Zillo mendelik, tersenyum mengejek melihat ekspresi Noel yang sudah kembali terpancing emosi. “Oya? Yah... seengaknya gue bukan pecinta anak kecil kayak lo.” Cibir Zillo yang langsung mendapat tendangan di perut dari Noel. “Makannya jangan sok tahu! Karena lo nggak ada di posisi gue! Yang jadi masalah sekarang NADI bukan ARAN!” Zillo kembali bungkam, mendengar nama gadis pujaannya disebut kembali membuat hatinya terkoyak hancur, ingatannya meluncur pada pembicaraannya dengan Om Jefan beberapa waktu lalu, dan itu cukup membuatnya bibirnya kelu. Akhirnya baku hantam mereka selesai, dengan Zillo yang terduduk di aspal. “Gue nggak bisa... Gue nggak bisa minta Nadi untuk tetap tinggal.” Gumam Zillo lirih. “Cih, sok jual mahal lagi, huh? Yakin lo bisa kalau dia pergi di depan mata lo?!” “

