37. Tiga Puluh Delapan

1528 Kata

Langkah Zillo gontai melewati pintu gerbang rumah Nadi. Pikirannya berkecamuk menerima semua kalimat yang baru saja disampaikan Om Jefan padanya. Dadanya semakin sesak, sepasang matanya memerah menahan tangis. Bahkan dia lupa dengan motornya yang masih terparkir di depan gerbang rumah Nadi. Jalannya terseok hanya tertuju satu arah—rumahnya. Ya, yang Zillo butuhkan dan inginkan saat ini hanya pulang, menenangkan hati dan perasaannya. Tapi belum sampai Zillo pada tujuan, tiba-tiba sebuah motor mendadak berhenti di dekatnya, tanpa membuka helm si pengendara segera turun dan mendaratkan bogem mentah tepat di wajah kuyu Zillo, membuat tubuh pemuda itu ambruk dengan sudut bibir yang kini mengeluarkan darah segar. “Ikut gue!” Tarik si pengendara meraih kerah seragam sekolah Zillo hingga Zillo b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN