BAB 4 PAHLAWAN KAMPUNG.

1066 Kata
"Kenapa kamu jok? kok kayak kaget gitu?" tanya andi penasaran dengan sahabatnya itu yang tiba-tiba terdiam. "Baca ni, ternyata orang tua merry adalah seorang bos mafia besar!" terangnya sambil terus memandangi layar laptopnya. "Hah! bos mafia?". Di portal itu menjual berbagai miras import dari luar negeri dengan harga yang sangat fantastis. Berbagai merek miras ada disana mulai dari yang kualitas rendah sampai kualitas tertinggi. Untuk membelinya juga tak mudah, mereka harus menukar terlebih dahulu uang yang akan di pakai bertransaksi di portal tersebut. Disana telah menyediakan alat penukaran yang dimaksud tadi dengan sebuah koin dan koin ini sendiri dikelola oleh mereka. Dewasa inilah yang menyebabkan mereka sulit untuk dilacak. Para mafia seakan mempunyai dunianya sendiri sehingga sulit terjangkau. Joko terkejut ketika melihat silsilah yang ada didalam portal. Di silsilah itu, dijelaskan bahwa sang pemilik bisnis miras adalah paul yang tak lain ayah merry. "Buset! berarti aku mencintai anak seorang bos mafia jok! tapi aku gak mau menyerah. Walaupun aku seorang pengangguran, aku tetap berjuang untuk mendapat cintanya" tekad andi. "Ya terserah kamu di, aku cuma ngebantu sebisanya aja" jawab joko. Andi lalu meminta no alamat yang tertera di dalam portal. Tiba-tiba terdengar suara orang sayup-sayup yang sedang mengeluh mengenai keadaan ekonomi mereka. "Cari kerja sana lo, anak udah pada gede-gede gini masih juga males-malesan" bentak suara seorang wanita kepada suaminya. "Aku kerja apa! disini susah cari kerja tau" bentak balik si suami. Masalah seperti ini sudah umum terdengar di perkampungan andi, jangankan mereka, andi saja yang masih muda dan bersemangat, sulit mendapatkan pekerjaan di kampungnya itu. Para orang tuan bersusah payah menyekolahkan anak-anak mereka ke kota, sarana dan prasarana jauh dari kata memadai semua itu di perparah dengan tidak adanya klinik kesehatan yang membuat angka kematian dikampung andi tinggi. Ironis memang melihat keadaan di kampung tersebut, tapi pernah tercetus semangat dalam diri andi, suatu saat ia akan membawa kampungnya lebih layak dan manusiawi bagaimanapun caranya. Setelah mencatat alamat rumah merry, andi mengajak joko bergegas mencari alamat tersebut dengan menggunakan motor milik joko. Saat mereka melewati pasar kampung, terdengar suara teriakan histeris seorang wanita yang membuat mereka menghentikan laju motor yang mereka kendarai. "AMPUN PAK! SAYA JANJI BESOK BAYAR SETORANNYA" pekik suara wanita tersebut yang ternyata seorang pedagang pasar. "Bruak!" suara dagangan di banting jatuh ke tanah. "Saya maunya sekarang! jangan sampai saya membakar dagangan ini" ancam seorang pria yang merupakan anak buah pak burham mafia pasar. "Jangan pak! saya makan apa kalau dagangan saya di bakar". "Bodo amat! kamu jual tubuh kamu, hahaha" ucap pria itu lalu menyiram bensin di dagangan tadi dan bersiap untuk membakarnya. Melihat kejadian itu, sontak andi turun dari motor dan berlari ke arah mereka. Saat pemantik api mulai menyala di tangan pria tadi, dengan gesit anda menghalaunya dengan cara memegangi tangan pria itu. "Heh!, siapa kamu?" ucap anak buah burham sambil menoleh ke belakang. "Hehe, jangan beraninya sama wanita" ancam andi. "Dasar bocah ingusan! tau siapa saya?" tanya pria itu sambil membalikkan badan menghadap andi. "Aku gak perlu tau kamu siapa! lawan aku kalau kamu berani" bentak andi. Melihat sang sahabat di ujung masalah, joko bergegas menghampiri. "Udah andi, gak usah ikut campur, ayo kita pergi" ujar joko sambil memegangi tangan andi menariknya untuk kembali ke motor. "Kamu yang diam! akan aku kasih pelajaran badut-badut ini" jawab andi sambil melepas genggaman joko. "Hahaha, sudah bosan sepertinya teman kamu ini". Sebuah bogeman keras mengarah ke wajah andi, dengan sigap ia menghindari dengan sedikit mundur ke belakang. Melihat teman mereka mendapat perlawanan, para anak buah burham yang berjumlah 5 orang itu datang mengeroyok andi. Joko ketakutan, ia berlari bersembunyi di balik tembok pasar, sedangkan andi, menjadi bulan-bulanan anak buah burham. "Arrgh! kurang ajar kalian!" pekik andi uang mengabaikan lebam di wajahnya. Dengan membabi buta andi memukul, menendang mengejar para orang-orang itu, satu tendangan berhasil mengenai tubuh anak buah burham dan terjungkal ke lantai. "Anj*ng!" emisi pria itu lalu mengambil sebuah pisau yang berada di dekatnya. Saat menghunuskan pisau itu ke perut andi, dengan sigap ia menghindar lalu memegang tangan si pria dan dengan cepat mengambil pisau di tangannya. Berpindah tangan pisau yang sekarang dalam genggaman andi. Sambil mengayun-ayunkan pisau, andi terus memaksa mundur anak buah burham. "Pergi kalian! kalau gak, ku bunuh kalian satu-persatu" ancam andi. Mendengar ancaman dari bocah ingusan tak membuat gentar mereka, anah buah burham terus melakukan perlawanan. "Hajar!" pekik salah satu orang dari arah belakang. Andi dengan spontan menghunuskan pisau yang ia bawa ke tubuh orang itu. Seketika orang tersebut terkapar berlumuran darah terkulai jatuh ke tanah. "Arggh!" rintihannya. Mendapati salah satu teman mereka tersungkur, mereka segera mengangkat dan membopongnya pergi meninggalkan pasar. Andi tertegun tak percaya dengan apa yang telah ia lakukan. Tangannya gemetaran dan terus menggenggam pisau yang baru ia tusukkan ke tubuh anak buah burham. Orang-orang pasar hanya bisa melihat dari kejauhan, mereka juga seakan tak percaya atas apa yang telah andi lakukan. Melihat sahabatnya terpaku, joko segera menghampirinya. "Sudah di, ayo pergi dari sini" ucap joko. Tanpa sepatah katapun keluar dari mulut andi, ia hanya mengikuti perintah joko lalu berjalan kembali naik ke motor. Di tengah perjalan andi mulai berbicara. Ia berkata terus mencari alamat merry walaupun bercak darah menempel di bajunya. Joko menyuruh membuang pisau yang andi bawa, namun andi menolak. Ia khawatir polisi akan menemukannya dan dengan mudah melacak keberadaan andi. "Terus kamu mau apakan pisau itu?" tanya joko sambil berkonsentrasi mengendarai motor. "Aku simpan saja jok! buat jaga-jaga juga kalau ada apa-apa" jawab andi lemas. "Terserah kamu di". Sebenarnya ini baru pertama kalinya andi berkelahi. Andi dikenal remaja polos dari kampung yang jauh dari kata brutal. Namun mulai detik ini, asumsi tersebut terbantahkan dan andi mulai dikenal sebagai pahlawan kampung. Setelah cukup jauh berkendara, sampailah mereka ke sebuah bangunan besar seperti bekas pabrik dan tertutup rapat. Jaring-jaring besi memutar mengelilingi pabrik tersebut. Kamera pengawas tersebar di beberapa sudut pabrik. Tak ada aktivitas yang berarti disana, seolah-olah benar-benar pabrik kosong sehingga orang akan mengira bahwa pabrik tersebut telah tutup cukup lama. Andi tak percaya dengan muslihat itu semua, setelah joko memarkirkan motornya, andi langsung berlari ke arah jaring-jaring besi dan berteriak sekencang-kencangnya. "WOI! ADA ORANG DISANA? BUKA WOI!" teriak andi. "Udahlah di, mungkin alamat itu cuma samaran mereka aja, yuk balik aja" ajak joko. Namun andi tak menghiraukan perkataan sahabatnya itu, ia terus berteriak sambil mendobrak-dobrak jaring besi seakan tak rela kehilangan cinta pertamanya itu begitu saja. Setelah cukup lama berteriak, tiba-tiba salah satu kamera pengawas bergerak menyoroti tubuh andi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN