pagi ini aku masuk ruangan andi memberi berkas yang akan ditanda tanganinya. setelah dia menandatangani, aku beranjak keluar, dia menahanku
"ini surat perjanjiannya" andi mengeluarkan map dari laci mejanya
"aku tak membutuhkan itu lagi pak, kalau bapak akan melaporkan saya karena perjanjian itu saya siap dipenjara"
"tapi saya akan tetap melunasinya karena saya tak akan memanfaat orang yang sudah membantu saya, permisi"
aku keluar dari ruangan andi, perasaan sesak sekarang sudah lempang
maafkan aku cinta, gumam andi
///
3 minggu sudah berlalu dari kejadian malam itu. aku berusaha menghindar dari andi karena aku tak mau jatuh dilubang yang sama
"assalamualakum bun,.....cinta baik baik aja kok"
"...."
"astafirulloh, sekarang bunda dimana?"
"...."
"baiklah, saya kesana sekarang" aku menutup pembicaraan kami
aku mengetuk pintu ruangan andi
"permisi pak, saya mau ijin hari ini karena-...."
"bisakah hari ini urusanmu ditunda?siang ini ada proyek besar.aku sangat membutuhkanmu sekarang" sahut andi
"tapi keluarga saya sedang membutuhkan saya" jawabku
"apa dimas sekarang jadi keluargamu??" sarkas andi
"apa maksud bapak?" jelas membuat cinta marah
"KNAPA KAU LEBIH MEMENTINGKAN SIDIMAS ITU DIBANDING PEKERJAANMU? KALAU SAMPAI KAU BERANI KELUAR GEDUNG INI, AKU PASTIKAN GAJIMU DIPOTONG 50%. KELUAR!!!!" bentak andi
"dengar ya bos terkiler diseluruh jagat raya, aku ga perduli kalo sampai gajiku dipotong 50% atau bahkan ga digaji bulan ini tapi aku harus pergi, permisi" aku melangkahkan kakiku dan menutup pintu dengan keras, pergi meninggalkan gedung
///
pagi ini aku siap dimaki oleh andi, tapi sebelum dia melakukannya aku harus resign dari perusahaan ini
melangkah ke ruangan andi dan menyerahkan surat pengunduran diri
"aih...aih... apa ga salah kau mau keluar padahal kau masih punya hutang padaku" andi meremehkan cinta
"saya akan mencari pekerjaan lain dan segera melunasinya" sakit dirasa cinta kata kata andi yang tidak berperasaan
"bagaimana kalo kau menghilang?" andi mulai mencurigai cinta
"itu tak akan terjadi karena saya bukan tipe manusia tak bertanggungjawab"
"tak ada pengunduran diri. sekarang keluar masih banyak kerjaanmu yang belum terselesaikan. silahkan keluar...." andi merobek surat pengunduran diriku dan membuangnya ke tong sampah
rasanya aku ingin menelan kepala andi agar aku tak melihat wajahnya yang menjijikan
keluar dan mengerjakan semua sampai selesai
///
sudah seminggu pemakaman, aku bekerja tanpa kehadiran andi. kata teman teman andi sedang keluar negeri karena berhasil menyelesaikan kerjasama dengan pihak asing di belanda
ponselku berdering, ada nomor tak dikenal. semula kuabaikan tapi ponselku berdering lagi dengan nomor yang sama. akhirnya aku menggeser tombol hijau yang tertera diponselku
"cintaa....... ini aku intan, apa kabar sayangku"
"astaga intan, nomormu ga tersave d ponselku, maaf ya. alhamdulilah aku sehat. kau?"
"sama cin, aku pengen ketemu dirimu, besok ke rumah mami ya. aku mau perkenalkan tunanganku, kami sepakat menikah bulan depan"
'kau sudah di Indonesia in?"
'iya kemarin sampai dan mungkin akan buka praktek di Indonesia karena calon suamiku akan bekerja di perusahaan kak andi bagian property"
"aku ga janji datang ya, tapi sekali lagi selamat ya in"
"kalo kau ga datang, aku ga anggap lagi kau sahabatku. karena cla juga aku undang loh"
"insyaalloh..."
menutup pembicaraan sambil merebahkan badan di ranjangku menatap langit kamarku
aku ga mau ktemu andi kalau bukan urusan pekerjaan, sakit kepalaku muncul setiap kali tersebut nama andi
lusa udah hari minggu apa iya aku harus kesana. ahh.... sebaiknya aku istrirahat
///
"cin, jam brapa ke rumah mami. aku sudah di rumah mami"
"ooo siapa aja di rmh mami in"
"papi, mami, aku dan tunanganku"
"kak andi?" aku pura pua bertanya kalau sampai dia ada lebih baik aku dianggap ga sahabat intan dari pada melihat wajah andi
"loh kak andi kan masih di luar negeri. cepetan ya aku sudah kangen berat"
aku bersiap siap ke rumah tante berlian berjumpa dengan intan dan kenalan dengan tunangannya, penasaran seperti apa tunangan yang sudah merebut hati intan,
....
"andi, kok tau kalau ada adikmu di rumah mami" tante berlian memeluk dan mencium andi lalu beralih ke lisa yang ikut bersama dengan andi
"aku mau antar oleh oleh sama mami" lalu andi duduk disebelah tunangan intan
"hai kak apa kabar" ujar intan
"baik" jawab andi singkat
"kenalkan ini tunanganku" lalu tunangannya berjabatan tangan dengan andi
"bagaimana kalau kita langsung makan aja nanti cinta dan cla nyusul aja" ide mami yang disetujui oleh mreka yang hadir disana
TING....TONG....
"hai tante apa kabar" intan datang, tiba tiba dia terdiam sesaat seperti susah melangkahkan kakinya
"loh kok melamun nak, disini sama tante" ujar tante berlian sambil tersenyum pada cinta
aku mencium punggung tangan tante dan om
"kenalkan ini tunanganku mas doni" hampir saja cinta melorot ke lantai mendengar dan meilhat laki laki yang dulu sempat ditunggu janji manisnya
rasanya aku ingin berteriak, kenapa tuhan ga adil dalam hidupku. laki laki penyayang, penyabar dan murah senyum itu akan menjadi suami sahabatku. laki laki yang berjanji akan menjemputku tapi malah bergandengan dengan sahabatku
belum lagi aku melihat andi bersama wanitanya, rasanya mau lari sekencang mungkin emninggalkan tempat ini.. sakit kepalaku rasanya mau pecah
setelah berjabatan tangan dengan tunangan intan, aku duduk disamping tante berlian
"apa kabar in, maaf ya kemarin itu tante ga tau kalau intan butuh uang. hp tante ada masalah dan lupa kasitau no hp bisnis tante. trus gmana operasinya berjalan lancar?" tante membuka pembicaraan. aku melihat andi dan doni terkejut
"berjalan lancar tante" jawabku
"alhamdullilah"
"siapa yg operasi mi" tanya intan
"adek perempuan intan, sakit kelainan jantung"
"siapa yang kasi pinjaman in?" tanya tante
"te-teman tan" jawabku terbata bata
"wow baik benar temanmu in mau kasi pinjam 300. apa dia pacarmu." ledek tante sambil menyuap makanan ke mulutnya
"bu-bukan tan, dia 1 ktr sa saya" aku mulai menunduk
"udah lunas kah? biar tante bantu in" tante menawarkan bantuan
"sudah e... belum tan tapi saya sudah bilang akan mencicil"
"nanti tante bantu ya sayang" bujuk tante berlian
"ga usah terima kasih tan"
tiba tiba papi intan celetuk
"hati hati in, hutang budi dibayar body"
"husss.... papi jangan ngomong gitu. intan bisa jaga diri" tante langsung membantah
tanganku mulai gemetaran lalu aku menurunkan tanganku dibawah meja makan agar tak terlihat mreka. menahan air mata agar tak tumpah
tak berlangsung lama cla datang. dia semakin cantik dan montok. sepertinya hidupnya sudah makmur
hai semuanya.... maaf telat datang tadi taksi onlinenya bocor ban jadi telat deh. eh.... ada cinta", cla menghampiri kami dan duduk diantara aku dan wanitanya andi
"maaf ya in, aku ga bisa datang dipemakaman adikmu. turut berdukacita" ujar cla
"APA!!!!" serentak intan dan tante
"jadi adikmu meninggal setelah dioperasi in?" tanya tante dengan raut sedih
"opearasinya lancar tan tapi minggu lalu tiba tiba adik saya drop dan meninggal" tak tahan lagi air mataku tumpah. intan datang memelukku.
"yang sabar ya in, turut berdukacita ya"
"terima kasih in"
mungkin karena terlalu banyak beban dipikranku, kepalaku tiba tiba mau pecah dan mau muntah. aku lari ke kamar mandi, mengeluarkan makanaa yang barusan aku makan setelah membersihkan mulutku aku kembali berkumpul tapi aku terjatuh.
saat aku tersadar, aku sudah disofa dan kepalaku dipangkuan intan, diurut urut lembut olehnya
"in, spertinya aku harus pulang. karena besok aku harus kembali bekerja" cinta permisi pulang
'mas, kita antar cinta pulang ya" intan mengajak tunangannya
"ga usah, aku sudah pesan taksi online, permisi"