MENGGUGURKANNYA

1019 Kata
seminggu cinta merasakan siksaan muntah dipagi hari. ingin minta ijin tapi kerjaan sangat banyak belum lagi bosnya seperti menyiksanya dengan segudang perintah TING.... 'cin kau pucat' rasti keluar dari lift menuju meja cinta "mungkin karena terlala lelah bekerja ras dan kurang istirahat, belam lagi perintah bos yang gak habis habisnya" jawabku sedikit mengeluh "sudah berobat?" tanya rasti lagi "belum rencana sore ini, emang kenapa ras?" aku menoleh padanya diam sejenak... dengan ragu ragu rasti bertanya "cin, bisa aku menanyakan sesuatu denganmu?" "hmmm...." 'cin, apa betul gosip anak anak di kantor, kalau kau hamil?" 'hahhhh.... gosip apa itu?" pena yang dipegang cinta terlepas karena lemas "pliss jangsn marah. seandainya betul, dimas harus bertanggung jawab" rasa pusing dan mual membuat cinta lari ke kamar mandi wueehhhh.... wueehhh... rasti membantu cinta mengurut tengkuk cinta. setelah membersihkan mulutnya. cinta melihat wajahnya di cermin tampak jelas wajah pucatnya. dia nangis lalu memeluk rasti "menangislah sepuasnya cinta agar bebanmu sedikit berkurang" mereka kembali ke meja kerja cinta, nanti kita makan siang bareng ya cinta yang memang tidak bernafsu makan hanya terdiam "jangan terlala dipikirkan cin. dimas pasti mau bertanggungjawab. mungkan saat itu kalian khilaf. betulkan?" cinta menangis dalam diam. tak mau membantah ataupun mengiyakan sebuah kebohongan rasti meninggalkan cinta .... perkataan rasti membuat cinta tak fokus bekerja, lalu ia membuka info dari ponselnya mengenai tanda tanda kehamilan. dan hampir semua tanda itu sedang dialami cinta. dia mengingat ingat tentang kejadian itu, andi tidak pernah menggunakan pengaman saat bercinta, bukan... lebih tepatnya memperkosanya hal ini membuat semua pekerjaannya berantakan. setiap kali andi membaca berkas yang dbuat cinta membuat andi kesal dan melirik curiga pada cinta sepertinya dia mempunyai masalah baru tapi enggan bertanya setelah cinta meletakkan bokongnya di kursi kerjanya, melipat tangannya dan meletakkan di atas meja tampak dia sedang melamun. lalu melirik jam di tangannya, sebentar lagi waktu pulang, aku harus memastikannya gumam cinta TING.... seseorang keluar dari kotak besi, intan dengan penampilan yang sangat cantik "cinta???? kau bekerja dsini?" tanya intan kaget "eh... I-iya" jawab cinta gugup 'kenapa ga cerita cin" "karena kau tak bertanya" membuat mereka tertawa bersamaan "mau ktemu pak andi?" tanyaku "aku melihat tunanganku bekerja hari ini dsini. dan menghampiri kak andi sebentar" intan berhadapan dengan cinta dan bertanya "kau sehat cin" "he...eh" cinta tersenyum tipis "baiklah, aku ke tempat kak andi ya" intan tersenyum dan meninggalkan cinta ... "kak, apa kabar?" intan membuka knop pintu lalu menutupnya "hmmm... baik" tanpa menoleh karena andi sudah tau itu pasti intan dari suaranya "ternyata cinta sekretarisnya kakak, aku baru tau" "dia ga cerita pada mu" andi melirik intan intan menggeleng "tidak", duduk di sofa yang menhadap meja kebesaran andi, tak lama intan melangkahkan kaki mendekati meja, sedikit menunduk mendekatkan jarak intan dan andi "ada hal penting yang harus dibicarakan? karena aku sangat sibuk" andi mulai tak nyaman dengan keberadaan intan "tadi nya cuma mau lihat tempat kerja tunanganku terus ketemu kakak" "tapi sekarang ada yang hal penting yang harus aku tanya ke kakak, apa cinta punya pacar?" andi medongakkan kepalanya "emang aku bapak atau kakaknya harus tau dia punya pacar atau ga" lalu sibuk membaca berkasnya "maaf cuma setau aku dia cuma bercerita tentang laki laki yang di kampungnya itu" "hidup cinta sudah cukup menderita dari dulu kak" "kalau sampai laki laki itu juga tak bertanggung jawab, betapa menderitanya cinta" "APAAAA???? siapa maksudmu intan?" jantung andi berdetak kencang dan rasanya mau copot "iya... cinta hamil kak, padahal dia selalu memegang teguh prinsipnya tentang sebuah kehormatan. mungkin betul kata papi 'hutang budi dibayar body' dan cinta terpaksa melakukannya  karena hutangnya dulu kak" andi membeku tak percaya "kita harus membantu cinta kak, laki laki itu harus bertanggung jawab" "kalau dia tak mau bertanggung jawab, kita seret dia ke penjara" "karena dia cerita kalau dia meminjamkan uang itu ke teman 1 kantornya jadi kakak harus cari laki laki b******k itu" tok..tok.. ceklek "permisi pak, ada lagi yang bisa saya kerjakan? kalau tidak, saya mau pulang" cinta melihat andi dan beralih ke intan lalu tersenyum "kak kok ga dijawab? itu ditanya cinta masih ada kerjaan lain ga?" "eh... ga, kamu bisa pulang" andi masih terkejut dengan perkataan intan hendak menutup pintu tiba tiba intan beranjak mendekati cinta "cin, aku pulang bareng kamu ya, kak nanti kita bicarakan lagi. tolong dibantu. makasi" lalu intan berlalu dihadapan andi, "emang udah selesai ngomongnya dengan pak andi?" mreka berjalan menuju lift "hahahaha... jadi lucu dengarnya kau bilang pak andi" "aku antar kau pulang ya, tidak ada penolakan. ok" cinta mengangguk dan masuk ke mobil intan .... andi masih tak percaya dengan apa yang barusan dikatakan intan, bagaimana kalau itu memang benar. apa cinta mau menikah dengannya? atau akan menggugurkannya? tidak, anakku harus dilahirkan, aku akan bertanggung jawab. aku akan mendapatkan hati cinta lalu andi bergegas keluar gedung, masuk ke mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah mami. ..... "in, ayo masuk dulu" "makasi cin, aku harus ke kantor lagi karena tunanganku sedang menungguku, kami mau ke rumah mami. kapan kapan harus mau ya kuajak makan. aku udah pengen dengar critamu" lalu cinta menutup pintu mobil dan melambaikan tangan ke intan, masuk ke kamar kos, dia melihat dimas berdiri di depan pintu kamarnya "cinta aku mau bicara" cinta membuka pintu kamar dan masuk disusul dimas "ada apa?" "apa betul kata rasti, kau hamil?" wajah dimas memerah dan tangannya mengepal kuat krn menahan amarah cinta diam 'siapa ayahnya cin?" cinta mulai menangis... lama terdiam "jawab cinta, biar aku jumpai dia. dia hrs bertanggung jawab" "kenapa diam saja, apa dia tak mau bertanggung jawab?" dimas sangat marah "cinta jangan diam aaja..." dimas mulai meninggikan suaranya memegang erat kedua lengan cinta karena tak kunjung mendapat jawaban, "kalau dia tak mau bertanggung jawab, biar aku yang menggantikannya" dimas mencoba menenangkan cinta cinta terkejut "aku tak mau anak ini mas, aku tak mau anak ini" cinta mulai terisak dimas memeluk cinta "cin, jangan lakukan dosa lagi, kau sudah melakukan dosa sebelumnya jangan sampai kau menggugurkannya. itu berarti kau sudah membunuhnya cinta semakin terisak sampai tangisannya mulai reda, dimas melepaskan pelukannya dan beranjak keluar pintu dan membalikkan badannya kearah cinta sebentar aku keluar tapi aku akan bertanggung jawab "SUDAH SEHARUSNYA KAU BERTANGGUNG JAWAB ATAS KEHAMILAN CINTA" tiba tiba seorang wanita berdiri di depan pintu pas dibelakang dimas sambil memegang paper bag milik cinta dimas dan cinta terkejut bersamaan dan menoleh pada wanita itu, intan "dari mana kau tau in?" tanya cinta penasaran "kau lupa kalau aku seorang dokter? saat kau pingsan di rumah mami, aku memeriksamu cin, laki laki ini harus bertanggung jawab" telunjuk intan mengarah pada hidung dimas dadanya semakin sesak, bagaiman kalau andi tau. astagaaa....semakin dipikirkan semakin terasa pusing, cinta akhirnya pingsan intan dan dimas memapah cinta ke ranjangnya, memberi minyak kayu putih dan mengurut kening cinta pelan.  *O4.06.20
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN