Kedatangan Marcel bersama Ara membuat matanya terbuka sangat lebar. Bukan hanya matanya yang membulat sempurna, tapi juga detak jantungnya yang mulai berirama cepat. Bukan karena pria itu sedang merasakan getaran cinta, tapi karena marah dan kesal. Andra merasa kesal bercampur marah. Ada rasa khawatir juga di dalam hati dan pikirannya. Dengan cepat Andra menarik tangan Marcel hingga asistennya itu membungkuk. Kepala Marcel terlalu dekat dengan wajah Andra. "Kenapa kamu bawa dia ke sini? Mana putriku?" bisik Andra lirih. Meski lirih, tapi di dalam nada bicaranya terkandung penekanan yang cukup dalam. "Maaf, Bos. Putrimu aman," jawab Marcel. "Jangan macam-macam, Marcel! Bila sampai terjadi apa-apa pada putriku karena kamu membawa gadis itu ke sini, aku tidak akan segan-segan

