ruangan itu telah menjadi saksi bisu dari beberapa orang yang harus mati di tangan Joseph Roose. Ia adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Perbuatannya hanya diketahui oleh seorang pengawalnya saja, yang selalu membantunya setelah membunuh orang-orang yang menghalangi rencananya, termasuk Dylan Fiennes. Setelah ia memergoki langsung Dylan dan Clair, dan mendengarkan percakapan mereka melalui alat perekam suara yang terpasang di salah satu map di tumpukan kertas yang Dylan bawa.