mataku belum mau terpejam padahal udah lewat tengah malam
daftar nama teman yang sudah di telepon masih ada d depanku
hasilnya cuma bisa dapat 80 juta pinjaman. jauh bahkan sangat jauh
apa yang harus aku lakukan?
hari yang ditentukan semakin dekat, apa aku bisa minta diulur waktu sama pak andi? gumamku
drrtt... drrtt...
tertera nama dimas
"hai mas, apa kabar?"
"....."
"ooo... syukurlah, ada apa telpon jam segini?"
"............."
"sabar mas, kalah menang itu biasa. jadi harus tetap semangat.ok"
"......"
"iya ini mau bobok, udah ya. met malam"
hmmm tak mungkin membebaninya... aku berusaha menutup mataku. semoga setelah membuka mataku hari sudah terang, amin
///
sudah berjalan 3 minggu tapi uang belum terkumpul semua, aku mulai panik dan terus berdoa semoga minggu depan sudah terkumpul semua.
"masuk ke ruangan sebentar"
aku menuruti perintahnya
"lusa ada proyek besar jadi tolong selesaikan ini" andi menyerahkan map agak tebal, aku mengangguk
melirik padanya tapi dia langsung menghidupkan laptop dan membuka berkas lain
"sekarang kamu bisa keluar" dia tidak menoleh padaku,
andi sepertinya tak mengungkit uang tersebut, aku tersenyum tipis
"kenapa masih memandangiku, apa aku membuatmu terpesona?" ujar andi datar
aku terkejut lalu melangkahkan kakiku menuju knop pintu,
aku meremas dadaku, ada apa denganku?
ah sudahlah, yang penting belum 1 bulan, manatau di hari ke 30 ada hati andi berubah mau mengubah sampai satu tahun, aku menenangkan pikiranku dan mulai membuat map yang diberikan andi untuk dikerjakan.
sampai sabtu sore, aku mengetuk pintu ruangan dan membuka knop pintu
"permisi pak, ada yang bisa saya kerjakan lagi? kalau tidak saya mau pulang" ujarku
dia mendongak dan melihat padaku, tersenyum "masuk sebentar dan duduklah"
aku masuk dan duduk di kursi yang menghadap kursi kebesaran andi
"cinta, masih ingatkan dengan perjanjian itu?" andi mengingatkan perjanjian itu
aku mulai gelisah dan melihat kearahnya, apa yang harus aku katakan?
"hari ini sudah genap sebulan. apa kau sudah siapkan uangnya" andi mengangkat kedua alisnya dan membuatkan matanya sambil tersenyum
"apa masih bisa diperpanjang pak, uangnya belum terkumpul" jawabku ragu
diapun tersenyum, dan membereskan map yang berserakan diatas mejanya, mematikan laptopnya
"malam ini aku tunggu di rumahku jam 10 malam agar bisa kita selesaikan" dia tak melihatku karena dia masih memasukkan map dan laptop ke dalam tasnya
aku berfikir mungkin pak andi akan memberi aku kelonggaran waktu.
"baik pak, terima kasih" aku mengangguk, berdiri dan pergi menuju pintu, pulang ke tempat kos
setelah pintu tertutup, andi mengambil sisa kopi yang ada di cangkirnya, memutar kursinya mengarah pada jendela kaca, memandangi kota yang disirami air hujan, kota yang penuh dengan gedung pencakar langit, diminumnya sisa kopi yang di tangannya, dia tersenyum
"harinya telah tiba cinta, aku telah lama menunggu hari ini" andi menunjukkan senyum kemenangan
lalu dia berdiri dan menenteng tas pergi menuju parkiran mobil,
saat memutar mobil menuju jalan raya, andi masih melihat cinta di halte menunggu bis, berniat mengantarnya pulang tapi diurungkannya karena dia harus mengumpul tenaganya untuk malam yang istimewa ini
****
cinta bergegas sampai di kos, sebelum sampai, dia singgah ke warung nasi untuk beli nasi bungkus
lalu buru buru ke kamarnya, saat melewati kamar rasti "hai cin, kok buru buru?" tanya rasti
"he eh, mau ke rumah teman. ada hal penting" jawabku singkat lalu meninggalkan rasti
langsung makan, mandi, memakai dress biru dan memoles bedak lipstik seadanya karena waktu semakin sempit
setelah merasa semua beres, cinta memasukkan uang tunai hasil pinjaman dari teman temannya ke dalam tas. semoga andi berbaik hati mau mengulur waktu, itulah doaku saat melangkahkan kaki meninggalkan rumah kosnya
aku masuk buru buru ke dalam taksi online yang sudah menungguku, takut tubuhku terkena hujan, mobil melaju menuju rumah andi, sesampai di rumah andi, satpam membuka pintu taksi dan menyerahkan payung kepadaku, aku sedikit kebasahan
sesampainya di ruang tamu, " bi, ada pak andi" aku tersenyum padanya
"langsung aja naik keatas nak cinta" jawabnya sambil memberi handuk kecil untuk mengeringkan rambut dan tubuhku yang terkena pircikan hujan
"kamarnya diatas" bi ijah mengarahkan telunjuknya pada lantai dua
kenapa harus dikamar pak andi, pikirku
tapi aku mengangguk dan melangkah menaiki tangga sampai di depan kamarnya. mengetuk pintu kamar dan membuka dengan hati hati
aku melihat andi sudah duduk di tepi ranjang memakai piyama.
"maaf pak, tadi kata bi ijah saya ke kamar bapak"
"masuklah" andi mempersilahkan aku masuk
aku masuk dan menutup pintu, aku sedikit ragu
aku masih berdiri membelakangi pintu
"kau kehujanan?" "i-iya pak"
"apa perlu kehangatan?" andi tersenyum, aku diam
"kau masih ingat semua isi perjanjian itu?" aku mengangguk
"iya pak, saya minta waktu lagi pak agar saya bisa menulasinya" aku mulai memohon
"tapi dalam perjanjian tertulis, bila kau tak dapat melunasi dapat 1 bln, aku berhak mengajukan permintaan apapun padamu"
aku terkejut dan hampir terjatuh, permintaan apapun?????
andi berdiri mengambil surat di atas nakasnya, berjalan kearahku, menunjukkan perjanjian itu yang sudah aku tanda tangani, jelas terteras ada poin seperti yang dikatakan andi. astagaa.... kenapa aku bisa melewati poin ini? aku mulai gelisah
"ja-jadi apa yg akan bapak ajukan" aku mundur selangkah karena dia sudah mendekatkan diri padaku sampai akhirnya aku tertahan di dinding. dia merapatkan tubuhnya padaku
"aku mau malam pertamamu" dia berbisik ditelingaku, mataku membulat dan menoleh padanya. mencerna apa yang barusan dia katakan
seketika itu aku tersungkur dihadapannya. air mataku mengalir cepat
"aku mohon pak, apapun itu akan saya usahakan lakukan asal bukan itu pak"
dia berjongkok menyetarakan tubuh kami
dia memegang kedua lenganku dan memposisikan aku berdiri berhadapan dengannya
dia mulai mencium lembut bibirku, dia tau aku sangat ketakutan, dia mulai melumat bibirku membuka mulutku dan lidahnya menjelajahi ruang dimulutku, aku mendorongnya tapi kekuatanku tak sebanding dengan tubuhnya yang kekar
sambil terus melakukan aksinya, dia mulai membuka resleting dress ku dan pengait braku
dress dan bra ku sudah jatuh ke lantai. aku menutup dadaku dengan tanganku karena takut dan malu
"tidak usah malu cin, cuma ada kau dan aku" dia membawaku ke tepi ranjang
dia menatap d**a yang aku tutupi, tersenyum berusaha melepaskan tanganku tapi aku tetap menutupinya
"kau anugerah terindah cinta" dia berdiri, membuka piyamanya tinggallah cd yang melekat di tubuhnya
aku menutup mataku karena tanpa sengaja aku melihat tonjolan besar dibalik cdnya
dia tersenyum saat melihatku menutup mata
aku terus memohon lagi agar dia memberi aku kesempatan, air mataku terus mengalir
andi mulai iba "baiklah.... aku akan-" belum selesai dia dengan perkataannya
tiba tiba ponselku berdering, nama dimas tertera. aku melirik pada andi "coba diterima manatau penting"
dengan ragu ragu aku mulai menggeser gambar telepon berwarna hijau
"iya mas...."
"......"
"lagi dirumah teman, mungkin besok pulang"
"....."
"baiklah, sampai ketemu besok"
"......"
"aku juga mencintaimu" kataku pelan agar andi tak mendengarnya
saat aku menutup pembicaraan kami, aku menoleh pada andi, wajah andi menggelap, rahangnya mengeraskan, dia langsung merebahkanku dengan paksa di ranjangnya, aku memberontak dan memukulnya agar dia sadar
"aku sudah tak sabar ingin memlikimu" andi mulai meninggikan suaranya. dia menimpaku dan terus menciumiku
"tolong pak, perbuatan kita ini salah" tapi sepertinya dia tak menghiraukannya
"kalau kau terus memberontak, akan terasa sangat menyakitkan jadi diamlah" andi membentakku tapi aku tetap memberontak dan berusaha mendorongnya
hingga aku merasakan ada benda tumpul masuk kedalam bagian bawah perutku, sangat besar seperti mengoyakkan bagian bawahku, sangat sakit membuat air mataku semakin deras. tak lama benda tumpul itu mulai bergerak, kesakitanku semakin bertambah
"andi, sakit....." jeritku, air mata ku semakin deras
dia terus melakukan aksi brutalnya, dia tak memperdulikan permohonanku untuk menghentikan gerakannya. sampai menghentakkan kegiatannya dengan suara dan wajahnya mengarah keatas "aarrrgghhhhh.....'
dia jatuh diatas tubuhku, dan mencium bibirku sebelum dia pindah di sampingku
aku meringkuk di atas kasur memeluk selimut menutupi tubuhku
andi, kau benar benar brengsek....
hujan malam ini menjadi saksi bisu
****
sinar matahari sudah menampakkan dirinya di celah gorden kamar. hujan sudah tak turun lagi begitu juga dengan air mataku yang sudah habis semalaman akibat ulah manusia yang disampingku, badanku terasa remuk ntah berapa kali andi melakukan penyatuan padaku.
aku menatap langit kamar lalu menoleh pada andi, aku melihat andi masih tidur telungkup dengan selimut sampai sepinggangnya. aku memungut pakaianku dan ke kamar mandi untuk membersihkan diriku
selesai aku mengenakan pakaianku, aku turun ke bawah
aku melihat bi ijah menatapku "mau sarapan?" tanyanya
aku menuruni tangga lalu menggeleng, dia merasa iba karena wajahku sembab habis menangis tapi dia tak bisa melakukan apa apa
"bi, saya pulang dulu" aku pamit lalu menuju daun pintu rumah.
aku meninggalkan rumah itu
masih diatas ranjang, andi terbangun, dia tak melihat cinta, membalikkan tubuhnya, dia mengingat apa terjadi malam itu.
dia sedikit menyesal tapi dia tak mau gagal kedua kalinya. akhirnya senyum terukir di wajahnya
saat hendak menyibak selimutnya, ada darah yang hampir mengering di sprei putihnya. akhirnya kau jadi milikku cinta. kau tak akan bisa pergi. andi ke kamar mandi sambil bersiul kemenangan
pembaca yg terkasih, dibaca jg ya judul ANTARA KAU, AKU, IBUKU DAN AYAHMU. ceritanya cukup sedih n terima kasih