hari ini aku berniat permisi ga bisa masuk karena aku belum sanggup melihat wajah andi, mengingat kejadian kemarin rasanya kepala pusing dan mual.
ternyata ada pesan masuk ke ponselku dari andi mengatakan kalau dia hari ini tidak masuk kerja, alhamdullilah.....
untuk hari ini aku bisa tenang karena tak melihat andi. duduk di kursi meja kerja dan mulai dengan setumpuk berkas berkas.
TING.... pintu lift terbuka, aku mendongakkan kepalaku takut kalau dia yang muncul ternyata rasti teman kos dan satu kantor tapi dia di bagian keuangan
"e,,, cin, udah sarapan?" sapa rasti
"udah" jawabku singkat
rasti mengambil snack yang ada disamping berkasku, rasti mulai mengunyahnya dan masih memandangku
TING....
'Cin loe kemarin dicariin dimas, loe tidur dirumah siapa sih?" rasti berdiri disamping mejaku membelakangi pintu lift
"tidur di rumah teman" aku masih fokus dengan pekerjaanku
"kasian loh dimas baru datang dari luar kota langsung ke kos bawa kue ulang tahunmu" rasti masih mengunyak snack
apa???? astagaa aku sampai lupa kalau kemarin aku ulang tahun. aku terlalu fokus dengan perjanjian itu
"belum lagi dia menunjukkan cincin buatmu, katanya dia ga tenang kalau belum ikat dirimu"
sesak nafas dan air mataku hampir tumpah, aku menoleh kearah rasti dan terkejut, tepat diblakang rasti berdiri sesosok laki laki tampan berkaki jenjang dan penampilan elegan
keterkejutanku membuat rasti menoleh kebelakang "maaf pak, tadi saya mau ajak cinta sarapan. permisi"
rasti melangkahkan kaki kearah lift secara terburu buru
"dimas terlambat 1 detik dariku, aku sudah duluan mengikatmu" andi tersenyum, melangkahkan kakinya dengan tenang masuk ke ruangannya
tak tahan, aku berlari ke toilet dan menangis . menumpahkan perasaan sakit, benci, marah pada diriku sendiri, terlalu bodoh mempercayai andi membuat perjanjian itu. padahal hati cinta sudah pada dimas. setelah merasa tenang, aku kembali ke meja kerjaku.
'surat yang kemarin saya suruh kerjakan. antar sekarang ke ruangan saya"
saya mengetuk pintu dan masuk ke ruangan andi
andi mulai membaca, dia melihat kearahku
"apa masih sakit?" tanyanya
"ga" jawabku pelan agar dia tak mendengarnya
"berarti malam ini bisa kita lanjutkan? senyum iblis andi membuatku jijik
"itu tak berlaku lagi karena saya sudah meletakkan 100jt diatas nakas kamar bapak, sisanya saya akan lunasi"
"e..eee.... di perjanjian tak ada kata cicil sayang" andi menyandarkan badannya di kursi
"baiklah karena hari ini hatiku sedang bahagia, aku tunggu 1 minggu"
"APAAAAAA 1 MINGGU? APA BAPAK MIMPI, DARI MANA SAYA MENDAPAT SISANYA DALAM 1 MINGGU" hampir saja aku mengambil sepatuku dan melayangkan ke kepala andi yang mulai tak waras
andi hanya tersenyum, menyerahkan berkas yang sudah ditanda tanganinya
aku pergi dengan tergesa gesa. aku merinding mengingat perkataannya, 1 minggu?
///
aku melangkahkan kakiku menuju kos, saat aku melewati kamar rasti aku melihat rasti sedang bercanda dengan laki laki yang membelakang ipintu kamar rasti. tiba tiba laki laki itu seperti mau mencium rasti. karena mungkin laki laki itu merasa ada yang memperhatikan mereka, dia menolah ke arah pintu, DIMAS????
dia langsung beranjak mengejarku, "cin, aku hanya membantu dia karena matanya kerlilipan" dimas menjelaskan sambil mengikutiku. aku tetap berjalan menuju kamarku. dia ikut masuk ke kamarku dan duduk di tepi ranjangku
"cin, kw marah?" dimas merasa bersalah
"ga mas" aku memaksakan senyum padanya
dia tersenyum dan memelukku. air mataku menetes karena pelukannya
"astaga cin, jangan menangis, kalau kamu marah pukul, maki saja aku agar kamu puas' dimas merasa bersalah. padahal aku menangis karena telah menghianati dimas
"mas...... kita putus ya" aku sangat takut mengatakannya
"APA???? KENAPA GAMPANG SEKALI KAMU MENGATAKAN PUTUS PADAHAL AKU SUDAH MENJELASKAN BAHWA ITU HANYA MEMBANTU RASTI" dimas terkejut dan wajahnya memerah karena marah
"bukan itu mas, aku tak pantas buat mas"
"emang rasti lebih pantas darimu cin? aku mengenalmu udah lama. aku sabar untuk mendapatkan cintamu. sekarang apa kamu pikir aku akan terima keputusan sepihak darimu?" "aku pulang supaya kamu bisa berpikir tenang dan tak mengulangi ucapan bodohmu itu. aku mencintaimu" sebelum dia beranjak pergi, dia meletakkan kotak kecil dan paperbag diatas meja kamarku
"selamat ulang tahun sayangku" ucap dimas sebelum menghilang dibalik pintu kamarku
hatiku semakin sakit, aku juga mencintaimu tapi apa kau akan terima aku seperti ini? air mataku tak mau berhenti. sampai aku tertidur karena menangis
di gerbang pintu rumah kos, saat andi hendak keluar mobil membawa seikat bunga mawar yg cukup besar dan paperbag tanpa sengaja dia melihat dimas keluar dari gerbang dan masuk ke mobil yang agak jauh dari gerbang tersebut. andi menghidupkan kembali mobil meninggalkan rumah kos cinta. mencengkeramkan stir mobil karena merasa sangat marah
///
"aku tunggu kau di rumahku. aku akan memberi surat perjanjian itu"
"apa bapak mau memberikan saya waktu lagi?" tanyaku
"kau datang aja dan ambil surat itu jadi perjanjian selesai"
mungkin andi tersambar malaikat maut jadi dia ga mau cepat mati sehingga berbaik hati menyelesaikan perjanjian kami. alhamdullilah....
....
sampai di rumah andi, aku duduk di sofa ruang tamunya tapi aku tak melihat surat itu. hanya andi yang duduk seorang diri
"kau semakin cantik cinta" senyum iblis andi terpampang diwajahnya
"mana suratnya pak" kataku semakin curiga
"kita harus bersenang senang sebelum kau mengambilnya sayang"
aku berlari karena sudah tau apa tujuan andi. dia menangkapku dan memaksaku ke kamar tamu dekat ruang keluarga. dia kunci kamar dan memulai aksi bejatnya. aku terus memohon dan memberontak tapi sepertinya dia orang kecanduan yang tak mendengar permohonanku.
setelah dia melakukan beberapa kali, dia membaringkan tubuhnya disampingku. aku tak bisa tidur karena ada monster disampingku. sampai subuh baru aku merasa ngantuk.
saat bangun sudah menunjukkan pukul 7 pagi, aku langsung memungut pakaianku dan ke kamar mandi. aku keluar dan melihat andi di meja makan sedang sarapan
"nikmat sekali ya sayang sampai jam segini baru bangun"
sebenarnya aku ingin menjambaknya dan mengantukkan kepalanya ke meja tapi aku harus mendapatkan surat itu agar hatiku tenang
"pak mana surat perjanjiannya" aku berdiri di sampingnya
"duduk dan sarapan dulu" dia mengabaikan pertanyaanku
"saya mau pulang pak" sahutku mulai terisak
"DUDUK!!" andi meninggikan suaranya
aku dan bi ijah yang kebetulan datang mengantar piring terkejut lalu aku duduk, bi ijah pergi setelah meletakkan piring di depanku tak lupa aku mengucapkan berterima kasih
'emang semahal itu kah aku menidurimu?" andi melirikku
astagaaa..... apa yang dibicarakan andi
"2 kali bercinta seharga 200? kalo kamu artis papan atas mungkin bisa segitu" andi menunjukkan keaslian, dia ternyata laki laki brengsek
"saya pikir bapak seorang dermawan yang bisa membantu orang kecil" andi tertawa sambil menyuapkan roti ke mulutnya
"saya tak akan meminjamkan uang itu seandainya adik saya-...."
aku belum menyelesaikan kalimatku, andi mengangkat sebelah tangannya
"aku tak perduli untuk apa uang yang kau pinjam yang pasti surat itu masih ditempat yang aman"
TING...TONG...
lusi datang dengan baju kurang bahan
'hai ndi, e.... ada tamu. ada sesuatu hal penting?" lusi menghampiri andi dan mencium pipiny lalu duduk di samping andi yang berhadapan dengan ku
"dia pinjam uang 200 tapi aku ga kasi jadi dia menangis" andi berbohong
tak sanggup aku mendengarnya aku pergi "permisi"
ingin rasanya sampai di kamar dan menumpahkan segalanya di bantal kesayanganku
*02.06.20