Clair datang satu jam lebih awal di kantornya. Ia mempersiapkan segala hal untuk pertemuan dewan Komisaris dan juga dewan Direktur yang akan diadakan beberapa jam lagi. Clair juga memeriksa banyaknya lembaran surat di atas meja kerjanya yang sudah menumpuk selama 2 hari. Surat-surat itu tidak ada yang menarik perhatiannya, meskipun semua surat itu berisikan tawaran pekerjaan dengan bayaran yang sangat tinggi dari perusahaan lain yang ingin mencoba untuk mengambilnya dari perusahaan tempatnya bekerja sekarang.
Dari dalam jendela ruang kerjanya, Clair dapat melihat langsung ruas-ruas jalan di bawahnya. Daun-daun dari pepohonan yang mengindahi sisi ruas jalan itu, mulai berwarna kemerahan. Ada beberapa yang sudah berguguran dan menutupi sebagian trotoar di sana. Orang-orang yang berlalu lalang juga sudah mulai memakai jaket tambahan di bagian luar jas yang mereka kenakan. Hanya untuk lebih menghangatkan badan di cuaca yang sudah mulai lebih dingin dari hari kemarin.
“Clair.” Suara seseorang memanggilnya dari luar ruang kerja Clair. “Pertemuan akan segera dimulai,” sambungnya.
Clair memalingkan pandangannya ke arah pintu masuk ruangannya. “Baiklah. Aku segera ke sana.”
Dewan Komisaris dan juga para dewan Direksi perusahaan SEMA Capital sudah berada di ruang pertemuan. Hanya Amanda yang tidak terlihat menghadiri pertemuan. Clair menanyakan semua orang di ruangan itu tentang Amanda. Tidak ada kabar juga dari Amanda kepada siapapun yang hadir di rapat hari itu.
Sean berjalan masuk ke dalam ruang pertemuan, menyusul jajaran dewan Komisaris dan Direksi yang terlebih dahulu tiba. “Selamat pagi rekan-rekan semua.”
“Selamat pagi, Pak,” jawab mereka serentak.
“Pagi ini saya akan mengumumkan 2 hal penting untuk kita ke depan.” Sean mengambil laptop yang sudah dipersiapkan oleh asistennya. “Kita akan memutus kontrak kerjasama dengan Roosevelt. Sebagai gantinya, kita mengambil alih kerjasama operasional yang diadakan oleh pemerintah kota Zeeskatania.”
Semua orang terlihat sibuk mencatat perkataan Sean untuk dijadikan memo sebagai hal yang akan dipersiapkan untuk menjalankan kerjasama. Tapi tidak dengan Clair yang hanya terduduk di kursi notulen, memutar pulpennya di antara jemarinya.
“Tumben sekali dia tidak melihat ke arahku,” racau Clair dengan suaranya yang pelan.
Sean melirik singkat ke arah Clair.
Clair langsung tertunduk melihat Sean yang meliriknya tajam. “Dia tidak mungkin mendengarku, ‘kan?” gumamnya dalam hati.
“Pengumuman yang kedua. Saya dan Amanda sudah memutuskan untuk mengangkat Clair De Lune menjadi Direktur Keuangan perusahaan kita yang baru.”
Sorak sorai semua orang di ruang itu diiringi tepuk tangan setelah mendengar perkataan Sean.
Clair kebingungan dan menunjuk dirinya sendiri. “Aku?” tanyanya kepada Sean. Sesekali wajahnya menoleh ke orang-orang di hadapannya. Meyakinkan dirinya tidak salah mendengar ucapan sang pendiri perusahaan.
“Tetapi kita harus mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham terlebih dahulu,” sahut seorang Komisaris.
“Betul.” Sean menyahuti pernyataan seorang Komisaris. “Dan di saat itu, saya akan menyingkirkan Joseph Roose sebagai pemegang saham SEMA Capital Corp,” sambungnya.
“Bagaimana caranya? Dalam susunan pemegang saham, Joseph Roose memegang hampir 40% saham. Kita akan mengeluarkan uang dengan jumlah yang sangat banyak untuk menyingkirkan Joseph Roose,” desak seorang Direktur.
Clair berdiri dari duduknya. “Atau kita butuh banyak orang untuk melakukan itu,” sahut Clair cepat.
Sean dan dewan Komisaris lainnya menpertanyakan ide yang tercetus dari pikiran Clair. “Bagaimana caranya, Clair?” tanya seorang Komisaris.
“Sangat dasar. Initial Public Offering.” Clair menuliskan sebuah alur di papan tulis tentang perusahaan yang akan mengajukan IPO. “Aku belum pernah melakukannya sama sekali, tapi salah satu caranya adalah right issue. Setelah kita menerbitkan saham baru, kita terlebih dahulu menawarkan kepada investor lama. Dalam kasus ini, Joseph Roose. Jika ia ingin membelinya, dia yang akan mengeluarkan dana lebih banyak lagi. Tetapi jika tidak membelinya, maka kepemilikan sahamnya akan terdilusi setelah kita menerbitkan saham baru yang akan dijual kepada masyarakat.”
“Tetapi Joseph Roose adalah Komisaris Independen,” sanggah seorang Direktur.
“Justru itu. satu-satunya langkah untuk mengurangi kepemilikan sahamnya. Dengan pre-IPO. Kita akan mencari perusahaan investasi untuk menyuntikkan modal ke dalam perusahaan ini,” tegas Clair.
“Bisakah kamu melakukan itu?” tanya Sean.
“Ya. Aku bisa melakukannya.” Clair tidak ingin terlihat ragu-ragu di hari pertamanya diangkat menjadi seorang Direktur Keuangan, meskipun belum resmi di atas kertas.
Semua dewan Komisaris dan juga dewan Direktur menyetujui usul Clair. Mereka menandatangani selembar kertas berisikan keputusan dari pertemuan pagi itu untuk dilegalkan pada saat Rapat Umum Pemegang Saham mendatang.
“Baiklah kalau begitu. Saya akan meminta laporan progres mingguan darimu.” Sean mengakhiri pertemuan pagi hari itu dengan uluran tangannya kepada Clair.
“Selamat atas promosimu menjadi Direktur Keuangan, Clair,” ungkapnya.
Clair membalas jabat tangan Sean. “Sean. Aku benar-benar tidak tahu harus berbicara apalagi tentang ini.”
“Ini adalah keputusan saya dan Amanda untuk mempromosikan jabatanmu.”
Akhirnya, sebuah senyuman kecil tersungging di bibir Clair. “Omong-omong, dimana Kak Amanda sekarang? Aku tidak melihatnya semenjak tiba di kantor.” Clair melihat ponsel yang ia keluarkan dari dalam kantong jasnya. “Tidak ada pesan darinya juga.”
“Dia sedang berada di gedung kantor Roosevelt. Membantu Nick untuk menyusun ulang laporan persidangan yang diminta pihak kepolisian.”
Clair mengangguk. “Sean. Aku punya seorang teman perempuan, namanya Lany Kathleen. Dia juga sama sepertiku, seorang analis keuangan dari kampusku. Bisakah dia bergabung bersamaku untuk membantuku menyelesaikan IPO yang kujelaskan tadi?” tanya Clair.
“Tentu saja. Bukankah lebih bagus jika perusahaan ini diisi oleh orang-orang pintar?” Sean tersenyum setelah mengindahkan permintaan Clair. “Kalau begitu, saya permisi dulu, Clair.”
Sebenarnya Clair ingin sekali membicarakan tentang kejadian sebelumnya bersama Sean saat mengantarnya pulang dari acara karnaval musim gugur beberapa hari lalu. Ia seharusnya menjelaskan kepada Sean bahwa dirinya tidak bermaksud sama sekali untuk mengajaknya masuk ke dalam kamar. Clair sadar, dirinya hanya terbawa suasana pada saat itu. Akan tetapi, Clair mengurungkan niatnya setelah Sean pergi meninggalkan dirinya sendirian di dalam ruang pertemuan itu.
**
Sean menyibukkan diri di ruang kerjanya dengan menganalisis penjelasan dari Clair di pertemuan pagi hari itu. Menjalankan skenario Clair mungkin tidak semudah seperti yang dijelaskan. Namun ini bukan hal baru baginya. Ia tetap mengawasi dan juga membantu Clair untuk menyelesaikannya.
Beberapa saat setelah layar laptopnya penuh dengan angka analisisnya, Sean terpaku memerhatikan layar sembari meraup wajahnya. Ada sesuatu hal yang sama sekali tidak terlintas di pikirannya. Satu hal itu juga yang membuat Sean tersadar bahwa Clair seperti berada dua langkah lebih jauh di depannya.
“Right, Repurchase Agreement. Saya sekarang benar-benar terlihat bodoh di hadapannya.” Sean menghamparkan kepalanya di atas laptopnya. “Saya bodoh sekali. Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya? Ah.”
Sean beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kaca pintunya yang sedikit gelap. Memandangi ruang kerja Clair dari kejauhan. “Kamu tidak pernah berhenti membuat saya terkesan, Clair,” gumamnya dalam hati.
Egonya sedikit menurun dibanding hari-hari sebelumnya. Ia harus mengakui kepiawaian Clair dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi saat itu juga. Tidak hanya sekali atau dua kali Sean melihatnya. Mengurus pemalsuan transaksi, hari pengadilan, dan juga hari ini, cukup membuktikan kepada Sean bahwa ia tidak salah memilih seorang Direksi di perusahaan yang dipimpinnya.
Sean bergegas meninggalkan ruang kerja untuk menuju apartemennya. Ia dengan tanggap menyegerakan permintaan Amanda yang menginginkan untuk menggantikan posisi Joseph Roose sebagai Komisaris Independen di SEMA Capital. Pasalnya, kedua perusahaan itu, baik SEMA Capital Corp atau Roosevelt Corp, sedang berada dalam pengawasan otoritas keuangan di negara Meeskatania. Keputusan yang sudah diambil Amanda Roose itu tidak luput dari dendam dan rasa kecewanya kepada Joseph Roose setelah hari pengadilan.
Sean melupakan sebuah formulir persetujuan yang tertinggal di ruang kerjanya untuk ditandatangani Nick Roose dan Amanda Roose dalam menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham. Ia mengkhawatirkan formulir itu akan digunakan secepatnya untuk dikirim kepada dewan Komisaris yang lainnya.
Dari dalam kamarnya, Sean menunggu jawaban Amanda Roose dalam panggilan telepon.
“Halo, Amanda Roose,” sapa Sean mengawali panggilan telepon sore itu.
“Ada apa, Sean? Aku baru saja tiba di ruanganku di SEMA,” jawab Amanda.
“Oh, syukurlah kamu di sana sekarang.” Sean menghembuskan napas leganya. “Saya meninggalkan sebuah kertas di ruangan saya yang harus kamu dan Nick tandatangani untuk esok hari,” lanjutnya.
“Oke. Adalagi yang bisa kubantu?” tanya Amanda.
“Kalau bisa, jangan lupa kamu cetak surat itu lagi menjadi dua. File itu ada di komputer saya. Kamu masih ingat password untuk mengaksesnya, ‘kan?”
Amanda tertawa saat mencoba untuk mengingat password yang pernah Sean berikan dahulu. “Masih, tenang saja. Aku segera ke ruanganmu sekarang.” Amanda menyudahi panggilan teleponnya dengan Sean.
Suasana di kantor SEMA sore itu sangat sepi. Dari ratusan orang, hanya beberapa karyawan saja yang menetap dan sedang mengurus pekerjaannya. Pun ruang kerja Clair juga terlihat sudah kosong.
Amanda membuka pintu ruang kerja Sean yang saat itu sudah gelap. Ia sengaja tidak menyalakan lampu, rasanya lebih nyaman di dalam kegelapan. Sorot sinar dari layar komputer yang baru saja ia nyalakan, menyorot langsung ke arah wajahnya. Amanda menemukan file yang Sean maksud di antara banyaknya tumpukan folder di dalam komputernya yang masih dalam keadaan terbuka.
Di sela-sela suara yang terdengar dari mesin pencetak, Amanda menutup semua folder di komputer itu dan kembali ke halaman utama. Ia tertegun melihat sebuah file bertuliskan ‘Saya Mencintaimu, Clair De Lune’ yang ada di halaman utama komputer milik Sean. Sedikit ragu untuk membuka dan mengintip isi file itu. Melihat judulnya saja, Amanda sudah benar-benar merasa takut untuk melihatnya. Otaknya berpikir keras untuk tidak melakukannya, namun hatinya tetap memaksa untuk melakukannya. Ia memejamkan matanya seperti mengetahui bahwa akan dihadapkan lagi oleh sebuah kekecewaan yang lainnya.
Dalam sore yang sudah berganti malam di musim gugur pertama itu, Amanda memilih untuk menetap lebih lama di ruang kerja Sean.