PERJANJIAN ITU

814 Kata
andi menatap hujan yang turun ke bumi dibalik kaca jendela di ruang kerjanya. seakan alam tau saat ini hatinya sedang menangis. sakitnya sekarang lebih besar dibanding saat lisa mengikat janji dengan suaminya. andi ditolak oleh gadis biasa, padahal diluar sana banyak gadis yang rela tidur di ranjangnya dan memberi harta berharganya demi seorang andi. lucu sekali.... andi tertawa kecil lama andi menatap ke luar jendela sampai dia tersadar kalau hari sudah malam. dia duduk sebentar dan berjanji menata kembali hatinya untuk ke tiga kalinya membereskan berkas diatas mejanya lalu meninggalkan ruangannya **** cinta mengeringkan rambutnya dengan handuk setelah dia mandi dan duduk di depan tipi lalu menyalakannya untuk mendengar berita hari ini,  tiba tiba ponsel cinta bergetar. tertera nama bunda "assalamualaikum bun" cinta menggeser tombol hijau yang ada di ponselnya "......" "baik bun, gimana dengan bunda dan adek adek?"  "...." "APA BUN??? sebanyak itu dari mana aku dapatkan dalam waktu tiga hari?" aku memegang ponselku gemetaran "......" "kenapa ibu tak cerita dulu sama cinta sebelum meminjamkan uang ke tetangga tetangga kita bunda" aku sedikit menaikkan suaraku "......" "baiklah bun, sekarang jangan menangis. aku coba cari pinjaman kalau masih ada waktu tiga hari" "....." "astagaa.... bunda kenapa baru hari ke tiga ini bunda memberi aku kabar" aku agak kecewa "......" "baiklah, aku usahakan bun, sudah jangan menangis" aku coba menenangkan hati bunda setelah menutup pembicaraan kami. aku termenung. seandainya dulu aku berinisiatif memasukkan adekku asuransi atau kartu sehat dari pemerintah, mungkin kejadian ini tak akan terjadi. tapi apa boleh buat ibuku tak berfikir panjang harus meminjamkan uang ke tetangga tetangga asal adekku bisa dioperasi akibat kelainan jantung. sekarang 300 juta sudah ditagih oleh para pemiliknya. warisan pun tak sampai segitu bila dijual belum lagi kemarin tabunganku terkuras karena adek lelakiku yang sedang kuliah di kota yang beda denganku, masih blajar membawa mobil tak sengaja menabrak orang hingga masuk icu, dan mobil tersebut bukan miliknya jadi harus memperbaikinya aku coba menelepon teman temanku tapi nihil hasilnya tiba tiba nama andi muncul dilayar ponsel "malam pak, ada yang bisa saya bantu" "besok tidak usah ke apartemen karena saya sedang di rumah saya" "baik pak.... pak maaf bisa saya bicara sebentar?" kataku ragu ragu "hmmm" "bisa saya pinjam uang bapak 300 juta, saya akan bayar setiap kali saya gajian" "kapan perlunya?" "malam ini pak" "saya tunggu di rumah, nanti saya kirim alamatnya" aku segera berangkat sebelumnya aku menelepon ibuku supaya mengirimkan nomor rekening yang dipinjamkan uang oleh ibuku **** karena hujan semakin deras, aku sampai di gerbang rumah andi yang ternyata sangat besar. satpam menjumpaiku katanya aku sudah ditunggu pak andi di dalam menutup payung dan menggosok gosok tanganku agar tidak terlalu dingin di teras "bi ijah? sekarang tinggal disini?" tanyaku saat seorang wanita paruh baya membuka pintu rumah bi ijah tersenyum dan mengangguk "ada pak andi bi?" tanyaku lagi aku masuk dan merasa sangat kedinginan. bi ijah memberikan aku handuk untuk mengeringkan rambutku yang terkena percikan hujan aku duduk di kursi jepara yang berukir bunga. lantai marmer, lampu kristal, dan beberapa guci mahal berderet di sudut ruangan. nuansa dominan kayu di ruangan tersebut membuat ruangan tersebut seperti di alam terbuka,  andi keluar memakai baju piyama. membawa secarik kertas dan pena. duduk di kursi yang sama denganku. "aku akan mengirim uangnya sekarang dengan sebuah perjanjian' menyerahkan kertas dan pena bi ijah datang membawa teh anget lalu pergi meninggalkan kami karena aku sangat pusing mendengar kejadian tadi dan lelah sepulang kerja ditambah kepala dan tubuhku terkena percikan hujan jadi aku tak terlalu fokus dan isi perjanjian. yang pasti aku bisa membaca kalau uang itu harus dikembalikan dalam waktu satu bulan hmmmm..... 1 bulan waktu yang panjang. aku bisa mencoba lagi ke teman temanku yang lain untuk meminjamkan uang tersebut aku mengangguk setuju "dimana saya tanda tangani pak?" tanyaku "disini" andi menunjukkan tempat aku menandatangani surat tersebut  lalu andi menunjukkan layar ponselnya tertera kalau uangnya sudah dia transfer ke nomor rekening yang aku berikan "terima kasih pak" ujarku sambil tersenyum "aku yang berterima kasih cinta karena kau masih percaya padaku" andi membalas dengan senyumnya "baiklah, saya permisi pak" aku berdiri dan melangkahkan kakiku keluar andi menatap cinta dari balik jendela, dengan samar samar dia melihat cinta menaiki mobil karena air hujan menghalangi pemandangannya andi naik ke kamarnya, memasukkan surat dalam map dan memasukkan ke dalam tasnya membuka piyamanya lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang, menarik selimutnya. terpampang senyum diwajahnya aku akan menutup aksesmu untuk mendapat pinjaman cinta,  andi menutup matanya membayangkan cinta jatuh dalam pelukannya masalah selesai....... *** sampai di kos cinta, cinta akhirnya mandi lagi karena tubuhnya semakin basah karena hujan tak berhenti setelah mandi, dia menegringkan rambutnya dan mulai berfikir, gimana kalau besok aku ke bendahara meminjam uang biar gajiku dipotong nanti aku mencari tambahan untuk makanku sehari hari, pikirnya dulu aku paling suka masak kue, sepertinya membuat kue dan menitipkan ke warung dan kantin kantor kayaknya ide yang cukup baik lalu dia menutup matanya, semoga apa yang direncanakan bisa terlaksana, amin //// berada diruangan bendara "jadi tidak bisa melakukan pinjaman ya mbak" aku lemas karena pihak bendahara menolak niatku dengan alasan banyak proyek yang harus didulukan "baiklah mba terima kasih" aku beranjak dari ruang bendahara bendara mengambil ponselnya dan menelepon seseorang "pak tadi cinta kemari mau mengajukan pinjaman sesuai dengan perintah bapak, kami menolak pak" andi menutup teleponnya, tersenyum, seperti dugaanku, kau pasti mengajukan ke perusahaan. kau terlambat cinta
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN