Saya Mencintaimu, Clair De Lune

1964 Kata
“Saya melihat seorang perempuan yang sedang berdiri di bawah lampu jalan di antara rintik-rintik hujan yang baru saja reda di kota Zeeskatania. Perempuan itu memegang payung di tangan sebelah kirinya, dan tangannya yang lain melambai ke arah saya.   Apa maksudnya? Saya tidak mengenalmu.   Perempuan itu meninggalkan pertanyaan besar di dalam isi kepala saya. Tidur terasa tidak nyenyak sekali malam itu. Tatapan mata perempuan itu masih saja membayangi perasaan saya, membuat saya penasaran tentang siapa sosok perempuan yang lamat-lamat melihat saya dalam redup lampu jalan itu. Hati saya sangat merasakan gelisah. Ingin saya saat itu menghampiri perempuan yang melambaikan tangannya ke arah saya. Saya masih ingat betul bentuk wajahnya, bahkan pakaian yang ia kenakan. Parasnya yang sangat cantik seperti seorang wanita yang bukan berasal dari Bumi. Rambutnya berwarna hitam kekuningan karena cahaya lampu yang berada tepat di atasnya.   Ah, kenapa saya tidak melakukannya?   Hari selanjutnya, saya melihat perempuan yang sama seperti hari kemarin dari tempat saya berdiri di podium aula gedung itu. Ia ternyata adalah salah satu peserta dalam acara yang diadakan oleh SEMA dan Roosevelt. Dan ia juga seorang mahasiswi di kampus saya dahulu. Saya tertegun memandangi wanita yang sedang terduduk di kursi yang berada tidak jauh dari saya. Wajahnya seperti cahaya yang menyorotkan sinarnya ke arah saya. Saya melihat itu, percaya atau tidak. Yang saya ingat, pandangan mata perempuan itu juga menuju ke arah mata saya. Tidak lama setelahnya, saya melihatnya berjalan keluar meninggalkan kursi itu bersama seorang teman yang menyusul di belakangnya.   Clair De Lune, begitu namamu disebut.   Selamat, kamu sudah menjadi bagian dari perusahaan SEMA Capital Corp.   Saya memberitahu sahabat saya, Amanda Roose, bahwa saya melihatmu malam hari kemarin. Saya juga menceritakan apa yang terjadi kepadanya, meskipun dia terlihat tidak percaya. Tetapi saya meyakinkannya bahwa saya tidak salah melihat. Hari itu, rasa penasaran saya padamu semakin besar, terlebih saat Amanda meminta saya untuk menjadikanmu sebagai ketua di tim barumu. Tidak, saya tidak meremehkanmu. Saya hanya tidak ingin kamu merasa risih akibat rasa penasaran saya kepadamu saat itu. Dan saya harap, rasa penasaran saya akan segera berakhir sekali saya mengetahui namamu. Ternyata saya salah.   Saya benar-benar memerhatikanmu.   Satu bulan setelah kamu bergabung bersama saya, saya bisa merasakan perubahan yang kamu lakukan bersama tim barumu. Amanda juga menceritakan tentangmu yang sangat antusias mengerjakan banyaknya laporan yang harus kamu susun. Tapi saat itu saya tidak bisa melihatmu secara langsung karena kesibukan saya yang sedang mengurus urusan eksternal perusahaan. Andai saja waktu itu saya sedang tidak sibuk, saya akan menghampirimu dan memberimu ucapan selamat. Memang sudah satu bulan terlambat, tapi saya akan tetap melakukannya. Sekedar menyambangi ruang kerjamu dan tim barumu, atau untuk mengajak makan malam bersama.   Akhirnya, saya mendapatkan kesempatan itu.   Amanda meminta saya untuk bergabung ke dalam sebuah pertemuan dengan tim barumu. Saya dengan cepat menyegerakannya. Saya masuk ke dalam ruangan itu, dan kamu adalah orang pertama yang saya lihat. Wajahmu sedikit kemerahan, entah tersipu malu atau menahan amarah karena sudah menunggu saya lama untuk bergabung di hari itu. Kamu menyebut saya dengan sebutan ‘Pak’ ke arah saya. Apa saya setua itu? Rasanya tidak, usia saya hanya terpaut 2 tahun darimu. Saya menyetujui ide Amanda yang saat itu memberikan tugas kepadamu dan tim baru untuk mengerjakan laporan yang sedang bermasalah. Tapi saya terkejut mendengarmu telah menyelesaikannya sebelum kami memintanya. Dan saya lebih terkejut lagi ketika mendengar cerita darimu yang sudah bertemu dengan Joseph Roose sebelum terpilih menjadi bagian dari tim yang baru saja akan dibentuk. Saya meyakini diri saya, bahwa Joseph Roose tidak akan semudah itu tertarik dengan seseorang yang biasa-biasa saja. Kamu membuktikan itu sekali lagi kepada saya, bahwa kamu adalah wanita yang sangat jenius.   Pertama kalinya melewati malam bersamamu.   Saya memintamu untuk hadir di acara kecil makan malam bersama yang Amanda adakan. Sebelumnya, saya sengaja memilih kedai yang sama seperti saat saya melihatmu pertama kalinya. Saat itu, saya melihatmu sangat berbeda dari sebelumnya. Kamu tidak banyak berbicara, seperti sedang tertekan. Raut wajahmu, juga sikapmu yang seakan-akan dingin kepada semua orang di sana yang mengajakmu berbicara. Kamu pergi sementara meninggalkan kursimu ke lantai dua di kedai itu. Apa karena pada saat itu, kamu tidak menginginkan saya berada di sana? Saya menyusulmu ke lantai dua. Melihatmu yang sedang termenung memerhatikan jalanan dari langkan tempatmu berdiri. Perlahan saya berjalan mendekatimu, menanyai keadaanmu apakah sedang baik-baik saja atau tidak.   ‘Saya melihatmu berdiri di sana, tepat di bawah lampu jalan itu. Kamu melambaikan tangan ke arahku.’   ‘Saya melihatmu lagi di hari saat acara perekrutan di kampusmu.’   Clair, saya benar-benar mempertanyakan apa yang kamu lakukan. Apakah pada hari itu kamu meminta saya untuk datang, atau justru kamu menginginkan saya untuk menjauh? Sekali itu, saya berjalan menjauhimu yang sedang berdiri diam dan tidak ada jawaban. Sesekali saya menoleh lagi ke belakang, melihatmu tertunduk menangis di pagar langkan itu. Saya menyadari kesalahan saya. Seharusnya tidak mempertanyakanmu kembali seperti yang kau minta.   Saya mulai jatuh cinta padamu, Clair.   Saya berjalan menghampiri mobil Amanda. Kamu bersikeras meminta Amanda untuk tidak mengantarmu pulang ke rumahmu malam itu. ‘Pulanglah, sudah larut.’ Setelah saya membukakan pintu mobil untukmu, saya melihatmu mengurai rambut panjangmu itu. Kamu terlihat sangat cantik sekali. Tak lama, kamu pun pergi dari tempat itu menuju rumahmu di Buitenkatania. Saya masih saja berdiri di sisi jalan itu, melihatmu dari kejauhan. Terlintas di pikiran saya jika saya bersamamu di sisa waktu yang saya punya. Entahlah, ini pertama kalinya saya merasa jatuh cinta kepada seorang wanita. Saya tidak tahu akan berbuat apa selanjutnya. Yang saya tahu, saya ingin kamu berada di sisiku saat itu.   Saya seperti berdiri di sebuah persimpangan.   Hari itu, saya harus pergi ke Nevorusstate untuk menghadiri acara wisuda saya. Di dalam pesawat menuju Nevorusstate, hati saya berkecamuk karena sebuah kebenaran tentang diri saya. Dahulu, saya dikenal sebagai seseorang yang tidak akan pernah bisa jatuh cinta. Orang-orang beranggapan, bahwa saya sedang dalam sebuah hubungan yang serius dengan Amanda. Saya pun mengelak. Saya merasa itu semua berlebihan. Saya pernah menerima sebuah pertanyaan dari Joseph Roose tentang Amanda Roose, jauh sebelum saya bertemu denganmu. Pertanyaan yang sama dengan banyak orang yang ditujukan kepada saya.   Apakah saya mencintai Amanda Roose?   Bagi saya, Amanda Roose sudah menjadi sesosok figur terbesar dalam hidup saya. Saya tidak akan pernah sanggup untuk membalas seluruh kebaikan yang sudah ia lakukan pada saya. Ia hadir di masa-masa sulit saya. Saat semua orang menganggap saya gila karena menjadi sosok misterius yang tidak pernah berinteraksi dengan siapapun. Tentu saya menyayangi Amanda sebagai seorang teman. Tetapi, saya sama sekali tidak pernah bisa mempunyai perasaan yang lebih dari itu. Saya mengenalnya sudah lebih dari 5 tahun, sejak kami berdua berada di kelas yang sama di Universitas Zeeskatania.   Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya.   Saya seperti berdiri di sebuah persimpangan. Pandangan saya hanya tertuju pada sosokmu yang sedang berdiri tegak di sisi lain yang berbeda dengan saya. Seketika kendaraan berhenti, saya akan segera menyambangimu di sana. Berjalan bersamamu menyusuri pekat malam di sebuah kota terpencil. Menggenggam tanganmu seperti dua orang yang sedang merasakan jatuh cinta. Biar saja, biar orang lain iri melihat kita. Saya hanya ingin sedikit bercengkerama. Berikan saya waktu untuk mengetahui sisi lain dari dunia ini, jangan ganggu dulu. Biar saya berjalan di pinggir trotoar jalan ini, saya masih nyaman. Sesekali saya menoleh ke belakang, bayangan saya sampai di pijakan kakimu, hanya sebelah.   Dalam perjalanan kembali, saya menemukanmu, Clair.   Setelah tiba kembali di Zeeskatania, saya melihatmu tengah disibukkan oleh lembaran-lembaran kertas yang berserakan di meja kerjamu. Orang-orang juga berlalu-lalang menyiapkan bukti-bukti untuk diserahkan ke pengadilan hukum. Kamu sedang tertunduk, menulis sesuatu di buku yang akan kamu bawa nanti. Itu kedua kalinya pandangan saya hanya tertuju padamu. Clair, tidak ada lagi kata-kata yang sanggup mewakilkan isi pikiranku saat itu. Atau hanya sebatas ketidakmampuan saya saja untuk menyusunnya? Entahlah. Rasa penasaran saya saat itu, sudah sepenuhnya menghilang. Yang sekarang ada di pikiran saya hanya sebuah pertanyaan dengan tanda tanya besar.   Bagaimana saya mengatakan itu semua padamu, Clair?   Lihatlah tanda tanya di akhir kalimat yang saya tulis di atas. Begitu resahnya perasaan saya saat itu. Ketakutan saya jika kehilanganmu, atau ketakutan saya jika kamu bersama saya. Saya tidak tahu mana yang lebih besar di antara keduanya. Mereka membuat diri saya seakan merusak susunan organ-organ dalam tubuh saya sendiri, membuat sisi-sisinya seperti tersulut. Perang antara diksi imajinasi saya dengan logika akal sehat. Tidak pula nampak romansa darimu. Ketiganya itu menyernak di ujung kerongkongan. Ingin saya muntahkan di dinding-dinding petilasan. Atau saya mati bersamanya.   Saya mencintaimu, Clair De Lune.   Have you ever asked about the fallen rain in the morning? You might think it hurts and haunting. If you ever wondered, would you look it deeper? That rain made somebody happier. Have you ever asked, about the fallen leaves in autumn? You might think, it decayed happiness. If you ever wondered, would you look it deeper? That fallen leaves would make that tree prettier. Take a look at me, look at me deeper. Even the goodbye was hard, even it truly hardest for me. Believe me, I will find a way to bring the blessing for you. I am here, even there for you, for your paradise. Take a look at me, I am that person who loves you even more.   Bacalah sebuah puisi yang saya tulis untukmu itu, Clair.   Jika suatu saat kamu telah membacanya, bisa saya pastikan bahwa saya sudah mengutarakan semua perasaan saya kepadamu. Karena di hari itu, kamu menangis dalam pelukanku setelah aku menjelaskannya. Air matamu jatuh perlahan membasahi kedua sisi pipimu. Teruskan menangis di pelukan saya, biar saja semua air mata itu membasahi baju saya. Kamu juga mencintai saya, bukan? Ternyata ketakutan yang saya rasakan sebelumnya, adalah jika saya kehilanganmu. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana hidup saya tanpa seorang wanita yang telah berhasil membuat saya jatuh cinta untuk pertama kalinya.   Itu ciuman pertama kita.   Saya sedikit terkejut. Tanganmu yang tiba-tiba menarik tubuh saya, mendekatkannya padamu. Lalu kamu mencium saya begitu saja. Saya tidak mengerti apa yang membuatmu sangat kebingungan malam hari itu. Hari itu, saya benar-benar berada di bawah bayang-bayang ingatan terindah dalam hidup saya. Begitu juga saat kamu menuntun saya masuk ke dalam kamarmu. Clair, saya benar-benar tidak tau lagi apa yang harus saya katakan. Hanya saja, saya tidak pernah melakukannya sama sekali. Saya tidak siap. Jika setelah itu kamu pergi meninggalkan saya dengan membawa rasa bersalah di pundak saya. Saya ingin mencoba jujur padamu saat itu. Tetapi setelah melihat tatap indah kedua matamu, perasaan itu berubah seketika. Hati saya, seperti tidak berada di sana. Saya tidak ingin membuatmu menghukum dirimu sendiri nantinya. Percayalah, Clair, butuh keberanian untuk itu. Dan saya seorang pecundang.   Saya telah berjanji pada diri saya sendiri, Clair. Untuk selalu mencintaimu. Untuk selalu mengasihimu. Untuk selalu menghiburmu. Untuk selalu membahagiakanmu. Dan aku ingin menjagamu, Seperti langit yang rela meredam ribuan benturan, Demi daratan di bawah naungannya.   Sean R.” * Malam itu, seseorang terlarut di dalam binar sebuah cahaya terang dari hadapannya. Wanita itu menitikkan air matanya perlahan. Badannya semakin lemas, tidak memiliki kemampuan lagi untuk tetap terjaga dalam tegapnya. Hanya bisa bersandar pada sebuah kursi lembut yang memeluknya dari belakang. Paras cantik wanita itu berubah seketika. Seperti raut wajah seseorang yang kehilangan sebagian besar pengharapan yang hidup padanya. Lembut telapak tangannya menutupi bagian kening hingga dagu. Seluruh tubuhnya sungguh gemetar hebat. Ia mencoba untuk berdiri dari tempat duduknya. Dengan sisa-sisa tenaganya, wanita itu berusaha untuk membuka pintu kaca di hadapannya sekarang. Beberapa kali kewalahan menahan perih dari sayatan-sayatan di hatinya hingga tersandar pada dinding di sisi sebelah kirinya. Napasnya sudah terengah-engah. Penglihatannya mulai kabur, namun ia masih sanggup untuk mendengar suara di sekitarnya. Seseorang berlari menghampiri wanita yang sedang tersandar menundukkan kepalanya. “Mbak Amanda Roose? Kamu baik-baik saja?” Amanda Roose berusaha untuk mendongakkan kepalanya ke arah orang itu. Namun ia tidak sanggup lagi. Orang itu tidak bisa mencoba untuk lebih cepat menangkap tubuh Amanda Roose yang mulai roboh. Amanda jatuh tersungkur di depan karyawannya hingga tidak sadarkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN